Di Sebuah Bar
Adrian terlihat sangat marah, emosinya pun mulai menguasai dirinya. Rasa putus asa bahkan membuatnya tidak bisa berpikir jernih, di remasnya hingga lusuh sebuah kertas undangan yang bertuliskan nama Renata dan Fian lalu melemparkannya ke sudut ruangan. Adrian mengambil handphone miliknya dan membuka galeri, di sana ada banyak foto kemesraan dirinya dan Renata. Adrian memandangi foto itu sejenak sebelum akhirnya dirinya menghapus semua foto itu. Tanpa terasa ada air yang jatuh dari pelupuk matanya, ini adalah kali pertama Adrian menangisi seorang wanita.
Wanita yang ada di foto itu adalah Renata, wanita yang sama dengan yang namanya tertulis di kertas undangan tersebut. Renata adalah kekasih Adrian, hubungan mereka berjalan hampir 9 Tahun lamanya. Adrian mengenal Renata sejak duduk di bangku kuliah, hubungan mereka berjalan baik sampai 3 bulan lalu Renata selalu mempertanyakan keseriusan Adrian. Tentu saja itu hal yang wajar bagi seorang wanita yang sudah berusia hampir 27 Tahun seperti Renata untuk segera menikah, mengingat dorongan dari orang tua Renata juga sangat kuat agar dirinya segera melepas masa lajang. Adrian pun mendapatkan dorongan yang sama dari ibunya, namun Adrian sepertinya belum memikirkan hal itu. Sampai akhirnya hari ini Renata memberikan undangan pernikahannya dengan pria lain.
Diraihnya kunci mobil dan langsung pergi meninggalkan apartementnya, dia melajukan mobilnya tanpa tujuan. Sampai saat dirinya melewati sebuah bar, Adrian memutuskan untuk masuk ke dalam bar tersebut. Ini adalah kali pertama Adrian masuk ke sebuah bar, diri nya memang bukan tipe laki-laki yang suka dengan dunia malam. Namun karena rasa frustasinya, malam ini Adrian memutuskan untuk melupakan Renata dengan memesan minuman beralkohol yang hampir jarang di minumnya. Bayangan Renata yang akan menikahi laki-laki lain benar-benar membuatnya terpuruk.
Praaannkk..
Suara gelas yang jatuh membuat Adrian menoleh mencari asal suara. Di lihatnya seorang wanita muda dengan mini dress tipis di seret paksa oleh seorang pria.
“Aku sudah membayarmu! tapi apa katamu? Kau tidak akan melayani lelaki tua sepertiku?” teriak seorang pria tua yang usianya bahkan mungkin sudah menginjak 50 Tahun.
Wanita bernama Elena itu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman pria itu. Bagian atas bajunya bahkan sobek sehingga memperlihatkan bahunya yang mulus. Seisi bar menatap ke arah mereka berdua tanpa ada niat untuk melerai keduanya.
“Seharusnya kau pulang dan membacakan dongeng untuk cucu-cucumu!” Teriak Elena, membuat pria tua itu kehabisan kesabaran dan hendak memukulnya.
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang dan menghentikan pria tua itu. Wanita itu berwajah dingin, make up tebalnya membuat wajahnya sedikit menakutkan. Wanita berparas jahat tersebut adalah Madam Rose, dia adalah pemilik bar itu dan juga seorang mucikari yang biasanya menyediakan wanita-wanita sewaan untuk para lelaki hidung belang. Madam Rose menyapa pria tua dengan ramah.
“Sepertinya ada masalah disini, mohon jangan membuang energimu Tuan Frans.” Ucapnya menghentikan pria tua itu.
“Cihh, seharusnya kau memberikanku wanita yang benar!” gerutu pria tua itu.
“Coba jelaskan apa yang telah dilakukan anak ini kepadamu Tuan?” Madam Rose menatap tajam ke arah Elena namun tetap tersenyum ke arah Pria tua itu.
“Dia menolak melayaniku, kau fikir aku akan menghabiskan uangku hanya untuk wanita yang tidak bisa melayaniku dengan baik? Aku ingin kau mengembalikan uang milikku.” Kata pria itu marah.
Mendengar hal itu wajah Madam Rose berubah, tidak ada lagi senyuman di wajahnya.
Plaaakkkk.
Dia menampar Elena dengan sangat keras, membuat pria tua yang tadinya marah langsung ciut melihatnya. Wanita itu ternyata sangat menakutkan, Elena terdiam sambil memegang pipinya yang panas akibat tamparan dari madam Rose, matanya pun mulai basah. Adrian yang melihat itu dari kejauhan sedikit merasa iba padanya.
“Maafkan aku Tuan Frans, uang yang kau berikan tidak akan bisa aku kembalikan. Aku akan membujuk wanita ini untuk bisa bersikap lebih baik.” Kata madam Rose membujuk si pria tua itu.
“Aku tidak ingin melayani lelaki itu!” teriak Elena menolak, hal itu membuat madam Rose semakin marah dan hendak menamparnya untuk kedua kalinya. Elena memejamkan matanya siap menerima tamparan itu lagi.
“Hentikan!” tiba-tiba sebuah suara menghentikan madam Rose.
Adrian melangkah mendekati madam Rose, ia awalnya tidak ingin terlibat dengan pertengkaran itu. Tapi kemudian rasa ibanya melihat Elena mengharuskannya untuk terlibat.
“Ohh, sebaiknya Tuan Muda ini tidak ikut campur dalam masalah ini.” Kata madam Rose kepada Adrian dengan senyum dingin di wajahnya.
“Aku menginginkan wanita itu.” Ucap Adrian tanpa basa-basi, Elena terkejut mendengar ucapannya.
“Maafkan aku Tuan Muda, jika kau ingin aku bisa memberikanmu wanita yang jauh lebih cantik darinya.” Madam Rose menawarkan.
“Tidak, sudah ku katakan aku menginginkan wanita itu.” Suara Adrian terdengar tegas.
“Tapi wanita ini sudah dibayar oleh Tuan Frans.” Madam Rose menunjuk ke arah pria tua.
“Aku akan membayarnya 2 kali lipat.”
Ucapan Adrian membuat madam Rose terdiam, dirinya belum ingin melepas Elena.
“Bagaimana jika 3 kali lipat?” Tanya Adrian.
Madam Rose yang mendengar itu akhirnya setuju dengan penawaran Adrian. Dirinya kemudian berjanji kepada Tuan Frans untuk memberikan wanita pengganti yang lebih dari Elena. Elena hanya terpaku mendengar percakapan mereka, bagi mereka sepertinya Elena hanyalah barang untuk di perjual belikan. Setelah permasalahan selesai, Elena akan dibawa oleh Adrian untuk menghabiskan malam bersamanya.
“Sebaiknya kau menjaga sikapmu, jika tidak ingin adikmu Lily yang menggantikan posisimu.” Bisik madam Rose kepada Elena sebelum dia pergi. Elena tercekat mendengar nama adiknya disebut. Dirinya dengan terpaksa mengikuti Adrian tanpa penolakan sedikitpun, Adrian dan Elena berjalan menuju keluar bar.
Saat tiba di parkiran mobil, Adrian membuka pintu mobilnya dan mengambil sebuah jaket miliknya untuk diberikan kepada Elena. Melihat Adrian memberikan jaket itu, Elena baru sadar bahwa bajunya sobek akibat sikap kasar tuan Frans. Dia menatap Adrian yang berwajah dingin lalu mengambil jaket itu dan mengenakannya.
Adrian menyuruh Elena masuk ke mobil lalu melajukan mobilnya menuju ke Apartement miliknya, didalam mobil Adrian bahkan tidak berbicara apa-apa. Sesampainya disana Elena mengikuti setiap langkah Adrian. Di depan pintu Apartemet Elena sempat ragu untuk masuk ke dalam.
“Masuklah.” Perintah Adrian.
Dengan perasaan bercampur aduk Elena menurutinya, sesampainya didalam Adrian langsung mengambil handuk dan menyuruhnya untuk mandi dan membersihkan diri. Elena hanya bisa menuruti perintahnya. Elena membasuh tubuhnya dengan air hangat yang mengalir, tanpa sadar dirinya menangis mengingat semua yang terjadi padanya. Hampir saja dirinya harus tidur dengan pria tua m***m dan menjijikan itu, tanpa sadar dirinya terisak hingga suaranya terdengar sampai keluar. Adrian yang mendengarnya dari luar tentu saja semakin merasa iba.
Setelah selesai mandi, Elena mengenakan kemeja milik Adrian. Kemeja milik Adrian terlihat kebesaran untuk tubuh kecil Elena. namun tetap saja, Elena terlihat begitu seksi menggunakan kemeja itu, Adrian yang sempat terpukau melihat tubuh indah Elena langsung memalingkan wajahnya.
“Apakah tuan ingin mandi terlebih dahulu?” Tanya Elena.
Adrian mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dirinya langsung mengambil handuk dari tangan Elena dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sembari menunggu Adrian mandi, Elena melihat isi Apartementnya. Semua tertata sangat rapi, sampai sebuah foto yang diletakkan di meja samping tempat tidur menarik perhatiannya. Ada foto Adrian yang sedang merangkul seorang wanita dengan sangat mesra.
“Wanita ini pasti kekasihnya.” Gumam Elena.
Adrian yang baru selesai mandi mengagetkannya. Adrian keluar dengan hanya menggunakan handuk, d**a bidangnya yang Atletis membuat Elena spontan mengalihkan pandangannya. Wajahnya memerah malu dan jantungnya berdebar sangat kencang.
“Kenapa kau malu? Bukankah ini adalah pekerjaanmu?” Tanya Adrian yang menyadari sikap Elena itu.
“Maaf tuan saya hanya..” Belum sempat Elena menyelesaikan kalimatnya. Adrian langsung mendorongnya ke tempat tidur, membuat Elena tercekat.
Dengan cepat Adrian sudah berada diatas tubuh Elena, hal ini membuat Elena ketakutan. Elena tidak tau harus berbuat apa, ingin memberontak namun dia sadar bahwa ini adalah pekerjaannya saat ini. Dia bahkan mengingat ucapan madam Rose yang mengancam akan membawa adiknya untuk menggantikannya jika Elena kembali mengecewakan pelanggannya. Elena juga berpikir, mungkin ini caranya membalas kebaikan Adrian yang telah menyelamatkannya dari pria tua itu dan juga madam Rose.