Lelaki Di Kamar Yasmin

1082 Kata
Tanganku terus meraba keberadaan Mas Bagas di sampingku. Tubuhku terasa dingin tanpa pelukannya disaat tidur. Namun sosok itu telah tidak ada di sampingku.   Kuusap lembut netraku yang masih berkabut. Kulirik waktu pada jam yang dinding yang telah menunjukan pukul dua dini hari.   Aku menuruni rajang mencari Mas Bagas di kamar mandi. Tapi kamar mandi itu kosong.   Kuturuni anak tangga, siapa tau Mas Bagas lapar dan sedang makan di dapur. karena di lantai atas ini hanya ada kamar Mas Bagas dan satu kamar yang terletak di ujung ruangan.   "Ah, terus Mas!"   Suara desahan dari kamar yang terletak di sudut lantai bawah itu terdengar jelas masuk ke dalam telingaku. Membuat langkah kakiku terhenti.   Rintihan demi rintihan saling bersahutan. Bahkan desahan menjijikan itu membuat kakiku seolah begitu lemas dan tak bertulang.   'Bukankah itu kamar Yasmine?'   Kutempelkan telingaku pada daun pintu kamar Yasmin. Apakah yang sedang bersama Yasmine itu adalah Mas Bagas. Sakit aku membayangkannya jika hal itu adalah benar.   "Ah, ayo Yas, terus!"   Suara itu? Kusentuh dadaku yang terasa bagaikan ditusuk-tusuk. Sakit. Ya suara itu adalah milik Mas Bagas. Tidak salah lagi. Lebih baik aku dobrak saja pintu kamar Yasmin agar aku tau siapa yang sedang b******u dengannya malam ini. Jika benar itu adalah Mas Bagas aku tidak akan tinggal diam.   "Reza!"   "Ibu!" Aku segera membenarkan posisiku. Tubuhku bergetar melihat ibu yang menatapku nyalang dari pintu kamarnya.   'Ah s**l, rencanaku gagal.'   "Ngapain kamu di depan kamar Yasmin?" suara ini terdengar ketus masuk dalam Indra pendengaranku.   "Aku, aku!"   "Kalau di sini jangan bikin ulah ya kamu!" sahut ibu dengan nada kesal. Setelahnya Wanita itu kembali masuk ke dalam kamarnya.   Aku menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya lembut.   Suara desahan dari kamar Yasmin itu pun telah menghilang. Kamar itu kembali hening.   Aku berjalan gontai menuju kamarku di lantai atas. Seketika netraku membulat melihat Mas Bagas yang telah meringkuk di atas ranjang.   "Mas Bagas!"   Kuamati pria itu tengah tertidur pulas, nafasnya pun terdengar beraturan. Namun kenapa pelipisnya dipenuhi dengan keringat.   'Atau jangan-jangan yang bersama Yasmin tadi Itu benar-benar Mas Bagas?'   Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak mau menuduh Mas Bagas. Aku masih kapok dengan kejadian kemarin yang membuat Mas Bagas harus di rumahkan selama satu Minggu gara-gara ulahku.   Kembali kurebahkan tubuhku di samping Mas Bagas dengan posisi memunggunginya. Netraku kian terjaga memikirkan siapa pria yang bersama dengan Yasmin. Tapi aku yakin suara yang baru aku dengar adalah suara Mas Bagas.   ******____*****   Aku telah selesai mandi, janji nafkah batin yang Mas Bagas berikan untukku lagi-lagi hanya isapan jempol. Entah sajak kapan pria itu meninggalkan kamar berdinding silver ini. Yang aku tau semenjak aku membuka mata pria itu sudah tidak ada di sampingku.   Kudengar suara riuh ramai dari lantai bawah. Sepertinya ada Mas Bagas dan juga ibu mertuaku sedang bermain dengan Aska, balita satu tahun yang kata Mas Bagas adalah anak Yasmin.   Aku menuruni anak tangga. Netraku memperhatikan Aska yang sedang berada di pangkuan Mas Bagas. Balita itu seolah begitu dekat sekali dengan Mas Bagas.   "Ayo Aska, jalan ke nenek!" titah ibu mertuaku kepada Aska.   'Nenek!'   Apa maksud semua ini. Kutepis rasa sakit dalam hatiku. Aku terus berfikir positif kepada ibu mertuaku. Bukankah panggilan nenek itu adalah hal yang lumrah untuk seseorang yang lebih tua.   Kuamati Aska bangkit dari pangkuan Mas Bagas kemudian berjalan menuju ibu mertuaku. Kali ini Aska berjalan tanpa terjatuh. Nampak gurat bahagia dari wajah ibu melihat Aska yang sudah mampu berjalan.   "Yas, lihat ini anakmu sudah bisa berjalan," panggil ibu kepada Yasmin yang muncul dari arah dapur.   "Benarkah Bu!" sahut wanita dengan kerudung purpel itu antusias. "Coba ibu lihat dek!" titah Yasmine disambut dengan senyum lebar Aska hingga menunjukkan kedua gigi depannya yang baru tumbuh.   "Pa, pa, pa," celoteh balita yang sedang berjalan ke arah Mas Bagas. Dengan tersenyum lebar Mas Bagas membuka kedua tangannya untuk menangkap tubuh Aska.   'Papa!'   Ini sama persis dengan mimpiku semalam. Apakah Mas Bagas itu ayahnya Aska. Tubuhku terasa beku. Runtuh segala cinta Mas Bagas di hatiku jika benar Aska adalah anaknya.   "Dek!" ucap Mas Bagas yang menangkap kehadiranku sedang memperhatikannya dari anak tangga.   Pria itu bangkit dari duduknya, sementara Aska kian menangisi kepergian Mas Bagas yang beranjak.   "Sebentar ya sayang!" ucap Mas Bagas mengedong tubuh Aska kemudian memberikannya kepada Yasmin.   Wajah' wanita itu terlihat datar. Tidak pernah sekalipun wanita bertubuh mungil itu bertegur sapa denganku. Seolah dia selalu menghindar dariku selama aku di rumah ini.   Ibu mertuaku menatap sinis ke arahku yang berdiri di anak tangga. Tatapan bencinya seperti sengaja ia tujukan kepadaku di depan Yasmin dan semua orang yang berada di ruangan itu.   "Kamu lapar?" tanya Mas Bagas yang menuntunku naik ke lantai atas menuju kamar.   "Tadikan udah Mas letakan sarapan kamu di atas nakas!" ucap Mas Bagas mendudukanku di tepi ranjang.   "Mas suapin ya!" ucap pria dengan bulu halus di sekitar rahangnya itu meraih piring berisi makanan di atas nakas.   "Ngak usah Mas!" Aku menahan pergelangan tangan Mas Bagas. Pria itu kemudian kembali meletakan piring berisi makanan itu pada tempat semula.   "Ada apalagi sih dek?" Mas Bagas menjatuhkan bokongnya di sampingku. Terlihat wajahnya begitu gusar menatap kepadaku.   "Mas semalem dari mana?" tanyaku dengan manatap tajam pada wajah Mas Bagas yang terlihat datar.   "Dari mana apanya?" kelakarnya dengan memalingkan wajahnya dariku.   "Iya, semalam Mas dari mana? Aku cari Mas sampai lantai bawah tetapi Mas ngak ada. Sampai," aku menghentikan ucapanku. Tidak mungkin aku menceritakan kepada Mas Bagas jika aku sudah menguping di kamar Yasmin.   "Mas di teras atas dek, cari angin!"   "Di teras?" pekik ku, sayangnya tadi malam aku tidak mengecek ke teras lantai atas.   Sejenak aku tidak bergeming. Debatku sia-sia, aku tidak memiliki bukti apapun.   "Sudah sih dek, hentikan kecurigaanmu yang berlebihan itu." Mas Bagas menarik tubuhku ke dalam pelukannya.   Aku terus berfikir, sepertinya Mas Bagas memang benar. Kalau semalam memang dia sedang berada di teras lantai atas. Lagian jika Mas Bagas yang berada di kamar Yasmin. Bagaimana dia bisa sampai ke lantai atas dengan cepat. Ah, semua ini begitu melelahkan pikiranku.   "Mas!"   " Hem!"   "Semalam waktu adek turun dari lantai atas mencari Mas, adek dengar suara desahan dari kamar Yasmin loh, Mas!" ceritaku.   Mas Bagas seketika melepaskan pelukannya dari tubuhku. Wajahnya terlihat terkejut. "Jangan asal kamu dek!" ucap Mas Bagas.   "Bener Mas!" ucapku penuh keyakinan.   "Adek, mungkin kamu lagi terbawa suasana saja dek. Yasmin kan tidak punya suami," sahut Mas Bagas tak percaya.   Aku kembali terdiam. Kali ini aku memang tidak memiliki bukti untuk menunjukannya kepada Mas Bagas.   "Udah deh, adek mending makan dulu yuk! Biar Mas yang nyuapin." Mas Bagas meraih piring dari atas nakas kemudian menyuapkan makanan itu ke dalam mulutku yang terasa begitu pahit.   BERSAMBUNG ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN