Bab 5. Mual

1106 Kata
"Ara, sini sebentar!" panggil Alex saat melihat Ara sedang membuang sampah dari dapur ke belakang rumah. Lelaki tampan itu sedang bersantai di gazebo taman belakang sembari menyimak berita bisnis dari ponselnya. Merasa dipanggil sang majikan, Ara pun segera mendekat. "Ada apa, Mas Alex?" tanya Ara setelah mendekat. "Ra, wajahku jelek, ya?" Mendengar pertanyaan Alex, sontak Ara mengangkat wajahnya dan menatap lelaki itu. "Maksud Mas Alex?" "Apa wajahku jelek, sampai-sampai kamu selalu menunduk di depanku?" tanya Alex kesal. Lelaki itu beranggapan kalau lawan bicara tidak mau menatap wajahnya itu berarti dia tidak dihormati. "Bukan begitu, Mas. Anda bahkan sangat tampan, oleh karena itu saya menundukkan wajah untuk menjaga pandangan." "Why?" "Dalam agama mengajarkan, kalau kita harus menjaga pandangan dari lawan jenis yang bukan mahram karena itu bisa menimbulkan syahwat yang tidak halal," jelas Ara. "Kamu sebenarnya ART apa ustadzah?" kekeh Alex. "Saya hanya mengatakan apa yang pernah saya dengar dari acara pengajian, Mas." "Oh begitu. Apa aku menyeramkan?" Pertanyaan Alex langsung dibalas dengan gelengan kepala oleh Izah. "Terus kenapa kamu sepertinya takut padaku?" "S-saya hanya menjaga jarak, Mas. Saya sadar hanya seorang ART dan Anda majikan. Saya menghormati Anda." "Oh, begitu. Tolong ambilkan durian kupas di kulkas. Kemarin aku sudah minta Mbok Darmi untuk beli." "Baik, Mas. Sebentar saya ambilkan." Ara menghela napas lega. Entah kenapa gadis itu masih saja takut jika berdekatan dengan Alex. Meskipun lelaki itu bersikap sopan dan tidak kurang ajar terhadapnya, tetapi tetap saja Ara harus waspada. Pengalaman pahit dengan Leon memberinya pelajaran agar selalu berhati-hati terhadap lelaki. Ara bergegas ke dapur untuk mengambil durian kupas yang diminta Alex. Namun, saat membuka kulkas hendak mengambil durian kupas itu, tiba-tiba perutnya terasa mual. Gadis itu berlari ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya. Darmi yang melihat Ara muntah menjadi cemas dan mendekat. "Ara, kamu kenapa? Sakit?" tanya Darmi panik. "Nggak tahu, Bu Darmi. Tiba-tiba perut saya mual dan rasanya ingin muntah," balas Ara sembari meremas perutnya. "Mungkin kamu masuk angin, Ra. Sebaiknya kamu istirahat saja." "Tapi tadi Mas Alex minta diambilkan durian kupas, Bu." "Sudah, biar Ibu yang antar duriannya pada Den Alex. Kamu istirahat aja. Nanti habis ini Ibu kerokin," ujar Darmi membuat Ara terharu. Gadis itu seperti menemukan sosok ibunya yang sudah meninggal dalam diri Darmi. "Terima kasih, Bu Darmi. Ibu baik sekali." kedua mata Ara berkaca-kaca, kemudian kembali ke kamarnya. Sementara Darmi mengantarkan durian kupas pesanan Alex ke taman belakang. Setelah itu Darmi bergegas menyusul Ara di kamar. "Apa yang kamu rasakan, Ra?" tanya Darmi yang sudah siap dengan alat kerok. "Saya mual dan pusing, Bu. Terus badan saya juga lemas. Tadi saya juga tidak selera makan. Jadi, dari pagi saya belum makan apa-apa," jawab Ara jujur. "Apa? Kok bisa begitu?" Darmi tampak terkejut. "Memang saya kenapa, Bu?" "Gejala yang kamu rasakan itu seperti ciri-cirinya orang hamil. Apa kamu tadi mual karena bau durian?" Mendengar pertanyaan Darmi, Ara terkejut dan spontan menganggukkan kepala. "Tidak salah lagi, persis ciri-ciri orang hamil. Tapi, kamu kan masih gadis, mana mungkin hamil?" Ara kesulitan menelan ludahnya sendiri mendengar ucapan Darmi. Gadis itu kemudian mengingat kapan terakhir kali dia haid dan itu sudah sangat lama. Tepatnya sebelum ibunya meninggal atau sudah hampir satu setengah bulan Ara tidak haid. "Astaghfirullahaladzim. Apa mungkin aku memang hamil? Apa aku hamil anak Tuan Muda Leon?" batin Ara cemas. *** "Ara, kamu sakit?"tanya Amelia saat melihat Ara sedang mengepel lantai ruang tengah dengan wajah sedikit pucat. Hari itu tepat satu bulan Ara bekerja di rumah Amelia. Gadis itu merasa betah dan semakin semangat bekerja, meskipun merasakan tubuhnya yang cepat capek. Beberapa hari yang lalu, Ara membeli test pack di apotek saat Darmi memintanya ke pasar membeli ikan. Gadis itu penasaran karena tidak kunjung haid. Sirklus haidnya sudah terlambat satu bulan lebih, ditambah lagi gejala yang menurut Darmi seperti orang hamil. Tubuh Ara seketika lemas saat melihat dua garis merah samar terpampang di alat test kehamilan. Seketika dunianya runtuh. Namun, gadis itu masih menyembunyikannya dari Darmi. Ara takut wanita itu menganggapnya gadis murahan karena hamil tanpa suami. Ara ingin bertahan bekerja di rumah itu beberapa bulan lagi sebelum kehamilannya membesar, hingga punya uang untuk menyewa kontrakan dan buka usaha kecil-kecilan agar bisa melahirkan bayinya. "S-saya sehat, Nyonya," balas Ara sembari tersenyum dan meneruskan pekerjaannya. Gadis itu berusaha menyembunyikan kondisinya dari sang majikan karena takut dipecat. Amelia adalah majikan yang baik dan Ara tidak ingin mengecewakannya. "Nak, bantu Ibu. Kamu harus kuat sampai Ibu punya uang untuk mengontrak rumah," batin Ara seolah berbicara dengan janin dalam kandungannya. "Tapi wajah kamu pucat, Ra. Kalau memang sakit, istirahat saja tidak apa-apa," tambah Amelia. Mendengar ucapan sang majikan, Ara terharu. Amelia memang majikan yang sangat baik dan bisa memanusiakan pekerjanya. Pantas saja Darmi sangat betah kerja bersamanya, bahkan sampai 25 tahun. Berbeda sekali dengan majikan sebelumnya, Ferra yang angkuh dan sombong. Sama persis dengan putranya, Leon. Ara jadi merasa berdosa karena telah membohongi sang majikan perihal kehamilannya. Namun, dia tidak punya pilihan lain. "Iya, Nyonya. Nanti kalau capek, saya pasti istirahat," balas Ara tak enak hati. Meski memiliki majikan yang baik hati, tetapi Ara tidak ingin memanfaatkan kebaikannya. "Ya sudah terserah kamu, tapi jangan sampai kamu sakit. Kalau memang capek bisa dilanjutkan nanti atau besok. Lagian gak setiap hari rumah ini harus dipel juga," tutur Amelia. "Betul itu, Ara. Udah kamu istirahat saja, jangan diforsir. Lanjutkan besok," sahut Willy Taher, suami Amelia yang baru saja pulang dari kantor bersama Alex. Semenjak lulus kuliah, Alex memang membantu mengurus perusahaan orang tuanya. Willy termasuk jajaran pengusaha yang kaya raya, tetapi selalu rendah hati, begitu pun Amelia. "Baik, Tuan. Saya akan lanjutkan besok. Apa Tuan Willy dan Mas Alex mau saya bikinkan kopi?" tawar Ara sembari membereskan alat mengepel lantai. "Nggak perlu, Ra. Aku mau istirahat di kamar saja," balas Willy sembari melingkarkan lengannya di pinggang Amelia, lalu mengajak sang istri ke kamar. Keromantisan keduanya di usia hampir kepala lima membuat siapapun menjadi iri. Sementara itu, Alex melonggarkan dasinya dan duduk di ruang tengah sambil menyandarkan punggung di sofa. "Aku mau, Ra. Bikinin aku kopi seperti kemarin. Kopi buatan kamu enak," puji Alex membuat Ara tersenyum dan mengangguk. Gadis itu lalu bergegas meninggalkan ruang tengah. Beberapa menit kemudian, Ara sudah kembali membawa secangkir kopi untuk majikan mudanya. Namun, saat sudah dekat dengan tempat duduk Alex, kaki gadis itu tergelincir dan hampir terjatuh. Spontan Alex berdiri dan menopang tubuh Ara agar tidak terjatuh. Sementara kopi dalam cangkir sudah tumpah di lantai. Sejenak keduanya saling memandang karena tak menyangka akan berada dalam posisi sedekat itu, bahkan seperti orang berpelukan. Tubuh yang saling menempel tanpa jarak, membuat jantung keduanya pun berpacu lebih cepat bagai pacuan balap motor. Namun, keduanya segera melepaskan pelukan saat seseorang datang memergoki keduanya. "Alex, Ara, apa yang kalian lakukan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN