Aku mulai ngantuk, namun nada dering ponsel Mister X membuyarkannya. Wajahnya berubah tegang setelah menerima panggilan itu. Dia hanya menjawab baiklah dan tiba-tiba mobil putar balik. Apa yang terjadi? "Kita tak jadi pulang. Aku akan kirim pesan ke Bari," ujar pria itu. "Ada apa?" tanyaku. "Ada hal mendesak." Mobil melaju kencang. Aku sampai berpegangan karena takut. Pasti sesuatu yang buruk telah terjadi. Entah mengapa rasanya tak enak menanyakan lebih dalam lagi pada pria itu. Mobil berhenti di sebuah apotek. Mister X mengajak masuk, menyuruh aku menunggu di kursi yang disediakan untuk pengunjung, sementara dia masuk lewat pintu yang sepertinya khusus untuk pegawai. Tempat ini cukup unik. Dari luar terlihat besar, namun di dalam tidak seperti penampilan luarnya. Mungkin saja bag

