Bab 4. Bertemu kembali

1026 Kata
"Mengapa Tuan Muda Leon bisa ada di sini?" batin Ara gelisah sembari menundukkan kepalanya. Sementara lelaki yang tidak lain adalah Leon pun juga tak kalah terkejut. "Maaf, Tuan. Cari siapa?" tanya Ara tanpa menatap ke arah Leon. Gadis itu bertanya seolah-olah tidak pernah bertemu Leon sebelumnya. "Alex ada?" tanya Leon senetral mungkin. Lelaki itu mengusap wajahnya kasar dan berharap gadis yang berdiri di hadapannya ini bukanlah Ara. Namun, Leon malah teringat kejadian malam itu. Bagaimana seorang Alina Zahra membuatnya merasakan sensasi bercinta yang berbeda. Bahkan setelah kepergian Ara, Leon masih mengingat gadis itu dan merindukannya. Ada perasaan bersalah, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. "Mas Alex ada di kamarnya, Tuan. Silahkan langsung ke lantai dua. Beliau sedang sakit," balas Ara masih dengan kepala menunduk. Leon mengangguk, lalu berjalan masuk melintasi Ara. Gilanya, Leon kembali teringat kejadian itu. Bau tubuh Ara mengingatkannya kembali pada tubuh polos yang pasrah dalam kukungannya malam itu. Namun, Leon segera mengendalikan diri dan mencoba mengabaikan Ara. Lelaki itu menaiki anak tangga menuju kamar Alex yang ada di lantai dua. Sementara Ara menghela napas lega dan bergegas kembali ke dapur. "Rupanya lo bisa sakit juga, Bro," ucap Leon setelah sampai di kamar Alex. "Gue kan manusia biasa, bukan malaikat ataupun setan," balas Alex sambil terkekeh dan menghentikan aktifitasnya makan. "Lo sendirian aja, Lee? Kirain bakal ajak si Icha jenguk gue," lanjut Alex dengan ekspresi kecewa. Sudah susah payah berakting sakit malah sang pujaan hati tidak datang. Lelaki itu memberitahu Leon kalau dirinya sedang sakit dengan harapan sahabatnya akan datang menjenguk bersama Icha. Sudah lama Alex tertarik pada gadis itu. Namun, adik perempuan Leon itu sama sekali tidak merespon perasaan Alex. "Icha lagi sibuk ngerjain skripsi. Dia mana punya waktu buat lo?" balas Leon membuat Alex menghela napas berat. "Gue tahu, tetapi setidaknya lo kan bisa coba comblangin kami. Ajak dia ke sini, kek," sungut Alex kesal karena Leon tidak pernah peka terhadapnya. Sudah sering Alex datang ke rumah Leon hanya sekadar untuk bertemu Icha, tetapi gadis yang memiliki nama asli Clarissa itu tidak pernah memperdulikannya. "Elo, jadi cowok jangan terlalu bucin. Icha jadi jual mahal karena merasa lo kejar. Contoh gue!" "Maksud lo?" "Nggak ada bucin dalam kamus hidup gue. Nyatanya cewek-cewek itu yang ngejar gue. Bagi gue, cewek hanya tempat menyalurkan hasrat. Setelah itu kita bisa meninggalkannya sesuka hati tanpa ribet dengan komitmen." ujar Leon bangga, membuat Alex kesal. Sahabatnya memang tidak pernah menjalin hubungan serius dengan wanita. "Dasar gila, lo! Kalau pemikiran lo masih tetap seperti itu, kapan lo mau menikah? Lo mau jadi jomblo seumur hidup?" "Buat apa menikah? Cewek itu bikin ribet, suka mengatur. Gue masih ingin bersenang-senang dengan banyak cewek." "Sadar, Bro. Usia kita nggak akan terus muda." "Elo kali. Gue mah nggak." "Terserah lo." "Eh, badeway, gadis muda yang barusan bukain gue pintu itu siapa?" tanya Leon mengalihkan pembicaraan. Lelaki itu penasaran mengapa Ara bisa ada di rumah Alex. "Oh yang tadi itu? Namanya Ara, ART baru di sini." "Ara?" "Iya. Lo kenal sama dia?" "Gue? Nggak, mana mungkin gue kenal gadis dari kampung seperti dia," balas Leon ingkar. "Ya kali aja selera lo sudah turun karena bosan dengan yang bening-bening," kekeh Alex. "Ngaco, lo." Leon meninju lengan sahabatnya. "Eh, tapi menurut gue, gadis kampung kayak si Ara itu istimewa. Dia polos dan yang pasti masih virgin," bisik Alex membuat Leon kesulitan menelan ludahnya. Entah kenapa tiba-tiba wajah Leon memucat. Lelaki itu teringat perbuatannya terhadap Ara satu bulan yang lalu. Tidak munafik kalau Leon memang pernah beberapa kali melakukan hubungan intim di luar pernikahan dengan beberapa wanita yang menjadi pengagumnya. Namun, tak satupun di antara mereka yang masih virgin. Justru dengan Ara lah Leon merasakan bagaimana berhubungan dengan gadis yang masih suci. Sementara Alex malah terbahak melihat ekspresi Leon. "Lo tegang banget, Bro. Lo pasti laper ya? Sebentar gue suruh Ara antar minuman dan camilan ke sini." Tangan Alex terulur pada ponsel dan menghubungi Darmi agar menyuruh Ara ke kamarnya mengantar minuman dan camilan untuk Leon. Sementara itu, di dapur, Ara yang baru saja bertemu dengan Leon masih ketakutan, hingga tubuhnya gemetaran. Gadis itu tidak menyangka akan bertemu kembali dengan lelaki b******k yang telah menodai kesuciannya. Melihat hal tersebut, Darmi menjadi heran dan mendekati gadis itu. "Ara, kamu kenapa?" tanya Darmi setelah mengikis jarak dengan gadis itu. "Tidak apa-apa, Bu Darmi." "Kamu seperti ketakutan, Nak. Apa yang terjadi?" "Tidak apa-apa, saya hanya sedikit pusing, Bu. Boleh saya istirahat sebentar?" "Oh, ya. Kamu istirahat aja dulu. Lagian tugasmu juga sudah selesai." "Terima kasih, Bu Darmi. Saya ke kamar dulu," pamit Ara. Gadis itu bergegas ke kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ketakutan masih menghantui Ara karena pertemuannya dengan Leon yang ternyata adalah teman Alex. Bayangan Leon yang dengan brutalnya menjamah tubuhnya, mengambil satu-satunya mahkota berharga yang ia punya kembali terlintas dalam pikirannya. Bahkan rasa sakit di area kewanitaannya masih terasa. Belum lagi penghinaan Ferra terhadapnya sampai dia dan sang ibu diusir secara tidak hormat yang akhirnya menyebabkan ibunya terkena serangan jantung dan meninggal dunia. Semua terasa nyata dan kembali terpampang di hadapan Ara. "Ya Allah, kenapa lelaki b******k itu harus muncul lagi dalam hidupku?Lindungi Hamba dari lelaki jahat itu, Ya Allah," doa Ara dalam hati sembari mencoba memejamkan mata. Kepalanya pun terasa pusing. Tanpa terasa, kedua matanya telah basah dengan air mata. Sementara itu Darmi, yang sedang membereskan bekas makan malam majikannya mendapat telepon dari Alex yang meminta Ara mengantarkan minuman dan camilan untuk tamunya. Darmi tidak ingin mengganggu Ara yang mengeluh pusing, sehingga wanita paruh baya itu mengantarkan sendiri minuman dan camilan ke kamar Alex. "Loh, kok Mbok Darmi yang antar? Ara mana?" tanya Alex heran. Sementara Leon merasa lega karena bukan Ara yang datang ke kamar Alex untuk mengantar makanan. Lelaki itu merasa belum siap bertemu Ara kembali. Ada debaran tak biasa yang ia rasakan saat bertemu dengan anak mantan ARTnya itu. "Ara lagi istirahat, Den. Tadi dia mengeluh pusing." "Apa dia sakit? Sepertinya tadi biasa-biasa saja." "Tidak, Den. Mungkin hanya kecapekan. Lagipula sudah waktunnya istirahat." "Oh iya, benar. Ya sudah. Taruh makanannya di situ, Mbok!" Darmi mengangguk dan meletakkan minuman dan camilan untuk Leon di meja kecil yang ada di dekat ranjang Alex. "Saya permisi dulu, Den," pamit Darmi. "Iya, Mbok. Terima kasih," balas Alex.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN