Opposite 20

1098 Kata
Ify's side ya gaes... . . . . . . . . *** Setetes demi setetes pasukan air langit menyentuh kulit gue.  Gue masih belum bergeming dari salah satu tempat duduk di depan fakultas. Gue nyaman, nyaman untuk menyendiri saat ini.  Gue menghela nafas panjang saat hujan benar-benar datang membasahi bumi.  Baju gue mulai basah tapi sekali lagi,  gue enggan untuk menyingkir. Masih terngiang oleh gue perkataan Halim tadi.  Rio memilih membelikan batagor untuk Alista yang sedang ngidam ketimbang menjemput gue di bandara.  Haha miris.  Air mata gue bercampur dengan hujan yang dingin.  Asin nya tak terasa lagi lantaran semuanya sudah hambar.  Perasaan gue entah kemana.  Mungkin larut oleh air hujan.  Jemari gue mengelus lembut perut buncit yang berisi kecambah hasil bercocok tanam dari Rio dilahan gue.  Mereka hidup. Dan berbagi segalanya dengan gue.  Tapi papa mereka,  gak berbagi apapun dengan gue. Tiba-tiba gue gak merasakan air hujan menyentuh lagi.  Sebuah jaket coklat menaungi gue saat ini.  Seorang lelaki tampan dan gagah tersenyum kecil kearah gue. "Mbak nya kok hujan-hujanan sih?  Kasian baby nya nanti,  Mbak". Kata laki-laki itu. Gue tersenyum samar menanggapinya. "It's ok.  Bukan tugas lo untuk melindungi gue dari hujan.  Lo bisa pergi,  maaf dan terimakasih". Gue beranjak dari nya dan berjalan santai ke sekre hmj. Dia malah ngikutin gue. " Ehhh gak gitu juga dong! Lo mau kemana?  Biar gue anter deh.  Gue kasian sama lo--". "Gak perlu kasihanin gue! Bukan tugas lo juga--". " Tapi lo lagi hamil". "Ya bodo amat.  Emang ibu hamil gak boleh hujan-hujanan?". Kata gue ngegas. Heran kok dia yang rempong.  Siapa sih dia tu? Gue lihat dia mendengus sebal,  tapi lucu juga. "Lo ngeyel ya dibilangin! Kalau lo hujan-hujanan terus sakit gimana? Yang ada anak lo juga gak dapat nutrisi dari elo. Orang sakit susah makan tau gak sih". Gue malah terkekeh mendengar ocehan nya yang bak emak-emak itu.  Niatnya baik kalau gue rasa. "Iya iya! Gue neduh lah.  Dah puas?". Gue berjalan cepat hingga ke pelataran gedung perkuliahan.  Dia masih ngikutin gue. Kami pun duduk di depan lobi yang untungnya tersedia bangku panjang. "Lo anak mana sih? Bukan dari MIPA kan?". Dia mengangguk. " Emang bukan.  Gue dari fakultas teknik.  Nama gue David". Dengan ramah dia memperkenalkan dirinya.  Tak lupa seulas senyum tampan terpatri dibibir tebal nan seksi itu. Gue tersenyum seadanya "pantas lah,  gue gak pernah lihat elo sebelumnya disini". Dia terkekeh lucu "Gue lagi jalan-jalan aja ke sini.  Sama temen sih,  tapi dia entah kemana.  Eh iya,  nama lo siapa?". "Gue Ify--". Dia menelusuri pandangan nya kearah gue.  Risih sih. " Kenapa lo?". "Lo nikah duluan baru jebol kan?". Kampret emang.  Langsung aja tinju gue melayang di lengan bisepnya yang kokoh itu.  Ter lucknut lah dia. "Iya nikah dulu lah! Gue bukan perempuan bego,  kalau lo mau tau". Kata gue sombong.  Sebenarnya bego juga,  bego karena patah hati berkali-kali. Dia tertawa lepas melihat ekspresi gue yang kesal,  sepertinya. Mata nya hilang coeg.  Chinese banget. Kemudian dia berdehem untuk menormalkan suasana "Suami lo kemana? Kok sendirian aja?". Mendadak gue sedikit tersentil dengan pertanyaannya "Lagi penelitian di lab". Jawab itu aja dulu.  Dia pun mengangguk paham. " Terus kok lo nangis sih?". Kepo juga ni bocah. "Kenapa kalau gue nangis? Manusia juga butuh nangis untuk merilekskan mata". Kata gue berusaha untuk berlogika. Dia tersenyum malu lalu menggeleng tak enak. "Ehmm ya ya,,  aneh aja.  Ada wanita hamil,  sendirian,  nangis pula. Gimana gue sebagai orang luar berpikiran aneh". " Aneh maksud lo apa?". Tuding gue. Dia terkisap mendapatkan lirikan tajam gue. "Ehh maksudnya,  gue mikir kalau lo lari dari suami lo gitu,  atau masalah lain lah.  Intinya lo kabur". Gue menelan saliva mendengar jawabannya.  Emang bener gue kabur.  Wekawekaweka.  Titisan dukun ni anak,  bisa tau gitu. "Ck,  ya enggak lah.  Lo angkatan berapa?". Tanya gue mengalihkan topik. " Gue angkatan 17". Katanya bangga.  Oalah,  junior ternyata. "Lo?". " 2016". Tiba-tiba wajahnya berubah panik. "Ehh sorry sorry,  Kak!  Gue gak tau hehe". Cih,  gitu aja baru bilang sorry. " Santai". Kata gue kalem.  Kami sama-sama diam. Gue menikmati hujan yang begitu menyejukkan. Sementara David,  memperhatikan gue.  Entah apa yang dilihatnya. "Lo asli mana?". Pertanyaan baru muncul. "Batam". " Ohh Kepulauan Riau ya?". Gue mengangguk ringan. Tak ada pembicaraan lagi,  namun suasana terasa canggung. Gue menggigil karena kedinginan, jadi nyesel hujan hujan-hujanan.  Huhuhu. "Ify!". Gue dan David menoleh bersama ke sumber suara.  Ada Rio yang datang dengan payung besarnya.  Hati gue mencelos,  mengingat kembali pembicaraan antara Halim dan Alista. "Fy--maaf". Meski tak bersuara,  gerakan bibir Rio terbaca oleh gue.  Tatapan gue sendu kepadanya.  Dia menjemput gue dengan mengulurkan tangannya. Terpaksa gue Terima karena dingin yang menusuk. Sebelum pergi,  gue berpamitan dengan David.  "See you David! Nice to see you". Dia tersenyum , mata sipitnya hilang.  Gemas sekali. "See you Kak!". Gue pun pergi bersama Rio,  sepayung berdua. (Anggap aja lokasi nya lagi di kampus ya, hehe) Dia diam,  gue juga.  Tapi rangkulan nya sangat erat melingkar hingga ke lengan gue.  Gue menoleh kearah nya,  ada setitik embun yang menggumpal di sudut mata elang Rio.  Suami gue menangis? Kami sampai di dalam mobil,  dia mematikan AC dan mengeringkan tubuh gue dengan handuk yang entah sejak kapan ada aja didalam mobil.  Masih tanpa suara dia memperlakukan gue.  Gue hanya bisa menghela nafas lelah. "Kenapa gak bilang kalau gak bisa jemput?". Tanya gue to the point. Gerakannya terhenti begitu tatapan kami bertemu.  Wajah Rio sedikit lusuh dari terakhir kami berpisah. "Kok gak bilang aja kalau mau ke cafe untuk beliin Kak Alista batagor? Dia lagi ngidam ya?". Gue merasakan Rio tegang disamping gue,  gengss. "Kalau kamu bilang dari awal,  aku gak akan berharap banyak.  Aku gak bakalan menunggu lama dan berakhir sia-sia.  Bang,  aku lebih suka suami ku jujur kepada ku ketimbang dia harus bersembunyi - sembunyi,  itu terkesan membohongi ku--". Gue berkata santai seolah tak ada beban.  Tapi jujur,  gue pengen nangis sekarang. "Fy--" "Untung ada Via tadi yang datang,  makasih udah nyuruh Via jemput aku". Dia menggeleng dengan air mata yang meleleh.  Rio menangis, kedua kalinya dia menangis di hadapan gue.  Pertama,  ketika dia meminta gue untuk menikah dengannya di Batam dulu.  Dan yang kedua sekarang ini. "Fy maaf--harusnya aku yang jemput kamu dan kita dirumah sekarang.  Harusnya aku gak ngikutin maunya Alista--". "Tapi nyatanya kamu ngikutin maunya dia kan? Sudahlah Bang,  sudah terjadi.  Aku gak papa kok". Kata gue. Rio langsung memeluk gue dengan erat.  Menumpahkan rasa bersalahnya di pundak kecil gue yang rapuh ini.  Dia menangis. "Maaf Fy,  maaf! Aku harus jelasin ini ke kamu. Harusnya waktu itu aku hubungin kamu,  biar semuanya jelas--". Gue tersenyum melepas pelukan kami dan gue sentuh pipinya yang dingin. "Aku mau pulang". ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN