Natla: Pembenci Pengkhianat "Natla." Panggilan Om Lando barusan menghentikan langkah gue yang akan masuk ke dalam rumah Oma. Menantu tertua di keluarga ini sedang menatap gue serius. Sebentar, ekspresi macam begini bikin de ja vu. Mirip kayak ekspresi Papi selama acara pernikahan Kak Safa dan Mas Levi. "Ya, Om?" Gue menghampiri Om Lando. "Ada apaan? Tumben panggil-panggil." Om Lando bukan tipe orang yang nggak serius-serius banget. Tapi melihat wajahnya gelisah, jelas ada sesuatu yang sedang ingin laki-laki itu sampaikan ke gue. Duh, apaan, ya? d**a gue berdebaran gini. Takutnya tiba-tiba booom aja, gitu! "Om minta maaf ya, La," gumam Om Lando. Nada suaranya terdengar penuh penyesalan. "Papi kamu gimana kabarnya? Papi kamu baik-baik aja, kan?" tanyanya khawatir. Gue mengerutkan

