In That Night

2047 Kata
Makan malam berlangsung seperti biasanya, hanya saja Adrian tidak ikut karena ia tak mau, pria itu memang punya moodnya tersendiri. Dasha makan dengan rasa canggung yang luar biasa, ia sulit untuk duduk dengan punggung yang santai. Jantungnya juga berdegup kencang, ujung tangannya yang terasa dingin, dan tubuh yang terasa panas walaupun cuaca sedang dingin. Dasha canggung karena hanya ada dia dan Damian di sana. Damian dengan cara makannya yang sangat elegan itu membuatnya minder sekaligus kagum. Kagum karena pria itu masih tampak menawan walaupun sedang mengunyah, ia penasaran apa ia tampak seperti itu juga? Damian tahu ia sedang di perhatikan oleh Dasha, ia senang, hanya saja ia tak mau memergoki Dasha karena kalau ia melakukan itu, Dasha tidak lagi memperhatikannya, ia tak mau kehilangan momen di mana ia merasa senang di lihatin oleh seseorang, perasaan ini tak jauh beda dari perasaan yang ia alami ketika menjalani tahun pertama sekolah menengah atas. Tapi, Damian tiba-tiba teringat tentang sesuatu tadi siang. "Dasha," panggil Damian menatap ke arah Dasha. "Ya?" "Kau punya teman pria?" tanyanya langsung. Dasha diam sejenak sebelum mengangguk pelan. "Ya, teman pertamaku, namanya Rein." "Rein?" Dahi Damian mengerut samar. Jadi itu nama pria yang di bicarakan Adrian tadi. "Rein Volkov, memangnya kenapa?" tanya Dasha pelan, hanya penasaran kenapa semuanya bertanya tentang Rein, tadi Adrian dan sekarang Damian. "Volkov?" Damian membeo, tentu ia takkan lupa dengan nama itu karena ia baru membicarakannya tadi siang dengan Damian dan Zen. "Sama seperti Yuna Volkov?" Dasha terkesiap sesaat, dari mana Damian tahu tentang nama belakang Yuna? "Tidak hanya dia yang memakai nama Volkov," jawab Dasha lirih lalu menyuapkan makanan ke mulutnya. Damian tidak semudah itu untuk menyerah dengan pikirannya, ia akan menyelidiki Rein yang di maksud Dasha, tentu tidak sulit mencari hubungan pria itu dengan para kerabatnya. "Dasha, bisa aku memintamu satu hal?" Damian berkata serius dengan tangan menjauhkan piringnya darinya, ia sudah tak nafsu makan. "Apa?" tanya Dasha merasa waspada, takut jika permintaan Damian berada di luar nalarnya. "Kau tahu, kau sudah kuanggap sebagai milikku," ujar Damian yang mengalihkan wajahnya sesaat karena pipinya yang memanas. "Jadi bisakah tidak dekat dengan pria manapun? Sekalipun temanmu, karena aku ... akan cemburu." Damian benar-benar mengungkapkan isi hatinya. "Mungkin kau belum memiliki rasa itu, tapi aku yakin tak lama lagi perasaan itu akan muncul, dan ketika saat itu tiba, aku sama sekali tidak akan melepasmu, Dasha," ujar Damian lalu bangkit berdiri dari duduknya. "Ku tunggu di ruang kerjaku," sambungnya, ia juga tiba-tiba mengecup puncak kepala Dasha dari arah belakang perempuan itu, membuat yang dikecup merasa kaget namun tak bisa mengatakan apa-apa. Dasha juga menggeser piringnya menjauh darinya, ia memejamkan matanya, astaga kalau seperti ini terus, ia pasti akan jatuh ke dalam pesona pria itu. Dasha melipat bibirnya hingga menjadi lurus dan tipis. Sejauh ini, Damian perhatian ke padanya, peduli tentangnya, hal itu lah yang membuat Dasha mulai merasa ... nyaman. Semua hal yang di pikirkan Dasha dengan sekejap lenyap ketika Anna datang membereskan piring-piring kotor di atas meja, sontak saja Dasha berdiri lalu membantunya. "Tidak perlu membantuku, Dasha Milkova," ujar Anna dengan ekspresi serius. "Aku serius, jangan, posisimu di rumah ini sama dengan Declavroix, jadi aku yang akan melayanimu." "Tapi aku ingin membantu." "Tapi aku tidak butuh bantuanmu." Dasha terdiam, kalimat itu sama persis dengan kalimat yang di ucapkan Laura ketika Dasha berniat membantunya melunasi hutang. Kenapa semua orang menolak bantuan Dasha? "Naiklah ke atas, kau pasti juga punya kesibukan, 'kan?" Anna menyusun piring-piring itu menjadi satu tumpukan. "Kau membenciku, ya?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja, membuat Anna langsung menatapnya terheran-heran. "Kau membenciku, 'kan?" Ulang Dasha. Anna terkekeh. Itu adalah lengkungan bibir pertama yang dilihat Dasha sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah ini. "Jangan mengada-ada, hal itu sama sekali tidak mungkin," ujar Anna tersenyum kecil. "Aku tidak mungkin membenci calon Ny. Declavroix," lanjutnya melirik Dasha sesaat sebelum berbalik melangkah ke arah dapur. "Hah?" Dasha menganga tak percaya, ada-ada saja pikirnya. Karena piring-piring sudah selesai di bereskan dan tak ada pekerjaan yang harus ia lakukan, maka sekarang waktunya kembali berhadapan dengan tugas-tugas sekolahnya yang rumit. Ia tentu ingat Damian menyuruhnya untuk datang ke ruang kerjanya dan ia tahu di mana letak ruangan itu karena tadi, ia melihat ke arah mana Damian menghilang. Tapi, Dasha tak akan mau untuk malam ini, tidak setelah kejadian tadi. Dasha naik ke atas kasurnya lalu membuka buku tugasnya, melihat soal yang ada di sana saja membuatnya ingin muntah. Entah kenapa kepintaran Dasha yang hakiki di sekolah lamanya terasa nol ketika masuk ke sekolah barunya, kurikulum yang berbeda mungkin menjadi masalah utama dan otaknya masih beradaptasi untuk itu. "Ah, ya, aku lupa," gumamnya ketika teringat dengan ponselnya, kenapa ia bodoh sekali tak ingat pada mesin pencarian yang hampir semua pertanyaan memiliki jawabannya di sana. Namun, Dasha harus menelan kenyataan pahit kalau ia tak punya pulsa maupun kuota internet, ada Wi-Fi di rumah ini, tapi ia tidak tahu apa passwordnya. Melirik ponsel baru yang dibelikan oleh Damian ... tapi ponsel itu terasa sangat mahal di tangannya. Tiba-tiba ponsel Dasha bergetar, ada pesan masuk dan nama yang tertera membuat matanya membesar seketika. Damian Kemarilah, tugasmu harus selesai karena sekolahmu itu sangat ketat. "Dia menyimpan nomornya di sini?" gumam Dasha mengecek ke kontak teleponnya. Untung saja Damian memberi panggilan dengan nama aslinya, Dasha tidak bisa membayangkan bagaimana jika pria itu mengaturnya dengan nama Love, Beloved, atau yang lainnya yang mungkin akan membuat Dasha lumayan ilfeel. Beralih ke tugas, memang tak ada hal lain selain bertanya ke Damian, lagipula pria itu pasti tahu pasti tentang pelajaran yang satu ini. Menghela nafas, Dasha memantapkan hatinya, ia berdiri dengan sebuah buku di pelukannya lalu melangkah ke luar kamar. Di bawah tidak ada orang sama sekali, biasanya kadang ia melihat Anna ataupun Adrian berada di ruang tamu, tapi syukurlah, ia bisa ke ruangan Damian tanpa ada seorang pun yang tahu. Sampai di depan pintu kayu yang bercorak ... Dasha tidak tahu corak apa itu, sepertinya random sampai ia susah mengenali satupun. Melupakan tentang corak, Dasha kemudian mengetuk pintu itu dua kali, tapi apakah peraturanya memang diketuk? Entahlah, Dasha hanya mengikuti feeling miliknya. Dan benar, tak ada sahutan dari dalam. Dengan keberanian yang tersisa, Dasha membuka dan mengintip ke dalam ruangan yang penuh dengan rak buku layaknya sebuah perpustakaan itu. "Masuklah." Suara itu mengagetkan Dasha, namun perempuan itu tetap mengangguk lalu berjalan ke arah Damian yang duduk tenang di kursi kebesarannya. "Lain kali, masuk saja, tidak perlu di ketuk," ujar Damian pada Dasha. "Baik, aku tadi tidak tahu, maaf." "Tidak apa," sahut Damian, tangannya yang berada di atas meja lalu menunjuk ke satu arah di belakang Dasha. "Duduklah di sana, itu milikmu." Tubuh Dasha berputar, ia menatap tak percaya pada sebuah meja belajar yang bentuknya sama persisi dengan milik Damian, hanya saja dengan ukuranh yang lebih kecil. "Ini ...." Dasha kembali menghadap ke arah Damian. "Memang ada di sini?" tanyanya menunjuk meja belajar yang katanya miliknya itu. "Mm, aku memesannya untukmu," jawab Damian. "Mulai sekarang, jika ada atau tidak tugas sekolah, kau boleh ke sini, entah ada aku atau tidak, masuk saja." Dasha diam saja tak menjawab, ia tidak bisa menjawab iya maupun tidak. "Kemudian untuk tugasmu, aku tahu kau tidak bisa menjawab hanya karena kekurangan referensi, jadi carilah di rak paling ujung, di sana ada banyak buku tentang Ekonomi," ujar Damian. "Dan untuk sandi Wi-Fi, cobalah pakai dengan mengetikkan nama lengkapmu sendiri di sana, huruf kecil dan tanpa spasi." Dahi Dasha mengerut samar. "Dari mana kau tahu kalau aku tadi berpikir tentang password Wi-Fi?" "Oh tadi kau memikirkannya?" Ucapan balik Damian ini membuat Dasha mati kutu. "Mm aku akan mencari bukunya," ujar Dasha cepat-cepat pergi dari sana. Damian terkekeh pelan lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Dengan adanya Dasha di sini, Damian merasa tenang. Ia adalah pekerja yang memang di takdirkan pulang selalu malam, namun semenjak ada Dasha di sini, ia akan pulang lebih awal lalu melanjutkannya di ruang kerjanya, dengan syarat ada Dasha di sisinya. Entahlah, tapi Damian merasa candu pada Dasha hingga hanya beberapa jam saja berpisah, ia sudah merasakan satu perasaan yang selalu ingin menatapnya. Ya, rindu. Dasha sendiri kesusahan mencari bukunya, ia pikir Damian akan langsung membantunya, tapi ternyata tidak. Jika di pikir-pikir tak apa juga, jadi ia takkan menjadi orang bodoh yang hanya tahu cara meminta dan memohon tanpa mau bersusah payah belajar terlebih dahulu. "Tentang makro ekonomi," gumam Dasha menatap dan membaca dengan jeli satu persatu buku yang lewat dari matanya. "Ah ini dia." Dasha mengambil tiga buku dengan judul yang berbeda namun membahas hal yang sama, Ekonomi Makro. "Sudah dapat?" tanya Damian, padahal ia bisa melihat kalau Dasha kembali membawa tiga buku. "Hm, aku akan kerjakan sekarang," jawab Dasha lalu menaruh buku itu di atas mejanya dan ia duduk di kursinya. Sudut bibir Damian berkedut menahan senyum, ucapan Dasha tadi terdengar berbeda dengan ucapan-ucapannya sebelumnya yang terdengar cuek dan canggung. Sebenarnya menempatkan Dasha satu ruangannya juga tak bagus buat Damian karena ia takkan konsentrasi dengan pekerjaannya, sekarang saja ia masih melihat ke arah Dasha, memperhatikan perempuan itu menulis dan membaca. Damian kemudian bangkit, berjalan ke arah Dasha, ia berdiri di samping perempuan itu. "Sudah menemukan jawabannya?" Dasha mengangguk-angguk. "Sudah," jawabnya tanpa melihat ke arah Damian sama sekali. "Oh ya, Damian." "Hm?" Dasha menoleh dan mendongak menatap Damia. "Aku boleh mengerjakannya di kamarku saja?" "Kenapa?" Damian terlihat tak suka. "Aku ingin menulis di sana saja, lagipula ada yang harus ku rangkum juga, jadi ...." Damian sebenarnya enggan, namun jika Dasha nyamannya seperti itu .... "Hm tak apa," ujar Damian setengah hati, tak rela sebenarnya, tapi baginya kenyamanan Dasha yang utama dan jika belum nyaman dengannya, ia takkan memaksa. Dasha sendiri menyadari hal itu, ia bukannya tak mengetahui ekspresi yang tergambar di wajah Damian. "Jangan terlalu malam mengerjakannya, setelah itu langsung tidur," ujar Damian mengelus pelan rambut halus Dasha sebelum berbalik melangkah ke meja kerjanya. Dasha terdiam melihat punggung yang menjauh itu, tiba-tiba ada dorongan untuk memeluknya. Namun, ah-tidak, Dasha akan malu setengah mati setelahnya. "Selamat malam." Hanya itu yang diucapkan Dasha sebelum ia pergi dari ruangan itu, meninggalkan Damian yang melanjutkan pekerjaannya dengan muka datar *** Dasha kembali ke kamarnya, seperti yang ia bilang, ia harus merangkum beberapa hal yang ada di dalam buku-buku tersebut. Di tengah acara menulisnya, ia teringat bagaimana Damian tadi dan seketikai merasa bersalah. Seharusnya ia tetap di sana, toh di sana juga nyaman karena ada pengharum ruangan khusus dan meja belajar yang nyaman. Tapi sudahlah, sudah terjadi. Hingga jam menunjukkan jam sepuluh malam, Dasha menghentikan kegiatannya, menyusun buku-buku yang harus ia bawa besok, lalu mencuci muka, tangan dan kaki sebelum masuk ke dalam selimutnya. Ketika Dasha baru memejamkan matanya, terdengar guntur yang sangat kuat hingga ia sendiri terkejut mendengarnya, cengkraman Dasha ke selimut menjadi kuat, ia punya cerita dengan hujan dan petir dalam kegelapan dahulu, selama tidak ada gelap, ia baik-baik saja. Tepatnya, mencoba baik-baik saja. Dasha mencoba memejamkan matanya agar ia tertidur namun hujan yang turun dengan deras dan petir yang sesekali terlihat seram membuatnya malah ketakutan. Di ruangan yang besar itu, hanya ada ia sendiri, ia merasa punggungnya terbakar karena ketakutannya itu. Dan tak lama kemudian, sesuatu yang benar-benar tidak di harapkan Dasha terjadi, lampu padam! Ia langsung bangkit duduk dengan selimut mengelili tubuhnya. Tak bisa di sangkal, jantung Dasha bergemuruh kencang, keringat mulai membanjiri wajahnya, ia gemetaran. Sungguh, ia tak ingin hal ini terjadi lagi di dalam hidupnya, bahkan ketika ia bersama Laura, walaupun hal serupa terjadi, perempuan itu langsung paham jika Dasha memiliki trauma dan segera menghampiri Dasha lalu memeluknya. Namun, sekarang? Tak ada siapapun yang paham akan dirinya yang ini, ia sendirian. Dasha berharap semuanya segera berhenti, berhenti menyiksanya. Dasha juga sedikit sesak karena pertukaran oksigen hanya terjadi di dalam selimut itu. Hingga beberapa menit kemudian, hujan bukannya mereda mala semakin menjadi-jadi, lampu juga belum menyala, ingin mengambil ponsel tapi ponselnya berada di dalam tasnya yang ada di lemari rahasia itu. Selimut terasa basah karena keringat, Dasha tak bisa bertahan lebih lama lagi, ia harus segera pergi dari sini, ia tak peduli lagi tentang semuanya karena sekarang yang paling penting adalah membunuh rasa takutnya. Dasha keluar dari selimut, berlari keluar dari kamar, namun ia terkejut dengan jantung yang semakin berdegup kencang ketika melihat langai bawah yang juga sangat gelap, area itu sangat luas, membuat Dasha semakin ketakutan. Dasha berlari ke arah kamar Damian lalu mengetuk pintunya dengan tak sabaran. Ketika pintu terbuka, Dasha langsung masuk dan memeluk erat Damian. "Aku takut." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN