Subuh buta aku telah menyiapkan kebutuhan yang akan aku perlukan di perjalanan. Tas ranselku pun telah aku isi dengan aneka macam oleh-oleh untuk ibu mertuaku. Jika sempat, nanti aku juga akan menambahkan buah tanganku yang lebih banyak lagi untuk ibu mertuaku dan Mas Bagas.
Sengaja aku tidak memberi tau Mas Bagas tentang kedatanganku karena aku ingin memberinya kejutan untuknya. Tidak dapat kubayangkan jika Mas Bagas tiba-tiba melihatku di sana, pasti pria itu akan semakin menyayangiku karena etikatku untuk berbaikan dengan ibunya. Ah, entahlah sejak kapan aku menjadi pengemis cinta Mas Bagas seperti ini. Seingatku dulu Mas Bagas lah yang terus memohon kepadaku agar aku mau menikah dengannya. Namun, kini semuanya justru berbalik padaku.
Sudah ku isi penuh tangki motor meticku. Sepertinya sudah cukup untuk perjalanan dua jam menuju rumah Mas Bagas. Kalau kecepatan sedang biasanya sampai tiga jam baru sampai ke rumah Mas Bagas yang memang cukup jauh dari tempat tinggalku.
Dreg! Dreg! Dreg!
Ponsel di atas meja itu berkedip berkali-kali. Kulihat nama Mas Bagas tertulis pada layar benda pipih itu.
"Halo Mas!" ucapku setelah menekan tombol hijau pada layar ponsel.
"Lagi di mana, Dek?" tanyanya dari balik telepon. Suaranya terdengar malas, pasti saat ini Mas Bagas baru terbangun dari tidurnya.
"Ehm, lagi mau berangkat ke sekolah Mas!" ucapku melirik pada jam dinding yang bertengger pada dinding rumahku yang telah menunjukkan pukul 06 : 30 pagi.
"Ya udah hati-hati di jalan ya, Dek!" pesannya dari balik telepon. Kemudian Mas Bagas segera mengakhiri panggilannya setelah memberi kecupan jauh kepadaku.
Kumasukkan ponsel itu ke dalam jaket tebal yang kukenakan. Perjalanan jauh pasti akan cukup membuat tubuhku gampang masuk angin. Apalagi rute yang ku lewati kali ini hampir dipenuhi oleh hutan belantara yang terhampar luas hampir di sepanjang jalan.
Ku padamkan seluruh lampu di rumah. Karena rencananya aku akan tinggal selama seminggu di rumah ibu mertuaku. Hanya tersisa lampu teras yang sengaja aku nyalakan. Setelah ku pastikan semua pintu aku kunci. Aku segera memacu motor maticku keluar dari rumah sederhana hadiah mas kawin pemberian Mas Bagas.
Sepanjang perjalanan, lembaran kenangan Mas Bagas kian membuatku merindu. Pria yang begitu lembut bahkan tidak ada sedikitpun cela untukku marah kepadanya. Ah, Mas Bagas, lagi-lagi aku sangat merindukanmu.
Satu jam perjalanan, akhirnya aku tiba di pasar plaza Cepu. Kubelikan beberapa baju dan buah-buahan untuk ibu mertuaku. Aku harap dengan membawa beberapa buah tangan ini dapat merubah sedikit sikapnya kepadaku dan membuat hubungan kami semakin membaik.
Setelah kurasa lengkap, aku bergegas melanjutkan perjalananku. Masih satu jam lebih perjalanan yang harus ku tempuh. Melewati hutan pajang dengan pohon tinggi menjulang. Ah, ternyata jauh sekali rumah Mas Bagas. Tapi mengapa pria itu sering bolak balik Purwodadi ke Bojonegoro. Apakah ia tidak capek?
Setelah perjalanan hampir tiga jam lebih akhirnya aku tiba di rumah Mas Bagas. Rumah yang dulu sederhana itu kini telah berubah. Menjadi rumah minimalis berlantai dua, dengan taman kecil di halamannya. Serta pagar rumahnya yang tinggi hampir dua meter membuat aku hanya mampu melihat taman bunga yang nampak dari sela-sela pagar itu saja.
Aku masih mematung di tepi sebrang jalan memperhatikan rumah Mas Bagas yang sepi. Sepertinya Mas Bagas dan ibunya sedang tidak berada di dalam rumah. Kulihat gerbang tinggi itu digembok dari luar setelah aku berusaha untuk mengetuk pintunya.
"Huf!" Aku meniup kecil dari mulutku, rencanaku membuat kejutan kali ini tenyata gagal.
"Cari siapa Mbak?" tanya seorang wanita yang melintas di hadapanku.
"Ibu marininya sepertinya sedang keluar ya, Bu?" tanyaku kepada wanita yang mengalihkan pandangan kepada rumah berlantai dua di sebrang jalan.
"Oh, ibu marini. Iya Mbak lagi jalan-jalan sama keluarganya," jelasnya.
'Keluarga?'
'Apa maksudnya Mas Bagas?'
Ibu muda itu berlalu meninggalkanku di bawah pohon besar tempatku berteduh tanpa penjelasan lebih lanjut. Aku sempat kesal, karena cuaca hari ini sangat panas sekali. Andaikan rumahku dekat, aku akan memilih kembali pulang ke rumah dari pada harus menunggu seperti ini.
Sinar senja mulai menampakkan kemuningnya di ufuk barat, seharian aku menunggu kedatangan Mas Bagas. Namun pria itu tak kunjung juga pulang.
Rasa kesal dan ingin marah bercampur aduk menjadi satu memenuhi dadaku. Entah seperti apa wajahku kali ini, pasti kian menghitam karena pancaran matahari dan debu jalanan yang terasa lengket sekali.
Sebuah mobil berhenti di depan pagar rumah Mas Bagas. Mobil impian yang selama ini aku idam-idamkan dan yang Mas Bagas janjikan kepadaku. Lalu siapa yang datang berkunjung ke rumah Mas Bagas sore-sore begini dengan mobil bagus itu.
Aku masih bersembunyi di balik motor di sebrang jalan rumah Mas Bagas. Siapapun yang berada dalam mobil itu tidak akan bisa melihat kehadiranku.
Kulihat seorang pria turun dari dalam mobil itu lalu membuka pintu gerbang rumah Mas Bagas. Tetapi pria itu sungguh tidak asing sekali bagiku.
"Mas Bagas!" pekikku seolah ada sesuatu yang mengganjal dalam tenggorokanku melihat pria yang sedang membuka pintu gerbang setinggi dua meter itu tidak lain adalah suamiku.
Sejak kapan Mas Bagas memiliki mobil sebagus itu. Ah, kutepis semua prasangka burukku. Mungkin mobil itu adalah mobil sewaan.
Setelah Mas Bagas memasukan mobil itu ke halaman rumahnya. Pria itu kembali keluar dari dalam mobilnya, namun dengan pemandangan yang membuatku semakin sakit'.
Mas Bagas sedang mengedong anak bayi, mungkin bayi itu berusia sekitar satu tahunan lebih. Aku tidak bisa melihat dengan jelas, mataku kini sudah dipenuhi embun yang membuat pandanganku semakin berkabut bersamaan dengan rasa sakit di dalam d**a.
Seorang wanita yang berjalan dibelakang Mas Bagas dengan ibu Marini mertuaku yang terlihat begitu bahagia masuk ke dalam rumah.
Aku tegugu, butiran bening jatuh berurai membasahi pipiku. Aku tidak bisa mencerna pemandangan di depan mataku dan aku juga tidak tau apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Aku terus mensugesti dugaan terburukku dengan energi-energi positif. Namun tubuhku justru semakin lemas seolah ingin ambruk saja di tempat ini.
Aku menaiki motorku, aku harus pulang dan tidak ingin melihat pemandangan yang menyakitkan itu lagi.
"Dek!" sebuah lengan meraih pergelanganku.
Aku menoleh ke arah pria yang memiliki wajah sendu itu. Entah sejak kapan Mas Bagas telah berdiri di samping motorku.
Segera kuusap lembut airmata yang membasahi pipiku dengan ujung-ujung jemariku. Aku tidak mau jika Mas Bagas tau jika aku baru saja menangisi hal yang belum tentu pasti kebenarannya itu.
"Dek, kok ngak bilang sih kalau mau ke sini?" tanya Mas Bagas yang berjalan menuju depan motor. Sehingga pria itu dengan jelas bisa melihat wajahku.
"Ehm, iya Mas maaf!" ucapku dengan suara bergetar. Tenggorokanku serasa tercekik hingga sulit sekali untuk bernafas dan berucap lagi.
"Adek udah lama nunggunya?"
"Ngak kok Mas, baru aja aku sampai," sahutku menahan nyeri yang terus menghujam batinku.
"Ya udah, masuk yuk! udah mau Maghrib," ajak Mas Bagas.
Sejenak aku terdiam, kualihkan tatapanku pada rumah berlantai dua di seberang jalan. Ada sedikit rasa nyeri dan takut untuk masuk ke dalamnya. Takut jika hanya luka yang aku temui, tapi aku semakin penasaran dengan siapa bayi yang telah digendong Mas Bagas barusan.
"Dek, kok bengong!" Pria itu menyentuh pergelangan tanganku hingga membuatku tersadar dari lamunanku.
"Eh iya Mas!" ucapku menatap Mas Bagas yang sedang tersenyum manis kepadaku.
"Mudur dikit, biar Mas yang bawa motornya. Rindu ya sama, Mas?" ledek Mas Bagas yang kini telah duduk di depanku. Terukir senyum yang selalu membuatku merindukan pria itu.
"Ih, Mas ini!" Ku cubit kecil pinggang Mas Bagas hingga pria yang sedang membawa motor itu menggeliat dengan tertawa kecil.
BERSAMBUNG ....