Bab 14. Tanggung Jawab

1072 Kata
"Jeng Amel!" Ferra terkejut melihat Amelia sudah berdiri tak jauh dari tempatnya berbincang dengan Ara. Istri Willy Taher itu menatap tajam ke arah Ferra dengan pandangan tak suka. Sementara Ara hanya dia menunduk. "Apa yang tadi Anda bicarakan tentang Alex?" tanya Amelia serius. "Apa? Kami tidak membicarakan tentang Alex sama sekali," elak Ferra. Padahal jelas-jelas Amelia mendengar kalau Ferra menuduh putranya sebagai salah satu lelaki yang pernah tidur dengan Ara. "Dengar, ya, Jeng Ferra. Saya dengar semua yang Anda katakan pada Ara. Saya tegaskan lagi, kalau Alex bukan tipe lelaki seperti Leon. Kalaupun putra saya khilaf dan meniduri Ara, maka saya pasti akan segera menikahkan mereka tanpa menunggu tahu Ara hamil. Saya tidak pernah mendidik anak saya untuk menjadi lelaki pecundang. Saya selalu mengajarkan Alex menjadi lelaki yang berani bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya." Mendengar ucapan Amelia, Ferra merasa tersinggung. Secara tidak langsung, istri dari Willy Taher itu telah menyindirnya. "Kalau memang begitu, kenapa tidak Anda nikahkan saja anak pembantu ini dengan Alex? Kenapa harus melibatkan Leon?" tantang Ferra. "Kalau memang janin itu anak Alex, saya akan dengan senang hati menikahkan mereka karena Ara adalah tipe calon menantu idaman saya. Ara punya inner beauty yang tidak dimiliki oleh gadis-gadis putri pengusaha seperti yang Jeng Ferra incar untuk dijadikan menantu. Sayangnya, bukan Alex yang melakukannya, tetapi Leon. Jadi, saya harap putra Jeng Ferra itu tidak lari dari tanggung jawab atau saya akan memperkarakan semua ini lewat jalur hukum. Saya punya bukti rekaman CCTV saat Leon menyusup ke kamar Ara dan melakukan hal yang tidak senonoh pada gadis itu." Mendengar ucapan Amelia, Ferra sedikit gentar. Istri dari Johansyah Akbar itu tahu kalau Leon akan kalah jika Amelia benar-benar memperkarakannya lewat jalur hukum. "Leon benar-benar ceroboh. Kenapa dia harus menyusup ke kamar anak pembantu itu dan mengulangi kesalahannya. Apalagi saat di rumah Willy Taher," batin Ferra geram karena mengingat kebodohan putranya. "Jeng Amel, rupanya Anda sudah terpedaya oleh gadis kampung yang sok polos ini. Dia sengaja mendekati Leon dan juga Alex agar bisa menjadi menantu orang kaya dan keluar dari kemiskinan." Ferra mulai memprovokasi Amelia. Namun, istri Willy Taher itu hanya tersenyum miring mendengarnya. "Maaf, Jeng Ferra. Saya rasa Anda sudah terlewat batas dalam menghina Ara. Saya tidak ingin memperpanjang masalah ini. Saya akan mengajak Ara, Leon dan Alex melakukan tes DNA pada janin itu. Kalau memang putra saya terbukti sebagai ayah biologis anak yang itu, maka saya akan menikahkan mereka berdua segera. Namun, jika Leon yang terbukti sebagai ayah biologisnya, maka Anda harus rela menerima Ara sebagai menantu. Ingat satu hal. Jangan perlakukan Ara semena-mena karena saya akan terus memantaunya. Mulai saat ini, Ara adalah tanggung jawab saya," ucap Amelia penuh penekanan membuat Ferra kesal, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Pada akhirnya, wanita paruh baya itu setuju dengan keputusan Amelia. Istri johansyah Akbar itu pun akhirnya mengalah dan berpamitan pulang. Meski ada rasa kesal terhadap Amelia yang begitu getol membela Ara, tetapi Ferra tidak bisa berbuat apa-apa selain setuju untuk menunggu hasil tes DNA yang akan dilakukan besok. Usia kandungan Ara diperkirakan sudah lebih dari dua bulan, sehingga sudah cukup aman untuk melakukan tes DNA pada janin itu dengan prenatal non invasif. "Kamu jangan takut, Ara. Aku akan selalu ada untuk mendukungmu," ucap Amelia sembari mendekati Ara yang sejak tadi hanya diam dan menunduk. Kedua mata gadis itu telah basah oleh air mata. "Terima kasih, Nyonya Amelia. Anda benar-benar wanita yang baik. Semoga Allah membalas semua kebaikan Anda terhadap saya," balas Ara lirih sembari menghapus air mata yang telah membasahi kedua pipinya. "Aku akan selalu membela keadilan, Ara. Siapa yang menurutku benar, itu yang aku bela. Aku ingin kamu mendapatkan keadilan. Aku tidak rela Leon bebas begitu saja setelah menodaimu hingga hamil. Seandainya pun putraku sendiri yang melakukan kesalahan seperti yang dilakukan Leon, maka aku pun akan memintanya bertanggung jawab." "Iya, Nyonya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Walau sebenarnya saya tidak ingin menikah dengan Tuan Muda Leon, jika hanya karena terpaksa. Saya sudah bisa membayangkan kehidupan macam apa yang menanti saya jika menikah dengannya. Saya tidak yakin akan bahagia dengan lelaki yang telah merusak kehormatan saya. Apalagi keluarganya telah begitu menghina dan merendahkan saya, Nyonya." "Aku tahu ini akan berat untukmu, Ara. Terutama keluarga Leon yang memang tidak menginginkan kamu menjadi menantunya. Namun, kamu harus ingat bahwa bayi yang ada dalam kandungan kamu butuh status. Apa kamu tega jika kelak anak itu lahir tanpa seorang ayah? Apa kamu rela jika nanti dalam akte kelahiran anak itu hanya tertulis nama ibunya? Lalu apa yang akan kamu katakan jika kelak dia bertanya soal ayahnya? Kamu harus memikirkan semua itu. Lakukan ini demi status anakmu. Aku tahu semua tidak akan mudah buatmu, tetapi jika memang kamu tidak kuat menjalaninya nanti, maka kalian bisa berpisah setelah anak itu lahir. Aku yakin kamu bisa membesarkan anakmu tanpa Leon. Kamu wanita yang kuat," ucap Amelia membesarkan hati Ara. "Masya Allah, terbuat dari apa hati Anda, Nyonya. Anda adalah wanita terbaik yang saya temui di dunia ini setelah Ibu saya," balas Ara haru. "Aku tidak punya anak perempuan. Jadi, kamu bisa anggap aku sebagai ibumu," ucap Amelia sembari memeluk Ara. "Terima kasih, Nyonya. Anda terlalu baik untuk menjadi Ibu saya. Anda akan tetap menjadi majikan saya." "Tidak, Ara. Sebentar lagi kamu bukan lagi asisten rumah tanggaku. Kalau kamu menikah dengan Leon nanti, kami akan ada di posisi keluarga pihak perempuan. Kami adalah keluargamu." Ucapan Amelia membuat Ara menangis haru. Gadis itu ganti memeluk majikannya. Sementara Darmi dan Alex yang menyaksikan kejadian itu dari teras rumah tenggelam dalam pikiran masing-masing. Darmi bersyukur karena Ara akan mendapatkan keadilan. Akhirnya Leon akan mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap Ara. Meskipun sebenarnya wanita paruh baya itu tidak yakin Ara akan bahagia bersama Leon, tetapi apa yang tadi dikatakan Amelia memang ada benarnya. Ara harus menikah dengan Leon demi status anaknya nanti. "Kasihan sekali kamu, Nak. Kehidupanmu setelah menikah mungkin akan menjadi awal dari penderitaan karena Nyonya Ferra tidak mungkin membiarkanmu hidup tenang," batin Darmi sembari menyeka kedua sudut matanya yang mulai mengeluarkan kristal bening. Meskipun Ara hanya putri sahabatnya, tetapi Darmi telah menganggapnya seperti anak kandung sendiri. Wanita paruh baya yang sudah 25 tahun menjanda setelah meninggalnya sang suami itu memang tidak dikaruniai seorang anak pun dari pernikahannya. Sedangkan Alex merasakan ada sesuatu yang hilang dari dalam hatinya. Di satu sisi dia bahagia karena akhirnya Leon akan mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap Ara. Namun, di sisi lain lelaki itu merasa kehilangan. Entah rasa apa itu, yang jelas hatinya berdesir. Ada rasa nyeri yang tiba-tiba muncul tidak tahu kenapa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN