Seira tak sabar menunggu sampai di rumah. Meski sudah menghubungi polisi, tetap saja hatinya takut sekali hingga berpikir lebih baik menelepon Roni saja, memastikan suaminya baik-baik saja. Seira mengambil ponsel dari tas dan mencari nama Mas Roni di sana.
Panggilan pertama, tidak diangkat, membuat hati tambah khawatir. Panggilan kedua, tersambung.
"Mas di mana?" tanya Seira.
"Mas baru nyampek rumah. Tadi ponsel Mas di tas makanya tak angkat panggilanmu. Sayang, kamu di mana?"
"Mas tolong dengarkan aku, seseorang akan datang ke rumah untuk melenyapkan Mas. Mas hati-hati. Aku sudah telepon polisi supaya datang ke rumah."
"Maksudnya?"
"Nanti aku jelaskan. Aku lagi di jalan. Tolong berjagalah."
"Baiklah."
Teleponku terputus. Seira menduga, Roni tidak percaya dengan kata-katanya. Dia selalu berpikir positif pada semua orang.
Mobil melaju dengan kencang. Seira pun sampai di rumah. Sepi, tak ada polisi. Mungkin belum sampai. Dia membuka pintu dengan kunci cadangan dan berlari masuk mencari Mas Roni. Sengaja, membiarkan pintu tetap terbuka supaya polisi bisa masuk nanti.
"Mas ... Mas Roni. Mas di mana?" teriak Seira.
Terdengar suara pecahan benda dari arah kamar. Seira langsung berlari ke arah suara.
"Mas ... Mas ...."
Dia membuka pintu kamar. Roni tergeletak di lantai. Seorang pria memakai pakaian serba hitam berdiri tidak jauh, dengan pisau di tangannya. Seira berlari mendekati Roni.
"Hentikan!" teriaknya.
"Sayang, pergilah. Selamatkan dirimu," ujar Roni. Suaranya terbata-bata memegang perut yang berdarah. Seira ingin mendekat tapi Mister X mendorong tubuhnya menjauh. Tatapan kemarahan terlihat di wajah tampan itu.
Terdengar suara berisik dari luar. Mungkin itu polisi. Langkah mereka kian dekat. Mister X mendekat dan menarik tubuh Seira lalu menodongkan pistol ke kepala.
"Kau menjebakku. Wanita sialan."
"Bukan. Ini salah paham," jawab Seira terbata.
"Berengsek!"
Polisi sudah sampai di kamar. Mereka menembak ke arah atas memberi tanda peringatan.
"Kau sudah dikepung," teriak salah seorang polisi.
"Satu langkah kalian mendekat, kepala wanita ini akan pecah," ancam Mister X.
Polisi menghentikan langkah mereka. Mister X mengeluarkan sapu tangan dari sakunya lalu menutup mulut Seira. Perlahan pandangannya berubah jadi gelap. Selanjutnya tak tahu apa-apa lagi.
.
Seira terbangun. Kepala pusing. Dia mencoba duduk tapi tak bisa. Kedua tangan terikat ke belakang dan kaki juga.
"Lepaskan aku! Mister X, kita harus bicara. Ini kesalah pahaman," teriak Seira.
Sepi, tak ada jawaban. Dia berteriak lagi, tapi tak ada yang menyahut. Berteriak terus hingga letih dan memilih diam, menunggu kedatangan pria itu.
Ruangan terlihat gelap dan pengap. Seira berbaring di ranjang usang dan berdebu. Sepertinya tempat itu adalah gudang.
Cukup lama, tak seorang pun yang datang. Seira merasa perutnya lapar sekali. Sepertinya sudah tengah hari. Pintu terbuka. Seseorang masuk. Itu si Botak.
"Kau Bari kan? Mana Mister X? Aku ingin bicara padanya."
"Dia ada urusan. Aku diperintahkan memberimu makan agar tak mati kelaparan," ujar Bari.
Bari meletakkan piring dan gelas berisi air minum. Dia membuka ikatan tangan dan memakaikan rantai pada kaki Seira, lalu keluar ruangan. Dia sangat lapar hingga makanan yang dibawa pria itu tampak menggiurkan.
Selesai makan, dia duduk melamun, merenungi nasib selanjutnya, apakah Mister X membiarkannya hidup atau sebaliknya. Andai pun pria itu berbaik hati melepas, bagaimana dirinya harus menjelaskan pada keluarga Roni.
Seira merasa waktu berjalan sangat lama. Mungkin karena tak melakukan apa-apa. Hanya berdiam diri. Hari sudah gelap. Bari masuk lagi dan menyalakan lampu. Dia membawa makanan.
"Mana Mister X? Kumohon biarkan aku bicara padanya," pinta Seira.
Bari hanya diam.
"Aku bosan berada di sini. Lepaskan aku. Biar kita selesaikan masalah ini."
"Tak semudah itu, Nyonya. Mister X ingin melenyapkanmu tapi dia masih ada urusan."
Bari keluar dari ruangan. Seira menatap piring berisi makanan itu. Tak seperti siang tadi, begitu menggiurkan. Dia tak berselera.
Malam sudah larut. Seira tak bisa memejamkan mata. Udara cukup dingin. Ruangan hanya ada penerang seadanya. Bagaimana kalau ada tikus? Ingin berjalan tak bisa.
Mas Roni, bagaimana keadaanmu? Aku merindukanmu, Mas. Maafkan atas kecerobohanku. Aku terbakar cemburu hingga gelap mata, bathin Seira.
.
Entah berapa lama Seira tertidur. Dia terbangun saat merasakan seseorang menepuk pipinya.
"Bangun wanita penghianat!" ujar seseorang. Dia pria.
Seira membuka mata. Yang dilihatnya adalah wajah tampan Mister X. Matanya menatap tajam. Auranya menakutkan.
"Mister, aku bisa jelasin. Aku tak bermaksud menjebakmu," ujar Seira.
Sebuah tamparan mendarat di pipi hingga Seira terjerembab ke lantai. Sakit dan perih luar biasa.
"Gara-gara kau, polisi bisa mengenali wajahku."
"Maafkan aku. Aku janji tak akan menuntutmu. Urusan polisi, biar kutangani. Aku janji. Kumohon lepaskan aku. Aku ingin melihat keadaan suamiku."
"Suami? Hahh!"
Mister X menyeringai. Seringainya terlihat menakutkan.
"Istri macam apa yang tega menyuruh seseorang membunuh suaminya."
"Aku salah paham."
"Itu bukan urusanku. Gara-gara kau ... Akh .... Sialan!"
Mister X menendang sebuah kayu dan menimbulkan bunyi keras. Seira gemetar. Wajah pria itu tampak merah dengan rahang mengeras menahan amarah.
"Bari, siapkan kendaraan. Kita harus tinggalkan kota ini, sementara."
"Lalu wanita ini. Apa aku harus membunuhnya?" tanya Bari.
"Mungkin."
Bari keluar dari ruangan. Ucapan Mister X membuat Seira kian takut.
"Kumohon Mister, lepaskan aku."
Mister X mendekat, lalu menarik rambut Seira ke belakang. Pria itu mendekatkan wajahnya.
"Kau tak layak mendapat maaf dari siapa pun."
"Kumohon Mister. Aku akan memberi berapa pun yang kau minta. Aku ingin bertemu suamiku."
"Suamimu sudah mati."
"Apa?"
"Ya, mungkin saja dia sudah mati. Aku mumukul kepalanya bagian belakang dan menembaknya."
"Tidak ... tidak mungkin." Air mata Seira langsung mengalir deras. Ini salahnya. Roni meninggal karena dirinya dan sekarang dia pula terperangkap di sarang penjahat.
"Bukankah itu yang kau inginkan?"
Wajah Mister X kian dekat. Dia membelai wajah Seira.
"Tarnyata kau cantik sekali. Bagaimana mungkin pria itu mengkhianatimu."
Tiba-tiba Mister X mencekik leher Seira. Dia jadi kesulitan bernapas. Ingin melepas tangan pria itu tapi hanya sia-sia. Seira akan mati. Dia berpikir mungkin inilah balasan yang pantas untuknya.
Mister X melepas tangannya. Seira terbatuk. Lehernya rasanya sakit sekali. Dia tak dapat menahan air mata. Pria itu menakutkan dan tak punya rasa kasihan. Mungkin ini akhir dari hidup Seira
Bari masuk lagi. Dia berjalan mendekat. "Mobil sudah siap. Mister, apa kita harus pergi?" tanyanya.
"Wajahku sudah ketahuan. Ketua menyuruh kita piknik sementara waktu."
"Wanita ini bagaimana? Apa kita akan melepasnya atau membiarkannya mati di sini?"
Mister X menatap tajam. Nampaknya sedang berpikir, apa yang akan dia lakukan. Tuhan, tolong aku. Jangan biarkan pria itu menghabisiku di sini. Aku ingin meminta maaf pada Mas Roni. Akh, sepertinya aku terlambat. Bukankah dia sudah tiada? bathin Seira.
"Bawa dia. Mungkin aku membutuhkannya."
"Maksudnya?".
"Ada yang ingin aku ketahui dari dia."
Bari melepas rantai di kaki Seira, menarik secara paksa ke luar ruangan. Ternyata gudang tempat dia sekap adalah sebuah bangunan di belakang rumah Mister X.
Bari mendorongnya masuk ke jok belakang mobil. Sementara Mister X duduk di jok nomor dua dan Bari yang jadi supir.
Perut Seira terasa lapar. Tadi malam, dia tak bisa menelan makanan yang mereka berikan. Rasa ngantuk menyerang. Mungkin karena terjaga sepanjang malam. Menjelang pagi, baru dia tertidur sebentar.