bc

Suamiku Tak Pernah Melihat Wajahku

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
family
arranged marriage
heir/heiress
drama
city
secrets
affair
like
intro-logo
Uraian

Rania menerima perjodohan itu dengan sepenuh hati. Ia percaya, cinta bisa tumbuh setelah akad, selama keduanya mau saling berusaha.Namun harapannya hancur pada malam pertama.Tanpa sengaja, ia mendengar Rayhan—suami yang bahkan belum pernah benar-benar melihat wajahnya, berjanji kepada wanita lain bahwa ia tak akan pernah menyentuh istrinya. Bahkan memandang wajah Rania pun ia merasa jijik.Hati Rania remuk.Sejak malam itu, ia memutuskan mengenakan cadar. Jika suaminya tak sudi melihat wajahnya, maka ia akan memastikan pria itu tak pernah memiliki kesempatan untuk melihatnya.Hari demi hari berlalu. Rayhan tetap dingin, sementara Rania menjalankan perannya sebagai istri tanpa pernah memaksa suaminya membalas perasaannya.Namun ketika rasa benci perlahan berubah menjadi penasaran, lalu menjadi cinta, Rayhan justru menyadari satu hal...Ia telah jatuh cinta pada perempuan yang wajahnya tak pernah ia lihat.Akankah Rayhan berhasil mendapatkan hati Rania? Atau penyesalan akan datang ketika semuanya telah terlambat?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1-Malam yang Menghancurkan Harapan
Malam pertama seharusnya menjadi malam paling membahagiakan bagi seorang perempuan. Namun bagiku... malam itu adalah awal dari segala luka. Tanganku menggenggam erat nampan kecil berisi segelas s**u hangat. Ibu bilang, s**u hangat bisa membantu mengurangi rasa gugup. Beliau bahkan tersenyum malu ketika menyelipkan pesan itu beberapa jam yang lalu. "Nanti setelah masuk kamar, berikan ini untuk suamimu. Setelah itu banyak-banyaklah berdoa. Pernikahan bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang mau belajar saling memahami." Aku hanya mengangguk saat itu dan aku percaya bahwa setiap perempuan pasti gugup menghadapi malam pertamanya. Aku juga percaya bahwa cinta bisa tumbuh setelah akad pernikahan meskipun sebelumnya kami belum saling mengenal. Dengan langkah perlahan, aku berjalan menyusuri lorong menuju kamar pengantin yang telah dipersiapkan ayah dan ibuku. Gaun pengantinku masih melekat sempurna. Harum melati dari sanggul memenuhi penciumanku. Jantungku berdebar semakin cepat. Aku bahkan sempat tersenyum sendiri. "Bismillah...Semoga aku bisa menjadi istri yang baik." ucapku berbisik. Tanganku baru saja hendak mengetuk pintu, namun suara laki-laki dari balik pintu membuat gerakanku terhenti. "Aku sudah bilang berkali-kali padamu Cyn...." Aku spontan membeku. Cyn? Siapa? Suara itu jelas milik suamiku, Rayhan. Sebenarnya aku tidak berniat menguping, sungguh. Aku bahkan ingin segera mengetuk pintu agar ia tahu aku sudah datang, namun kalimat berikutnya membuat seluruh tubuhku seperti kehilangan tenaga. "Aku sama sekali tidak berniat menyentuh perempuan itu." Napas yang sejak tadi ku tahan seolah berhenti. Perempuan itu? Siapa? Aku? Jemari yang menggenggam nampan mulai bergetar. Di balik pintu, Rayhan kembali berbicara dengan nada yang sangat tenang. Seolah kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya bukan sesuatu yang mampu menghancurkan hati orang lain. "Tenang saja, pernikahan ini hanya formalitas." Aku menggigit bibir bawahku, dadaku terasa sesak. Entah mengapa hatiku mulai dipenuhi firasat buruk, lalu kalimat berikutnya benar-benar menghancurkan seluruh harapan yang kubawa sejak pagi. "Kau tau, selama aku di sini aku tidak benar-benar melihat wajahnya. Aku tidak ingin melihat wajah wanita itu, aku tidak sudi." Brak! Nampan di tanganku nyaris terjatuh. Untung saja aku segera menahannya. Sedikit s**u tumpah membasahi jemariku. Rasanya hangat, namun tidak sehangat air mata yang perlahan mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku memejamkan mata rapat. Berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa aku salah dengar. Bahwa mungkin, Rayhan sedang bercanda atau sedang membicarakan orang lain, tapi kenyataan yang ku dengar tidak sebaik itu. "Wanita yang aku cintai itu adalah kamu. Wanitaku yang paling cantik, baik dan pengertian. Tidak akan pernah ada perempuan lain selain kamu." Suara perempuan di seberang telepon terdengar samar. Aku tidak bisa mendengar jelas apa yang dikatakannya. Tetapi aku tahu satu hal. Suamiku... sedang berbicara dengan perempuan yang dicintainya dan perempuan itu bukan aku.Perempuan yang baru beberapa jam lalu sah menjadi istrinya. Aku mundur satu langkah kemudian satu langkah lagi. Aku takut kalau Rayhan membuka pintu sekarang, ia akan melihatku berdiri di sini. Tidak, aku tidak ingin ia tahu bahwa aku mendengar semuanya. Perlahan aku membalikkan badan dan melangkah pergi. Setiap langkah terasa begitu berat. Air mataku akhirnya jatuh tanpa bisa ku tahan. Aku berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Aku tidak ingin ada yang mendengar tangisanku. Terutama bapak dan ibu. --- Dua belas jam sebelumnya... Rumah kami telah dipenuhi puluhan warga sejak selepas Subuh. Hari itu adalah hari yang paling dinantikan sekaligus paling ku takuti. Hari pernikahanku. Rumah kami yang biasanya tenang berubah menjadi begitu ramai. Ibu-ibu sibuk memasak di dapur, anak-anak muda memasang tenda. Beberapa tetangga membawa bunga dan buah tangan. Aku baru saja selesai membantu menyusun kotak hantaran ketika Bu Halimah, ibuku, menarik pelan lenganku. "Astaghfirullah, Nak. Hari ini kamu pengantinnya. Bukan panitia pernikahan." Aku terkekeh pelan. "Kalau Rania diam saja, nanti malah tambah gugup, bu." Ibuku menggeleng sambil tersenyum. "Dasar anak ini." Beliau mengusap pipiku penuh kasih. Matanya mulai berkaca-kaca. "Sebentar lagi kamu akan menjadi istri dan ikut suamimu." Kalimat itu membuat senyumku perlahan memudar. "Ibu, kalau bisa Rania mau tinggal di sini saja bareng bapak dan ibu..." Bu Halimah langsung memelukku. "Jangan bicara begitu. Bagaimanapun juga kamu harus ikut suamimu. Jangan takut, insyaallah, laki-laki pilihan bapakmu adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab." Aku mengangguk pelan. Aku memang belum pernah bertemu langsung dengan Rayhan, namun aku pernah melihat fotonya. Seorang pria berwajah teduh dengan senyum yang sangat tipis. Bapak berkata, Rayhan adalah putra sahabatnya. Seorang CEO muda yang cerdas, bertanggung jawab dan mampu memimpin perusahaan besar menggantikan ayahnya. Aku tidak pernah meminta menikah dengan laki-laki kaya. Bagiku, selama dia menghormati aku sebagai istrinya aku sudah merasa cukup. "Rania." Suara bapak terdengar dari ruang tamu. Aku segera menghampiri. Di sana, bapak sudah mengenakan baju koko putih lengkap dengan peci hitam. Wajahnya tampak jauh lebih tegang daripada biasanya. "Pak..." Bapakku tersenyum melihatku. "Nak, hari ini Bapak mau bertanya sekali lagi. Apa kamu sudah yakin dengan pernikahan ini? Kalau kamu belum siap, kita masih bisa membicarakan semuanya. Bapak tidak ingin kamu menikah hanya karena ingin mewujudkan harapan bapak dan sahabat bapak. Bapak ingin kamu benar-banar bahagia dengan pernikahan ini." Aku terdiam. Pertanyaan itu pernah beliau ajukan tiga bulan yang lalu dan jawabanku tetap sama. "Bapak, apa Bapak percaya keluarga Mahardika adalah keluarga yang baik?" Ayah mengangguk mantap. "Sangat percaya." "Apa Bapak percaya Pak Surya akan menjaga Rania seperti anaknya sendiri?" Kali ini senyum ayah semakin lebar. "Insyaallah, karena dia sahabatku dia pasti akan menganggap mu seperti anaknya sendiri. " Aku menarik napas panjang, lalu membalas senyum beliau. "Kalau begitu...Rania juga percaya." Mata bapakku langsung memerah. Beliau langsung memelukku erat. "Terima kasih, Nak. Bapak tidak akan pernah memaafkan diri sendiri kalau keputusan ini membuatmu menderita." Aku menggeleng sambil tersenyum. --- Suara klakson mobil yang saling bersahutan memutus pembicaraan kami. Seorang pemuda desa berlari memasuki halaman rumah. "Pak Lurah! Iring-iringan keluarga Mahardika sudah masuk desa!" ucapnya. Suasana rumah yang semula riuh mendadak semakin ramai. Beberapa warga segera berdiri di tepi jalan. Anak-anak kecil berlarian dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Aku hanya bisa mengintip dari balik jendela kamar. Beberapa mobil hitam mewah memasuki halaman rumah kami satu per satu. Kontras sekali dengan rumah-rumah sederhana di desa, namun yang membuatku tersenyum bukanlah mobil-mobil itu. Melainkan dua orang pria yang langsung saling memeluk begitu pintu mobil pertama terbuka. "Rahmat!" "Surya!" Bapakku dan sahabatnya tertawa bersamaan. Pelukan mereka begitu erat hingga beberapa warga ikut bertepuk tangan. "Alhamdulillah..." Surya Mahardika menepuk bahu Bapakku. "Akhirnya janji kita benar-benar terlaksana." Bapak tersenyum haru. "Iya, Allah memang sebaik-baik pengatur takdir." Aku memandang mereka dari kejauhan. Baru kali ini aku melihat Pak Surya secara langsung. Beliau jauh berbeda dari bayanganku. Meski dikenal sebagai pengusaha besar, wajahnya tidak menunjukkan kesombongan sedikit pun. Justru terlihat teduh dan penuh wibawa. Di sampingnya berdiri seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun. Beliau mengenakan kebaya berwarna biru muda dengan jilbab senada. Senyumnya begitu hangat kepada semua warga yang menyambut. Beliau pasti Ibu Ratna, ibunya Rayhan. Tak lama kemudian,seorang wanita berpenampilan elegan turun dari mobil berikutnya. Blazer putih dipadukan rok pensil hitam membuat auranya terlihat sangat profesional. Tas bermerek menggantung di lengannya. Tatapan matanya menyapu halaman rumahku perlahan. Tidak ada ekspresi apapun, hanya pandangan datar yang sulit ku tafsirkan. "Rachel." Suara Pak Surya memanggil. Wanita itu segera mendekat sambil mengulas senyum tipis. "Iya, Yah." "Salami Om Rahmat." Rachel langsung menyalami bapakku dengan sopan. "Selamat ya, Om. Semoga acara hari ini berjalan lancar." Bahasanya santun, sikapnya pun anggun, namun entah mengapa aku merasa ada jarak yang sengaja ia ciptakan. Di belakang Rachel, seorang pria bertubuh tinggi ikut turun. Wajahnya tampan dengan senyum yang mudah membuat orang merasa nyaman. "Assalamu'alaikum." Sapanya ramah kepada warga. "Wa'alaikumsalam." Beberapa bapak langsung membalas salamnya. "Ayo, saya bantu angkat hantaran." Tanpa canggung, pria itu ikut mengangkat beberapa kotak bingkisan bersama pemuda desa. "Bayu!" Rachel menggeleng kecil. "Kamu ini..." Bayu hanya tertawa. "Namanya juga keluarga." Melihat tingkah suaminya, beberapa ibu langsung berbisik kagum. "Suaminya Mbak Rachel ramah sekali," ucap para ibu-ibu itu dan Rachel nampak membalas dengan senyuman menanggapi komentar mereka. Aku ikut tersenyum. Setidaknya keluarga calon suamiku tampak menyenangkan. Belum sempat aku menghela napas lega, suara pintu mobil kembali terdengar. Seorang wanita keluar sambil memanggul tas carrier besar. Rambutnya di kuncir sederhana dengan sepatu gunung yang masih melekat di kakinya. Ia meregangkan bahu sambil menguap. "Akhirnya sampai juga." Bayu tertawa keras. "Astaga Laura, Jangan-jangan kamu belum mandi ikut ke sini," ledek Bayu. Laura memutar bola matanya. "Enak aja, gue udah mandi di rest area. Nggak nyium apa gue udah wangi begini," jawab Laura. Semua orang tertawa mendengarnya. Suasana yang semula formal berubah menjadi hangat. Laura terlihat menghampiri beberapa anak kecil yang ada di dekatnya. "Hai, namanya siapa?" "Bagas!" "Wah, namanya keren ya." Anak kecil itu langsung tersenyum malu. Aku ikut terkekeh melihat tingkahnya. Orangnya ternyata sangat mudah berbaur. Namun, senyumku perlahan memudar ketika sosok terakhir turun dari mobil. Akhirnya ,aku melihat calon suamiku secara langsung. Tubuhnya tinggi, setelan jas hitam yang dikenakannya membuat penampilannya tampak begitu berwibawa. Wajahnya jauh lebih tampan dibandingkan foto yang pernah diperlihatkan bapak. Tak ada senyum di wajah itu, tatapannya dingin. Bahkan ketika bapak menyambutnya dengan hangat, ia hanya membalas dengan anggukan sopan. Aku mencoba menghibur diriku sendiri. "Mungkin Mas Rayhan memang tidak pandai menunjukkan perasaan." --- Prosesi akad berlangsung menjelang Zuhur. Jantungku berdegup semakin cepat ketika penghulu mulai membacakan ijab kabul. Aku duduk di balik tirai bersama ibuku. Tanganku sangat dingin. Aku bahkan hampir lupa cara bernapas. "Tenang." Bisik ibu sambil menggenggam jemariku. Aku mengangguk pelan. Tak lama kemudian suara Rayhan terdengar lantang dan tegas. "Saya terima nikah dan kawinnya Rania Rahmat binti Haji Rahmat..." "Sah!" Suara para saksi menggema memenuhi ruangan. Air mata ibu langsung jatuh. Aku sendiri menutup wajah sambil menangis. Mulai hari ini, aku resmi menjadi istri seseorang. Setelah akad, tibalah prosesi sungkeman. Aku mencium tangan bapak, beliau memelukku erat. "Maafkan Bapak kalau selama ini banyak salah." Aku langsung menggeleng. "Jangan begitu, Pak. Bapak adalah ayah terbaik bagi Rania." Tangis kami pecah bersamaan, kemudian aku mencium tangan Pak Surya. Beliau mengangkat ku sebelum sempat aku terlalu lama menunduk. "Mulai hari ini...kamu juga anak Ayah." Kalimat sederhana itu membuat dadaku menghangat, lalu Ibu Ratna memelukku. "Selamat datang di keluarga Mahardika ya sayang, " ucapnya lembut. Aku mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih, Bu." Dan malam pun tiba seperti mimpi buruk ketika aku mengetahui kenyataan suami ku menghubungi wanita lain. Malam itu akhirnya aku mengerti, suamiku membenciku... bahkan sebelum ia melihat wajahku.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
749.4K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
982.4K
bc

A Warrior's Second Chance

read
361.7K
bc

Not just, the Beta

read
349.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook