Abe tidak tahu sejak kapan dirinya diam, termenung, hanya sebatas mampu mengamati Bianca yang pulas. Dirinya sadar, bahkan masih terjaga di malam-malam yang semakin larut. Pada sepinya kamar dan hanya cahaya lampu serta kipas dari pendingin ruangan yang bergerak. Sorot matanya tegas. Namun, sisi lain yang tidak pernah ia perlihatkan pada siapa pun. Ia masih ingat, masih mengenang benar saat gadis itu berceloteh tentang masa mudanya yang ceroboh dan kacau. Abe sama sekali tidak menganggap itu sebagai aib, tetapi sebagai penghibur. Bianca memang tidak bicara soal masa lalunya bersama Chayim dulu. Yang ia terima hanya seberkas kenangan bersama Aisha, sahabatnya. Saat mereka berdua sama-sama sedang mencari arti jati diri. Sofa itu sebagai saksi. Dalam bisunya, Abe tetap tidak membiarkan mat

