CHAPTER 8

1102 Kata
Sudah hampir seminggu berlalu sejak terakhir kali Alicia melihat Lucas. Seperti janji Lucas waktu itu, mobil Alicia sudah terparkir rapi di parkiran samping rumah sakit tempatnya bekerja. Robert, seorang pria paruh baya yang ditemuinya saat mengantar Lucas lah yang mengembalikan mobil Alicia dengan selamat dan utuh. Robert telah mengatakan pada Alicia bahwa beberapa hari ke depan Lucas akan mengurus sesuatu yang penting sehingga ia tidak bisa menemui Alicia. Bukannya Alicia keberatan dengan hal itu, malah sebaliknya. Setidaknya ia bisa menjalankan aktivitasnya dengan normal tanpa gangguan Lucas. Walaupun kalau dipikir-pikir, absennya Lucas agak membuatnya kesepian. Tapi Alicia menyadari kalau itu wajar-wajar saja, apalagi ia sudah terbiasa dengan kehadiran Lucas. Lagipula Jane sudah tidak lagi tinggal bersamanya. Hari sudah gelap ketika ia tiba di apartemen miliknya. Setelah ia menekan kode, pintunya pun terbuka. Namun dilihatnya lampu sudah menyala. 'Perasaan tadi pagi sudah kumatikan. Apa aku kelupaan?' batinnya bingung. Sesaat setelah meletakkan sepatu kerjanya, Alicia mendengar suara-suara teredam dari arah dapur. Ia mulai was-was. Alicia berusaha berjalan tanpa suara ke arah dapur. Diletakkannya tas di sofa ruang tamu dan perlahan melangkahkan kakinya. Ia mencari alat untuk melindungi diri dan hanya menemukan vas bunga di atas meja sebelah televisi yang ada di ruang tamu. Ia mendekati sekat yang memisahkan antara ruang tamu dan dapur. Dilihatnya pintu kamar di kedua sisi ruang tamu masih tertutup, sehingga ia merasa agak lega. Semakin ia mendekat ke arah dapur, suara yang didengarnya lebih jelas. Tapi ia merasa itu suara yang tidak asing. Setelah dapur terlihat, Alicia terkejut melihat sepasang manusia yang merupakan orangtuanya, berada di dapurnya. Ibunya sedang membuat sesuatu dan ayahnya duduk di kursi dapur. Mereka mengobrol santai, belum menyadari kehadiran Alicia. "Ehm, Mom, Dad," dehemnya menarik perhatian orangtuanya. "Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya setelah mendapatkan perhatian penuh mereka. "Tentu saja kami ingin menghadiri hari pentingmu sayang. Kami tidak akan melewatkan ini demi apapun asal kau tahu. Kami telah menunggu hal ini terjadi, jadi tentu saja kami akan hadir," ucap ibunya dengan mata bersinar. Kedua orangtuanya bergantian memeluknya. "Apakah ada sesuatu yang membahagiakan? Mengapa tidak ada yang memberitahuku, Mom? Dad?" tanyanya memandangi ibu dan ayahnya secara bergantian. "Tentu saja itu membahagiakan, Sayang." Ayahnya menjawab dengan tersenyum lembut padanya. Alicia bertambah bingung. Lalu ibunya memandang Alicia dengan cemberut."Harusnya kami yang menanyakan itu padamu. Kenapa kau tidak bilang-bilang, hm?" "Bilang-bilang apa sih? Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kalian bicarakan." Orangtua Alicia dengan kompak mengerutkan dahi mereka. "Sayang, jangan bercanda ah. Kami tahu kau pasti merahasiakannya karena tidak ingin kami mencampuri urusanmu kan? Tenang saja Alicia. Orangtuamu ini akan mencoba menahan diri untuk ikut campur lagi. Jadi jangan khawatir lagi ya?" Ucapan ibunya semakin membuatnya bingung. "Mungkin lebih baik kalian menjelaskan saja dari awal. Dengan begitu aku akan lebih mengerti arah pembicaraan ini, bagaimana?" tawarnya. "Yah, sebenarnya kami kira ini sudah sangat jelas. Rasanya aneh sekali kalau kau tidak mengerti, Ali. Tapi baiklah karena besok adalah hari pernikahanmu, ja..." Sebelum ibunya meneruskan penjelasannya, Alicia setengah berteriak, "Apa? Pernikahan? Siapa yang akan menikah?" Kini giliran orangtuanya yang terbengong-bengong. "Tentu saja kau yang menikah sayang. Masak kami menikah lagi. Kau ini ada-ada saja,” tegur ibunya. "Tapi Mom, aku belum ada rencana untuk menikah. Kalian mendapatkan kabar itu darimana? Itu pasti salah Mom, Dad." Ia mencoba menjelaskan kepada kedua orangtuanya. Namun tampaknya mereka hanya mengabaikan protesnya. "Sudahlah, Sayang, tidak usah bercanda. Lucas sudah memberi tahu kami, jadi kau tak perlu berpura-pura lagi oke. Kami merestui kalian seratus persen. Jadi kau tidak usah khawatir," ucap ibunya tersenyum menenangkan menepuk lembut bahu Alicia. Saat mendengar itu, mendadak pikiran Alicia menjadi kosong, ia tidak bisa memikirkan apapun selama beberapa detik. "Lucas? Maksudmu Lucas Black, Mom?" tanyanya tidak yakin. 'Tidak mungkin Lucas segila itu kan?' Begitulah usahanya meyakinkan diri sendiri. "Tentu saja Lucas yang itu. Memang menurutmu Lucas yang mana lagi, Ali? Ya ampun, kau itu ternyata pintar sekali memilih calon suami ya. Pantas saja selama ini kau selalu menolak pilihan Mommy. Anak itu baik sekali. Sudah sopan, tampan, belum lagi kaya sekali. Bukannya kami hanya melihat kekayaannya, Ali. Kami sama sekali tidak memikirkan itu. Toh penghasilan Daddy-mu juga tidak kalah besarnya. Tapi tentu saja itu menjadi nilai plus untuk kami," cerocos ibunya membuatnya semakin pusing. 'Ya ampun Lucas. Apa sih yang kau pikirkan? Ini benar-benar keterlaluan. Kukira waktu itu dia bercanda. Bodoh sekali kamu, Ali. Kenapa waktu itu aku tidak menghiraukannya? Sekarang semuanya malah jadi petaka," pikirnya menyalahkan diri sendiri. Jika bukan karena kelalaiannya, pasti ini tidak akan terjadi. Soal Lucas, ‘Sepertinya ia memang serius tentang hubungan ini. Mana kutahu Lucas akan benar-benar melakukannya? Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?' Ia berharap ini hanya mimpi. Orangtuanya pasti tidak akan membiarkannya membatalkan pernikahan ini. Dan acaranya diadakan besok? Ini benar-benar tidak terkendali.’ Alicia tersentak kembali keluar dari lamunannya saat ibunya menarik tangannya ke arah kamar dan menunjukkan segala pakaian dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk besok. Alicia semakin frustasi, bagaimana tidak? Baju, perhiasan, dan perlengkapan lainnya ada di kamarnya. Selain itu, ibunya mengatakan bahwa tempat pernikahan, catering, dekorasi, dan dokumen-dokumen semuanya telah dipersiapkan oleh Lucas dengan bantuan orangtua, kakaknya, bahkan Jane juga ikut andil dalam mempersiapkan pernikahannya. Setelah pertanyaan yang terus-menerus diajukan pada ibunya, akhirnya Alicia mengetahui bahwa Lucas telah menemui keluarganya pada hari mereka terakhir bertemu. Lucas meminta izin orangtuanya untuk menikahi Alicia. Tentu saja awalnya mereka meragukan niat Lucas, tapi dengan keteguhan Lucas akhirnya mereka pun luluh. Bahkan mereka lah yang membantu Lucas memilihkan segala dekorasi dan perlengkapan pesta sesuai dengan kesukaan Alicia. Alicia sudah tidak tahu lagi harus berkata apa. Ibunya bahkan mengancamnya untuk tidak melepaskan Lucas selama-lamanya. Bayangkan saja, mana ada ibu yang seperti itu. Lucas benar-benar membuat keluarganya berada di pihaknya. Berkali-kali ia telah mencoba untuk membuat orangtuanya mengerti, namun mereka hanya mengatakan, 'Sulit untuk menemukan pria sebaik itu, Sayang. Kapan lagi kau bisa mendapatkannya? Jatuh cinta kepadanya pasti mudah. Kami jamin itu. Kamu tidak akan sengsara bersamanya.' Begitulah kira-kira perkataan orangtuanya. Akhirnya Alicia menyerah untuk membuat mereka mengerti. Ia mencoba menerima kenyataan yang mengejutkan ini. Alicia telah mengajukan cuti untuk beberapa hari atas desakan orangtuanya. Ia tidak punya pilihan selain menuruti keinginan mereka. Mereka sangat kukuh mengenai keputusan ini. Sia-sia ia melawan. Toh Lucas tidak seburuk itu. Walaupun kalau bertemu lagi dengannya, Alicia pastikan Lucas tidak berkutik. 'Awas saja kau Lucas, enak saja main langsung menikah. Dasar Lucas tidak waras.' Ia ingin sekali memaki-maki secara langsung. Tapi apa dayanya, bahkan nomor ponsel Lucas saja ia tak punya. Pada malam itu akhirnya Alicia tidur setelah dipaksa oleh ibunya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tidurnya gelisah memikirkan nasibnya besok. 'Semoga aku tidak menyesali ini,' pikirnya sambil menghela napasnya, memohon supaya semua akan baik-baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN