"aku pulang kesorean, pasti mama akan marah". kataku dalam hati.
aku merasa ada yang aneh ketika aku sampai didepan rumah, aku seperti mendengar ada ijab kabul didalam.
"aaahhh... itu mungkin suara tv".bantahku menenangkan hatiku yang tiba-tiba merasa sesuatu terjadi disini. dengan ragu-ragu aku masuk kedalam rumah dan aku melihat ada beberapa tamu pria.
"kamu kenapa pulang terlambat mira?". tiba2 suara nenek mengagetkanku yang sedang kebingungan dengan suasana rumah yang tidak pernah seramai ini sebelumnya.
"tadi pergi sama niva cari buku nek, ini kenapa banyak orang dirumah kita?". tanyaku heran.
"masuklah dulu terus makan. kamu belum makan kan?". nenek tidak menjawabku malah balik bertanya.
"jawab nek ada apa? jangan buat aku penasaran". desakku
"hari ini mama sudah menikah lagi. ini papa baru kamu".tiba2 mama keluar dari kamar dan mengatakan hal yang mengagetkanku
"tapi mengapa?". aku bertanya dengan keterkejutanku yang belum hilang
"karena mama butuh pendamping hidup, mama juga membutuhkan seorang suami dan kepala keluarga. seorang diri mencari nafkah menghidupi dua anak sangat berat untuk mama, mira... ".mama menjelaskan dengan panjang lebar.
"tapi mengapa mama tidak tanya mira dulu... mira tidak butuh papa baru ma... mira punya papa sendiri walau sudah meninggal". aku menangis mengeluarkan semua isi hatiku
"kamu masih kecil mira... apapun yang mama lakukan ini semua untuk kebaikanmu dan putra". jelas mama
"jadi karena aku masih kecil tak pantas untuk diajak bicara. hanya karena ku seorang anak tak pantas untuk ditanya pendapatnya?". kutatap mama dengan marah.
"kamu tidak usah banyak bicara mira.. kamu mengerti apa kesusahan orang tua".
"sekolah mira tinggal satu tahun lagi ma... tidak bisakah mama menunggu mira tamat sekolah sehingga mira bisa bekerja dan membantu mama. mengapa harus dengan menikah".
"ini keputusan mama, kamu tidak boleh ikut campur".
"aku benci mama.... aku tidak mau papa baru, aku tidak mau papa tiri". kataku sambil berteriak
"plak.... " tiba2 mama menamparku dengan sangat keras sehingga membuatku terkejut dan mundur kebelakang
"kamu sudah gila ya, itu anakmu sendiri, mengapa kamu menamparnya". nenek memarahi mama dan mendekatiku
"kamu sudah menyakiti hatinya dan sekarang kamu menyakiti pipinya juga. orang tua macam apa yang seegois kamu".
"mira kurang ajar bu, aku ini mamanya". mama mencoba membela diri
"biar saja nek. mama lebih memilih membela suami barunya daripada mira, sekarang mira tahu kalau mira tidak penting untuk mama". aku berlari dan masuk kamar. tidak lama kemudian aku keluar dengan membawa pakaianku.
"mau kemana kamu mira, mau kabur kemana hah... ". bentak mama.
"tidak usah perdulikan mira ma, urus saja suami baru mama itu".
"mira... maafkan papa karena membuatmu bertengkar dengan mamamu". pria yang sudah menikahi mama itu akhirnya bersuara juga.
"kamu tidak usah sok baik.... kamu bukan papa aku". aku mendorongnya yang menghalangi jalanku dan berlari meninggalkan rumah sambil menangis.