bc

Mister X

book_age18+
929
IKUTI
5.1K
BACA
drama
tragedy
sweet
lighthearted
mystery
scary
like
intro-logo
Uraian

Berawal dari rasa kecewa dan marah karena kepercayaan yang dia berikan disalahgunakan begitu saja, membuat Mister X keluar dari militer dan menjadi pembunuh bayaran.

Sedangkan Seira menduga Roni, suaminya selingkuh dengan wanita bernama Hania. Dia berniat menyingkirkan Roni karena tak terima diselingkuhi. Hingga akhirnya berurusan dengan pembunuh bayaran, Mister X.

chap-preview
Pratinjau gratis
Pertemuan Pertama
Seira masih ragu untuk menemui Mister X, julukan untuk seorang pembunuh bayaran. Niat ini sudah sebulan terlintas di pikirannya. Ya, ingin melenyapkan Mas Roni, suaminya sendiri. Dia tak bisa bayangkan bagaimana jika teman-teman dan keluarga tahu suami yang dipercaya tega membagi cinta dengan wanita lain. Sebelum semua orang tahu, harus disingkirkan. Pemikiran bodoh memang, tapi itulah Seira. Wanita ceroboh dan manja. Dia tahu ini adalah salah, tapi hati terlanjur sakit mengingat di malam suaminya lebih memilih pergi bersama selingkuhan. Sebelumnya dia sudah curiga jika Roni memiliki wanita lain. Pria itu sering menelepon dan pergi tiba-tiba dan pulang larut. Dulu tak pernah seperti itu. Seira juga membaca chat dari wanita bernama Hani memintanya membelikan obat ke apotik dan popok bayi. Kecurigaan dia tepis sebelum melihat dengan mata kepala, dan malam itu, ketika mereka selesai makan malam, Roni mendapat panggilan. Dengan terburu-buru, pamit pergi ke luar dengan alasan kerjaan kantor. "Mas mau ke mana?" tanya Seira. "Ada urusan kantor, Sayang. Mas harus pergi." Tuturnya selalu hangat dan lembut sejak dulu, membuat Seira jatuh cinta. Hatinya menghangat dan jantung berdebar lebih cepat dari detak orang normal. Namun kali ini, tidak. Dia jadi benci panggilan sayang itu. Dasar pria munafik. Di sini dia bilang sayang, di sana bilang cinta. Seira muak. "Mas jangan bohong! Mas mau menemui wanita yang bernama Hani itu kan?" Roni menatap dengan tatapan terkejut. Mungkin pria itu tidak menyangka Seira mengetahui perbuatan kotornya. "Mas buru-buru," ujar Roni lalu melangkah pergi. Setengah berlari, Seira mengejar hingga ke teras rumah. "Jangan pergi, Mas!" pintanya. "Sayang, nanti Mas jelasin. Sekarang Mas harus pergi." Tatapan Mas Roni terlihat cemas. Ada apa dengannya? Mengapa dia begitu ingin menemui wanita itu? Hati Seira sakit mengetahui suaminya mencemaskan wanita lain. Dia tak bisa menerima itu. Roni tetap melangkahkan kaki meski Seira sudah memohon dengan air mata yang sudah mengalir sejak tadi. "Kalo Mas pergi, berarti Mas lebih memilih dia." Roni menghentikan langkahnya. Pria itu menatap dengan tatapan memohon. "Sayang ...." Ucapan Roni terputus karena ponselnya berdering. Dia mengangkat panggilan entah dari siapa. "Baiklah, aku segera datang. Jangan ke mana-mana!" ujarnya, lalu memutus panggilan. Roni memasukkan handphone ke kantong, lalu mendekat. Pria itu menyentuh pundak Seira. "Maaf, Sayang, Mas harus pergi," ujar Roni lalu masuk ke mobil. Tangis Seira tak terbendung lagi. Dia berjongkok dan menyembunyikan wajah, tak sanggup menyaksikan suaminya pergi menemui wanita lain. Air mata membanjiri baju tidur yang dia pakai malam itu. Roni tidak pulang hingga menjelang subuh. Seira tak dapat memejamkan mata, membayangkan tubuh pria yang dikaguminya bersatu dengan wanita lain. Sakit rasanya. Jantung seperti ditarik paksa. Sejak itu, dia lebih banyak diam. Tak pernah meminta penjelasan apa pun dan suaminya juga sepertinya enggan membahas kejadian malam itu. Mungkin Roni menganggap Seira memaafkannya. Tidak semudah itu. Dia tak bisa terima jika suaminya memiliki wanita lain. Ya, Seira memang wanita egois. Jika tak bisa memiliki Roni seutuhnya, orang lain juga tidak boleh. Seira menepis ragu di hati. Dengan niat yang kuat, ditekannya bel sebuah rumah sederhana dengan taman penuh dengan tanaman jenis kaktus. Sedikit ragu di hati Seira, bagaimana mungkin seorang pembunuh bisa memelihara tanaman dengan baik. Pintu terbuka, dan dia disambut seorang pria lumayan tampan berkulit hitam dengan kepala botak dan tato di leher. Seira gemetar. "Silakan masuk," ujarnya. Dengan hati-hati, dia masuk dan duduk di sebuah sofa. Bagian dalam rumah terlihat rapi. Pria berkepala botak itu masuk ke sebuah kamar. Tidak berapa lama, dia keluar bersama seorang pria tampan dan masih muda. Tatapan pria itu dingin dan aura kekejaman terlihat nyata. Mereka duduk di hadapan Seira. "Sesuai kesepakatan, kau harus bayar dua pertiga dari harga. Sisanya setelah aku melenyapkan korban," ujar pria tampan itu. Seira sedikit terkejut, tak menyangka jika pria dengan panggilan Mister X adalah pria tampan itu, bukan si botak. Dia hanya mengangguk. "Baiklah, serahkan uangnya pada Bari. Malam ini juga, pria itu akan menemui ajalnya." Mister X meninggalkan ruang tengah. Seira menyerahkan amplop pada Bari. Mister X tak mau menerima bayaran lewat transfer rekening. Mungkin dia menjaga agar tak terlacak jika suatu hari ketahuan. "Karena target bukan pria sembarangan, jadi Mister X yang langsung turun tangan," ujar Bari. Roni memang seorang pengusaha sukses yang cukup terkenal. Dia pekerja keras hingga di usinya yang terbilang masih muda, sudah memiliki sebuah perusahan keramik. Seira menikah dengan pria itu tiga tahun yang lalu dan belum memiliki anak. "Jadi dia Mister X?" tanya Seira ragu. Bagaimana mungkin pria setampan itu seorang pembunuh. "Ya. Dia adalah mantan anggota militer yang dituduh memperkosa pacarnya sendiri hingga menjadi pembunuh bayaran. Anda cukup beruntung, Nyonya, bisa melihat wajahnya secara langsung. Biasanya Mister X tak pernah menunjukkan wajah pada kliennya." Justru bagi Seira ini tak baik. Dia tak seharusnya melihat wajah Mister agar kelak suatu hari jika bertemu dengannya, tak merasa bersalah karena sudah membunuh suami sendiri. Bagaimana jika pria itu melenyapkannya setelah ini. Dia buang perasaan itu jauh-jauh. Seorang pembunuh bayaran selalu profesional. Selalu menjaga privasi klien. Seira juga berjanji akan menjaga privasinya. . Malam ini Seira makan di luar sendiri, ingin membiasakan diri tanpa Roni. Lagi pula, dia tak ingin melihat wajah suaminya agar tak ada keraguan hingga membatalkan niat. Selesai makan, dia pergi ke salon langganan untuk meremajakan diri. Sudah lama Seira tak ke sana. Cukup aneh memang, pergi ke salon di malam hari. Setelah itu, dia pergi ke butik langganan. Sampai di sana, wanita pemilik butik menyambut dengan hangat. Menemani memilih-milih baju. "Tumben nyonya datang malam-malam," ujar Marla. Seira tak menanggapi ujaran itu. Ya, dia hanya ingin menghabiskan waktu sendiri. "Mana pekerjamu? Biasanya dia yang menemaniku," tanyanya mengganti topik obrolan. "Hania cuti. Anaknya sakit keras." "Oh." Deg, Hania. Seira jadi ingat Hani, selingkuhan Roni. "Emangnya anaknya sakit apa?" tanya Seira lagi. Entah kenapa, dia ingin tahu soal Hania. "Katanya demam berdarah." Dia pun hanya mengangguk dan kembali fokus melihat-lihat pakaian yang berjejer rapi. "Kasihan Hania," ujar Marla lagi. "Kenapa?" Seira menoleh ke arah sumber suara. "Dia adalah korban pemerkosaan. Pria b******n itu kabur ke luar negeri. Untuk menutupi agar Hania tidak buka mulut, keluarga pria itu membiayai keperluan bayinya. Mulai dia hamil sampai melahirkan. Beruntung Kakak tertua pria tersebut baik dan dialah yang menemani Hania ketika anaknya sakit." Seira merasa jantungnya seperti berhenti berdetak. Mengapa sampai lupa jika Randi, adiknya Roni pernah terlibat skandal pemerkosaan dan sekarang berada di Australia. Dia jadi teringat Mister X. Diliriknya jam, sudah menunjukkan pukul sembilan kurang lima belas menit. Perjanjian dengan pembunuh bayaran itu jam sembilan. Ya, Tuhan, Seira mengutuk kecerobohan sendiri. Semoga bisa menghentikan semua ini. Sial, dia tak punya nomor pria itu. Bagaimana ini?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook