ME.6 : KEMBALI KE HARI PERNIKAHAN KILAT

3943 Kata
“Bolehkah aku menarik napas sejenak dan mengucap sabar berkali-kali karena terjangan mimpi buruk ini?” - Bianca Rinjani, berstatus istri hanya dalam satu kedipan mata - Awal Februari, Jakarta, Indonesia DUSTIN “Alhamdulillah Nak Dustin.” Papa Ahmad yang resmi menjadi mertua gue tersenyum dengan tatapan mata berkaca-kaca seraya menjabat tangan gue lagi lebih erat sesaat setelah kami berdoa bersama saat gue berhasil mengucap Ijab Kabul dengan gemilang. Sumpah ya meskipun gue menikahi wanita yang bahkan nggak tahu kalau gue lah yang menjadi suaminya tapi rasanya itu berdebar nggak karuan. Tangan gue sampai berkeringat dingin. “Terimakasih karena sudah bersedia menikah dengan Bianca.” Gue tersenyum, “Iya Pah. Insyallah saya akan menjaga amanah berharga ini dengan sebaik-baiknya.” Papa Ahmad yang tadi menjadi wali nikah untuk putri kesayangannya menepuk pundak gue dengan senyuman meneduhkan. Di sisi gue yang lain, Papa gue sendiri ikut menepuk pundak gue dengan senyuman bangga di depan pak penghulu. Gue melihat Mama bahkan sampai menangis sesugukan dan menatap gue dengan senyuman lebar menghiasi wajah cantik beliau. “Jangan menangis,” ucap gue pelan seraya menggelengkan kepala. Mama mengangguk dan mengusap air matanya dengan tisu. “Kalau begitu kita tunggu mempelai wanitanya turun dan menandatangani surat nikah dan dilanjutkan ke prosesi lainnya.” Gue menegakkan punggung dan menghela napas panjang. Tidak sabar melihat reaksi Bianca saat tahu yang menjadi suaminya adalah bos besarnya sendiri. Seharusnya sih kalau dia sama dengan wanita-wanita yang lain, pasti reaksinya akan bahagia luar biasa karena bisa gue nikahi tapi gue tahu kalau Bianca tidak sama dengan mereka. Jadi gue hilangkan bayangan senyuman lebarnya saat menyambut gue nanti. Itu nggak akan mungkin terjadi. Saat ini, Gue merasa semua yang ada di otak gue ini seperti pikiran orang aneh. Kenapa begitu? Di mana-mana kalau seseorang terjebak dalam drama perjodohan ala siti nurbaya di mana orang tua tiba-tiba saja dengan seenaknya sendiri menikahkan anaknya dengan anak sahabatnya – padahal mereka dikenalkan saja nggak, eh tahu-tahu mereka sudah bahagia banget bisa jadi besan–, seharusnya sejak awal gue menolak keras. Sudah bisa dibayangkan kalau perjalanan bahtera pernikahan gue ke depannya akan tetap jalan di tempat. Menikah tanpa ada ikatan cinta itu berat. Kapal nggak akan berlayar ke mana-mana. Bagaimana mau berlayar, kalau si istri bakalan punya rute sendiri begitu juga dengan si suami. Hanya tinggal menunggu kapalnya karam dan kita berdua tenggelam. Selesai urusan. Pengadilan jadi jalan keluar. Walaupun tidak semuanya sih begitu tapi ada juga yang berbeda. Menikah karena landasan agama. Ikhlas lahir dan batin menjalani pernikahan demi mencapai Ridho Allah SWT. Sedangkan gue–Andreas Dustin–otak aja kebanyakan m***m mikirin lingerienya Bianca sejak gue melihat dan memegangnya tanpa izin. Gimana mau berlandaskan agama kalau begini ceritanya meskipun gue juga sholat – kalau lagi nggak sibuk. Gue agak sedikit geli dengan takdir yang terjalin antara kami. Gue masih ingat dengan ciuman memaksa gue saat pergantian tahun kemarin. Gue tahu dengan keinginan absurdnya mencium belahan jiwanya di bawah warna-warni kembang api dari curhatannya di buku Diarynya. Nggak salah dong kalau gue mewujudkan impiannya. Padahal gue tahu banget kalau awalnya dia menikmati ciuman itu tapi saat gue menciumnya lebih lama gue langsung digampar dan dikata-katain. Nggak tahu terimakasih memang tuh Akwaryin. Akhirnya, kami kembali dipertemukan di Hotel Legion, Bali. Di sana dia benar-benar nyuekin gue abis-abisan. Tidak seperti wanita lainnya yang matanya hampir loncat saat melihat GM barunya yang berkualitas seperti gue ini tapi dia malah bersikap seakan-akan kita belum pernah bertemu sebelumnya padahal kami sudah berciuman malam itu. Interaksi kami hanya sebatas atasan dan bawahan padahal gue sudah gatal mau isengin dia. Gue kan jadi penasaran campur kesal juga gregetan. Sekarang, saat kami dipertemukan lagi di depan penghulu setelah Bianca resmi menjadi teman hidup gue – entah sampai kapan – bukannya merasa berat menjalani pernikahan express ini seperti slogan-slogan jasa pengiriman barang tapi gue malah bahagia. Ya, katain aja gue aneh seperti yang gue bilang di awal. Kenapa bisa begitu? Ada beberapa hal yang menjadi alasannya. Pertama, eh gila istri gue cantik banget. “Nah pengantin perempuannya sudah turun.” Papa Ahmad berdiri diikuti semua undangan yang hadir. Gue ikut berdiri, berdeham dan menarik napas panjang. Menunggu dengan jantung berdebar-debar seraya memperhatikan lekat Bianca yang perlahan turun dari lantai dua rumahnya diapit sama Mama dan adik perempuannya dengan wajah menunduk ke bawah. Lekukan tubuhnya terlihat jelas, kulitnya mulus dan sempurna dalam balutan gaun kebaya putihnya. Kedua, eh gila asetnya. Sudah jangan diteruskan kalau yang ini nanti gue makin m***m walaupun wanita yang gue mesumin itu istri gue sendiri. Sepertinya gue dan lingerienya Bianca sudah punya ikatan khusus dan hanya gue yang ditakdirkan melihat wanita itu memakainya. Damn it. Cepetan dong tinggalin gue berdua sama dia di kamar. “Bianca cantik kan Nak Dustin?” bisik Papa Ahmad seraya menyenggol lengan gue dengan tatapan jahil. “Iya Pa,” gue tersenyum sopan. Apalagi kalau semua pakaiannya sudah gue lepasin satu-satu. Ketiga, ego gue terusik. Gue nggak suka dicuekin sama Bianca dengan cara seperti itu. Gue harus bisa membuat wanita itu menyerah pasrah untuk gue apa-apain. Ridho tanpa paksaan meskipun kelihatannya itu tugas pertama gue sebagai suami yang lumayan berat. Menakhlukan hati istri gue sendiri. Berhubung gue orang yang suka tantangan jadi kalau seperti ini pasti akan gue perjuangkan. Bianca harus mengakui gue sebagai suaminya. Misi yang gue tunggu-tunggu itu menakhlukan Bianca di ranjang. Sial!!! Otak gue bahkan sudah membayangkan saat-saat di mana gue membuat Bianca meneriakkan nama gue kencang-kencang dan membuatnya ketagihan ada di bawah tubuh gue. Damn!! Gue menarik napas dan mengeluarkannya mencoba mengenyahkan bayangan hot itu. Semua ada waktunya. Yang penting dia sudah jadi istri sah gue. Aman. Nggak dosa. Bianca sudah berdiri di depan gue tapi masih menundukmungkin terpesona dengan jempol gue di bawah sana. "Angkat kepalamu sayang." Mama Nara berkata lembut ke Bianca yang langsung menggeleng membuat kekehan samar terdengar di sekeliling kami. Gue mencoba untuk menahan kesabaran dan menahan tangan gue untuk tidak langsung menangkup wajahnya untuk membuatnya melihat siapa yang akhirnya menjadi suaminya. “Takut Mam,” lirihnya seraya menggeleng. “Nggak apa-apa sayangku. Coba intip dulu wujud kekasih halalmu ini yang akan menjadi ladang ibadahmu ke depannya. Di jamin mantap.” Bianca tetap menunduk. “Wajar kalau masih malu.” Tiba-tiba Pak penghulu ikut berbicara. “Nanti juga lama-lama juga mau.” Gue berusaha untuk menahan tawa. Karena tidak sabar, akhirnya gue pegang dagunya dan memaksanya untuk mengangkat pandangan. Tolong ya dia bukan Aisyah, jadi nggak perlu sok malu seperti ini. Eh, dia malah menutup matanya. "Buka matamu,Bianca." Gue buka suara dan nyatanya itu berefek untuknya. Mungkin merasa familiar dengan suara gue. Gotcha, I got you my hottest wife. Grr!! Dia langsung membuka matanya dan terbelalak kaget seperti melihat malaikat pencabut nyawa bahkan sampai reflek mundur selangkah dengan tampang shock. Andreas Dustin, lelaki yang lo gampar dan katain m***m yang akhirnya jadi suami lo. Nggak berkutik kan lo jadinya. Iblis dalam diri gue tertawa penuh kemenangan. "Cium tangan suamimu sayang." Mama Nara kembali berbicara. Bianca maju perlahan lalu mengambil tangan gue dengan terpaksa dan nyium telapak tangan gue yang gue balas dengan membelai kepalanya. Dalam hati menyabarkan Bianca. Kadang memang hidup itu tidak seperti negeri dongeng Bi. Banyak nggak adilnya. Saat dia melihat ke depan, gue menyeringai penuh kemenangan dan dia hanya bisa bengong. Gue yakin keinginan terbesarnya saat ini di dalam kepalanya adalah menggampar gue, suaminya sendiri. Kita lihat saja nanti, dia atau gue yang akan memiliki perasaan cinta lebih dulu. "Alhamdulillah kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri." Papa Ahmad mendekat dengan senyuman lebar di wajahnya dan langsung memeluk kami berdua bersamaan dan bertahan saat punggung gue ditepuk-tepuk dengan kerasnya. "Makasih Pap," jawab gue hampir saja kesedak ludah sendiri. Bianca mungkin masih shock jadi dia diam saja. "Pap, biarkan mereka tukar cincin dan menjalani prosesi lainnya." Mama Nara akhirnya menginterupsi. "Nanti saja kalau mau kasih wejengan. Selesaikan dulu prosesinya." "Iya Mam." Beliau melepaskan pelukannya ganti menatap kami berdua bergantian. "Papa sudah senang banget akhirnya dapat mantu ganteng begini. Pasti Bianca setiap malam nggak mau keluar kamar mandangin syurga dunia seperti dia mandangin perut idolanya itu, hmm siapa namanya itu Ca–" Papa Ahmad menoleh ke anaknya yang ternganga. "Ah entahlah siapa itu. Sekarang kan sudah punya kamu Nak Dustin. Biancanya di sayang-sayang ya tiap malam." Gue menahan senyuman. "Pasti Pap. Bianca dijamin ketagihan." Bianca menoleh ke gue dengan ekspresi horor. "Ih malu ya. Mukanya langsung merah," Papa Ahmad menoel pipi anaknya asyik menggoda. Bianca merengut, bibirnya jadi maju beberapa senti. Rasanya pengen gue cipok aja sekarang. "Ih Papa apa-apan sih!! Sana sama Mama," usir Bianca kurang ajar. Lalu Papa dan Mama gue mendekat dengan wajah tidak kalah cerahnya membawa kedua mertua gue untuk menyingkir karena kami harus menandatangani buku nikah, penyerahan mas kawin berupa satu set emas berlian yang gue rasa itu sudah cukup wah. Setelah saling bertukar cincin, gue mencium keningnya lalu pipinya disertai dengan bisikan, "Cincinya masih kredit, jangan sampai hilang atau lo harus ganti rugi. Itu mahal dan gaji lo nggak cukup." Gue mundur dan melihat ekspresi cengoknya. Bola matanya seakan-akan ingin keluar karena kesal. Gue tersenyum miring. Ngisengin Bianca akan jadi kegiatan favorite gue setelah b******a pastinya. Yess!! Tanpa terduga dia juga maju dan sedikit berjinjit seakan-akan ingin mencium pipi gue padahal dia balik berbisik, "b******k lo Dustin!!" Gue menatapnya tajam sampai tepukan di sekitar kami menggema. Sial, gue dikatain b******k!!! Kemudian acara di lanjutkan dengan sesi foto yang bagi gue benar-benar momen Akward seperti si Akwaryin dan sekarang dia sedang asyik duduk mengunyah kuenya di samping gue. Mengingat lagi pose dan ekspresinya tadi seperti orang kalah berperang dan tidak sanggup lagi melanjutkan hidup di dunia berbeda dengan orang tua kami dan para keluarga yang sepertinya bisa tersenyum lebar. Gue bisa pastikan kalau nanti si Mas fotografernya cuci tuh semua fotonya bakalan ketawa tujuh turunan dan bisa menebak bahwa ada unsur siti nurbaya di dalamnya. Acara memang hanya sebatas Ijab Kabul yang dihadiri sebatas kalangan keluarga di kediaman rumah Bianca karena semuanya serba mendadak. Orang tua gue memberi kebebasan untuk menentukan kapan kami mau melaksanakan acara resepsinya entah di Jakarta atau di Bali. Saat ini kami duduk berdampingan di pelaminan tidak seperti sepasang pengantin baru tapi lebih seperti orang yang musuhan. Duduk saling menyerong sampai gue gatal bertanya karena Bianca malah asik dengan kue-kuenya dari pada nyumpahin gue. "Eh, istri. Lo sariawan ya? biasanya sudah maki-maki gue." Bianca hanya melirik sekilas dan kunyahan dalam mulutnya tambah banyak. Dia seperti orang stress. "Gue masih shock karena kena musibah jadi lo diam aja di situ nggak usah sok-sok akrab," desisnya seraya menelan makanannya Tatapannya sangar banget. "Gue kira lo bahagia bisa nikah sama gue. Si GM perfect versi wanita-wanita di luaran sana." Bianca tersedak dan menghadap ke gue, "Mulut sama otak lo minta di sumpal sama konde ya. Sok iya banget sih jadi laki." Bianca lalu mengelus dadanya. "Ya Tuhan, dosa apa gue sampai seperti ini. Baru aja nikah sudah maki-maki suami sendiri." Ekspresinya berubah lagi dari nelangsa jadi melotot sangar, "Lo diam di situ gue mau baca doa selamet dulu." Gue mencibir dan bertopang dagu memandangi Bianca yang merem dan mulutnya komat kamit. Lucu banget. Gue bergeser mendekat dan membisikkannya sesuatu, "Silahkan lo baca doa selamat sebanyak-banyaknya kalau perlu 33 kali tapi gue pastikan kalau lo nggak akan selamat dari gue nanti malam." Gue tersenyum penuh kemenangan saat Bianca membuka matanya dan menatap gue tajam yang langsung gue tatap balik dengan seringaian devil di wajah. Mau ngelawan gue,HAH!!! "Aduh, kalian ini bikin para Mama jadi baper deh. Sepertinya sudah siap masuk kamar ya natapnya mupeng banget sampai segitunya." Reflek gue dan Bianca menoleh melihat para Mama saling bergandengan mesra dan senyum-senyum. "Duh Jeng, Sepertinya kita bakalan cepat ini punya cucu. Nggak sabar ya Jeng. Apa kita masukin aja mereka ke dalam kamar sekarang juga supaya acara buka segelnya cepat terlaksana." Mereka berdua berbicara tanpa jeda membuat gue dan Bianca ternganga mendengarnya. Yes, malam pertama ya. Ekspresi Bianca sudah luar biasa horror. Gue hanya bisa menutup mulut seraya mengalihkan wajah ke samping menahan tawa. *** BIANCA Jangan tanya bagaimana perasaanku saat ini? Abstrak. Tidak jelas tergambarkan sangking kagetnya dengan kenyataan pahit yang menimpaku.Satu kenyataan yang membuatku mempertanyakannya keras-keras di dalam kepalaku. WHY HIM? Kenapa harus dia oknum tersangka yang mengakhiri masa lajangku? Menikah dengan lelaki m***m yang sialnya bosku sendiri di Legion. Sepertinya menyumpah saja tidak akan cukup. Kalau saja bunuh diri itu tidak di larang agama, aku pasti sudah langsung minum obat kuat – ah maksudnya obat nyamuk agar terhindar dari yang namanya momen malam pertama. Aku rasanya ingin sekali bertindak anarkis. Tanganku sudah gatal mau gampar muka m***m dan sok cool nya itu lagi seperti insiden ciuman tahun baru kami kemarin. Siapa yang menyangka kalau hubungan kami akan sampai sejauh dan seekstrim ini.Aku harus dipaksa menerima kehadiran lelaki yang bikin emosi jiwa sejak awal kami bertemu. Aku sudah berusaha menahan sabar harus melihat dia di Hotel yang sok kegantengan dan sekarang harus ketemu sama dia lagi di rumah, di dalam kamar dan parahnya di atas tempat tidur. OH NOO!!!! Eh sebentar-sebantar, tadi aku sempat ngakak sampai Dustin terlihat kesal dan harus menutup mulutku pakai kue bolu banyak banget membuat aku kesedakan setelahnya – untung nggak koit – disebabkan oleh Mamanya Dustin yang manggil dia baby. Eh gila, aku geli dengarnya. Aduh abang ganteng, nggak cucok sama bodimu yang kayak lelaki L-men begitu lah. Muka ganteng kebangetan, otot sudah ketahuan garangnya, cool dan sok jual mahal tapi kok ya mau-maunya di panggil baby. Aduh, aku mau ngakak lagi. Tapi setelah itu aku tahu dengan jelas apa alasannya. Dia lelaki yang tidak bisa membantah perkataan Mamanya. Aku diam-diam tersenyum penuh kemenangan. Karena apa, biasanya nih ya – biasanya – lelaki model begitu nurut juga sama istri. Aku terkekeh penuh akal busuk. Okelah, nasi sudah menjadi bubur. Tinggal dilengkapi dengan suwiran ayam, telor, kasih bumbu sedikit sama kuah jangan lupa pake kecap sama sambal akhirnya aku telan dah bulat-bulat kenyataan ini. Ngenesnya oh ngenesnya hidupku. Berasa jadi Aisyah jadi-jadian. Plak!! “Gimana Mbak, pilihan Mama sama sekali tidak mengecewakan kan?” Aku yang duduk sendirian di pelaminan dengan hiasan bunga-bungaan ini di datangi dua adek kurang ajar yang di wajahnya menyiratkan bahagia. Aku mendengus. “Kalian berdua memang tega banget ya sama Mbak. Kenapa kalian biarkan Mama membuat semua kehebohan ini?” Agil berdecak, “Kalau Agil sih nggak mau lihat Mbak Bian nikah seperti ini tapi Mama kalau sudah ada maunya kan nggak bisa dilawan. Mama sudahmengancamtidak akanmerestui Agil pacaran sama Alisya kalau nggak mau ikut dalam sandiwaranya.”Aku langsung mengacak rambutnya gemas dan kesal. “Kamu?” tanyaku ke Bella. “Ah kalau kamu pasti hanya mikirin cepat-cepat nikah sama abangmu itu kan?” Bella memeluk sebelah lenganku, “Nggak gitu Mbak. Kasihan Mama yang tiap pulang arisan wajahnya pasti buram seperti kena mendung seabad nggak kelar-kelar. Apalagi kalau habis pulang dari acara kondangan. Wuih, seperti ada badai di ekspresi wajahnya. Bella nggak tega ngelihat Mama yang curhatannya itu mempertanyakan kapan Mbak bawa calon mantu.” Bella nyengir. Aku menghela napas panjang. “Kamu nggak kasihan sama Mbak?” Bella menggeleng. Aku jelas melotot. Adek macam apakah dirimu wahai Bella? “Jangan marah dulu Mbak,” Bella tersenyum. “Bella sih sudah tahu kalau Mbak Bian pasti nggak akan menerima gitu aja tapi Bella pikir, Bang Andreas pasti bisa membuat Mbak menerima pernikahan ini dengan ikhlas. Siapa sih yang bisa menolak lelaki seperti Bang Andreas gitu?” kekehnya. Aku mendengus. “Apalagi Mbak kan lemah terhadap lelaki ganteng.” Sebenarnya kenapa sih aku seperti anti banget sama dia? Secara ya, wanita normal mana di dunia yang nggak akan langsung ngejreng matanya di kasih penampakan model Dustin. Biar kata dia setan juga semua bakal melotot. Perfect. Itu aku akuin banget. Dari segi luar aku pasti bakalan puas punya suami model dia dan nggak akan malu menggandengnya ke kondangan dan ngenalin dia ke semua teman-temanku walaupun setelahnya aku harus ekstra kerja keras menjaganya supaya tidak terjadi aksi pelakor yang dioknumi teman sendiri. Zaman sekarang mah nggak pandang bulu atau apapun. Suka main sikat-sikatan punya temen sendiri. Dari segi dalamnya – hmm, itu membutuhkan penelitian yang lebih mendalam nantinya. EH! “Akan ada saatnya nanti Mbak Bian mensyukuri pernikahan ini kok,” kata Bella sok bijak. “Sok tahu!!” ujarku dengan senyuman masam. Aku menghela napas panjang. Setelah bertahun-tahun sebelum ini hanya bisa mupeng lihat roti sobeknya babang Ji Chang Wook, akhirnya aku punya roti sobek sendiri. Ck. Aku nih sebenarnya bahagia atau pengen nangis sih. Intinya, First impression ku sudah minus buat dia. Sadar banget kalau kegantengannya itu membuat banyak wanita salah fokus hingga membuatnya bersikap songong. Belum lagi kemesuman yang bisa dipastikan kalau di dalam otaknya lebih berpasir lagi. Matanya berkilat jahil dan menggoda berbanding terbalik dengan ekspresi sombong yang dia tampilkan. Jadi seperti songong gitu minta di tabok. Sok jual mahal tapi doyan. Bah!!! Jadi ya kita lihat saja nanti apa dia memiliki kharisma lelaki dambaanku yang bisa dibanggakan di luar dari kesempurnaan fisiknya. Bagiku sendiri, sebagai tipikal wanita yang doyan pria lebih tua, lebih dewasa dan lebih bisa mangayomi seperti Mas Roro Anjasmara – aduh, dia sudah bahagia di Jepang sana – Andreas Dustin jelas tidak memenuhi syarat dan ketentuan. Aku akan memikirkan cara untuk memberinya pelajaran pelan-pelan. Seorang Andreas Dustin harus bertekuk lutut di bawah kaki istrinya sendiri. Meskipun kelihatannya sulit banget tapi aku percaya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Nyatanya toh, kami akhirnya menikah. Nggak ada angin nggak ada hujan. Ah ya cuma badai katrina doang. Itu adalah misiku sebagai seorang istri. Dia harus mengikuti semua kemauanku tanpa terkecuali. Kecuali , malam pertama. ASTAGA!!! SUMPAH AKU BELUM SIAP NGELIHAT PUNYA DIA!!! Setelah meladeni ucapan selamat dari para angora keluarga, aku mencoba untuk berdamai dengan keadaan dengan cara mengunyah aneka macam kue yang tersaji di meja prasmanan efek dari rasa stress yang menyebabkan lapar tidak berkesudahan. Seruan dari belakang punggung membuat aku berbalik dan kembali berhadapan dengan dua adek kurang ajar yang berdiri sambil cengegesan. "Apa lagi lo berdua?!" Kue yang aku makan sampai muncrat ke wajah mereka yang reflek mundur. Bella langsung ngambil tisu. “Coba lihat tingkah Mbak Bian yang seperti ini.Ck. Ingat-ingat kalau sekarang sudah menikah Mbak. Nanti Bang Andreasnya kabur.” “Ya bodo amatlah!!” kataku keki. Sedangkan Agil menarik lenganku untuk mengikuti dia ke arah keluargaku yang duduk bergerombol dekat kolam renang. "Jangan gitu Mbak. Nanti kalau kabur beneran diambil orang jangan nyesal loh,” kekeh Agil. Aku melotot.Dan ah ya, Jangan tanya suamiku di mana, aku nggak urus. Aku langsung di dudukin di tengah-tengah mereka. Ada Mama dan Mama mertua juga di sana. Agil pergi entah ke mana sedangkan Bella ikutan nimbrung. "Nah, ini pengantinnya. Ya ampun wajahmu manglingi tenan Bi. Coba lihat aura-auranya. Bersinar banget." Aku hanya bisa mengerjapkan mata mendengar bude tertua berkata apa lah itu. "Ya jelas toh Mbak. Seharusnya memang dari setahun yang lalu rencananya Bianca ini tak kawinin sama Nak Dustin. Iya toh Jeng?" Mama menoleh ke Mama mertua yang mengangguk setuju. "Masalahnya, aku masih ngasih Bianca kesempatan nyari jodohnya sendiri. Tenyata ya, jodohnya ya tetap aja si Dustin. Ganteng kan mantuku." Para Mama berkoar di antara para kerabat. Betapa ganteng menantunya yang m***m itu. Aku mah bisa apa selain duduk diam menonton dan mendengarkan. Mama tidak akan bisa dihentikan karena hatinya pasti sedang bahagia tak terkira. Anggap aja yang dikawinin Bianca yang lain bukan aku. "Iya. Ganteng banget. Jeng Raya nggak punya anak lagi selain Dustin gitu yang bisa saya kawinin sama cucu saya nanti. Kalau nggak, buat lagi aja lah satu. Sudah terbukti banget bebet, bibit dan bobotnya," Tanya Tante Aren. Aku yang ada di tengah-tengah mereka masih setia mengunyah kue yang tadi masih nyangkut di tangan dan belum habis sambil mendengarkan dengan khidmat seraya menolehkan kepala bergantian ke kanan dan ke kiri seperti pertandingan voli saat tujuh belasan. Main oper-operan jawaban. Anggap aja yang dikawinin Bianca yang lain bukan aku (2x). Mama mertuaku tertawa anggun, menutup mulutnya dengan tangan dan mengangguk-angguk setelah itu tangannya mengibas halus, "Ah, bisa aja. Masa sudah tua gini masih di suruh berojolin anak sih. Nggak sanggup Jeng. Saya sih ngarepin cucu aja nanti. Pasti hasilnya lebih bagus dari Dustin," kata Mama Mertua. Aku kesedak. Semua langsung mengangguk dan menatapku dengan senyuman penuh arti. "Ah iya ya. Bianca di campur Dustin pasti jadinya bakalan cetar banget itu," Mama menimpali. Mereka berbicara seakan akan oknumnya sedang sibuk bikin anak dan mereka tinggal request mau yang bagaimana. Tatapannya itu loh, ngode banget. Aku berusaha menelan kue meski dengan susah payah. Seketika merasa kenyang. Perasaan tadi cuma makan kue satu piring doang. Bianca di campur Dustin nongolnya Syahrini. Itu gimana ceritanyaa!!! Lalu entah dari mana Dustin nongol di kawal sama Papa dan Papa mertuaku melintas di depan kami para wanita yang mengobrol heboh. Ya ampun kayak drama bollywood banget dah. Tinggal aja suruh Dustin joget-joget di sono. "Permisi semuanya," katanya sopan seraya tersenyum. Dan semua wanita tidak peduli tua dan muda langsung menatap suamiku penuh binar kecuali aku yang mencibir. "Subhanallah." "Alhamdulillah." "Wah banget gantengnya." "Luar biasa ya." "Beruntung banget ya Bianca." Bude mengelus kepalaku yang hanya bisa nyengir kuda. Beruntung dari Hongkong. Yah, walaupun semua ini berawal dari tragedi koper yang tertukar di Hongkong sana. Semua gumaman itu memenuhi telinga yang membuat perutku mual pengen muntah. Ishh dasar Dustin pencitraan, nggak mau kalah kayak pejabat. Cih!!! "Bianca sayang, nanti Mama request bayi chubbynya dua ya. Terserah aja mau jenis kelaminnya apa, yang penting sehat." Mama mertua menatapku penuh harap. Aku bengong. Lah habis itu Mamaku sendiri ikut-ikutan. "Mama juga Bi. Dua juga ya." Enak banget ngomongnya. Memangnya bikin anak seperti ngadon tepung terus masukin oven tinggal nunggu jadi. Lah kita ini yang capek. Belum buat aja sudah dipesenin empat. Capek ngangkangnya, capek ndesahnya, capek goyangnya – ah ini mah bagian Dustin – capek segala-galanya lah. Fiuhh, aku jadi pengen. Lah!!!! "Astaga Jeng, sudah jam sembilan malam. Ayuk kita siap-siap." Aku melotot. Apa lagi ini. "Ada acara yang lain lagi ya Mam?" Tanyaku b**o. Mereka berdua mesem-mesem. "Nggak ada sih, kamu biar kami suruh istirahat duluan biar bisa siap-siap." Perasaanku nggak enak banget saat mereka berdua kompak memegang kedua lenganku di masing-masing sisi sedangkan Bella, Tante dan Bude menatapku sambil senyum-senyum.Aku yang sadar dengan situasi gawat ini langsung menggelengkan kepala kencang. "Nggak mau Mam. Bianca takut." Yang lainnya tertawa. Mamaku terkekeh. "Nggak apa-apa sayang. Dinikmati aja. Nanti juga kamu ketagihan kok." Asmaku rasanya mau kambuh. Aku diseret sama kedua emak yang tenaganya super ini naik mengarah ke lantai atas ke arah kamarku yang sejak tadi pagi terkunci. Entah apa yang ada di dalam sana. Aku tadi diungsikan ke kamarnya Bella. "Tenang aja sayangku. Dustin sudah Mama pesanin untuk olahraga teratur, banyak-banyak minum suplemen sama makan buah pisang supaya nggak malu-maluin Mama." Mama mertuaku tertawa. Gelenganku makin kencang saat kami sudah berada di depan kamar. "Mam, sebelum Bianca lurusin yang itu, bagaimana kalau kita lurusin perjodohan mendadak ini. Bianca belum siap Mam." "Nggak apa-apa sayang dinikmati aja momennya.” Mama membuka kamarku dan langsung mendorongku masuk ke dalam yang langsung bengong melihat penampakan kamar, err, pengantin yang spektakuler. Aku mengerjapkan mata. Aroma bunga segar semerbak menusuk hidungku. Ini kamar atau kebun bunga. Ya ampun mereka niat banget ya. Aku menatap bergantian kedua Mamaku dengan tampang horror tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi malam ini di sana. "Kami tinggal ya sayang. Siap-siap aja dulu. Mau luluran atau mau ngapain lah terserah supaya nggak nervous. Selamat bersenang-senang. Nanti Dustin yang buka pintunya ya. Muah." Kedua Mamaku mengedip dan memberikan ciuman jauh. Aku ngeblank. Tidak bisa berpikir untuk lari saja saat ini juga. Sampai mereka menutup pintunya diikuti dengan suara bunyi kunci di putar setelahnya yang langsung menyadarkanku. ASTAGA, DOSA APA DIKUNCIIN!!! Aku melorot ke lantai tidak punya daya tenaga. Astaga hidupku penuh drama.Sembunyi. Di manapun yang penting harus sembunyi. HELP!!! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN