CHAPTER 7

1215 Kata
Sinar matahari mulai menyeruak menembus sela-sela gorden yang belum tertutup rapat. Alicia mulai mendapatkan kesadarannya kembali setelah terlelap sangat pulas. Tidurnya semalam adalah tidur yang benar-benar pulas karena keletihannya yang memuncak. Setelah beberapa malam terakhir ia tidak bisa tidur nyenyak, kini rasanya berat untuk meninggalkan kehangatan ranjang empuknya. Namun, Alicia perlu ke kamar mandi untuk buang air kecil sehingga terpaksa harus bangun dan segera menyeret tubuhnya ke kamar mandi. 'Tapi kenapa rasanya tidak rela untuk bangun?' keluhnya masih setengah sadar. Alicia pun memicingkan satu matanya untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya terang. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah badan tegap seorang pria dan ia menyadari bahwa ada pria bernama Lucas berdiri di samping ranjang yang ditempati Alicia. Seketika itu, ia baru benar-benar tersadar dan memaksa tubuhnya untuk bergegas bangun. "Luke, apa yang kau lakukan di sini!" serunya dengan nada cukup melengking. Lucas awalnya diam saja, namun setelah beberapa saat kemudian, Lucas hanya menggumam tidak jelas. Ia memandang Alicia dengan wajah memelas. "Lucas, kau tidak seharusnya masuk ke sini tanpa izinku. Aku kan sudah membiarkanmu menempati kamarku semalam," tegurnya dengan dahi berkerut. Penampilannya pasti sangat kacau saat itu. Tapi untungnya Alicia tidur menggunakan piama panjangnya. Tanpa basa-basi Alicia segera melarikan diri ke kamar mandi. Perempuan itu dengan cepat menyelesaikan rutinitas paginya sebelum berangkat kerja. Tidak biasanya ia bangun sesiang ini dan ia sama sekali tidak mendengar saat Lucas membuka pintu kamar tadi. 'Mungkin aku terlalu lelah,' pikirnya. 'Atau mungkin karena Lucas di sini? Dan aku merasa aman karena tidak sendirian? Ah, tidak usah dipikirkan,' jawabnya pada diri sendiri. Setelah menyelesaikan rutinitasnya, Alicia keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Lucas masih menunggunya di dalam kamar. Ia duduk di ranjang dengan kaki diturunkan di lantai. Alicia baru sadar bahwa Lucas hanya mengenakan celana pendeknya tanpa atasan. Dadanya yang bidang dan perut sixpack-nya terlihat jelas dari tempatnya berdiri. Alicia tergoda untuk menyentuhnya, tapi segera ditepiskannya pikiran itu. "Ayo Luke, kita sarapan dulu. Kau tidak mau berganti baju? Pakai baju sana. Tidak malu apa kelihatan seperti itu?" tegur Alicia yang membuat Lucas memeriksa keadaan tubuhnya. Ia hanya mengernyit bingung ke arah Alicia. "Memang ada yang salah?" tanyanya polos. "Ah, sudahlah tidak perlu dibahas. Ganti saja bajumu, apa susahnya sih." Lucas mengangguk begitu saja menuruti perintah aneh Alicia. "Baiklah," jawabnya. Selagi Lucas menggunakan kamar mandi di kamar itu dan membersihkan diri, Alicia masuk ke kamarnya sendiri dan berganti baju di walk-in-closetnya lalu cepat-cepat membuat sarapan untuk mereka berdua. Kali ini Alicia memasak omelet, roti panggang, dan sosis goreng. Ia sengaja menyiapkan porsi banyak untuk Lucas mengingat Lucas merupakan seorang pria yang porsinya jauh lebih besar dibandingkan porsi wanita pada umumnya. Beberapa saat kemudian, Lucas keluar dari kamar dalam keadaan lebih segar. Ia mengenakan bajunya semalam yang tampak agak kusut, walaupun tadi malam sudah dilepaskan dan digantungkan di punggung kursi. Alicia menyuruh Lucas duduk menunggu di kursi dapur daripada mengacaukan konsentrasinya. Setelah itu, tidak terdengar suara selain bunyi alat-alat dan masakan yang sedang dibuat. "Harusnya bajumu itu diganti, Luke. Kau tau itu sudah kotor, kan? Kalau kulitmu iritasi bagaimana?" omelnya pada Lucas. "Kulitku ini kebal, jadi tidak mudah iritasi. Kau tenang saja, Ali. Aku tidak apa-apa memakai baju kemarin. Asalkan masih tetap ada disisimu. Itu yang terpenting untukku," jawabnya. "Oke, baiklah. Terserahlah apa katamu. Aku tidak akan memaksamu kali ini. Tapi awas ya kalau nanti mengeluh," ancam Alicia. Ia mulai menyajikan masakan yang telah matang ke piring dan meletakkannya ke depan Lucas. Ia juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri dan duduk di hadapan Lucas. "Kau nanti tidak berniat mengikutiku lagi kan, Luke? Semalam kau kan sudah berjanji," ucapnya mengingatkan Lucas. "Tidak bisakah itu dibatalkan?" tawarnya. "Atau kau tidak usah berangkat kerja Ali," usulnya yang dibalas dengan pelototan mata Alicia. "Enak saja kau bilang tidak usah berangkat kerja. Bisa dipotong nanti gajiku. Lalu pasti diberi teguran dari sana. Maaf-maaf saja ya, janji adalah janji. Lagipula kapan sih kau akan pulang? Perasaan kau punya rumah sendiri. Benar kan?" sindir Alicia. Lucas menggaruk kepalanya dengan cengiran canggung. "Kalau kau tidak punya uang dan tidak lagi bekerja, tenang saja aku yang akan menghidupimu. Uangku akan cukup untuk menghidupimu dan anak-anak kita kelak," ucapnya menenangkan Alicia. Perkataan Lucas membuat Alicia melongo kaget. "Whoa, sejak kapan pembicaraan kita sampai tahapan yang sejauh itu Luke? Siapa bilang aku mau punya anak denganmu? Menikah saja belum tentu, apalagi anak-anak. Omong kosong macam apa itu. Huh," gerutunya, tanpa sadar menyakiti hati Lucas. "Kau tidak mau punya anak denganku, Al?" tanyanya dengan suara bergetar. "Kalau kau menginginkan pernikahan, tenang saja aku akan segera mengaturnya. Aku janji semua akan beres secepatnya. Pasti kita akan menikah sesegera mungkin," cerocosnya, menolak menerima perkataan Alicia. Ia pasti akan meyakinkan Alicia sampai setuju menikah dengannya. Berpisah dengan Alicia itu bukan pilihan. Hatinya terasa begitu sakit hanya dengan memikirkan Alicia meninggalkannya. Lucas tidak akan pernah membiarkan Alicia menjauh darinya. Ia tahu tidak akan bisa menahannya. Alicia semakin bingung dengan perkataan Lucas. 'Apakah aku pernah mengatakan sesuatu tentang pernikahan sebelumnya? Sebenarnya ini salah siapa sih?' batinnya. Sekarang gilirannya yang menggaruk kepala. Ia kebingungan dengan tingkah Lucas. "Sudahlah, sekarang bagaimana ini? Aku sudah hampir terlambat. Kau pulang saja, Luke. Jangan berlebihan. Aku benar-benar harus berangkat sekarang. Kenapa tidak kau suruh orangmu untuk menjemput? Sudah tidak ada waktu untuk putar jalan dari rumahmu ke rumah sakit," jelasnya. "Aku tidak bisa menghubungi orang rumah. Dan aku tidak membawa apa-apa ke sini. Kemarin aku diantar Robert, tapi sekarang pasti ia berada di tempat lain," ucapnya menolak usulan Alicia. "Tempat lain di mana?" tanyanya tanpa pikir panjang, "Ah, sudahlah tidak usah dijawab. Kau ikut saja, biar nanti pulang pakai mobilku. Kau bisa menyetir tidak?" Alicia mulai menyeret Lucas ke tempat mobilnya. Lucas hanya mengiyakan pertanyaan Alicia. "Baguslah, sekarang ayo kita berangkat. Kau saja yang menyetir. Huh, kenapa tidak dari kemarin kau menyetir?" keluhnya menyalahkan Lucas. Perjalanan dimulai. Kali ini karena tidak menyetir, ia bisa menikmati pemandangan pagi yang cukup segar. Mungkin inilah salah satu alasan ia mau menerima pekerjaan di wilayah ini. Alicia tidak seperti teman-temannya yang lebih suka menghabiskan waktu di keramaian kota dan keluar masuk ruang pesta juga clubbing. Ia lebih menikmati kesendirian yang tenang atau bersama keluarganya. Sekitar setengah jam kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit. "Kau berhenti di sini saja Luke, tidak perlu masuk ya. Nanti malah keterusan lagi. Langsung pulang saja. Jangan lupa kembalikan mobilku. Suruh saja orangmu mengantarkannya. Kau tidak perlu ke sini tahu, " gerutunya. Sebelum Alicia sempat keluar dari mobil, Lucas menariknya mendekat, meraih kedua pipinya dengan telapak tangan yang terbuka dan mengecup dahinya. Pancaran sayang terlihat jelas di matanya. Setelah adegan itu selesai, Lucas tidak langsung melepaskan Alicia. Disejajarkan wajahnya dengan wajah Alicia. "I love you so much Ali, jangan pernah lupakan itu," ungkapnya dengan ketulusan yang terlihat jelas, tak dapat disangkal lagi. "Sekarang kau boleh keluar," ucapnya sambil tersenyum. Ia membuka pintu samping Alicia dengan memiringkan tubuh ke arah Alicia, mengulurkan tangan panjangnya meraih pembuka mobil. Kemudian tangannya dengan lembut mendorong keluar tubuh Alicia. Alicia tanpa sadar sudah berada di luar. Mobilnya yang dikendarai Lucas perlahan menghilang. Ia pun meletakkan tangannya di tepat di atas jantungnya. Bagian tubuhnya itu berdetak tak karuan. Otaknya mendadak berhenti bekerja. Pipinya memanas. Tubuhnya membeku. 'Apa yang telah dilakukan Lucas padaku? Ya Tuhan, berilah aku kekuatan untuk menahan diri dari godaan Lucas yang selalu bertambah berat seiring berjalannya waktu,' pintanya. Alicia baru memasuki rumah sakit setelah menenangkan dirinya yang sedikit linglung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN