ME.5 : TAKDIR MACAM APA INI?

3205 Kata
“Katakan kalau ini semua hanya becandaan belaka” -Andreas Dustin, lelaki lajang yang dipaksa menikah - DUSTIN Selama dua hari sebelum tahun baru setelah acara penyambutan malam itu, gue memilih untuk jalan-jalan ke Kota Macau. Mencoba mengabaikan perkataan rencana perjodohan itu. Siapa tahu aja malam itu Mama lagi ngelindur. Tadi malam sekembalinya ke Hongkong, gue langsung tepar dan tidur sampai pagi. Untungnya saat pergantian Tahun nanti malam, gue akan merayakannya bersama teman sekolah gue yang kebetulan berada di Hongkong bersama istrinya. Dari pada bengong sendirian, ya udah gue iyain aja ajakannya. Gue keluar dari dalam kamar mandi hanya mengenakan jubah mandi berniat untuk sarapan pagi yang sudah tertata rapi di atas meja. Kalau di restoran hotel malas meladeni wanita-wanita yang sibuk tebar pesona. Gue di berikan segala-galanya terutama kesempurnaan fisik tapi hidup juga seadil itu ketika gue memiliki sifat menyebalkan, angkuh, dan memiliki gengsi yang tinggi. Yeah, hidup itu selaras berkesinambungan. Gue ini lelaki biasa yang bahkan belum memiliki wanita untuk di jadikan istri. Damn!! Gue mendekati meja makan, duduk di salah satu kursi yang menghadap langsung ke pamandangan spektakuler kota Hongkong, mengangkat cangkir kopi hitam yang masih mengepul dan menyerumputnya perlahan. Rasanya nikmat. Gue berharap siapapun istri masa depan gue nantinya memiliki skill meramu kopi yang enak. Gue menikmati makan roti bakar dengan selai srikaya lengkap dengan buah pisangnya. Gue salah satu lelaki paling nggak ribet versi Mama di rumah soal makanan. Duh, gue jadi teringat lagi dengan perjodohan itu. Damn!! Tiba-tiba ponsel yang tergeletak di atas meja langsung berdering. “Duh si Mama,” gumam gue. “Apa gue beneran mau dijodohin ya?” Gue mengacak rambut dan terpaksa mengangkat panggilannya. "Baby," panggil beliau. "Iya Ma?” "Kok lesu gitu sih suaranya?" "Dustin baru aja mau sarapan Mam.” "Besok kamu dari Hongkong jangan langsung ke Bali tapi pulang dulu ke Jakarta ya." Gue mengerutkan kening, "Loh memangnya ada apa Ma?” Mama terdengar menarik napasnya lalu menghembuskannya. Gue menunggu dengan was-was. "Sebulan lagi Mama mau ngawinin anak Mama. Yeaaayy!!! Mama mau ngunduh mantu lagi. Aih senangnya." Kopi gue muncrat. Ngunduh mantu? Jadi perjodohan itu beneran ya. Damn it!! Gue taruh cangkir di meja hingga menimbulkan bunyi seraya duduk tegak, "Maksud Mama apa sih mau ngawinin anak kayak mau ngawinin kucing aja?" Mama malah tertawa cekikikan. "Hus, kamu ini ngomong sembarangan. Nah, ceritanya beberapa bulan ini Mama sama Jeng Nara – sahabat Mama yang punya butik itu - anak gadis perawannya belum nikah-nikah. Dia pusing banget. Mama sudah beberapa kali ketemu sama dia kalau lagi di Jakarta dan dia itu cocok banget kepribadiannya sama kamu, Baby. Bagaikan bumi dan langit. Klop lah." Gue ternganga.Tidak berhasil memasang wajah tenang gue yang biasanya. Mencoba memahami dengan jelas arti dari kalimat bagaikan bumi dan langit. Di mana letak klopnya? "Tapi Mam—" "Mama harap kamu mau menerimanya.” Gue-mau-dijodohkan-dengan-wanita-entah-siapa. "Tiba-tiba saja Jeng Nara setuju untuk melakukan perjodohan ini. Mungkin dia sudah nggak punya cara lain untuk mendesak anaknya agar cepat menikah. Jadi sebulan lagi kamu siap-siap menikah dengan Bianca. Mama yang akan atur semuanya." Gue hampir saja menjatuhkan pisang yang tadi gue ambil. Berharap nggak salah dengar. "Siapa?" "Bianca. Nanti Mama kirimkan biodatanya. Tapi ya Baby—" Bianca. Bianca. Bianca. Bianca si perawan itu bukan? "Jeng Nara merahasiakan ini semua dari anak gadisnya. Mungkin takut kalau dia lari." Gue terhenyak di di kursi seraya mengacak rambut. "Tapi Mam, Dustin—" "Kalau masalah cinta bisalah kalian kembangkan pelan-pelan. Mama bisa tenang kalau kamu sudah menikah meskipun tinggalnya jauh dari Mama sambil nunggu kabar-kabari tentang cucu." "Kak Jelita aja yang duluan—" "Nggak usah bawel. Kamu tahu kan kasih Ibu itu sepanjang masa. Kamu masih ingatkan kalau syurga itu di telapak kaki Ibu. Kamu nggak lupa kan kalau Ibu itu pasti memberikan anaknya yang terbaik." Gue nyerah. Gue susah membantah kalau Mama sudah berkoar seperti itu. Satu hal di dunia ini yang membuat gue jadi lelaki lemah adalah saat melihat Mama yang sebagaimanapuna absurdnya itu menangis. Dan karena ini pula kakak gue, Jelita, mengatakan kalau nantinya gue akan menjadi salah satu lelaki yang masuk jajaran lelaki berpredikat suami-suami takut istri. BAHH!!! "Dustin kamu dengerin Mama kan? Atau Mama nangis aja nih?" Ancamnya. "Jangan!!” pekik gue. “Dustin mau lihat dulu biodata lengkap wanita itu ya?” "Nah gitu dong. Mama yakin kalau kamu bakalan suka sama dia." Suaranya terdengar amat sangat gembira sedangkan gue di sini hanya bisa meratapi nasib. "Kalau begitu sudah dulu ya. Mama mau mengurus semuanya. Kamu nggak usah mikirin apa-apa. Cukup kamu latihan Ijab Kabul dan siapin tubuh kamu dengan baik biar bisa menghasilkan anak yang berkualitas nantinya. Jangan lupa biar kuat begadang beronde-ronde kalau istri kamu ketagihan." Gue mengusap wajah dengan gusar. “Mam, Dustin belum bilang setuju—" "Sudah dulu ya Baby. Muah.” KLIK. Tangan gue terkulai lemah di atas sanggahan kursi saat panggilan di matikan. Damn!! Gue hanya bisa mengumpat dalam hati saat ponsel gue berbunyi yang menandakan adanya email masuk membuat gue bergeming dengan ponsel di depan wajah dan membaca benar-benar biodata wanita itu. "Astaga, takdir macam apa ini?!" Teriak gue tidak percaya. Ternyata, insiden koper tertukar itu bukan hanya selingan hidup gue belaka. Nyatanya wanita itulah yang dipaksa menjadi pelabuhan terakhir gue dalam menjalani pernikahan versi cepat ini. Bianca Rinjani Akwaryin, nanti malam ulang tahunnya yang ke 30 tahun, Single, Public Relation Manager Hotel Legion Bali. Umurnya di atas gue dan dia itu bawahannya gue di Legion. "HAHHAHAHHAHAHHAHA." Gue tertawa sendiri seraya menjambaki rambut. Entah kenapa, di kepala gue ada sebersit pemikiran kalau gue nggak akan penasaran lagi bagaimana seksinya Bianca memakai lingerie dan underwearnya yang kece-kece itu karena nanti setelah gue membuktikan keperawannya dia, gue bakalan nyuruh dia fashion show tiap malam hanya pakai dalamannya doang. Lah, kok gue malah mikir gitu duluan ya? Tapi apesnya, baru dibayangin gitu aja sudah ada yang bangun. Buyar sudah acara sarapannya. Gue berdiri dan langsung melesat ke kamar mandi dan membanting pintunya lalu menyalakan shower. Sialan Bianca, efeknya sampai begini!!! Kadang ya takdir benar-benar bisa selucu ini. *** BIANCA Pada tahun 2016 , Hongkong dinobatkan menjadi The Most Amazing Place to Celebrate New Year Ever. Benar-benar Negara pilihan para travelling untuk menyaksikan kembang api tahun baru paling super megah di Asia. Untuk menyambut tahun 2018 kali ini, Hongkong akan menyajikan Musical Fireworks di Victoria Harbour. Untuk pertama kalinya langit Hongkong akan diterangi oleh kembang api Magical Star Dust yang dihadirkan dari pembuat kembang api yang telah memegang penghargaan di Eropa. Terinpirasi dari peri-peri yang menari dan menyebarkan debu bintang ajaib ke seluruh Victorian Harbour yang ikonik. Hongkong memang menjadi destinasiku untuk menyambut tahun 2018. Beruntungnya, keinginanku terwujud berkat undangan seminar mewakili pihak Hotel Cabang Legion Bali bersama dengan beberapa teman kerjaku secara gratis. Syukurlah, aku masih seberuntung itu meskipun juga sengenes itu. Dari sederet resolusiku tahun lalu yang terpenuhi hanya beberapa dan lebih banyak yang lost. Contohnya, rencanaku menyaksikan kembang api bersama dengan belahan jiwa. Ouchh, bahasanya. Aku-kan juga ingin saat kembang api mewarnai langit Hongkong, aku bisa mencium pangeran hatiku seperti pasangan-pasangan relationshop goals kekinian yang sering aku lihat di media sosial. Jelas harapan itu kembali masuk dalam list resolusiku tahun depan. Aku pasrah.Nggak ada yang bisa aku cium saat ini. Setidaknya ya meskipun ulang tahunku kali ini tanpa kekasih tapi kenyataan kalau ulang tahunku dirayakan secara besar-besaran di seluruh dunia pakai kembang api cukup menghibur. Yeah, anggap ajalah begitu yang penting bahagia. "This's amazing place for celebrate," pekikku sok inggris ke Prilly. Kami memilih menyaksikan kembang api dari restoran rooftop salah satu gedung bertingkat yang langsung menghadap ke pelabuhan Victoria Harbour.Sambil nunggu, kita bisa duduk santai menyesap cocktail dan mendengarkan live music. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan. Sedangkan Aryan, memiliki janji sendiri dengan seseorang yang dia rahasiakan, entah siapa. "Idih situ seneng banget sih. Seharusnya ya, di saat-saat seperti ini lo tuh bisa merayakannya sama pacar, kekasih, calon suami atau suami lo atau paling nggak gebetan lo tapi kisah cinta lo masih aja ngenes Bi," cibir Prilly lalu memasang mata sok berkaca-kaca, "Sebaiknya nanti saat pertengahan malam, lo berdoa ngaku dosa supaya dicabut apapun kesialan yang lo punya dalam mencari pasangan. Minta supaya cepat ketemu jodoh dan punya kisah ending happily ever after seperti kisah gue dan Mas Ali." Prilly berbinar ketika menyebut nama suaminya yang malam ini khusus nyusul dia dari Indonesia. Aku mah apa, nasib aja jadi obat nyamuk. Krik. Krik. Aku toyor jidatnya untuk menjauhkan wajahnya yang berekspresi m***m itu dan bertopang dagu. "Gue sih positive thinking aja ya Pril. Gue belum menemukan jodoh bukan berarti gue nggak laku—" "Menurut gue sih memang nggak laku Bi." Aku melotot, Prilly cengengesan. "Mungkin, tahun ini bukan tahun keberuntungan gue soal jodoh. Walaupun gue pengen banget bisa menyaksikan kembang api di sini bersama imam masa depan gue bukannya malah kejebak sama lo dan Ali. Ngemeng-ngemeng, laki lo tadi ke mana?" Aku mengedarkan pandangan menyapu area ramai sekitar mencari sosok Ali. "Dia di bawah. Janjian sama teman SMA-nya di sini. Dia bakal gabung sama kita menyaksikan kembang api supaya elo nggak cengoklah sendirian terus mupeng melihat kemesraan kami. Gue kan nggak mau ambil resiko lo terjun bebas ke Luat Cina karena baper." Sumpah ya, mulut Prilly minta disumpal kembang api. Aku abaikan karena ada topik yang lebih menarik. "Laki-laki?" Ekspresi wajahku otomatis berbinar. Bisa sekalian dimodusinlah kalau memang benar adanya lelaki. "Iyalah. Mau gue hajar kalau dia ketemunya sama perempuan," dengus Prilly. "Ganteng?" Pertanyaan default seluruh kaum hawa yang wajib di tanyakan paling pertama. Bahakk!!! Prilly memutar bola matanya dan memandangiku dengan tatapan elo-kasihan-amat-sih-sampe-segitunya. "Jawab aja elah nggak usah sok-sok muka prihatin gitu.” "Gue nggak prihatin Bi." "Jadi apa?" "Kasihan aja sih." Aku langsung melayangkan kepalan tanganku ke mukanya. "Ya mana gue tahu. Nanti kan lo bisa lihat sendiri kalau or—" Prilly menghentikan ocehannya dan ternganga memandangi apapun yang ada di belakangku. Otomotis insting manusiaku langsung peka dan berbalik untuk melihat apapun yang sedang di lihat oleh Prilly. Pandanganku terhalang tubuh seseorang yang ternyata berdiri tepat di belakangku. Pada perut rata lelaki yang di balut kemeja slimfit nan seksi warna putih, aku menelan ludah karena sepertinya mendadak aku memiliki mata ulrasonik yang mempu melihat apa yang tersembunyi di balik kemeja itu. Lelaki ini pasti punya roti sobek. Aku mengerjap kaget tapi tetap saja tidak bisa mengalihkan pandanganku sampai orang itu berdeham. “Ehhm.” "Awas loncat keluar mata lo Bi." Suara Ali datang dari arah belakang menarikku kembali dari bayangan akan roti sobek. "Sudah puas ngelihatinnya?" Lelaki itu terdengar mencibir. Perlahan dengan efek slow motion, aku mengangkat pandangan dan ternganga. Demi populasi cogan yang ada di dunia, kenapa harus lelaki ini lagi yang muncul di depan wajahku!!! Lekaki itu menampilkan ekspresi songong – menyeringai seraya menaikkan alis – seakan-akan sebelum aku sudah banyak wanita yang bereaksi sama saat melihat perutnya. Aku cengok nggak bisa ngomong apa-apa. Ketahuan memandangi perut yang-pasti-six-pack-dan-seksi milik GM baruku. Andreas Dustin. SIALAN!!!! NIKMAT TUHAN YANG INI LUAR BIASA. "Kita duduk di sini aja ya Ndre," ujar Ali. "It's ok. Gue mau ke bar dulu ya." Dustin berlalu dan kepalaku seakan terprogram otomatis mengikuti langkah kakinya sampai dia duduk di meja bar panjang di depan barista yang sedang meracik minuman. "Seriusan Al. Teman SMA lo, Andreas Dustin?" Aku menoleh ke Ali yang merangkul istrinya menuntut penjelasan. "Iya. Kenapa? Dunia lo jadi sempit ya. Dia bukan cuma teman SMA tapi partner bisnis." Mataku mengerjap, Prilly tertawa senang. “Sepertinya ya Bi, kalian memang ditakdirkan untuk selalu bertemu. Yah, walaupun gue juga nggak nyangka kalau Dustin orangnya. Jangan-jangan—" Prilly menutup mulutnya dengan tangan, melirik sekilas Dustin lalu menatapku lekat. “Dia itu jodoh masa depan lo Bi.” Pletak!! Aku menyentil dahinya membuatnya mundur sambil cemberut dan mengusap -usap dahinya di bawah gelengan kepala Ali yang melihat tingkah kami. "Elo kalau ngomong jangan suka asal. Ini namanya hanya kebetulan belaka. Biar kata dia tampannya seperti dewa Yunani tapi kalau otaknya m***m, gue mah ogah." Prilly terbahak. “Kebetulan yang terjadi berkali-kali ya.” Prilly mengelus dagunya sok iya. “Menarik.” Aku memutar bola mata kesal dan mencomot kentang lalu mengunyahnya cepat. Moodku jadi menurun drastis hanya karena kemunculan tidak terduga lelaki berotak m***m itu. "Yang m***m itu otak lo Akwaryin!!!" cibir Ali. “Tumban banget lo nggak mau disodorin lelaki tampan. Dia lajang loh.” Aku menggeleng. Yang di sana itu lelaki m***m yang ngajakin aku ngamar di hari pertama bertemu. Dia berbahaya dan harus di jauhi. "Mapan dan ganteng gitu masih lajang. Jangan-jangan homo lagi?" cibirku. Kemungkinan itu jelas ada dong. Sekarang kan yang homo kebanyakan modelan Dustin begitu. "Gue nggak homo. Lo butuh bukti supaya percaya?" Aku mengatupkan bibir tidak berani menoleh karena ternyata orang yang sedang aku katain homo tiba-tiba saja duduk di sampingku membawa empat gelas cocktail. Prilly sudah terbahak-bahak. "Tau nih si Akwaryin. Ngomong ngegas aja nggak di rem. Kasih aja ciuman lo Ndre supaya jadi bukti dan siapa tahu dia ketagihan," Ali mengompori. Aku melotot. Rasanya pengen menceburkan nih pasangan gila ke Laut Cina saat ini juga. "Bodo amat lah, bukan urusan gue juga!!" “Gue mau ke toilet dulu,” ucap Prilly seraya berdiri. “Eh, aku ikut dong sayang,” ujar Ali cepat membuatku menatap mereka bergantian dengan pandangan malas. Yailah, segitunya banget suami ngintilin istrinya ke toilet. Sampai akhirnya mereka pergi dan hanya menyisakan— “Kita ketemu lagi, Akrwayin.” Dustin buka suara tapi aku memilih untuk tidak menoleh. Males. Wajahnya bikin sesak napas. “Anggap aja kita nggak saling kenal.” “Tapi apa kamu tidak merasa aneh?” Dari sudut mata, aku melihat Dustin menumpukan dagunya di tangan memandang ke arahku. Jangan menoleh. Abaikan. Abaikan. “Mungkin kamu yang aneh.” Aku sok cuek memilih memandangi pasangan mesra di depan sana. “Setelah ini kita memang akan sering bertemu jadi nggak usah sok mikir yang lebay. Yah walaupun memang kebetulan yang nggak enak banget, koper yang waktu itu gue bawa ternyata koper milik bos gue sendiri.” Aku berdecak sendiri. “Lucu banget.” “Kebetulan juga, boxer yang lo bongkar itu milik bos lo sendiri.” Aku mingkem. “Kebetulan atau takdir?” tanya Dustin membuatku memutar bola mata saat melihat gelas cocktailnya di benturkan ke gelas milikku membuatku reflek menoleh dan menemukan seringaiannya di sana. “Setelah ini kita akan berhubungan lebih jauh.” Aku bergeming dengan tatapan heran melihat Dustin yang menghabiskan cocktailnya dalam sekali minum tanpa mengalihkan tatapannya dariku. Apa maksud perkataannya? Saat akan bertanya lebih jauh tiba-tiba aku melihat Prilly dan Ali di kejauhan yang mendekat dengan senyuman di wajah membawa hadiah dan kue ulang tahun dengan lilin yang menyala di atasnya membuatku langsung menutup mulut karena kaget lalu berdiri. “Happy Birthday Bianca,” Kata Prilly saat sudah berdiri di depanku menyerahkan sebuket mawar merah dan hadiah berupa tas dengan merek Channel. “Ya Tuhan. Terimakasih banyak kejutannya.” Aku terharu melihat hadiah di tanganku dan kue yang dibawa Ali. “Sama-sama. Sebentar gue ingat, yang ke—mmphh." Langsung aja aku bekap tuh mulut Prilly. "Cukup sampai di situ jangan dilanjutkan,” bisikku. "30 kan?" Aku menoleh ke Ali dengan wajah horor. Ali cengengesan. Aku langsung cemberut. Prilly mengelus lenganku nampak prihatin dan geli sendiri. "Kan memang begitu kenyataannya sayang. Jangan lesu begitu dong. Lagian orang-orang juga bisa lihat kok kalau lo sudah berumur,” kekehnya. “Sialan lo!!” desisku. Prilly mengedipkan sebelah matanya. “Sebentar lagi jam dua belas. Siap-siap tiup lilin dan jangan lupa make a wish." Aku mengangguk, melirik sekilas Dustin yang hanya diam di tempatnya memperhatikan. Ah masa bodoh sama dia. Kami bertiga duduk lagi di tempat masing-masing. Aku meletakkan bunga dan hadiah itu di meja dan menghadap langsung ke kueku yang terlihat enak itu. “30 tahun dan masih sendiri? Cukup mengenaskan sih." Suara itu halus dan pelan tapi nyucuk. Sakit mameeen hatiku. Aku menoleh dan melotot melihat seriangan di wajahnya yang tampan. Dustin sialan!!!! "Apa peduli lo?! Yang ngenes juga gue, suka-suka gue dong. Lagian juga lo sama ngenesnya. Nggak punya pasangan." Prilly dan Ali menjadi pemain figuran menyaksikan perang mulut kami sambil bisik-bisik. "Wanita yang bersedia gue ajak kencan sih banyak tapi lagi malas aja." Dustin tersenyum miring lalu menelengkan kepalanya sedikit mengamatiku. "Sedangkan lo? Gue yakin pasti nggak ada satupun." "Nggak usah sok tahu ya!!" sembur gue nggak terima. Aku dan Dustin saling adu tatap tapi ada sesuatu di pandangan matanya yang membuat kakiku gemetaran tapi jelas aku tetap mempertahankan posisi perang sampai akhirnya dia tersenyum smirk, menumpukan lengannya di meja dan mendekatkan kepalanya sedikit. "Selamat tahun baru Bianca si perawan," bisiknya tepat di depan wajahku. Ya Tuhan aromanya. Aku mengerjap tidak menyadari kalau perhitungan mundur sudah berada di angka satu dan BOOOMM , kembang api spektakuler kota Hongkong mewarnai langit yang awalnya gelap. Aku mengangkat pandangan dan terdiam. Terpesona. Amazing. Seperti taburan debu ajaib para peri bahkan lebih menakjubkan lagi yang ada di atas lautan. HAPPY NEW YEAR !!! Seruan-seruan itu menggema. Aku menyaksikannya dengan tatapan binar. Al dan Prilly berciuman mesra. Sialan memang-kan mereka berdua. Bikin mupeng. Sampai akhirnya mereka sadar dan memperhatikanku. Eeergghh!!! "Selamat ulang tahun dan tahun baru Bianca." Prilly berdiri dan memelukku erat. “Selamat ulang tahun Bibi,” Ali tersenyum dari tempatnya duduk. “Makasih banyak,” aku balas tersenyum. "Sekarang tiup lilinnya Bi.” Prilly duduk lagi di tempatnya seraya bertopang dagu. Aku mengangguk. "Makasih banyak kalian berdua juga kejutan dan hadiahnya," ucapku dengan mata berkaca-kaca. “Jangan harap kalau gue bakalan beliin lo underwear Victoria’s Secret ya. Nanti minta beliin sama suami lo aja.” Prilly terkekeh. “Kalau sudah punya.” Aku memutar bola mata mendengar ejekannya. "Gue tiup lilinnya ya." Aku menatap kue itu dan memejamkan mata meminta permohonan. Tuhan, tolong tunjukkan di mana jodohku berada. Amin. Aku membuka mata dan meniup lilin itu di bawah kerlipan kembang api yang belum berhenti memancarkan keindahannya. Aku lebih dari bahagia. Bersyukur akan apa yang aku miliki selama ini. Keluarga harmonis dan sahabat yang selalu ada buatku. Kalau masalah jodoh, aku yakin Tuhan akan menunjukkannya nanti pelan-pelan. Aku menatap lagi langit di atas terhanyut seperti semua orang yang ada di sana menyaksikan atraksi kembang api paling indah yang pernah aku lihat. "Bianca." Panggilan itu berasal dari sebelahku hingga reflek membuatku menoleh dan tersenyum melupakan kenyataan kalau Andreas Dustinlah yang memanggil. "Iya." Lelaki itu tersenyum tipis. Amat sangat tampan. Lalu dia memajukan duduknya membuatku seketika menatapnya heran karena jarak kami semakin dekat. "Ini hadiah dari gue. Selamat ulang tahun Akwaryin." Aku mengerjapkan mata kaget dan sebelum sadar dengan apa yang terjadi, Dustin menangkup wajahku dengan kedua tangannya dan tanpa permisi ataupun kata peringatan, bibirnya menempel di bibirku. Aku bengong. Bahkan tidak peduli dengan pekikan Prilly. “AWWWW!!!” Mimpikah aku atau ini hanyalah hayalan? OMAIGAAAT!! WHAT THE HELLOOOOW!! Aku benar-benar bisa merasakan aroma maskulinnya dan sentuhan bibirnya yang begitu lembut. Menatap matanya yang tertutup dan bulu matanya yang tipis tapi panjang. Haruskah aku bahagia atau marah? Euforia tahun baru di sekitarku masih tetap semarak tapi aku seperti berada di dimensi lain bersama Andreas Dustin yang masih mencium bibirku lembut penuh penghayatan seakan-akan ini ciuman kami yang pertama kali setelah resmi menjadi kekasih membuatku ikut terhanyut dan meresapi rasanya. Perlahan, kelopak mata itu membuka sehingga aku bisa menatap jelas mata hitamnya yang berpendar dan menatapku lekat membuatku terhipnotis. Ampuuuunnn Mak, anakmu nggak kuat!! Astaga, aku mau pingsan!! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN