"Nyonya."
"Mommy."
Ara dan Alex berucap hampir bersamaan sembari saling melepaskan diri. Sementara Amelia menatap keduanya secara bergantian dengan penuh tanya.
"Kalian ngapain?" tanya Amelia heran. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tadinya diminta sang suami memanggil Alex karena hendak membahas pekerjaan, tetapi siapa sangka malah melihat kejadian yang mengejutkan.
"Mommy jangan salah paham dulu. Tadi Ara terkilir dan hampir jatuh, lalu aku cuma bantu dia agar nggak jatuh. Sungguh, aku nggak bermaksud kurang ajar, Mom," jelas Alex sebelum sang mommy marah.
"Apa yang dikatakan Mas Alex benar, Nyonya. Maafkan saya kalau ceroboh dalam bekerja. Saya sama sekali tidak bermaksud memanfaatkan momen ini untuk menggoda Mas Alex dan berharap jadi anggota keluarga ini. Tolong jangan pecat saya, Nyonya. Saya sebatang kara, gak tau lagi mau tinggal di mana kalau harus pergi dari rumah ini. Saya janji tidak akan dekat-dekat Mas Alex lagi," ucap Ara sembari berlutut di hadapan Amelia, lalu menangis. Wanita paruh baya itu terkejut dengan kelakuan Ara.
"Ara, bangun! Jangan seperti ini. Aku tidak menuduhmu demikian. Siapa yang mau memecatmu?" Amelia membantu Ara berdiri dan menghapus air mata gadis itu.
"Jadi, Nyonya percaya pada kami dan tidak akan memecat saya?" tanya Ara memastikan.
"Mana mungkin aku memecatmu hanya karena pelukan dengan putraku. Aku percaya dengan penjelasan Alex. Apalagi cangkir kopi juga tumpah. Itu sebuah bukti kalau Alex memang menolongmu." Amelia mengalihkan pandangan ke arah Alex. Ada banyak hal yang perlu dia tanyakan pada putranya itu mengenai Ara.
"Terima kasih atas kepercayaan Nyonya. Saya akan membereskan bekas kopinya," ucap Ara senang. Ternyata majikannya kali ini benar-benar bijaksana sangat jauh berbeda dengan Ferra. Gadis itu bergegas membersikan lantai dari tumpahan kopi berikut pecahan cangkirnya. Sementara Amelia meminta Alex menuju ruang kerja daddy-nya di lantai dua.
"Kamu menyukai Ara?" tanya Willy Taher setelah Amelia menceritakan kejadian barusan.
"Astaga, Dad! Aku cuma nolong Ara biar gak jatuh. Kami benar-benar gak ada hubungan apa-apa. Lagian kalian juga tahu siapa gadis yang aku suka," balas Alex sembari membuang napas kasar. Lelaki itu tak menyangka kalau kedua orang tuanya akan menganggap serius kejadian tak disengaja itu.
"Menurut Mommy gak ada salahnya seandainya putra kita suka sama Ara. Toh Ara perempuan dan Alex lelaki, wajar saja. Ara juga cantik, meskipun hanya asisten rumah tangga," pancing Amelia.
"Mom, aku gak mau bahas ini lagi" Alex beranjak dari duduknya dengan perasaan kesal dan keluar dari ruang kerja Willy. Lelaki itu sudah tidak mood membahas pekerjaan dengan sang daddy.
"Honey, kamu jangan curigaan sama anak sendiri. Aku rasa Alex sudah jujur. Kita tahu sendiri bagaimana dia bucin pada putrinya Johansyah. Jadi, gak mungkin dia suka sama Ara," ucap Willy setelah Alex keluar ruangannya.
"Aku hanya takut Alex patah hati."
"Putra kita sudah dewasa, Honey. Dia bukan lagi anak kecil. Alex bisa menentukan sendiri yang terbaik untuk masa depannya. Aku percaya pada pilihan Alex."
"Entahlah, Mas. Aku merasa kurang sreg sama Icha," keluh Amelia sembari menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Jangan bilang kamu cemburu karena anak laki-lakimu akan punya cinta pada wanita lain," goda Willy sembari merengkuh sang istri ke dalam pelukan. Namun, Amelia malah cemberut. Dalam hati wanita itu berpikir tentang Ara dan Alex, bukan tentang Icha.
***
"Semoga kamu suka, Sayang," gumam Alex pelan sembari menghirup aroma wangi bunga mawar merah segar yang baru saja ia beli dari sebuah toko bunga ternama di kota Bandung. Lelaki tampan itu meletakkan bunga mawar itu di jok depan, tepatnya di samping kemudi, lalu segera menjalankan mobilnya menuju kampus Universitas Widyatama Bandung.
Siang itu, Alex ingin menemui Icha saat jam pulang kuliah. Alex tidak sabar menunggu bantuan Leon untuk mendekatkannya dengan Icha karena sahabatnya itu memang terkesan kurang mendukung hubungannya dengan sang adik.
Mobil Porsche merah yang dikendarai Alex memasuki area kampus Widyatama. Putra mahkota keluarga Taher itu memarkirkan kendaraannya di area parkir kampus, lalu berdiam di dalam mobil sembari menunggu gadis pujaan hatinya.
Alex melirik ke arah jam rolax yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam menunjukkan pukul tiga belas lewat lima belas menit. Kedua sudut bibirnya melengkungkan senyuman, lalu bersiap keluar mobil dengan membawa mawar merah yang telah ia persiapkan. Namun, lelaki itu mengurungkan niatnya saat melihat seorang gadis cantik berjalan dari arah belakang mobilnya bersama seorang lelaki tampan bertubuh tinggi besar. Seketika d**a Alex seperti diremas oleh tangan tak kasat mata.
Wanita yang tidak lain adalah Clarissa atau Icha itu berjalan beriringan sambil bercanda tawa dengan sang pria yang asing bagi Alex. Bahkan sesekali lelaki itu merengkuh tubuh Icha dalam pelukannya. d**a Alex terasa panas karena terbakar api cemburu. Rasanya ingin marah, tetapi ia sadar bahwa Icha bukan miliknya.
Alex mengambil ponselnya, lalu mengambil foto lelaki yang besama Icha dari kejauhan. Lelaki itu kemudian mengirimkan foto tersebut pada Hendy, asisten pribadinya yang kini masih di kantor.
"Cari tahu tentang lelaki ini." tulisnya yang langsung dibaca oleh Hendy.
"Baik, Tuan. Saya akan memberi kabar secepatnya." Alex membaca pesan balasan dari Hendy, lalu meletakkan ponselnya di atas dashboard mobil.
Dengan hati yang hancur, Alex melajukan mobil kesayangannya keluar area kampus Widyatama dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Lelaki itu tak menyangka kalau penolakan Icha selama ini karena wanita itu telah punya kekasih.
Beberapa menit kemudian mobil Porsche merah Alex sudah memasuki gerbang rumah mewah tempat tinggal keluarga Taher. Saat akan keluar mobil, lelaki itu teringat bunga mawar merah yang tadi hendak ia berikan pada Icha.
Tangan kekar Alex terulur meraih bunga mawar itu lalu keluar dari mobil dan berniat membuang bunga tersebut di tempat sampah. Namun, tanpa sengaja kedua matanya memandang ke arah Ara yang sedang asyik memotong dedaunan tanaman di taman depan yang dekat gerbang. Tanpa berpikir panjang, Alex mendekati Ara dan memberikan bunga mawar merah itu kepadanya.
"Untuk kamu," ucap Alex lalu bergegas masuk rumah tanpa menunggu reaksi Ara, sehingga membuat gadis itu bengong tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun.
"Mas Alex kasih aku bunga mawar merah? Apa maksudnya?" batin Ara sembari menatap mawar merah segar yang kini ada dalam genggaman tangannya, lalu menghirup harum bau bunga itu. Seandainya saja bunga itu dari seorang lelaki yang dia cinta, pasti akan sangat menyenangkan. Namun, gadis itu tidak ingin terbawa perasaan dan tidak menganggap hal tersebut istimewa. Sementara lelaki yang memberikan bunga itu sudah tidak nampak lagi dihadapannya.
Tanpa sengaja, Amelia yang berada di kamarnya lantai dua melihat kejadian itu dari balkon kamarnya. Wanita itu tersenyum sembari menggelengkan kepala.
"Apa kamu masih akan mengelak kalau menyukai Ara, Lex?" batinnya sembari keluar kamar menuju kamar putranya.