Setelah menjalani puasa selama satu bulan, hari kemenangan menjadi hari yang paling dinantikan Tari, juga hari yang paling ia hindari karena seluruh keluarga akan berkumpul lalu muncullah pertanyaan 'kapan' blablabla.
Pagi hari setelah melaksanakan sholat ied, tradisi keluarga besar Tari adalah sungkeman. Dari Eyang putri dan Eyang kakung, lalu om-tante dan orangtua Tari disusul sepupu-sepupu Tari.
"Jadi Tari udah punya calon belum?" tanya Eyang kakung, Ayah dari Ibu Tari saat Tari duduk dihadapannya.
"Sudah Pa, tapi dia tolak" bukan Tari yang menjawab, melainkan sang Ayah yang masih memiliki dendam karena batalnya perjodohan itu sebulan yang lalu, bahkan izin Tari untuk menjadi relawanpun masih belum ada tanggapan dari Ayahnya.
"Kamu gak bagus pilih calonnya. Lah dulu Calya kok gak nolak Papa jodohin sama kamu? Biar Eyang kakung saja yang jodohin kamu dijamin kamu pasti suka" ucap Eyang kakung.
"Gak perlu Eyang, Tari bisa kok cari sendiri, hanya belum siap saja" jawab Tari kalem. Surya Atmaja hanya melengos malas lalu Tari mencium punggung tangan sang Eyang dan beralih pada sang Eyang putri yang untungnya tidak rewel seperti Eyang kakungnya.
Kediaman Eyang Tari menggelar open house, maka setelah acara sungkeman dan pembagian THR selesai, seluruh kerabat eyang dan orangtuanya mulai berdatangan. Tari mulai sibuk mondar mandir menyiapkan makanan.
"Baaatt!!"
Hanya satu orang yang memanggilnya Bat dengan suara lantang. Siapa lagi kalau bukan Elang?
"Lo ngapain kesini? Om sama Tante mana?" tanya Tari menatap Elang sebal.
"Wets santai, gak mau salaman sama calon suami dulu nih?" ucap Elang sambil mengulurkan tangannya.
"Bangkai! Lo masih selamat ya sekarang" ucap Tari sambil melirik sekitarnya dan mengangkat sebagian kaftannya yang kepanjangan. Jika ia mengeluarkan jurus mautnya, maka bisa dipastikan sang Ibu akan rewel seharian. Elang terbahak lalu merangkul bahu Tari untung saja gadis itu tidak berontak seperti biasanya.
"Tapi om Arion beneran nawarin lo Bat. Pilih bang Raja atau Gue? Baru deh lo diizinin jadi relawan" ucap Elang terkekeh. Tari melengos.
"Dan lo pikir gue percaya?" tanya Tari dan sebelah kakinya yang memakai widgess menginjak kaki Elang. Elang meringis.
"Sakit anjir, lepas gak?" bisik Elang menahan teriakannya. Tari semakin menginjakkan kakinya pada sepatu kets yang dipakai Elang.
"Bangsaatt!" gumam Elang lalu saat ia hendak memiting leher Tari, pundak kedua insan yang sedang beradu urat itu ditepuk, membuat keduanya menoleh dan kaki Tari yang tadi menginjak ujung sepatu kets Elang terlepas membuat Elang menghela napas lega
"Siapapun lo, gue ucapin makas--"
Elang memasang cengirannya, berbeda dengan Tari yang hendak kabur tetapi Elang yang menyadari gerak-gerik Tari langsung menahan lengannya.
"Hai Bang.. Maaf lahir batin yee.. Bat, yang sopan sama Bang Raja. Bilang maaf lahir batin" Elang mengulurkan tangan kanannya pada Raja yang dibalas pria itu dengan senyuman tipis sambil mengulurkan tangannya.
"Iya maaf lahir batin juga."
Lalu ia beralih pada Tari yang sama sekali enggan menatapnya.
"Batari?" Raja mengulurkan tangannya yang hanya dilirik Tari lalu gadis itu mendengus.
"Ogah" jawab Tari datar.
"Gak boleh gitu Bat, gini yah benci sama cinta itu bedanya tipis. Dan hati manusia itu gampang di bolak balikkan" ucap Elang. Tari melotot sebal pada Elang. Bisa-bisanya pria itu malah berpihak pada Raja.
"Kalian harus selesaiin masalah biar lo bisa diizinkan jadi relawan. Gih sana!" Ucap Elang mendorong punggung Tari ke arah Raja.
"Lang!"
"Udah Bang, seret aja sana. Engap gue liat teman lama malah musuhan." Elang mengambil tangan Raja lalu mengarahkannya pada jemari Tari dan mendorong bahu kedua manusia itu untuk menjauh.
Tari berdecak, melepas genggaman Raja lalu berjalan mendahului pria yang hari itu memakai baju koko berwarna abu-abu. Elang mengepalkan tangannya, memberi semangat pada pria yang selalu baik padanya itu.
***
Tari bersedekap dengan pandangan yang berlawanan dengan Raja.
"Udah cepetan ngomon, gue masih ada kerjaan" ucap Tari sebal setelah 5 menit Raja tak kunjung membuka suaranya.
"Mungkin kamu kecewa sama saya"
"Oh jelas, bukan mungkin lagi"
"Saya benar-benar minta maaf, saat itu--"
"Perhatian semuanya!"
Tari dan Raja yang berdiri di teras depan langsung menolehkan kepalanya ke arah panggung kecil yang telah di dekorasi, biasanya setelah makan-makan, pasti akan diadakan karaoke untuk hiburan.
Pasti Ayah dan Ibu mau nyanyi lagu bucin lagi. Tebak Tari dalam hati karena setiap tahunnya pasangan absurd itu akan menyumbangkan satu-satunya lagu yang menjadi surprise pernikahan mereka. Everything I do.
"Pada pagi menjelang siang yang berbahagia ini, kami akan menyampaikan sebuah kabar mengejutkan" ucap sang Ibu heboh. Kedua alis Tari terangkat tinggi, ia kadang heran kenapa sang Ayah tetap setia pada Ibunya yang over itu?
"Mas yang ngomong deh, kan ide nya mas"
Tari mendadak merasakan jantungnya berdebar kencang, perasaannya tidak enak. Apalagi melihat cengiran Elang yang berdiri tak jauh dari panggung.
"Baik, jadi mumpung semuanya kumpul lengkap saya ingin menyampaikan bahwa kami berencana menjodohkan putri sulung kami, Batari Zeraiah Wiraatmaja dengan putra salah satu sahabat saya.."
Tari mendadak ingin pingsan saat ini juga, ia merasa jantungnya diremas kuat bahkan kerongkongannya kering dan keringat dingin sebesar jagung menetes dari pelipisnya.
"Batari?"
Bahkan panggilan Raja tak lagi ia hiraukan. Ia menatap sang Ayah yang sudah menatapnya dengan senyuman lembut.
Oh jangan!
Tari menggelengkan kepalanya kuat.
"..Angkasa Raja Alam"
Setan
Tari memilih masuk ke dalam rumah bahkan tak memedulikan seruan membahana dari keluarga besarnya.
***
Raja menatap punggung Tari yang berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua.
"Tidak usah dikejar" suara lembut milik Calya menghentikan langkah Raja.
"Tapi--"
"Biar tante yang bicara sama dia, anak itu memang keras kepala. Hanya dengan cara ini dia tidak akan menolak, bahkan Elang saja tidak bisa membujuknya" ucap wanita paruh baya itu yang memakai kaftan berwarna putih dan jilbab abu-abu senada dengan Tari dan Freya.
"Sudah sana kamu gabung sama Elang." ucap Calya lalu ia beranjak menyusul sang putri sulung. Dan sesuai tebakannya, tak ada tangisan yang keluar dari wajah cantik sang anak yang merupakan copyan Arion versi cewek.
"Kak"
Tari tak perlu repot menolehkan kepalanya. Ia hanya berdehem pelan sambil matanya menatap ke taman belakang rumah Eyangnya yang terawat.
"Kamu ada masalah sama Raja di masa lalu ya?"
Tari hanya menghela napas dan mengedikkan bahunya malas.
"Banyak loh yang mau sama Raja, bahkan Kinan adiknya Elang saja hampir dijodohin sama Raja tapi dia lebih milih nerima perjodohan dari Ayah."
"Kenapa bukan Freya aja sih Bu?" tanya Tari sebal. Calya terbahak.
"Ntar Raja disangka p*****l. Dedek baru kelas 2 SMA" jawab Calya.
Tari baru hendak membuka suara tetapi sang Ibu memotong dengan cepat.
"Ayah jodohin kamu sama Raja, selain karena dulu Papanya Raja sudah mempertaruhkan nyawa untuk Ayah, Ayah juga merasa Raja bisa bahagiain kamu nak. Ayah jodohin kamu karena Ayah ingin yang terbaik untuk kamu. Ayah percaya kamu bisa memilih tetapi urusan pendamping hidup, Ayah hanya ingin menjamin kamu ditangan orang baik nak. Zaman sekarang, susah nyari laki-laki paket komplit." jelas sang Ibu panjang lebar.
"Tapi Bu"
"Kamu nih ucapan Ibu di jawab terus. Ibu jadi yakin kalian punya masalah di masa lalu, wong Raja paket komplit gitu gak kamu lirik, Elang juga yang nyaris sempurna malah kamu nolak duluan. Mau kakak tuh apasih?" Calya menatap sebal sang anak, lama-lama kepalanya bisa botak menghadapi seribu satu alasan ngeles sang anak. Dari sekian banyak sifatnya, kenapa harus jago ngeles dan keras kepalanya yang menurun pada anaknya?
Tari memilih diam.
"Kasi Raja kesempatan, kalau dia memang ada salah ya agar dia bisa perbaiki, jangan tutup mata lah kak. Setiap kejadian itu pasti ada penjelasannya, begitupun setiap kesalahan yang diperbuat. Penjelasan itu perlu walau tak mengubah apapun tetapi bisa memperbaiki kesalahpahaman karena pandangan setiap orang itu berbeda"
Kalau sudah menghadapi sang ibu yang sedang dalam mode rewel on, maka Tari tak punya pilihan lain selain mematuhi ucapan sang Ibu tercinta.
"Jadi kakak mau kan coba sama Raja? Ini kok kayak Ibu yang jadi Mamanya Raja ya?" Calya tertawa kecil.
"Emang Tari punya pilihan apalagi Bu selain iya?" ucap Tari malas. Sang Ibu terbahak dan mengelus pundak sang anak.
"Gak ada salahnya mencoba nak."
***