Tari mengaduk ketupat dan opor ayamnya tanpa minat, didepannya Raja terus mengawasi Tari yang wajahnya tertekuk sejak ia kembali turun bersama sang Ibu. Ia bahkan sama sekali tak menikmati open house sekaligus acara kumpul keluarga besar itu.
"Tari"
Tari menghentikan gerakan tangannya tetapi tatapannya tetap tertuju pada makanannya. Mungkin ini saatnya Raja menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi di masa lalu.
"Saya bertunangan dengan Kania itu hanya sebatas pertunangan bisnis."
Wajah Tari tampak mengeras lalu ia kembali melanjutkan kegiatan mengaduk makanannya.
"Perusahaan kakek saya terancam bangkrut, dan hanya kakek Kania yang bisa membantu tetapi syarat diajukan Kania, kami harus bertunangan." lanjut Raja lagi.
Sejak dulu kakak kelasnya itu memang membenci Tari.
"Gue gak peduli penjelasan lo. Gak akan mengubah apapun keputusan bokap gue kan? Tetap aja gue dijodohin sama lo" ketus Tari lalu ia beranjak dari tempatnya tetapi langkahnya terhenti saat mendengar seruan dari Dara, sepupunya.
Demi minuman cap kaki badak! Gue tendang lo Dar. Gumam Tari lantas ia menolehkan kepalanya pada Dara yang sudah berdiri di panggung kecil sambil memegang mic.
"Tar, nyanyi yuk!" ucap Dara dengan lantang sambil melambaikan tangannya dan diikuti sorakan dari sepupunya yang lain.
Bangke!
Dengan enggan Tari melangkah menghampiri Dara dan mengambil mic lain.
"Awas lo Dar, gue sleding lo" bisik Tari tajam. Dara hanya terkekeh geli menanggapi ucapan sepupunya itu.
"Bang Raja! Sini nyanyi. Sepasang calon kekasih baru harus nyanyi bareng" panggil Dara, Tari menatap Laras sebal sedangkan wanita yang kini sedang hamil muda itu tertawa dan melambaikan tangannya pada Raja.
"Lo mau balas dendam ya?" tanya Tari membuat Dara menganggukkan kepalanya riang.
"Tahun lalu lo udah malu-maluin gue didepan mertua gue, sekarang giliran lo." jawab Dara enteng lalu menyerahkan mic yang ia pegang pada Raja dan turun dari panggung kecil itu.
Fak!
Demi apapun, ini pertama kalinya Tari mengumpat beberapa kali dalam lima menit. Walau bergaul dengan Elang yang mulutnya selalu mengeluarkan umpatan kasar tetapi ia tak pernah tertular untuk mengikuti Elang.
"Jadi.. Lagu apa?" tanya Evan yang bertugas mencari melodi lagu untuk dinyanyikan. Tari diam. Raja juga diam.
Jika duet bersama Dara, mereka pasti akan menyanyikan lagu dangdut untuk melepas stres. Tapi ini Raja.
"Aku dan dirimu" jawab Raja kalem. Tari menolehkan kepalanya pada Raja, hendak meralat tetapi alunan lagu mulai terputar.
Tiba saatnya kita saling bicara
Tentang perasaan yang kian menyiksa
Tentang rindu yang menggebu
Tentang cinta yang tak terungkap
Jantung Tari berdetak cepat lalu ia mulai melanjutkan lagu yang dinyanyikan Raja
Sudah terlalu lama kita berdiam
Tenggelam dalam gelisah yang tak teredam
Memenuhi mimpi-mimpimu malam kita
Tepuk tangan terdengar riuh. Tari mendadak merasa tenggorokannya kering. Lagu itu tepat dengan keadaan mereka.
Duhai cintaku, sayangku, lepaskanlah
Raja menatap Tari yang kini melanjutkan lirik lagu
Perasaanmu, rindumu, seluruh cintamu
Dan mereka melanjutkan lagu itu bersama
Dan kini hanya ada aku dan dirimu
Sesaat di keabadian
Tepuk tangan kembali terdengar, apalagi Elang yang kini membentuk emoticon hati khas korea. Tari yakin setelah ini Elang akan meledeknya.
Jika sang waktu kita hentikan
Dan segala mimpi-mimpi jadi kenyataan
Meleburkan semua batas
Antara kau dan akkeabadian
Duhai cintaku, sayangku, lepaskanlah
Perasaanmu, rindumu, seluruh cintamu
Dan kini hanya ada aku dan dirimu
Sesaat di keabadian
Begitu lagu usai, gemuruh tepuk tangan serta siulan terdengar memekakkan telinga. Tari menundukkan kepalanya dengan wajah datar lalu beranjak turun dari panggung kecil itu disusul Raja di belakangnya.
Tari langsung menyambar tangan Dara yang berdiri di samping panggung, ia tau pasti ada yang menyuruh Dara.
"Lo malu-maluin gue Dar. Tega!" Tari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia dapat merasakan tangan Dara merangkul bahunya.
"Idenya Tyya sama Yangti, jangan salahin gue." ucap Dara. Tuh kan!
"Tau ah, kesel gue. Mana lagunya ngena banget lagi" gerutu Tari kesal. Dari sekian banyak lagu kenapa harus lagu terkutuk itu?
Dara tertawa, ia memang tau masa lalu Tari dan Raja karena Tari sangat dekat dengan Dara dan mereka dulu sekelas selama 12 tahun sekolah. Ia hanya memiliki Dara dan Raquel sebagai teman dekat perempuannya. Dan hanya kedua orang itu yang tau masa lalunya dengan Raja.
Tari kembali menolehkan kepalanya saat menyadari sesuatu.
"Lo gak bilang sama nyokap gue kan tentang gue dan Raja dulu?" tanya Tari dengan tatapan menyelidik.
Dara memasang cengirannya dan menganggukkan kepalanya.
"Gue cerita. Tyya maksa gue soalnya, lo tau sendiri Tyya gimana" jawab Dara dengan wajah tanpa dosanya. Tari mengusap wajahnya.
Selesai sudah.
***
"Kakak ke rumah sakit?" tanya Calya begitu sang anak baru saja menuruni anak tangga. Masih terlalu pagi untuk ke rumah sakit tetapi sepertinya Tari sengaja pergi lebih awal.
"Iya" jawab Tari singkat dengan wajah datarnya. Sikap Tari kadang berubah-ubah. Ia bisa menjadi gadis yang riang tetapi coba saja jika ada hal yang tak sesuai dengan ekspektasinya maka ekspresinya pasti akan datar dan jawabannya terkesan cuek.
"Kakak marah ya sama Ibu?" tanya Calya hati-hati. Tari yang hendak mengambil sepatu laras nya di bawah tangga menghentikan langkahnya.
"Enggak. Toh Ibu juga udah tau" jawab Tari datar dan berlalu untuk mengambil sepatunya.
"Kakak gak sarapan?" Arion yang baru bergabung di meja makan dengan pakaian dinas nya bertanya.
"Enggak Yah, nanti di rumah sakit. Aku buru-buru" jawab Tari.
"biar Raja yang antar kamu, dia udah jalan kesini" ucap sang Ayah membuat Tari mengepalkan tangannya. Dia benci hal-hal seperti ini.
"Gak perlu Yah, biasanya juga aku pergi sendiri kok. Aku gak butuh dia." jawab Tari cuek dan segera pergi tanpa memedulikan panggilan Ayahnya.
Dia benar-benar muak dengan kehidupannya sekarang.
"Tari!"
Tari memejamkan matanya dan menatap lelah sang Ayah.
"Apa lagi sekarang Yah? Gak usah maksa aku, aku capek. Cukup perjodohan itu aja Ayah maksa aku, gak harus aku pergi sama Raja. Kenapa Ayah seolah mengagungkan dia tanpa peduli dengan perasaan aku?" ucap Tari kesal dan tanpa sadar air matanya jatuh.
Demi tuhan, ini pertama kalinya ia sekasar itu pada Ayahnya, lelaki yang selama ini ia segani.
"Udah, aku berangkat. Bu, Tari gak pulang hari ini." ucap Tari lalu ia menyeka air matanya dan berlalu. Mungkin ia butuh waktu sendiri untuk menerima semua ini.
Saat Tari keluar, ia berpapasan dengan Raja yang hendak mengetuk pintu rumahnya. Tari menghela napas.
"Ayah gue di dalam, masuk aja dia udah nunggu" ucap Tari datar tanpa menatap Raja lalu beranjak menuju carport.
"Ehm, Tari"
Langkah Tari terhenti tetapi ia tak menolehkan kepalanya.
"Akhir pekan ini.. Kamu ada waktu? Mama.. Mau ketemu di Bandung, tapi kalau kamu gak bisa juga gak--"
"Hm, kesini aja jemput gue" ucap Tari memotong ucapan Raja dan ia menghilang di carport. Raja menatap Tari bingung.
Sikap diam Tari tak seperti biasanya. Dan Raja lebih memilih Tari yang bersikap ketus padanya.
Apa Tari marah karena perihal kemarin?
***