"Kau kedinginan?" Ryuu menatap Bianca dengan pandangan bulatnya yang polos. Bibirnya pucat. Pipinya semakin tirus, tergerus rasa sakit mendalam. Bianca menguatkan diri untuk tidak menangis. Menangisi kondisi Ryuu yang parah. "Ibu Lena?" "Dia harus kembali. Tadi dia di sini," kata Bianca lemah, menghibur Ryuu. "Dia akan datang lagi besok. Jangan cemas." "Ibu Lena sangat sibuk. Aku tidak apa-apa di sini. Ada Bibi Bianca bersamaku," ucapnya ramah. "Paman Abe pasti sibuk." "Ya." Bianca mengulurkan tangan, meremas tangan Ryuu yang bebas. Ada bekas suntikan yang dalam, napas Bianca tersekat. "Aku tahu semua terasa sakit. Tapi bisakah bertahan sebentar lagi?" "Ini pasti akan berjalan lama." Bocah delapan tahun itu bersuara rendah. Bianca terenyuh, membayangkan Ryuu yang tidur untuk selaman

