Bab 15. Sah

1166 Kata
"Kamu sudah siap,Nak?" tanya Darmi saat memasuki kamar. Terlihat gadis itu bersama dua orang perias dari salon langganan Amelia yang sedang memoleskan make up tipis. "Sebentar lagi, Bu Darmi," balas gadis yang kini memakai kebaya warna putih hadiah dari sang majikan untuk acara ijab kabul yang akan dilaksanakan beberapa jam lagi. Setelah kejadian Ferra mendatangi Ara di rumah Willy Taher beberapa waktu yang lalu, Amelia memutuskan untuk melakukan tes pada janin Ara yang akhirnya hasil tes menunjukkan 99% DNA Leon cocok sebagai ayah biologisnya. Sesuai dengan kesepakatan awal bahwa Ferra harus mengizinkan putranya menikahi Ara dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Meski sebenarnya masih merasa berat, tetapi akhirnya Ferra menyetujui. "Lho, kamu kok menangis, Nak?" tanya Darmi yang kini sudah berdiri tepat di belakang Ara saat melihat air mata sudah menggenang di kedua pelupuk mata gadis itu lewat pantulan cermin. Ara segera mengambil tisu dan mengusap air mata yang telah terjatuh di kedua pipinya. "Saya juga bingung, Bu Darmi. Dari tadi Mbak Ara menangis terus. Jadi, make up-nya nggak selesai-selesai," ucap salah satu dari wanita yang sedang merias Ara. "Apa kamu ingin pernikahan ini dibatalkan, Ara? Biar Bu Darmi yang ngomong sama nyonya Amelia," ucap Darmi membuat Ara spontan menggelengkan kepala. "Jangan, Bu. Nyonya Amelia sudah sangat baik karena peduli dan memperjuangkan nasib Ara. Lagipula beliau benar, kalau calon anak saya nanti butuh status yang hanya bisa saya dapat dari Tuan Muda Leon. Meskipun saya tahu pasti dia juga terpaksa menikahi saya," balas Ara sembari menengadahkan wajahnya agar air mata tak lagi jatuh di kedua pipinya. "Ya sudah, kamu yang sabar ya, Nak. Paling tidak sampai bayi kamu lahir. Ibu yakin Tuan Leon akan luluh hatinya setelah melihat anak kalian lahir nanti. Pada dasarnya dia lelaki yang baik, ko. Ibu sudah lama mengenalnya karena bersahabat dengan Den Alex, hanya saja menurut Ibu Tuan Leon itu salah didikan dari Nyonya Ferra." "Iya, Bu. Doakan saja saja supaya saya bisa menjalani semua ini." Ara bangkit dari kursinya lalu memeluk Darmi yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri. "Sudah, jangan nangis lagi. Nanti Nyonya Amelia malah heran. Kalau memang ini sudah pilihan kamu, semoga semuanya berjalan lancar." "Aamiin." Ara kembali menghapus air matanya, kemudian kedua orang perias segera memperbaiki make up gadis itu. Ara pun berjanji tidak akan menangis lagi setelahnya. Setelah make up selesai, mereka segera keluar kamar karena Alex dan Amelia sudah menunggu di mobil . "Wah, kamu cantik sekali, Ara," puji Amelia kagum saat Ara masuk mobil. Sementara Alex yang duduk di di jok depan bersama sopir sempat melirik ke belakang di mana gadis itu duduk bersama mommynya. Hati lelaki tampan itu berdesir merasakan kekaguman pada kecantikan gadis polos yang selama ini tidak pernah memakai make up itu. "Tuhan, ternyata dia cantik sekali. Kenapa gue jadi nggak rela kalau Leon menikah dengannya?" gumam Alex dalam hati sambil memperhatikan wajah Ara lewat pantulan kaca spion. "Kita berangkat sekarang, Lex?" " Pertanyaan Amelia membuyarkan lamunan Alex. "Eh iya, Mom. Keluarga Leon sudah menunggu," balasnya sembari membuang pandangan ke luar jendela. "Astaga, bisa-bisanya gue berpikir seperti itu." Alex segera membuang rasa yang mengganggu pikirannya dan berusaha tetap fokus pada pernikahan Ara dan Leon. Sedangkan Willy Taher tidak bisa ikut mengantar calon pengantin karena sedang ada rapat di luar kota. Amelia pun memerintahkan sopir untuk menjalankan mobil menuju rumah Leon karena pernikahan akan diadakan di sana. Acara hanya sebatas ijab kabul yang dihadiri oleh saksi dan beberapa orang yang diundang oleh keluarga Johansyah. Ferra mengatakan kalau pestanya akan diadakan nanti bersamaan dengan pernikahan Icha. Padahal sebenarnya Itu hanya alasan Vera untuk tidak mengadakan pesta pernikahan Leon. Istri johansyah Akbar itu tentu saja tidak ingin kalau pernikahan putranya diekspos umum karena menantunya hanya seorang mantan asisten rumah tangga. Ferra hanya sedang mengulur waktu dan memutar otak untuk memikirkan bagaimana caranya mengakhiri pernikahan putranya dengan Ara tanpa harus melahirkan bayi yang sebenarnya tidak dia inginkan itu. Mobil mewah berjenis Mercedes Benz yang membawa pengantin wanita itu membelah jalanan Kota Bandung menuju rumah kediaman keluarga Johansyah Akbar. Sementara itu Leon yang sedang menunggu kedatangan Ara tampak gelisah.Berkali-kali lelaki itu terlibat pertengkaran ringan dengan mommynya karena pernikahan ini. Ferra tidak henti-hentinya mengungkit kesalahan Leon yang telah tidur bersama seorang asisten rumah tangga, bahkan sampai mengulanginya di rumah Alex. Hal yang pada akhirnya membuatnya harus terjebak dalam pernikahan ini. Namun, entah kenapa Leon tidak merasa menyesalinya. Lelaki tampan itu justru merasakan sesuatu yang lain saat bersama Ara yang tidak dia temukan saat bersama gadis-gadis pengagumnya. Leon sudah tidak sabar menunggu kedatangan Ara. Penghulu yang akan menikahkan pengantin sudah datang beberapa menit yang lalu, begitu juga dua orang saksi dari tetangga rumah yang juga sudah siap di sana. Sementara itu, Johansyah Akbar dan putri bungsunya, Clarissa juga sudah ada di ruangan itu. Johansyah tidak banyak berkomentar tentang pernikahan putranya. Meski kecewa Leon hanya akan menikah dengan seorang asisten rumah tangga, tetapi lelaki paruh baya itu tidak begitu ambil pusing karena Leon adalah seorang lelaki. Dia bisa kapan saja menyuruh Leon menceraikan istrinya. Sedangkan Clarissa hanya tersenyum membayangkan dirinya juga akan bersanding dengan Jose sebagai suami istri. Kalau kakaknya yang seorang Putra konglomerat bisa bersanding dengan seorang asisten rumah tangga hanya karenagadis itu hami, maka Clarissa pun berpikir kalau dirinya juga bisa segera memaksa Jose menikahinya nanti setelah benih lelaki itu tumbuh di rahimnya. "Aku harap kita juga segera menikah, Jose," batin Clarissa sembari mengusap perutnya yang masih datar. Beberapa menit kemudian rombongan pengantin wanita tiba. Acara ijab kabul segera dilaksanakan tanpa banyak drama. "Saya terima nikah dan kawinnya Alina Zahra binti Hasanuddin dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Leon dengan lantang mengucapkan kalimat ijab kabul tanpa sedikitpun membuat kesalahan. "Bagaimana para saksi? Sah?" "Sah." "Alhamdulillah." Penghulu membacakan doa pernikahan serta memberikan sedikit wejangan nasehat pernikahan untuk kedua mempelai. Sementara Alex menghela napas panjang setelah sahabatnya menghalalkan Ara. Perasaan aneh muncul lagi di hatinya. Entah kenapa Alex merasa tidak rela. Namun, lelaki itu segera menepis perasaannya dan mengalihkan pandangan ke arah Clarissa yang juga ada di sana. "Icha," gumannya lirih sembari memegang dadanya yang berdesir mengingat kebersamaan gadis itu dengan lelaki lain, juga penolakan Icha terhadapnya. "Selamat ya, Ara. Semoga kamu bahagia," ucap Amelia sembari memeluk mantan asisten rumah tangganya. Istri Willy Taher itu tidak banyak bicara dengan Ferra. Amelia tahu betul kalau Ferra terpaksa menerima pernikahan ini karena Ara telah mengandung cucunya. "Terima kasih, Nyonya Amelia," balas Ara singkat. "Oh ya. Nama ayahmu Hasanuddin, ya? Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu," ucap Amelia setelah melepaskan pelukan Ara. Wanita paruh baya itu merasa familiar dengan nama ayah Ara, Namun, mungkin hanya kesamaan saja karena di dunia ini banyak sekali orang yang mempunyai nama yang sama. "Iya, Nyonya. Di akta kelahiran saya tertulis nama ayah memang Hasanuddin. Saya sendiri belum pernah ketemu beliau. Menurut ibu saya, Ayah sudah meninggal. Namun, saat Ibu meninggal beliau meninggalkan pesan kepada dokter bahwa ayah saya masih hidup dan cincin ini akan membawa saya bertemu dengannya," balas Ara sembari menunjukkan cincin peninggalan sang ibu yang melingkar di jari manis tangan kirinya. Satu harapan muncul di hati gadis itu dan berharap suatu saat bisa bertemu dengan ayahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN