Renovasi

1080 Kata
Semua pekerjaan Seira sudah beres. Mister X dan Bari keluar sejak pagi tadi. Entah apa yang mereka urus. Akhir-akhir ini keduanya tampak sibuk. Seira lebih leluasa di rumah ini. Hal ini justru membuatnya terus mengingat Roni yang kini serumah dengan wanita yang bernama Hania itu. Berarti benar, mereka ada hubungan khusus. Atau jangan-jangan, Mas Roni sangat menginginkan anak, yang belum bisa kuberikan padanya hingga dia berpaling pada wanita itu. Jika itu memang alasan dia, harusnya Mas Roni berterus terang, bathinnya. Hati Seira benar-benar sakit mengingat semua itu. Tanpa sadar, air matanya mengalir dengan derasnya. Nasib yang benar-benar buruk. Suami yang dicinta bersama wanita lain. Kini, dia malah jadi tawanan penjahat kejam. Entah sampai kapan berada di rumah pembunuh itu. Pintu terbuka, Mister X muncul bersama Bari. Cepat-cepat dia menghapus air mata agar kedua pria itu tak melihatnya. Namun ternyata, Bari menyadarinya. "Kau menangis?" tanya pria itu. "Enggak kok." Seira berbohong. "Terus kenapa matamu merah? Ada apa?" Pertanyaan Bari malah membuatnya semakin sedih hingga tak bisa lagi menahan. Tangisnya pecah. Mister X mendekat. Tanpa diduga, dia memberi Seira tissu. Ada apa dengannya? "Mungkin dia merindukan suaminya?" ujar Mister X. Seira menggeleng lemah. Memang benar, dia merindukan Roni, tapi rasa benci mengalahkan segalanya. Terlalu sakit membayangkan suaminya tertawa bahagia bersama wanita lain. "Harusnya aku tak menghentikan Mister X malam itu," ujar Seira. "Sudah terlambat menyesalinya. Lihatlah hasil perbuatanmu. Aku harus bersembunyi." "Maafin aku, Mister. Aku benar-benar menyesal." "Terus, kenapa kau menghentikan Mister X dan malah menelepon polisi?" tanya Bari. "Sebelum kejadian itu, aku mengetahui bahwa Hania punya seorang putra yang sedang sakit. Anak dari adiknya Mas Roni. Mas Roni bertanggung jawab pada anak itu. Aku merasa hanya salah paham terhadap hubungan mereka, makanya aku ingin menghentikan Mister X." Seira terdiam sejenak, lalu melanjutkan ucapannya, "Setelah kepergianku, mereka malah tinggal bersama. Artinya mereka benar punya hubungan." Air mata Seira kembali mengalir. Dia merasakan sakit sekaligus lega, bisa mengatakan semua itu meski kedua pria itu tak akan paham dengan perasaannya. Mister X menatap, bukan tatapan dingin dan tajam seperti biasanya. Kali ini, dia terlihat iba padaku. Tumben pria itu bersimpatik terhadap Seira. "Apa kau ingin aku melanjutkan kerja sama kita?" tanyanya. "Maksudnya?" Seira bertanya karena tak paham. "Membunuh suamimu?" "Tidak. Jangan lakukan itu, Mister." "Kenapa?" "Aku gak mau merasa bersalah lagi." "Jadi kau maunya apa?" Mister X menatapnya. Ada apa dengan pria itu? Kenapa aneh sekali hari ini. "Apa kau akan mengabulkan permintaanku?" "Memangnya kau siapa sampai aku harus mengabulkan permintaanmu?" Ucapan Mister X. Tatapannya kembali dingin. "Kau yang bertanya soal kemauanku." Mister X menarik tubuh Seira dan menyudutkannya ke dinding. Jarak mereka begitu dekat. Dia bisa merasakan aroma mint dari embusan napasnya yang kencang yang menatap dengan tatapan sayu. Untuk sesaat mereka saling tatap. Mister X menyelipkan ke telinga Seira, rambut yang menutupi wajah itu. Ehemmmm, Bari berdehem. Seira jadi gugup. Mister X tidak bergeming. Dia tetap saja mengunci Seira. Mereka saling tatap lagi. "Mengapa bisa pria itu mengkhianati wanita secantik ini," gumam Mister X. "Mister, menjauhlah dariku," pinta Seira, pura-pura tidak mendengar gumaman Mister X. "Kau tidak boleh pergi. Tetaplah bersamaku di sini," ujarnya. "Apa maksudmu?" Seira ingin memperjelas ucapannya. "Pria itu sudah mengkhianatimu. Tetaplah di sini. Aku sudah mengubah identitasku dan berencana membuka kafe." "Mesti ya kau menyudutkan Seira ke dinding hanya untuk mengatakan itu?" Sela Bari. Akhirnya Mister X menjauh. Seira bernapas lega. Pria itu duduk di sofa. "Aku tidak bisa melepasmu karena tidak ada jaminan kalo kau mau menjaga privasiku yang sudah terlanjur ketahuan karena ulahmu. Yang ada nanti, kau malah melaporkanku ke polisi." "Aku tidak akan melaporkan kalian karena aku yang salah di sini." "Lalu bagaimana suamimu? Dia akan mendesakmu memberi informasi tentang kami." "Aku bersumpah akan bungkam." "Apa kau ingin kembali padanya?" "Tidak. Aku tidak mau melihat kebersamaannya dengan wanita itu." "Kalo begitu, kau ikut bantu-bantu di kafe yang akan kami buka," ujar Bari. Seira terdiam. Meski tidak ingin kembali pada Roni, tinggal bersama Mister X bukanlah solusi tepat. "Kau masih berhutang padaku, jadi tetap di sini atau aku membunuhmu," ancam Mister X. Dia menatap tajam. "Ba ... baiklah. Aku akan membantu kalian di sini." Seira tak punya pilihan selain tetap bersama mereka. Rumah yang mereka tempati pun direnovasi untuk dijadikan sebuah kafe. Bahkan kamar Seira yang biasanya kecil dengan perabot seadanya juga diperbaiki. Rumah itu sebenarnya luas, hanya saja selama ini ada banyak ruangan yang tak terpakai. Setelah dibongkar, jadilah sebuah kafe yang indah dan nyaman. Seira ikut membantu desain ruangan, memilih perabotan dan pernak-pernik tambahan yang mempercantik ruangan. Konsep kafe yang dirancang Mister X lebih berat ke unsur nongkrong dibandingkan hidangannya. Ternyata selama ini dia terlihat sibuk karena rajin mengikuti pelatihan cara meracik kopi agar terasa nikmat. Dia juga beberapa kali ikut bazar yang mengusung tema kopi. Mister X terlebih dulu menjajakan kopi dengan teknik cold brewing yang dijajakan di dalam botol. Ke depan dia akan aktif melakukan pameran untuk menjajakan kopi racikannya. Karena ingin menjadikan specialty coffee sebagai menu andalan, Mister X pun membatasi menu makanan yang ditawarkan di kafenya. Menu yang ditawarkan adalah makanan yang proses penyajiannya tidak mengeluarkan banyak asap karena itu bisa merusak cita rasa kopi. Selama mempersiapkan kafe, Seira banyak berinteraksi dengan Mister X. Komunikasi kami makin lancar meski kadang canggung juga. Setelah satu bulan, persiapan kafe pun selesai. Besok hari pembukaan. Seira menambahkan beberapa gambar sajian kopi dan makanan. Tempatnya lumayan tinggi. Diaambilnya kursi lalu menaikinya. Tetap saja tak sampai. Dia melihat ke arah Mister X, memberi kode agar membantu. Pria itu hanya memperhatikan saja tanpa beranjak dari duduknya. Dasar pria kutub, tak peka sama sekali. Seira jinjit agar bisa menggantung foto itu, tetap tak sampai juga. Ingin rasanya Seira maki saja pria itu yang hanya menatap seperti mengejek. Seira terus mencoba sambil menatap kesal ke arah Mister X dan malah kehilangan keseimbangan hingga jatuh. "Aakkk," dia menjerit. Kakinya rasanya sakit sekali. Dia berpikir pria itu akan menangkap ketika akan terjatuh. Dia tak bergeming dan malah menertawakan. Seira tak tahan lagi. Antara kesal dan sakit, membuat tangisannya pecah. Pria itu sangat menyebalkan. Seira mencoba berdiri tapi rasanya sakit sekali hingga memilih duduk di salah satu kursi. Mister X mendekat dan berjongkok di hadapan Seira. "Begini saja sudah nangis. Dasar cengeng," ejeknya. "Kau menyebalkan. Dasar tak peka. Harusnya kau menolongku." "Salah sendiri kenapa tidak hati-hati." Mister X memegang kaki Seira. Tiba-tiba dia menariknya, membuat sang empunya menjerit kesakitan sambil memakinya. "Coba kau jalankan kakimu!" perintah Mister X. Seira menginjakkan kaki dan berjalan. Tidak sakit lagi. "Gak sakit lagi," ujar Seira. Pria itu menatap sinis lalu menjauh pergi. Dasar pria kutub.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN