Anggia benar-benar baru saja menyelesaikan rapat. Begitu menyadari ada telpon penting yang tengah menghubungi, buru-buru dirinya keluar ruangan. Kalau diperhatikan baik-baik, dari ekspresinya saja kentara benar kalau Anggia takut sampai mengabaikan panggilan penting tersebut. Memang sudah dari kemarin dirinya menunggu kepastian. Itu sebabnya, ia meyakini kalau telpon yang akan ia terima ini adalah sebuah kabar baik. "Bu Anggia ..." panggil seseorang di seberang sana ketika Anggia mengangkat telponnya. "Iya, gimana?" "Sudah saya atur semuanya, Bu. Beliau udah ada di Jakarta." Anggia tampak tersenyum lebar. Dalam hati dirinya bersorak senang karena apa yang susah payah dirinya usahakan sebentar lagi akan membuahkan hasil. "Terus ... terus ... apalagi?" "Soal tempat tinggal, untuk sem

