Bab 3. Majikan Baru

1064 Kata
"Ara, kalau kamu sudah selesai bersih-bersih, tolong bantu Ibu mempersiapkan makan malam," pinta Darmi saat melihat Ara mengembalikan alat pembersih lantai di tempatnya. Satu bulan setelah kematian ibunya, Ara memutuskan untuk mencari pekerjaan. Gadis itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi, sehingga terpaksa menerima tawaran Darmi, teman ibunya untuk menjadi asisten rumah tangga di rumah keluarga Taher. Hari itu adalah hari pertama Ara mulai bekerja di rumah Amelia Taher sebagai asisten rumah tangga. Di hari pertama bekerja, gadis itu sangat bersemangat membersihkan rumah sang majikan, menyapu, mengepel dan juga membersihkan perabotan dari debu. Semua dia kerjakan tanpa mengeluh. Kini Ara bisa merasakan bagaimana lelahnya dulu sang ibu yang merupakan singel parent bekerja agar bisa memberikan penghidupan yang layak untuknya. "Iya, Bu Darmi," balas Ara sembari mendekat ke arah teman ibunya itu. Ara dengan cekatan membantu Darmi mempersiapkan makan malam untuk majikan mereka. Setelah semua siap, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun muncul di ruang makan bersama suaminya yang juga masih gagah dan tampan. Mereka adalah Amelia Taher dan Willy Taher, majikan baru Ara. Keduanya kemudian duduk di kursi yang sudahh dipersiapkan Darmi. "Ara, tolong kamu antarkan makanan ke kamar putraku di lantai dua. Dia lagi meriang, jadi nggak bisa ikut makan malam di sini," titah Amelia. "Baik, Nyonya," balas Ara patuh. Gadis itu kemudian mempersiapkan makanan untuk putra majikannya. Sedangkan Amelia dan suaminya meneruskan makan malam. Ara membawa nampan berisi satu porsi makanan berikut minuman menuju kamar anak majikannya yang ada di lantai dua. Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, Ara pun melangkahkan kaki masuk ke kamar mewah itu. Namun, tiba-tiba Ara menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar. Jantung gadis itu berdebar saat melihat seorang lelaki tampan sedang duduk bersandar di ujung ranjang. "Ya Allah, ternyata putra Nyonya Amelia adalah seorang lelaki dewasa. Semoga dia tidak seperti Tuan Muda Leon," batin Ara takut. Namun, gadis itu tetap melangkahkan kaki mendekati sang majikan muda. "Ini makan malamnya, Tuan Muda," ucapnya gugup. "Kamu siapa?" tanya lelaki tampan itu heran karena baru melihat Ara di rumahnya. "Saya asisten rumah tangga yang baru, Tuan Muda," balas Ara gemetar. Entah kenapa gadis itu kembali teringat pada Leon saat lelaki tampan itu menatapnya. "Oh asisten rumah tangga baru, pantas aku baru melihatmu." "Makanannya mau ditaruh di mana, Tuan Muda," tanya Ara berusaha menyembunyikan kegugupannya. Bayangan Leon dan pelecehan yang dilakukan lelaki itu kembali berkelebat dalam ingatan, membuat Ara takut terhadap lelaki itu. "Jangan panggil Tuan Muda. Panggil aku Mas." "Tapi Tuan Muda--" "Namaku Alex. Jadi, panggil saja Mas Alex." "I-iya, Tuan Muda. Eh, maksud saya Mas Alex," balas Ara masih gugup. "Bawa sini makanannya! Tolong sekalian suapin aku!" pinta lelaki yang bernama Alex itu manja, membuat Ara melebarkan kedua matanya. "Ap-apa? Suapi?" Ara tampak terkejut mendengar permintaan anak majikannya itu. Namun, Alex malah tertawa. Padahal katanya lagi meriang, tetapi sempatnya menggoda Ara. "Aku bercanda, Ra. Sini makanannya! Aku makan sendiri." Alex mengulurkan tangan ke arah gadis itu. "Oh, iya, Tuan Muda." Ara mengulurkan nampan pada sang majikan muda. "Mas Alex!" ralat Alex sambil menerima nampan dari Ara. "Iya, maksud saya Mas Alex," ralat Ara membuat Alex kembali tertawa. "Kamu lucu ternyata, Ra," ucap lelaki itu sembari menyatap makan malamnya. "Saya permisi dulu, Mas," pamit Ara. "Tunggu! Jangan pergi dulu! Temani aku makan!" titah lelaki itu. Meskipun sedikit takut pada Alex, tetapi Ara terpaksa menemaninya. Gadis itu duduk di kursi yang ada di samping ranjang putra majikannya itu. Pikirannya mulai gelisah membayangkan seandainya lelaki itu melakukan sesuatu yang tidak sopan seperti apa yang dilakukan Leon satu bulan yang lalu? Ara masih trauma dengan kejadian itu, bahkan hingga saat ini pun, rasa sakit saat area sensitifnya robek masih sangat terasa dan membekas dalam ingatannya. "Kamu kenapa, Ara? Sepertinya takut padaku?" tanya Alex sembarri menyantap makanannya. "Eum, tidak, Mas. Saya hanya gugup karena ini hari pertama saya kerja," balas Ara bohong. "Oh, apa itu karena kamu punya majikan yang tampan sepertiku?" tanya Alex membuat Ara melebarkan matanya. "Sebenarnya lelaki ini beneran lagi sakit apa sedang berakting?" batin Ara kesal. Namun, gadis itu tak bisa berbuat apa-apa selain mendengarkan ocehan anak majikannya itu. Ara bisa mengambil kesimpulan kalau Alex tidak sama dengan Leon. Alex sangat ramah dan banyak bicara. Lelaki itu bahkan sama sekali tidak memandangnya rendah, meskipun hanya seorang asisten rumah tangga. Sangat jauh berbeda dengan Leon yang dingin angkuh. "Kalian lagi ngobrol apa?" Pertanyaan Amelia yang tiba-tiba masuk ke kamar Alex membuat keduanya sontak menoleh. "Eh, Nyonya. Maaf, tadi sebenarnya saya mau langsung keluar, tetapi Mas Alex meminta saya menemaninya makan," balas Ara sembari berdiri dan menundukkan wajah. Gadis itu takut dianggap tidak sopan atau bahkan dianggap sengaja mendekati putra majikannya sebagaimana dulu Ferra menuduhnya. "Nggak papa, Ara. Putraku ini memang manja. Aku sebenarnya sanksi, apa dia benar-benar sedang sakit," balas Amelia sembari duduk di tepi ranjang dan menyentuh kening Alex yang ternyata sama sekali tidak panas. Suhunya normal-normal saja. "Ah, Mommy. Anggap aja aku sedang sakit. Aku ingin libur kerja besok," keluh Alex membuat Amelia tertawa. "Pasti pingin dijenguk Icha," tebak Amelia membuat Alex mati kutu. Mommynya itu selalu bisa menebak isi otaknya. Sudah beberapa pekan terakhir ini Alex memang mengincar Icha, hanya saja sepertinya cintanya belum terbalaskan. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi bel. "Nah, itu pasti Icha yang datang. Cepat pakai selimutmu, biar kayak orang sakit beneran!" ejek Amelia membuat Alex membuang napas kasar. Ara yang menyaksikan interaksi antara ibu dan anak itu pun ikut tersenyum. Ternyata majikan barunya sangat berbeda dengan majikan ibunya dulu. Ara hanya berharap bisa betah kerja di sana, agar bisa mengumpulkan uang untuk melanjutkan kuliah. "Ara, tolong bukakan pintu. Kalau tamunya nyari aku, suruh langsung ke kamar" titah Alex membuat Amelia menggelengkan kepala. "Baik, Mas Alex," balas Ara patuh. Amelia pun meninggalkan kamar dan tidak akan mengganggu putranya yang sedang jatuh cinta hendak berakting untuk mendapatkan hati gadis idamannya. Sementara itu, Ara keluar kamar dengan hati lega. Gadis itu merasa akan betah kerja di rumah keluarga Taher. Amelia adalah Nyonya rumah yang baik, begitu pun suaminya. Ara bertekad akan bekerja keras dan menabung karena dengan begitu, dia akan melupakan kesedihannya setelah ditinggal pergi sang ibu, juga menghapus trauma yang ditinggalkan keluarga Johansyah dalam hidupnya. Meskipun itu mungkin tidak akan mudah. Ara berjalan cepat menuruni anak tangga menuju pintu depan rumah. Gadis itu segera membuka pintu agar tamu majikannya tidak menunggu terlalu lama. Namun, ketika pintu terbuka, kedua matanya membulat saat melihat sosok lelaki tampan yang tidak asing di matanya. "Tuan Muda."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN