7. Separuh Pilihan Yang Diputuskan

3857 Kata
Ini merupakan salah satu momen paling aneh yang Elzi alami seumur hidup. Ia tak tau. Entah saat itu ia merasa canggung, malu, atau apa. Hanya saja yang pasti adalah semua yang terjadi benar-benar di luar skenario. Beberapa hari yang lalu, Elzi dengan emosi yang sanggup membuat Gunung Merapi erupsi dengan jelas mengatakan bahwa ia tidak ingin lagi bertemu dengan Ben. Bahkan tadi ketika ia menonton film, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menghajar Ben bila mereka bertemu kembali. Tapi, lihatlah sekarang. Takdir dengan teramat usil membuat skenario hidupnya. Malam ini, ketika Elzi nyaris diperkosa, bantuan justru datang lewat cowok itu? Oh Tuhan. Sekarang, alih-alih lekas mengucapkan terima kasih dan pergi, Elzi justru mendapati dirinya dengan pasrah, seolah tanpa tenaga, mengikuti langkah kaki Ben yang memasuki hotel itu. Satpam yang berjaga di depan pintu jelas terheran-heran melihat Elzi yang tadi mengatakan dirinya kabur dari tindakan pemerkosaan justru beberapa saat kemudian masuk ke hotel dengan seorang cowok. Terutama karena cowok yang satu ini berbeda dengan cowok yang mencari dirinya tadi. Elzi melirik Ben di sebelahnya. Jelas penampilan super rapi cowok itulah yang menyebabkan satpam di depan tadi tidak bisa berbuat apa-apa. Dan ketika mereka melangkah memasuki lobi hotel, Ben memanggil seorang petugas di sana. Meminta segelas air. Untuk kemudian, setelahnya Ben mengajak Elzi duduk. Di satu tempat yang sedikit terhalang dari pandangan lalu lalang orang sekitar. Beberapa saat kemudian, kedua tangan Elzi telah memegang segelas air dengan gemetaran. Dan selagi ia berusaha meminum air tersebut, Elzi pun dengan jelas bisa menyadari bagaimana Ben menatapnya dari atas hingga bawah. Air membasahi kerongkongan Elzi. Menarik helaan napas leganya. Hal yang tidak ia sadari bahwa menangis dan berteriak sedari tadi, terutama berlari-lari, sukses membuat kerongkongannya kering kerontang. Ben meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja. Hiruk pikuk di sana seolah tak menjamah keheningan beberapa saat di antara mereka. Hingga akhirnya suara Ben terdengar di telinga Elzi. “Jadi dia yang namanya Mario?” tanya Ben pelan seakan ingin meyakinkan. “Tunangan kamu?” Tak mengatakan apa-apa, Elzi hanya memberikan jawaban berupa satu anggukan samar. “Jadi, apa yang terjadi di antara kalian?” Ben kembali bertanya, kali ini suaranya menyiratkan rasa bingung. “Bukannya udah biasa ya kalau pasangan sering having s*x? Ehm ... apalagi kalian bentar lagi udah mau nikah.” Dahi Ben berkerut sekilas. “Pemerkosaan? Ehm ....” Pundak Elzi naik ketika ia berusaha menghirup udara dalam-dalam. Lantaran menangkap sorot menggoda di mata Ben. Tepat di saat ia melanjutkan perkataannya. “Atau ... dia terlalu kasar? Ehm ... nggak pake foreplay yang seharusnya? Ck.” Ben geleng-geleng kepala. “Dia benar-benar nggak tau cara merayu cewek.” Elzi menganga. Benar-benar tidak percaya bahwa Ben bisa mengatakan hal seperti itu. Bisa-bisanya ini cowok ngomong hal kayak gitu dengan gampangnya! Di saat keadaan aku lagi kacau kayak gini? Ya Tuhan. Maka tentu saja adalah hal yang manusiawi bila gejolak emosi itu langsung timbul di d**a Elzi. Hingga rasa-rasanya ia ingin sekali melempar gelas kosong di meja itu untuk mendarat di kepala Ben! Elzi mengembuskan napas kasar. “Biasa atau nggak, having s*x tetap aja harus persetujuan kedua belah pihak, Ben,” delik Elzi. “Itu poinnya. Jangan mentang kami udah mau nikah atau bahkan ntar kalau kami udah nikah, itu malah diabaikan. Yang namanya having s*x itu keinginan bersama. Kalau ada yang keberatan, itu namanya tetap pemerkosaan!” “Aaah ....” Ben manggut-manggut seraya mengusap dagunya. “Aku bakal ingat itu baik-baik. Dan bakal memastikan semua yang aku lakukan menjadi keinginan yang bersama. Well ... walau jelas sih.” Seringai Ben terbit. “Kayaknya aku nggak bisa berbuat banyak soal ‘keberatan’.” Seketika saja rasa panas seperti menjalari pipi Elzi. Membuat ia merasa jengah. Lagi-lagi dibuat tak percaya mendapati Ben yang amat sangat gamblang membicarakan hal itu. Ya ampun. Aku baru aja hampir diperkosa dan dia malah ngebahas soal gitu? Ini cowok ada otak nggak sih? Rasa simpatik? Empati? Kemanusiaan? Sudahlah! Elzi mendengkus. Tidak heran sama sekali. “Ya ... walau tetap aja,” kata Ben kemudian. “Aku nggak ngira kalau kamu keberatan sama dia. Ehm ... dia tunangan kamu coba.” Elzi menggeleng sekali. “Dengar, aku rasa aku harus meluruskan beberapa hal dengan kamu, Ben,” ujarnya dengan tatapan yang tajam. “Aku mungkin emang gini. Tapi, aku ada prinsip sendiri. Aku nggak kenal seks sebelum nikah.” Perkataan itu membuat Ben menaikkan sebelah alisnya. Pun diikuti oleh satu seringai yang membuat Elzi sontak merinding. Dan mendorong ia untuk buru-buru lanjut bicara. “Sampai kecelakaan malam itu merusak semuanya!” delik Elzi. “Dan perlu kamu catat! Itu semua terjadi di luar kesadaran aku! Kamu yang licik memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan!” “Ehm ... memang sempit.” Elzi tercengang. Menganga. Melihat Ben seolah cowok itu adalah alien berkepala tujuh. Terutama karena selanjutnya, dengan seringainya, Ben berkata. “Aku bukannya licik, Zi. Aku cuma cowok normal yang bakal terangsang kalau ngeliat cewek kayak kamu terbaring di kasur.” Bukan bermaksud hiperbola, tapi Elzi benar-benar tidak berbohong. Ben selalu sukses membuat ia menganga tanpa tau harus mengatakan apa. Gila! “Coba aku tanya dulu. Sebenarnya apa sih yang kamu harapkan di saat aku ngeliat kamu kayak malam itu?” tanya Ben. “Mengharapkan aku kayak cowok petapa di film-film kolosal, yang bahkan nggak bereaksi ketika ngeliat kamu? Yang justru menyelimuti kamu dengan berlapis-lapis selimut. Terus berjaga di depan pintu? Menuliskan pengumuman bahwa orang yang nggak berkepentingan dilarang masuk? Kayak gitu?” Ben menggeleng sekali. “Kamu tau, Zi? Nggak ada cowok yang benar-benar bisa kamu percaya untuk soal gituan. Setiap cowok, memiliki kemungkinan buat melakukannya. Tinggal nunggu waktunya aja buat ia tergoda.” Elzi membuang wajah. Kali ini ia tak mampu bertahan untuk menangkap ekspresi wajah Ben yang makin lama makin sukses membuat perutnya mual-mual. “Jangan lugu jadi cewek. Apalagi buat datang ke apartemen dia semalam ini. Ya ... wajar dong kalau sekali dua kali dia kepikiran untuk memanfaatkan kasur di sana.” Elzi seketika tersentak mendengar perkataan Ben. “Kamu mau nyalahin aku untuk kemalangan yang baru aja hampir menimpa aku, Ben?” tanyanya tak percaya. “Ya ... aku nggak heran sama sekali. Apa pun masalahnya, cewek yang akan selalu disalahkan. Orang jelas itu salah cowoknya.” “Ssst ....” Buru-buru Ben meraih tangan Elzi. Berusaha menenangkannya agar tidak menarik perhatian orang di sana. “Siapa yang ngomong aku nyalahin kamu?” tanya Ben balik. “Bukan kayak gitu, Zi. Tapi, coba kamu pikirkan. Kamu bebas mau berpakaian kayak apa, melakukan apa, itu pilihan kamu. Tapi, kamu tentu tau kalau setiap pilihan has its consequenses. Kamu tau yang terbaik untuk kamu. Dan ya kalau udah kejadian, tetap aja. Yang salah adalah pelaku.” Mata Elzi menyipit. Walau ia tak mengatakan apa-apa, di dalam hati ia jelas merutuk. Sekarang malah sok simpatik. Tadi juga nyalahan. Ben mengembuskan napas panjang. Sepertinya menyadari itu. Hingga ia kembali berkata. “Setiap kejahatan itu selalu jadi hal dua arah, Zi. Kamu nggak bisa percaya ke semua orang. Nggak bisa. Cuma bisa percaya diri kamu sendiri. Jadi, aku bukannya nyalahin kamu. Cuma ... seharusnya kamu nggak terlalu percaya pada orang lain. Sekalipun itu tunangan kamu.” Elzi diam saja. Alih-alih membalas perkataan itu, ia justru menarik napas dalam-dalam. Seolah abai dengan satu kenyataan. Yaitu dari tadi Ben tidak melepaskan tangannya. “But, the point here is ...,” lirih Ben seraya mengembuskan napas panjang. “Kamu harus sadar kalau dari awal kamu itu udah salah milih cowok. Buat jadi calon suami kamu.” “Oh ya?” Elzi bertanya dengan nada sinis. Diiringi oleh lirikan matanya yang mencemooh. “Jadi, menurut kamu yang cocok jadi calon suami aku itu kamu? Iya?” Ben sontak terkekeh. “Kamu bisa nilai sendiri.” Tentu saja, Elzi menggeleng. “Kamu tau, Ben? Kalau aku lihat-lihat, kamu dan Mario itu nggak ada beda sama sekali.” “Oh, hati-hati kalau ngomong, Zi,” ujar Ben memperingatkan dengan seringai di wajahnya. “Kami jelas berbeda.” “Beda?” Elzi mendengkus. “Ya, kalian beda.” Kepala Elzi mengangguk sekali. “Kamu nyentuh aku di saat aku nggak sadar, sedangkan dia di saat aku sadar. No hard feelings, but ... ternyata kamu pengecut dan dia lebih berani.” “Waw!” Tanpa sadar, spontan sekali, Ben melepaskan tangan Elzi. Ekspresi di wajahnya tampak syok dengan mata yang berkilat kagum dengan sindirin yang dilayangkan cewek itu padanya. “Kamu benar-benar nggak berubah. Nggak pernah berpikir dua kali buat nyindir orang. Ckckckc. Kamu itu emang benar-benar sesuatu, Zi.” Elzi mendengkus. Dan membiarkan Ben untuk kemudian berkata lagi. “Tapi, kamu nggak perlu khawatir aku tersinggung. Karena jelas, nggak. Walau seharusnya kamu tau, kalau bukan itu perbedaannya.” Kerutan di dahi Elzi muncul. Ia jelas menunggu Ben melanjutkan perkataannya. Dan itulah yang dilakukan Ben. “Perbedaannya adalah ... kalau kamu dan dia itu pemaksaan,” ujar Ben menyeringai. “Sedangkan kamu dan aku itu suka sama suka.” “What?!” Elzi berusaha memukul d**a Ben, tapi cowok itu dengan sigap menangkapnya. Lantas matanya tampak berkilat menggoda, menatap Elzi lekat-lekat hingga cewek itu merasa jengah. “Kamu nggak lupa kan?” tanya Ben. “Kamu bahkan erat banget meluk aku pas kita tidur malam itu.” Mulut Elzi terkatup rapat. Wajahnya sudah sangat memanas. Hingga membuat cewek itu yakin. Bahwa kalau ada panci berisi air ditaruh di atas kepalanya, maka air itu pasti akan mendidih! “Kalian berdua sama buruknya,” vonis Elzi tajam. Terkekeh, Ben merasa geli dengan rutukan itu. “Dengarkan aku dulu, Zi. Bukannya tanpa alasan aku ngomong kalau kamu nggak seharusnya bertunangan dengan cowok itu.” “Oke. Tell me.” Kembali menggenggam tangan Elzi, Ben pun memberikan usapan lembutnya di sana. “Kenapa aku ngomong gitu? Tentu saja itu karena dia nggak seharusnya ngajak kamu ke unit dia semalam ini. Dan ngeliat apa yang udah hampir ia lakukan ke kamu, ehm .... Apa kamu nggak ngerasa kalau itu kayak yang udah direncanakan gitu? Ucapan Ben membungkam mulut Elzi. Menghadirkan satu tanda tanya besar di benak cewek itu. Mario udah merencanakannya? Kemungkinan yang membuat Elzi merinding. Hingga tanpa sadar melirih pelan. “Nggak mungkin.” Kedua bahu Ben naik sekilas. “Terlepas dari kecelakaan kita, well ... itu pure kecelakaan. Kita berdua dalam keadaan nggak sadar. Nggak bisa mikir. Sedangkan yang tadi? Wah wah wah.” Ben geleng-geleng kepala dengan ekspresi tak habis pikir di wajahnya. “Serius kamu mau nikah sama cowok yang bahkan nggak bisa nahan gairahnya di saat otaknya masih waras?” Lantas, Ben diam. Layaknya ia yang sedang memberikan waktu untuk Elzi merenungkan tiap kata yang ia ucapkan. Hingga kemudian, alih-alih melihat ekspresi sedih di wajah Elzi, Ben justru mendapati hal lain. Yaitu, dengkusan Elzi. Dan Elzi menyeringai. Melayangkan tatapan sinis di matanya. “Omong ke aku, Ben,” kata Elzi kemudian. “Kerjaan kamu sekarang apa?” Dahi Ben berkerut. Merasa aneh dengan perpindahan topik yang amat tiba-tiba itu. Hingga pertanyaan selanjutnya yang Elzi berikan, membuat ia mengerti. “Apa kamu kini kerja sebagai sales penawar produk gadungan? Yang terlatih untuk memanipulasi pikiran korban?” Ben terkekeh. Pun tidak heran bila selanjutnya Elzi menarik tangannya, melepaskan diri dari genggaman Ben. Untuk kemudian ia menunjuk d**a cowok itu. “Walau hubungan aku dan Mario sekarang jadi kacau, itu bukan berarti aku bakal nerima kamu.” “Ck,” decak Ben, matanya melirik geli. “Kayaknya serangan aku belum terlalu mulus.” Tak ingin membiarkan Ben lanjut mengatakan hal aneh lainnya, Elzi mengangkat tangan. Memberikan isyarat agar cowok itu berhenti bicara. “Dan, please, Ben. Stop ngomong yang aneh-aneh lagi. Aku malam ini belum makan, terpaksa harus lari-lari, mana nggak pake sepatu lagi, dan justru berakhir dengan perdebatan bareng kamu,” ujar Elzi lelah. “Ini udah benar-benar kelewatan.” Perkataan itu lantas sukses membuat Ben melembutkan sorot matanya. Bahkan tak hanya itu. Karena tanpa Elzi duga, Ben kemudian melepaskan jasnya. “Sorry,” ujar Ben seraya beringsut. Menutupi tubuh Elzi dengan jas miliknya. “Aku cuma berusaha untuk ngebuat kamu rileks aja.” Rileks? Elzi mendengkus. Namun, ia tak menolak ketika jas hitam itu mendarat di pundaknya. Nyaris melenyapkan tubuh mungilnya. Bahkan lebih dari itu, Elzi malah menggengam erat jas tersebut di depan d**a. Hening sejenak, Elzi membuka tas tangannya. Meraih ponsel. Hanya untuk melihat jam, namun justru dibuat membelalak ketika melihat deretan panggilan tak terjawab di sana. Berasal dari nomor yang tidak ia simpan. Yang anehnya, masih diingat oleh otak Elzi. “Kamu nelepon aku?” Karena semula Elzi berpikir adalah Mario yang menghubunginya. Namun, ternyata bukan. Dan itu membuat Elzi penasaran. “Kenapa?” Sejenak, wajah Ben seketika tertunduk. Menatap pada kedua tangannya yang sedikit bertumpu pada paha masing-masing, bertemu dengan jari yang saling mengisi. Lantas ia menoleh. “Aku nelepon kamu cuma mau tau. Kamu beneran nggak butuh pertanggungjawaban aku? Terutama setelah kejadian ini?” Elzi terdiam sejenak. Hingga pada akhirnya ia menyadari mengapa perdebatan mereka tadi terkesan seperti Ben yang kembali mendesaknya. Walau memang nyaris tidak kentara. Ben membuang napas panjang. “Soalnya ... Mama mau ngenalin aku ke seseorang. Dan kalau berhasil, mungkin bukan sekadar perkenalan doang.” Lagi, Elzi diam. Hingga kemudian, ia menyadari sesuatu. Yaitu, penampilan Ben yang amat rapi saat itu. Astaga. Ini kan malam Minggu. Maka Elzi pun berusaha tersenyum. Yang mana itu justru membuat Ben mengerutkan dahinya. Terutama karena perkataan yang cewek itu katakan selanjutnya. “Kalau gitu, cepetan pergi. Ngapain kamu malah di sini bareng aku?” Ben melongo. “Kamu bener-bener mau kayak gini? Kamu nggak bakal nyesal? Kalau mendadak kamu beneran hamil sementara aku udah terlanjur sama cewek lain?” Tak bisa menjawab pertanyaan itu, Elzi justru menyadari betapa pikirannya kala itu benar-benar kosong. Ia nyaris tidak bisa merasakan apa-apa di dalam kepalanya. Hingga kemudian, Ben mengembuskan napas panjang. “Sudahlah,” katanya seraya bangkit dan meraih tangan Elzi. “Aku antar kamu balik.” Semula Elzi ingin menolak, namun perkataan Ben selanjutnya membuat ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. “Keadaan kamu kacau. Dan kamu pasti mau balik dengan selamat sampai di depan pintu rumah kan?” Menyadari itu, Elzi pun mengangguk pada akhirnya. Pasrah saja mengikuti Ben menuju ke mobilnya. Menebalkan muka dan mengabaikan satpam yang lagi-lagi melayangkan sorot bingung ketika melihat padanya. Mobil Ben dengan mulus melaju di jalanan. Berbaur dengan kendaraan lainnya. Dan di waktu yang tepat, Ben tampak merogoh saku celananya. Mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat di aplikasi w******p. Untuk itu, Elzi tidak mengeluarkan rasa penasaran yang seketika muncul di benaknya. Dia ngubungi itu cewek ya? Sepanjang perjalanan, nyaris tidak ada suara yang terdengar. Selain helaan napas panjang yang terkadang terdengar beberapa kali. Milik Elzi. Hingga pada akhirnya, mobil Ben sampai di rumah Elzi. Dan ketika cewek itu akan turun, Ben bersikeras untuk mengantar Elzi hingga benar-benar di depan pintu rumahnya. Di depan pintu, tak langsung masuk, Elzi justru menghentikan langkah kakinya. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengangkat wajah. Membawa tatapannya untuk bertemu dengan mata gelap Ben. “Makasih udah ngantar aku balik,” ucap Elzi pelan dengan tulus. “Makasih banyak.” Sebagai respon, Elzi merasakan jemari Ben yang menyisiri rambutnya yang berantakan. Hingga menerbitkan sinyal peringatan di kepala Elzi. “Jangan nyium aku lagi, Ben,” pinta Elzi dengan mata sendu. Kala itu, ia benar-benar merasa tubuhnya tidak bertenaga lagi. “Aku udah kacau banget malam ini. Dan please, jangan buat aku makin kacau.” Ben tersenyum. Dan ia mengangguk sedikit sebelum memutuskan untuk melabuhkan satu kecupan lembut di dahi Elzi. Untuk sentuhan yang satu itu, Elzi pun langsung bereaksi. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ia miliki, Elzi mendorong tubuh Ben. Tepat di saat pintu rumah mendadak terbuka. “Mbak dari mana?” Terkesiap, nyaris terlonjak dari tempatnya berdiri, Elzi kaget mendapati kehadiran Razel di pintu. Antara khawatir dan takut Razen memergoki tindakan Ben tadi. Maka Elzi pun mengabaikan pertanyaan itu. Alih-alih justru ia yang balik bertanya. “Kok kamu ada di rumah, Zen? Bukannya kamu pergi ke Bengkulu?” Razen menggeleng. “Aku nggak jadi pergi.” “Tapi, aku nggak ngeliat kamu seharian ini di rumah.” Razen menukas. “Aku kabur.” Dan setelah pertanyaannya dijawab ala kadarnya oleh Razen, Elzi menyadari bagaimana sedari tadi Razen menatap Ben. Pada cowok itu yang berdiri di sebelahnya dengan tangan yang masih berada di rambutnya. Astaga! Elzi buru-buru menepis tangan Ben. Tepat ketika terdengar suara kasar Razen. “Kamu ngapain Mbak Elzi hah?!” Pertanyaan itu sontak membuat Elzi melihat penampilannya. Walau ada jas Ben yang menutupi tubuhnya, nyaris. Kekacauan itu tak mampu ditutupi. Hingga Elzi pun meraih tangan Razen. “Zen, aku nggak apa-apa.” Namun, Razen tidak peduli. Alih-alih, ia justru maju. “Nggak jawab pertanyaan aku?” Tak hanya menudingkan pertanyaan bernada tuduhan pada Ben, Elzi justru mendapati Razen meraih kerah kemeja Ben. Dengan mata yang menyala marah pada cowok itu. Sontak membuat Ben mengangkat kedua tangannya. “Wow! Tenang, little boy.” Tentu saja, little boy tidak akan pernah menjadi panggilan yang tepat untuk Razen. Karena kalau mau dilihat dari mana pun juga, Razen tidak kecil. Adik Elzi itu memiliki tubuh yang besar dan tinggi. Bahkan untuk ukuran tubuh Ben yang mampu melenyapkan tubuh Elzi dari pandangan Mario saja, ternyata ia masih kalah besar dibandingkan dengan Razen. Cowok itu memang seperti terlahir hanya untuk menampung semua otot yang ada. Layaknya ingin mempertegas bahwa ia tidak cocok dipanggil little boy. Ben memamerkan senyum santainya. “Aku cuma ngantar Elzi balik,” katanya. “Nggak lebih nggak kurang.” Mendengar itu, mau sekali rasanya Elzi menukas seperti ini. Bohong, Zen. Dia nyium aku! Namun, pada kenyataannya, ia justru mengangguk. Membenarkan perkataan Ben. “Iya, Zen. Dia cuma ngantar aku balik.” Dan Elzi mengatakan itu, seraya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Razen di kemeja Ben. Walau tentu saja, Razen tidak menurutinya. Malah semakin bersikeras mencengkeram. Razen berpaling. Dengan sorot heran, ia bertanya. “Terus, mana Mas Rio? Kenapa nggak balik dengan dia?! Kenapa justru balik sama cowok ini?! Bukannya Mbak pergi dengan dia?” Di titik itu, Elzi sama sekali tidak mengira bahwa Razen akan memarahinya. Lantaran ia yang pulang larut malam justru diantar oleh cowok asing. Alih-alih diantar tunangannya. Hingga tak mampu ditahan, didukung pula oleh suasana hatinya yang kacau, Elzi meringis. Di saat aku kayak gini, Razen malah ngebentak aku? Maka tidak aneh sama sekali bila sedetik kemudian air mata langsung menetes di pipi Elzi. Hingga cewek itu merosot. Terduduk di lantai dengan isakan yang langsung pecah. Dan Ben geleng-geleng kepala. Berkata lirih. “Aku udah susah payah ngebuat dia nggak nangis lagi, eh ... malah adeknya sendiri yang ngebuat dia nangis lagi.” Meneguk ludah dengan rasa bersalah, Razen lantas melirik Ben dengan kesal. Untuk kemudian ia melepaskan kerah kemeja cowok itu dari tangannya. Buru-buru meraih Elzi. “Mbak. Mbak, kenapa nangis?” tanya Razen panik. “Sorry, aku bukannya marah. Tapi, aku khawatir. Kenapa Mbak balik malam dengan cowok lain? Dan ... dan ....” Razen mengerutkan dahinya. “Kenapa penampilan Mbak kacau kayak gini?” Tak menjawab, Elzi justru makin terisak. Langsung menghambur ke dalam pelukan Razen. Membuat ia semakin bingung. Dan Razen tak memiliki pilihan lain, kecuali bertanya pada Ben. “Bung!” panggil Razen. “Apa yang terjadi sama Mbak Elzi? Kenapa dia?” Bung? Ehm .... Mengabaikan panggilan itu, Ben menghela napas panjang. Ia menggaruk pelipis kanannya. Terlihat kesusahan untuk menjawab pertanyaan itu. “Ehm .... Dari apa yang aku tau,” ujar Ben menjawab. “Katanya ... Mario berusaha ... ehm ... memperkosanya.” Ketika Razen mendengar itu, ia seperti melihat ada letusan gunung berapi tepat di depan matanya. Yang menghadirkan kengerian yang tak mampu untuk ia ungkapkan dengan kata-kata. “A-apa kamu bilang?” tanya Razen syok. Hingga ia beralih pada sang kakak. “Benar apa yang dia katakan, Mbak?” Elzi mengeratkan pelukannya. Tak menjawab dengan kata-kata, tapi ia mengangguk. Dan Elzi buru-buru menahan Razen. Ketika ia merasakan bagaimana adiknya itu yang akan melepaskannya. Karena Elzi tau pasti, apa yang ada di benak Razen saat ini. “b******n itu.” “Zen,” lirih Elzi memejamkan matanya. “Aku nggak apa-apa. Aku cuma mau istirahat sekarang. Aku udah nggak sanggup ngapa-ngapain lagi.” Razen yang merasakan emosi, jelas wajar sekali bila merasakan keinginan untuk langsung mendatangi Mario kala itu. Namun, keadaan Elzi membuat secercah akal sehatnya mampu menyadarkannya. Razen mengusap air mata Elzi. Lantas ia berpaling pada Ben yang masih setia berdiri di sana. Tampak tidak canggung sama sekali. “Kamu nyelamatin Mbak?” Ben tersenyum masam. Tidak membantah atau mengiyakan. Tapi, Razen menganggap senyum anehnya itu sebagai bentuk kata ‘ya’. “Makasih.” Hanya satu kata itu yang dikatakan Razen pada Ben. Terkesan tak acuh. Karena selanjutnya cowok itu langsung melepaskan tangan Elzi. Hanya untuk mengambil posisi berjongkok di hadapannya sang kakak. “Aku antar ke kamar.” Elzi mengangguk dan langsung menjatuhkan tubuh di punggung Razen. Dan sedetik kemudian, Razen segera berdiri. Seraya menggendong sang kakak. Tak mengatakan apa-apa, Razen beranjak. Masuk ke dalam dan menutup pintu. Seolah tak ada Ben di sana. Hingga membuat Elzi mengangkat kepalanya, melihat ke belakang sementara Razen terus berjalan. Adalah deru mobil yang kemudian terdengar yang membuat Elzi mengerjapkan matanya. Dengan satu keyakinan di benaknya. Bahwa Ben sudah pulang. Tiba di kamar Elzi, Razen segera mendudukkannya di sisi ranjang. Merapikan rambut Elzi yang kacau oleh air mata dan keringat. Untuk kemudian, ia mendapati sesuatu yang membuat ia tercengang. “Mbak bahkan nggak pake sepatu?” Elzi berusaha menahan sesegukannya. Namun, tak berarti banyak. “Aku panik, Zen. Aku lempar sepatu aku ke Mario.” Dengan hati-hati, Razen mengangkat satu persatu kaki Elzi. Membersihkan telapaknya. Menyingkirkan debu dan kerikil yang ada di sana. Hingga terkadang menarik ringisan Elzi. Menarik napas dalam-dalam, beberapa saat kemudian Elzi menyadari sesuatu. Yaitu adiknya yang bisanya sering bicara, kali ini justru tidak mengatakan apa-apa lagi. Hingga ia pun memanggil. “Zen ....” Lantas, Razen mengangkat wajahnya. Hanya untuk membuat Elzi tercekat. Oleh pemandangan ekspresi sang adik yang tampak mengerikan. Menghilangkan raut lucu yang sering terpampang disana. Dan suaranya terdengar bergetar ketika berkata. “A-a-aku nggak pernah ngira kalau dia bilang ngelakuin hal serendah itu ke Mbak.” Tangan Razen mengepal. Rahangnya mengeras. Wajahnya yang putih tampak merah. Begitu pun dengan bola matanya. “Ya Tuhan. Mbak bisa aja ....” Namun, Razen tidak meneruskan perkataannya. Alih-alih, ia justru mengucapkan janjinya. “Besok aku bakal ngomong ke Mama dan Papa. Pertunangan kalian harus dibatalkan.” Sorot serius di mata Razen membuat Elzi tak mampu berkata-kata. Layaknya Razen yang sedang mengeluarkan sumpahnya. “Dan selagi aku hidup, dia nggak bakal pernah menikahi Mbak.” * bersambung .... Hai, cerita ini ekslusif hanya bisa dibaca di Innovel/Dreame/Mari Baca. Bila kalian membaca cerita ini di tempat lain atau dalam bentuk PDF/foto/video Youtube/ebook, maka bisa dipastikan bahwa cerita ini sudah disebarluaskan secara tidak bertanggungjawab (ilegal). Dengan kata lain kalian membaca cerita hasil curian. Yang perlu kalian ketahui adalah memperjualbelikan atau menyebarluaskan cerita ilegal merupakan tindakan yang melanggar hukum (silakan cari artikelnya di Google). Dan tentu saja aku tidak akan ikhlas, karena bagaimanapun juga itu artinya kalian telah mengambil hak penghasilan yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pesan aku, carilah kerjaan yang halal ya? Nggak malu hidup dari hasil kerja keras orang lain? Terima kasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN