Entah ada keperluan apa, Adhyatsa justru berada di kafe milik Mayang. Laki-laki tua itu datang bersama salah satu menantu laki-lakinya. Wajah Mayang memucat karena rasa takut yang luar biasa. Di depannya, berdiri sosok yang menentang hubungan antara ia dan Revan sejak bertahun-tahun lalu. "Lho? Kakek ke sini?" tanya Ara dengan ramah seperti biasanya. Adhyatsa lantas berusaha mengubah mimik wajahnya seolah tidak terjadi apa pun. Ia duduk tepat di samping Ara tanpa dipersilakan. Tatapan tajam dilayangkan Adhyatsa pada Mayang. Tatapan itu membuat Mayang merasa sedang dikuliti hidup-hidup. "Iya. Sekedar mampir saja. Menantuku lapar katanya," jawab Adhyatsa yang tak melepas pandangan pada Mayang. "Oh, pesen mie rebus aja, ini sangat enak dan bisa aku rekomendasikan untuk beberapa teman di k

