Nafkah Batin

1089 Kata
Aku masuki halaman rumah berlantai dua yang cukup luas. Netraku beredar dari rumah tinggi itu hingga bagian taman kecilnya yang didominasi dengan bunga mawar dan angrek. Cukup indah dan terawat. Apakah ibu mertuaku sendiri yang merawat semua tanaman ini. Mungkin saja! ternyata orangnya telaten juga.   "Dek!" panggil Mas Bagas membuatku terhenyak.   "Eh, iya Mas!" sahutku geragapan. Aku terlalu terkesima dengan rumah ini. Rumah yang sama persis dengan rumah impianku.     "Ayo masuk!" Pria itu menarik pergelangan tanganku menaiki anak tangga menuju pintu utama rumah yang berada di lantai dua.   Perlahan pintu yang tingginya sekitar dua meter lebih itu terbuka ke dalam. Netraku tidak hentinya berdacak kagum dengan perabotan di rumah itu. Semua begitu unik yang didominasi hasil ukir ukiran dari kayu jati.    Namun, kenapa tidak ada ibu ataupun wanita yang bersama Mas Bagas tadi. Rumah nampak begitu sepi dan hening. Bahkan Ibu Marini sama sekali tidak menyambut kedatanganku.   "Mas!" ucapku meraih pergelangan tangan Mas Bagas yang sedari tadi berjalan di depanku.   Pria itu menoleh ke arahku, "Ibu di mana?" tanyaku perlahan. Sepanjang aku menyusuri rumah ini tidak kutemukan sosok mertuaku.   "Oh, ibu lagi istirahat Dek. Kecapean katanya."   Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan perihal bayi dalam gendongan Mas Bagas dan juga wanita asing yang membersamainya tadi. Tapi sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untukku mengutarakan semuanya kepada Mas Bagas. Bisa-bisa dia kembali marah kepadaku seperti hari kemarin.   Lebih baik saat ini aku menuruti saja kemauan Mas Bagas. Mengekorinya menuju kamar dan beristirahat di lantai atas.     ****_____****   "Pa, pa, pa, pa,"   Suara celotehan bayi itu mendengung ke dalam indra pendengaranku. Seperti mimpi namun bukan mimpi.   "Pa, pa, pa, pa."   Suara itu kembali terulang. Namun justru mataku terasa begitu berat untuk terbuka.   'Ayo bangun Reza, kamu bukan sedang di rumahmu sendiri. Lihatlah anak kecil itu, Reza.'   Deg!   Aku tergagap bangun dengan nafas tersengal. Netraku membulat dengan jantung yang berdebar.   "Huf," aku meniup kecil dari bibirku.   Sepertinya aku telah bermimpi. Padahal baru saja aku mendengar celotehan bayi itu memanggil Mas Bagas dengan sebutan papa dengan sangat jelas.   Kujatuhkan pandanganku pada Mas Bagas yang masih terlelap di sampingku. Dengkuran halus dari nafasnya masih bisa kudengar jelas.   "Mas, maafkan aku selalu mencurigaimu," ucapku mengecup kening Mas Bagas.   Setelah selesai mandi, aku menuruni anak tangga menuju lantai Dasar. Kulihat ibu mertuaku sedang asyik bermain dengan bayi laki-laki yang mulai berjalan ke arahnya. Namun, lagi-lagi bayi itu terjatuh karena kakinya belum cukup kuat untuk menopang tubuhnya.   "Bu!" panggilku membuat wanita itu segera menoleh kepadaku. Kuraih tanganya dan mengecup punggung tangan yang dipenuhi keriput itu dengan takzim.   Wajahnya datar, seperti sedang mengacuhkanku. Dia justru kembali bermain bersama bocah kecil itu seolah sengaja mengabaikanku. Apakah ibu Mas Bagas benar-benar sakit hati kepadaku atas penolakanku dulu.   "Bu! Ini Reza bawakan oleh-oleh siapa tau ibu suka," ucapku menyodorkan dua setel baju kepada ibu mertuaku.   "Terimakasih banyak," jawabnya menerima bungkusan baju dariku. kemudian berpaling kembali.   Aku mendengus kasar'. Dadaku terasa sesak bagaikan ditimpa oleh benda berat yang membuat tenggorokanku seperti tercekik.   "Yas!" teriak ibu memanggil nama seseorang yang tidak asing bagiku.   'Yas? Apa itu Yasmin yang Mas Bagas ceritakan tempo hari kepadaku.'   Sosok wanita dengan gamis coklat berjalan ke arah ibu. Wajahnya tidak begitu cantik dengan kulit sawo matang. Dengan hidung yang sedikit pesek serta bibirnya yang sedikit tebal. Jauh jika dibandingkan denganku yang memiliki pasar cantik dan kulit putih bagaikan pualam.   "Iya Bu!"   "Bikini ibu teh Yas, ibu mau istirahat," titah ibu kepada Yasmin.   Sepertinya benar kata Mas Bagas, Yasmin hanyalah orang suruhannya untuk merawat ibu. Lalu untuk apa aku mencurigainya. Bodoh.   "Dek, ngapain?"   Suara Mas Bagas membuatku mengalihkan pandanganku pada pria dengan baju santai yang sedang berdiri di anak tangga.   "Ini lagi sam ...."   "Yas, buruan ibu tunggu di kamar!" ucap ibu memotong ucapanku dengan wajah ketus. Wanita itu segera mengendong bayi itu dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.   Sementara wanita yang bernama Yasmin itu pun bergegas menuju dapur dan mengacuhkanku. Sementara aku, masih terus mencoba menetralkan rasa yang semakin meremukkan hatiku.   Aku berjalan gontai menaiki anak tangga menghampiri Mas Bagas. Kulihat wajah pria itu seolah mengerti bagaimana perasaanku. Mas Bagas menarik tubuhku ke dalam pelukannya kemudian menuntunku menuju kamar.   "Duduklah di sini, nanti aku antar sarapanmu ke sini. Ngak usah di ambil hati. Ibu hanya belum terbiasa!" ucap Mas Bagas seraya meninggalkanku. Pria itu menjatuhkan kecupannya pada pucuk keningku sebelum ia benar-benar berlalu.   'Belum terbiasa katanya, belum terbiasa bagaimana maksudnya," rutukku kesal.   Setelah selesai sarapan, aku menghampiri Mas Bagas yang sedang sibuk dengan gawainya di teras lantai atas.   "Mas!" ucapku manja menjatuhkan tubuhku pada sofa di dekat Mas Bagas. Tanganku kian bergelayut melingkar pada lengan kekarnya.   "Hem," sahutnya meletakan gawaynya di atas meja.   "Rumah Mas bagus ya, mobil Mas juga bagus. Aku!" Jiwa matrealitisku kian meronta melihat kenikmatan yang berada di sini.   "Dek, ini bukan rumah Mas. Ini rumah ibu dan mobil itu milik Yasmin ,Dek!" Mas Bagas memotong ucapanku.   Seketika aku menelan saliva dengan bibirku yang mengerucut.   "Nantilah dek, kalau Mas udah punya uang. Kita bikin yang seperti ini!" Imbuhnya mengusap pucuk rambutku yang bersandar pada pundaknya.   Aku mendengus kasar, lagi-lagi Mas Bagas cuma memberikanku janji dan janji.   "Lalu Yasmin itu siapa?" tanyaku mengangkat wajahku dari bahu Mas Bagas. Pria itu sendikit tersentak, urat wajahnya terlihat sedikit menegang mendengar pernyataanku.   "Yasmin, kan Mas udah pernah bilang dek. Dia yang jagain ibu selama Mas ngak ada di sini."   "Lalu bayi itu?" cercaku dengan tatapan menyelidik.   "Oh, itu namanya Aksa. Dia itu anaknya Yasmin."   "Terus suaminya Yasmin?"   "Dek, kamu ini tanyanya banyak banget sih!" sahut Mas Bagas dengan nada yang sedikit meninggi.   Aku sengaja tak bergeming, kutatap tajam wajah Mas Bagas hingga pria itu terlihat kikuk.   "Suami Yasmin berkerja di luar kota. Setiap bulan dia akan pulang untuk menjenguk Yasmin dan Aksa," sahut Mas Bagas kesal. Pria itu beranjak dari tempat duduknya meninggalkanku.   Aku mengaguk mengerti, tenyata tidak ada yang perlu aku khawatirkan. Aku tersenyum kemenangan dengan hati yang berbunga-bunga.   ___***___   "Mas, Mas nggak kangen sama aku?" tanyaku pada Mas Bagas yang tengah berbaring memelukku.   "Kangen lah dek!"   "Mas udah dua Minggu lebih ngak ngasih aku nafkah batin loh, emang Mas nggak kepengen ya? Harusnya kan ini masa-masa indah kita," protesku.   Sejenak pria yang mengusap lembut rambutku itu terhenti. Jantungnya terdengar berdebar kencang. Entah apa yang ada dalam pikirannya Mas Bagas saat ini.   "Masak hal seperti itu aku harus memintanya sih!" imbuhku dengan nada kesal.   "Iya dek, maafkan Mas. Tar ngak gitu lagi deh. Sekarang adek pasti lagi capek. Bobok dulu yuk!" titah Mas Bagas mematikan lampu utama kamar. Hanya tersisa lampu tidur yang temaram.   "Tapi besok pagi kasih ya," pintaku dengan nada manja.   "He,um!"   "Janji?"   "iya dek!"   Bersambung .....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN