Ify side's ya gaes..
.
.
.
.
.
.
.
Gue udah nyampe Jakarta gaes!! Jangan tanya kenapa waktu begitu cepat berlalu. Duh, gak sabar ketemu sama suami dan teman-teman gue. Gue pengen unboxing kado yang udah gue beli untuk Rio. Ya, hari ini Rio ulang tahun yang ke duapuluh dua. Udah tua ya dia. Hihihi.
Gue udah ngabarin ke dia kalau gue udah nyampe di bandara soetta. Tapi gak gue ucapin selamat ulang tahun ke dia. Biarin aja dulu.
Sembari menunggu, gue memainkan ponsel. Agak lama memang, apa Rio terjebak macet ya? Masih gue tunggu hingga beberapa jam kedepan. Tapi gak tau kenapa gue rada-rada mules. Sakit gitu rasanya. Duh Nak, jangan brojol disini dong! Kamu lahirnya tunggu sembilan bulan dulu ya! Biar mama punya persiapan yang banyak.
Ringisan gue ternyata mengundang banyak mata. Beberapa dari mereka menghampiri gue.
"Mbak nya gapapa, mbak?". Tanya mereka panik. Gue semakin meremas ujung kardigan gue karena terlalu sakit. Gue mencoba mengulas senyum tak kasat mata, namun tak bisa.
"Aduh,, ini mbaknya kontraksi deh! Kita bawa kerumah sakit aja, Pak!".
"Ayo bantu bantu bawa!". Gue merapalkan doa didalam hati. Berharap kontraksi ini segera berakhir. Tapi tiba-tiba suara familiar mengusik pendengaran gue.
"Ify!! Ya ampun! Lo kenapa?". Suara cempreng itu menyapa gue.
"Via! Aduh sakit--".
"Mbak kenal dengan mbak ini?". Tanya salah satu bapak-bapak.
"Kenal Pak. saya yang jemput dia ke sini. Ify kenapa? Apanya yang sakit?". Via nampak khawatir dengan kondisi gue. Sebisa mungkin gue menahan rasa sakit di perut ini. Sejujurnya gue butuh Rio. Tapi dia gak datang.
"Gue cuma kontraksi biasa Vi! Minum Vi--". pinta gue. Dengan sigap Via memberikan botol air mineral gue yang ada di dalam tas. Wajah paniknya tak bisa di hilangkan. Ah Via ku.
"Ke rumah sakit aja gimana Fy?". Gue menggeleng pelan.
"Enggak usah. Pulang kerumah aja. Gue mau tidur". Kata gue setelah dirasa kontraksi hilang.
Via mengangguk patuh. Gue sempat berterima kasih kepada beberapa orang sudah membantu gue ketika kesakitan tadi. Mereka sungguh baik.
**
Banyak pertanyaan di kepala gue kenapa Rio gak jadi nge jemput gue. Harusnya dia ngabarin kan. Harusnya dia bilang kalau yang jemput itu Via. Gue menghela nafas panjang, Rio seperti menyembunyikan sesuatu. Tapi apa?
"Fy, udah sampai nih". Saking lamanya melamun, gue gak sadar kalau udah didepan rumah. Via membantu gue membawa kan koper dan beberapa plastik bag. Setelah membuka pintu, gue rebahan di sofa.
"Istirahat dikamar aja Fy. Biar enakan". Kata Via.
"Tolong ambilin air hangat segelas, Vi. Gue haus". Via mengangguk patuh.
"Nih!".
"Makasih Via". Gue meminta Via untuk duduk sebentar.
"Lo udah enakan Fy? Jujur gue khawatir". Katanya pelan. Gue mengulas senyum teduh untuknya sembari mengelus perut gue.
"Alhamdulillah udah kok. Gak perlu khawatir, gue cuma dehidrasi kayaknya".
"Alhamdulillah kalau gitu". Kami masih sama-sama diam. Via Sesekali mencuri pandang ke arah gue yang sedang melakukan pengaturan nafas agar lebih rileks.
" Fy, soal Bang Rio--".
"Kenapa?".
"Dia minta gue untuk jemput elo, karena--". Via menggantung kan penjelasan nya.
"Dia lagi ada urusan, tapi gue gak tau apa. Dia kayak buru-buru gitu pokoknya". Gue mengangguk paham. Mungkin ada sesuatu yang harus di kejar nya.
"It's ok, Vi. Biarin aja. Makasih banyak udah jemput gue. Ehm, ini ada oleh-oleh untuk elo". Gue mengambil sebuah kain batik khas Riau kepada Via. Kain batik berukuran tiga meter, ibu berikan untuk ketiga sahabat gue. Katanya untuk buat baju pas PLK semester besok. Hihi.
Via menerimanya dengan ekspresi senang. "Wahh thanks Fy! Cantik banget motifnya!".
"Ibu yang ngasih. Buat Agni dan Shilla juga ada. Jangan lupa dijahit dan dipakai pokoknya!".
"Pasti dong! Eh elo gimana? Ada juga kan?".
"Ada kok. Gue mau buat dua model, model dress sama rok gitu lah".
"Lo jadi PL semester delapan?".
"Insya Allah jadi. Tapi belum tentu juga sih. Lo tau sendiri gue mau melahirkan bulan April".
" Iya juga sih. Semoga aja kita bisa PL barengan ya!". Harap Via. Gue cuma bisa mengaamiinkan harapannya itu.
Via pun pulang kerumahnya karena menemani gue beberapa jam dirumah. Gue masih menunggu kepulangan Rio. Kemana dia pergi? Sampai kabar pun tak ada. Mendadak gusar kan hati ini, aduh.
Demi mengusir rasa bosan, gue memilih ke kampus saja. Toh, waktu masih siang gini. Kampus gak bakalan sepi, terlebih labor kimia. Karena banyak senior yang sedang menyelesaikan penelitiannya.
Gue mengganti baju dengan dress bermotif stripe dengan panjang sebatas lutut, di padukan dengan sneakers putih. Gue siap berjalan menuju kampus. Ah, cuma ada motor sih. Gapapa kali ya gue pake matic ke kampus? Kapan lagi coba kan!
Gue mengambil motor di garasi, setelah dirasa semua pintu terkunci gue pun meluncur ke kampus tercinta.
Angin sepoi-sepoi menyambut gue selama di perjalanan. Gue gak ngebut-ngebut bawa motor kok. Tenang aja. Kalian gak perlu khawatir, hehe.
Tak sampai setengah jam, gue udah memasuki kawasan kampus dan kampus gue terletak di sebelah selatan. Orang-orang bilang kampus MIPA itu kampus biru, entahlah kenapa bisa gitu. Gue pun memarkirkan motor di tempat parkiran. Seperti biasa, sekre HMJ selalu buka. Yang menghuni nya kalau gak pengurus yang gak pulang kampung, atau pengurus yang emang domisili asli jakarta.
Mereka menyambut gue dengan kehebohan karena melihat gue datang dengan mengendarai motor matic. Sedikit hectic memang. Tapi ya itulah mereka.
"Ya ampun!! Ibu hamil kok bawa motor sih? Lakinya mana? Atau pake grabcar atau gocar aja coba!". Ibram menghampiri gue sembari membawakan kantong kresek yang gue sangkutin di motor. Dasar tu anak, tau aja apa yang gue bawa.
"Ih suka suka gue dong! Udah ayo masuk! Panas nih gue!". Ibram nyengir gaje karena gue omelin, dia mengikuti gue hingga ke sekre.
"Wahh buk bendum udah pulang mudik nih ya!". Gue tersenyum kecil lalu duduk di dekat lemari, menselonjorkan kaki karena sedikit capek.
"Kak Ify bawa oleh-oleh ya? Itu yang di kekepin sama Ibram apaan kak?". Gadis cantik itu berceloteh riang kepada gue.
"Iya oleh-oleh! Buka aja. Yang gak kebagian, datang kerumah langsung. Gue gak buka jasa bawa oleh-oleh soalnya". Kata gue cuek. Mereka tertawa mendegar gurauan gue.
Ketika mereka menikmati sumpalan buah tangan dari gue, gue memilih untuk ke laboratorium kimia. Melihat apakah ada Rio disana atau tidak. Gue berjalan santai sembari mengelus lembut perut buncit ini. Menikmati pemandangan sepi fakultas mipa sebelum perkuliahan dimulai.
Sesampainya di laboratorium, banyak senior-senior gue yang sedang penelitian. Mereka menyapa gue yang gue balas dengan sapaan hangat.
"Eh Ify, cari siapa Fy?". Tanya Denis. Gue tersenyum singkat
"Ada Rio gak, Bang?". Dahi Denis berkerut tiga mendengar pertanyaan gue.
"Gak tau sih. Gue baru aja nyampe ke sini soalnya. Lo cek aja ke ruangan Pak Bandar, biasanya dia nongkrong disana kalau lagi penelitian". Gue mengangguk paham lalu menelusuri sayap kanan labor.
Gue melihat hanya ada satu senior gue, Halim namanya dan ada,, Alista juga. Mereka seperti sedang berdiskusi. Tapi mereka gak menyadari kehadiran gue.
Namun, pembicaraan mereka mengusik rasa kepo gue.
"Lo gak bisa terus-terusan bergantung ke Rio, Lis! Ify juga membutuhkan Rio--". Kok nama gue di bawa-bawa ya? Perasaan gue jadi gak enak coeg.
"Lo tau kan, kalau gue hamil dan dia gak mau tanggung jawab? Gue ngerasa Rio mau menjadi ayah untuk anak ini". d**a gue seperti dihimpit sesuatu yang besar. Kepala gue sedikit pusing mendegar pembicaraan mereka.
Gue dengar lagi kalau Halim tertawa, tertawa sinis.
" Jangan bodoh Alista! Rio memang baik, tapi jangan lo salah artikan kebaikan dia! Jangan karena kalian pernah menjalin rasa dulu nya, terus elo malah memanfaatkan momen-momen tersebut. Gak usah gila bisa kali ya!". Wow seorang Halim, salah satu anggota organisasi forum islam di Universitas ini, berujar demikian? Mantap!
"Lo gak bisa menghakimi gue Lim! Cuma Rio yang bisa bantu gue--".
"Trus selama ini gue apa, Lis? Patung maksud lo? Dasar pengemis!". Waduh Halim makin menjadi jadi nih. Gue lihat Alista menggelengkan kepalanya. Derai air mata membasahi wajah cantiknya. Pandangan gue terpaku pada perutnya. Benarkan Alista hamil? Kenapa dia malah berpikir Rio mau menjadi ayah dari bayinya itu?
Gue gak boleh stress dan harus berpositif thinking dulu. Semuanya pasti ada penjelasan. Gue hanya perlu bersabar untuk sementara waktu. Gue denger mereka ngoceh lagi.
"Gue gak pengemis, Lim! Lo tau kalau gue cinta sama Rio. Tapi lo malah ngalangin gue--".
"Itu karena lo bodoh! Udah jelas Rio menikah dengan Ify. Ayolah, kapan lo bisa move on?! Rio hanya mencintai Ify. Lo juga tau kalau hari ini Rio ada jadwal menjemput Ify kebandara, tapi malah batal gara-gara lo minta di beliin batagor yang ada di cafe nya dia. Lo merengek kayak anak kecil minta dia beliin. Alhasil dia malah ke cafe untuk menuhin permintaan lo! Otak lo dimana sih Lis?".
Gue tersenyum getir, itu alasan nya kenapa Rio gak datang menjemput gue. Semua karena Alista yang menginginkan sesuatu dan meminta Rio memenuhi nya. Hebat sekali drama ini! Gue rasa hidup gue gak kayak cerita-cerita di w*****d deh. Yang mana si suami tokoh utama akan memilih istrinya dan meninggalkan orang ketiga. Tapi nyatanya apa, malah sebaliknya. Hm.
Entah kenapa air mata gue turun gitu aja. Sesak sih ada, cuma kayaknya gue udah terlatih untuk patah hati kesekian kalinya. Patah hati karena suami sendiri. Dulu ketika gue belum menikah dengan Rio, gue juga patah hati karena dia pacaran dengan Alista, ketika kami sudah menikah pun gue tetap patah hati karena dia gak menerima pernikahan ini, Terima walau terpaksa. Sekarang patah hati lagi, karena dia milih Alista yang notabene nya adalah mantan terindah. Mirisnya hidup gue.
Gue ingin menenangkan diri dulu. Keluar dari labor dengan keadaan sok baik-baik saja. Gue mengulas senyum manis ketika berpapasan dengan beberapa orang. Lalu melunturkan senyum ketika gak ada orang.
Gue rasa apa yang gue takut kan emang bakalan terjadi, Bang. Lo lebih memilih Alista dibanding gue. Gue sadar kalau gue cuma merebut apa yang udah lo bangun bersamanya. Tapi apa harus seperti ini cara untuk melepas elo? Gue belum sanggup!
Nafas gue tercekat menatap langit biru yang sedang bertarung dengan kumpulan awan hitam. Sebentar lagi akan hujan.
Gue menatap sekeliling, menikmati rasa sakit dengan kesunyian. Membelenggu tanpa tau malu. Jika seperti ini jadinya, lebih baik gue gak kembali ke Jakarta saja. Gue lebih memilih cuti seperti saran Ibu. Tapi gue malah gak mendengarkan beliau.
Bu, maaf. Aku gak dengerin kata-kata Ibu. Aku mau pulang saja, Bu. Aku rindu. Cucu Ibu juga rindu.
****
#SalamAnakRantau