Adalah suara gaduh yang mengembalikan kesadaran Elzi pagi itu. Ketika pada akhirnya, ia terbangun dari tidur yang jauh dari kata nyenyak. Karena tatkala bangkit duduk, ia justru mendapati rasa sakit di seluruh tubuhnya. Alih-alih bugar yang seharusnya menjadi ciri tubuh yang berhasil istirahat.
Menunggu sejenak, Elzi sempat mengira bahwa kegaduhan itu akan berakhir dalam waktu dekat. Namun, ia kecele. Karena alih-alih berhenti, yang terjadi justru sebaliknya. Kegaduhan itu dalam waktu singkat justru menjelma menjadi keributan. Keriuhan. Hal yang sontak saja mendorong cewek itu untuk segera turun dari tempat tidurnya.
Memastikan piyama yang ia kenakan masih dalam keadaan yang cukup layak untuk dibawa keluar dari kamar, Elzi pun meninggalkan ruang pribadinya itu. Mencari sumber keributan itu dengan dahi yang sedikit mengernyit. Seperti familiar dengan suara-suara yang menuntunnya untuk menuju ke lantai bawah. Dan ketika satu persatu anak tangga mulai ia turuni, Elzi pun paham alasan mengapa ia merasa tak asing.
Berjarak dalam ukuran meter yang tak seberapa, di depan sana, Elzi melihat Mario. Cowok yang semalam berhasil membuat ia mati ketakutan. Dan nyaris berpikir bahwa dirinya akan benar-benar kehilangan nyawa andai tak ada Ben yang menolongnya.
Sekarang, melihat kehadiran Mario di depan matanya kembali, tentu saja menghadirkan kembali rasa takut itu. Terutama karena kedatangannya yang langsung menarik perhatian Mario membuat cowok itu segera beralih padanya.
“Elzi,” seru Mario. “Elzi, ya Tuhan. Kita harus bicara. Aku minta maaf.”
Permintaan maaf itu, entah mengapa tidak bekerja sebagaimana mestinya. Alih-alih membuat perasaan Elzi tersentuh, yang ada justru sebaliknya. Malah seperti memperjelas kenyataan pada cewek itu. Untuk dasar apa Mario meminta maaf padanya. Dan hal itu, membuat ia gemetaran. Hingga kemudian, saat satu sosok cowok yang besar nan menjulang itu muncul di retina matanya, Elzi sadar. Bahwa tidak seharusnya ia merasa gentar.
“Dan ... kata-kata aku yang mana yang nggak kamu ngerti, Rio?!”
Razen maju. Menghadang Mario tepat ketika cowok itu menunjukkan tanda-tanda akan menghampiri Elzi. Hingga cewek itu, entah sadar atau tidak, menggigil. Beringsut di balik tubuh sang ibu yang tampak sudah berderai air mata. Tak perlu dijelaskan, Elzi tau. Bahwa kedua orang tuanya pasti telah mengetahui apa yang terjadi semalam.
Mario menggertakkan rahangnya. Wajahnya tampak memerah mendapati Razen yang dengan beraninya memprovokasi dirinya.
“Jangan ikut campur,” desis Mario dengan penuh penekanan. “Ini urusan antara aku dan Elzi. Kamu ... nggak ada urusan sama sekali.”
Mendengar hal itu, Razen mendengkus. Mengejek. “Nggak ada urusan sama sekali?” tanyanya menantang. “Kamu bilang nggak ada urusan?! Setiap yang terjadi pada Mbak Elzi, itu urusan aku, Rio!”
Selesai mengatakan itu, Razen berpaling pada kedua orang tuanya. Pada ibunya yang menangis dan pada ayahnya yang syok.
“Pokoknya, sampai kapan pun, Mbak nggak bakal pernah nikah dengan cowok b******n ini!” tegas Razen. “Sampai terjadi, aku yang bawa Mbak pergi dari rumah ini.”
Namun, sepertinya tidak akan pernah ada orang tua yang ingin putri mereka menikah dengan cowok yang berusaha menodainya. Begitu pun dengan Anwar dan juga Nurul. Yang tadi, ketika mereka menyambut kedatangan Mario justru mendapati kemarahan Razen yang membabi buta. Nyaris saja putra bungsunya itu menghajar Mario andai Anwar tidak mencegahnya langsung. Hanya saja, ketika ia mengetahui penyebab kemurkaan Razen, justru ia yang sekarang diliputi amarah.
Kemarahan tercetak jelas di wajah Anwar. “Kamu dengar, Rio? Tidak akan ada pernikahan antara kamu dan putri kami. Tidak akan pernah ada!”
Mario menarik napas. Sekarang, alih-alih berusaha menemui Elzi, cowok itu justru beranjak menuju Anwar.
“Om, semuanya nggak seperti yang Om pikirkan,” ujar Mario. “A-aku minta maaf. Tapi, aku akan bertanggungjawab dengan tindakan aku. Aku dan Elzi ... akan tetap menikah.”
Mata Anwar menatap nyalang pada Mario. “Tidak akan pernah, Rio. Kami nggak akan mungkin menyerahkan Elzi pada pria seperti kamu!”
Pada saat itu, ketika Elzi berusaha untuk tetap kuat berada di sana, ia mendapati bagaimana di satu kesempatan, Mario menatap padanya. Dan Elzi merasakan perih ketika menyadari bahwa malam kemarin, mata itu menuju pada dirinya dengan sorot yang berbeda. Terasa amat menakutkan.
Mendapati Elzi yang juga tanpa sengaja membalas tatapannya, mungkin memberikan satu atau dua pengharapan untuk Mario. Hingga cowok itu melangkahkan kembali kakinya. Berusaha untuk menemui Elzi kembali. Dan cewek itu, tidak beranjak. Tidak lagi merasa takut. Karena ia yakin bahwa ia dilindungi. Sepenuhnya.
“Kamu emang nggak ngerti bahasa manusia hah?!”
Tanpa peringatan sama sekali, Razen maju. Langsung menarik tubuh cowok itu dan menghempaskannya. Nyaris saja Mario jatuh terjungkang di atas keramik andai ia tidak sigap memposisikan kedua kakinya dengan baik.
“Sekali lagi, Rio. Sekali lagi,” ujar Razen memperingatkan. “Kamu mau pergi dari rumah ini baik-baik ... atau harus dengan kekerasan? Perlu aku panggil satpam sekarang?”
Menatap pada Razen dengan sorot tajam, tentu saja membiarkan dirinya diseret satpam adalah kenyataan yang buruk. Hingga kemudian, Mario mendengkus. Dengan wajah yang memerah, mencoba menahan malu dan emosinya, ia pun keluar dari rumah itu. Tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Kelegaan seketika langsung menyeruak di d**a Elzi ketika pada akhirnya Mario benar-benar pergi dari rumah mereka. Hingga tanpa sadar, ia mengembuskan napas panjang. Dan merosot duduk di lantai. Yang mana itu justru membuat keluarganya histeris.
“Sayang, kamu nggak apa-apa?”
Nurul bertanya dengan nada cemas di suaranya. Pun langsung meraba tubuh putrinya. Seolah ingin mencari luka yang mungkin saja tertinggal di sana.
Begitu juga dengan Anwar yang langsung menghampiri putrinya. “Apa kita perlu ke rumah sakit, Zi?” tanyanya tak kalah khawatir. “Kita harus memeriksanya. Kamu bisa saja terluka.”
Namun, Elzi menggeleng. Memastikan ayah dan ibunya bahwa keadaannya baik-baik saja. Tidak terluka dan ketakutanlah yang ada. Hingga pada akhirnya, ia tidak berdaya. Meraih tangan Razen dan memeluknya.
“Aku takut, Zen.”
Razen mengusap punggung Elzi, menenangkannya. “Tenang, Mbak. Mbak nggak usah khawatir. Ada aku di sini. Aku bakal ngejaga Mbak.”
Menarik napas dalam-dalam, Elzi pun mengangguk. Sepenuhnya percaya pada perkataan Razen. Dan cowok itu, yang jelas jauh lebih tinggi ketimbang sang kakak, membuktikan ucapannya.
Dimulai dari esoknya, ketika Razen menyadari bahwa Mario masih memiliki kenekatan untuk mendatangi rumahnya, maka ia pun tidak meragukan kalau cowok itu bisa berusaha menemui Elzi di kantornya. Itu adalah hal yang masuk akal. Sehingga pada akhirnya, Razen pun memutuskan untuk menjadi sopir pribadi bagi sang kakak. Alih-alih membiarkannya mengendari mobilnya sendiri.
“Jangan keluar dari kantor sebelum aku sampe. Ntar aku chat.”
Itu adalah kalimat yang Razen katakan tepat ketika ia menghentikan laju mobilnya di depan kantor Elzi Senin pagi itu. Hal yang disambut oleh anggukan kepala sang kakak.
Turun dari mobil, Elzi langsung masuk ke kantor. Menuju ke lift dan menaikinya dengan tujuan ke lantai nomor sembilan, di mana ruang kerjanya berada. Setibanya ia di sana, ia pun langsung menaruh tas kerjanya di atas meja dan duduk. Mengecek jadwal hari itu untuk kemudian menyalakan komputer. Mulai mengerjakan pekerjaannya yangtertundari di hari Jum’at pekan lalu.
Perusahaan tempat Elzi bekerja bergerak di bidang teknologi informasi, tepatnya perusahaan komunikasi. Perusahaan yang merupakan salah satu provider seluler terbesar saat ini. Terhitung, ini merupakan tahun ketiga Elzi bekerja di sana sebagai karyawan tetap setelah sebelumnya selama dua setengah tahun bekerja sebagai karyawan kontrak. Perjalanan karirnya termasuk mulus dan tentu saja itu karena Elzi yang memang fokus pada pekerjaannya. Hingga saat ini Elzi telah mendapatkan promosi sehingga mungkin dalam waktu dekat dia bisa menjabat sebagai sekretaris kepala bagian departemennya.
Bisa dikatakan bahwa Elzi mensyukuri pekerjaannya. Selain gajinya saat ini yang tinggi, rekan kerja yang asyik merupakan alasan ia tetap betah bekerja di sana walaupun tekanan kerjanya tergolong tinggi. Dan karena itulah, maka tak mengherankan bila Elzi terkadang sangat terobsesi oleh barang-barang mewah dan akhir pekan yang tenang.
Bukan hal yang mencengangkan sebenarnya bila mendapati Elzi yang selalu memantau majalah fashion atau pun situs belanja daring, baik itu dalam atau pun luar negeri. Tekanan pekerjaan membuat Elzi berpikir bahwa ia perlu memanjakan dirinya. Ya ... walau banyak orang yang menganggap bahwa ia sebenarnya adalah maniak belanja. Dan pada kenyatannya, Elzi benar-benar tahan menabung hanya untuk bisa mengikuti pre order sepatu atau pun benda lainnya.
Namun, terlepas dari itu semuan, sebenarnya yang menjadi hal penting bagi Elzi yang sesungguhnya adalah akhir pekan yang damai demi menyantaikan otaknya. Ia tidak ingin pekerjaan membuat otaknya menjadi stres. Tapi, takdir Elzi akhir-akhir ini sedang bercanda. Entah mengapa, tapi selama dua akhir pekan terakhir ini dirinya selalu saja terlibat dua masalah yang berbeda yang disebabkan oleh dua pria yang berbeda pula.
Udahlah dapat masalah sama Ben, eh sekarang malah ditambah dengan Mario lagi.
Setelah mereka berdua, ntar apa lagi?
Ya Tuhan.
Kenapa hidup aku jadi berantakan kayak gini sih?
Pada saat itu, jauh di dalam hati Elzi, ia berharap. Agar semua kekacauan yang terjadi di dalam hidupnya, bisa berakhir saat itu juga. Ia tidak ingin mendadak gila karena masalah yang datang padanya begitu bertubi-tubi.
Namun, ketika hari menjelang siang, ia tau bahwa Tuhan sedang tidak ingin mengabulkan doanya. Dan itu dibuktikan oleh masuknya satu pesan di ponselnya. Yang berasal dari nomor yang tidak ia simpan. Tentu saja, itu Ben.
Menahan napasnya, berusaha untuk tidak menuruti emosinya yang memprovokasi dirinya agar membanting saja ponselnya itu, Elzi pun membuka pesan tersebut. Dan ia menyesal. Sungguh amat menyesal. Tepat setelah ia membaca pesan tersebut.
[ +62 811 789 xxxx ]
[ Zi, aku tanya sekali lagi. ]
[ Kamu beneran nggak mau nikah sama aku? ]
Elzi menggeram. Meremas ponselnya. Dan di saat itu terdengar ponselnya berdering. Satu nama pun muncul di layarnya. Tertulis: My Sweetheart.
Sial! Tapi, Elzi lupa belum mengubah nama kontak itu!
*
bersambung ....
Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.