BAB 1 — Gadis di Kereta Cepat
Mobil itu mogok tepat ketika ia paling tidak punya waktu untuk berhenti.
Pria itu menatap jam di pergelangan tangannya, lalu ke layar ponsel yang terus menampilkan notifikasi rapat. Sopirnya sudah berkali-kali meminta maaf, sementara hujan rintik mulai jatuh, membasahi kaca depan mobil hitam mengilap yang kini tak lebih dari besi mati di pinggir jalan.
“Pak, stasiun kereta cepat hanya dua ratus meter dari sini,” ucap sopirnya gugup. “Kalau Bapak mau, kita bisa jalan sedikit. Saya punya kartu akses.”
Pria itu terdiam beberapa detik.
Selama empat puluh tahun hidupnya, ia nyaris tak pernah naik transportasi umum. Jet pribadi, helikopter, atau setidaknya mobil mewah selalu tersedia. Namun hari ini, entah kenapa, ia mengangguk.
“Berikan kartunya.”
Keputusan kecil yang tidak ia tahu akan mengubah hidupnya.
---
Kereta cepat itu bersih, modern, dan dipenuhi orang-orang yang sibuk dengan dunianya masing-masing. Pria itu berdiri di dekat pintu, jas mahalnya kontras dengan penumpang lain yang berpakaian kasual.
Lalu ia melihatnya.
Seorang gadis duduk di dekat jendela.
Rambutnya hitam, panjang, tergerai sederhana. Wajahnya bersih tanpa riasan tebal. Ia mengenakan dress krem polos dan memeluk sebuah tas kain kecil di dadanya. Di tangannya ada buku tipis bergambar ilustrasi anak-anak.
Namun bukan itu yang membuat pria itu berhenti bernapas.
Matanya.
Bening.
Tenang.
Seolah menyimpan dunia yang hangat.
Gadis itu menoleh, mungkin merasakan tatapan.
Mata mereka bertemu.
Hanya satu detik.
Namun d**a pria itu terasa seperti dihantam sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Bukan nafsu.
Bukan sekadar ketertarikan.
Lebih seperti… pengakuan tanpa kata.
Seakan tubuhnya mengenali seseorang sebelum otaknya sempat berpikir.
Gadis itu sedikit terkejut, lalu tersenyum kecil. Senyum sopan. Singkat. Lalu kembali menunduk pada bukunya.
Namun bagi pria itu, senyum singkat itu terasa seperti hukuman manis.
Ia berdiri mematung.
Jantungnya berdetak tidak beraturan.
Saat kereta mulai melaju, ia tanpa sadar berpindah ke kursi kosong di seberang gadis itu.
Ia mencoba berpura-pura menatap ponsel.
Gagal.
Aroma lembut tercium.
Bukan parfum menyengat.
Bukan aroma mahal.
Aroma bersih. Sedikit manis. Seperti bunga putih setelah hujan.
Aroma yang entah bagaimana terasa… menenangkan.
Pria itu menghela napas pelan.
“Apa yang salah denganku?” gumamnya dalam hati.
Ia, yang dikenal dingin.
Ia, yang selalu mengontrol emosi.
Ia, yang tak pernah percaya cinta pada pandangan pertama.
Kini menatap seorang gadis asing seolah ia adalah jawaban dari pertanyaan yang tidak pernah ia sadari.
Gadis itu membalik halaman buku.
Tiba-tiba sebuah kertas kecil jatuh dari dalam buku dan meluncur ke lantai, tepat di dekat sepatu pria itu.
Pria itu refleks mengambilnya.
Itu sebuah kartu nama sederhana.
Nama tertera:
Aira
Di bawahnya tertulis kecil:
Penulis cerita anak.
Pria itu menatap kartu itu lama.
Aira.
Nama itu bergema di kepalanya.
Ia berdiri, melangkah mendekat, lalu menyodorkan kartu itu.
“Ini milikmu,” ucapnya.
Suara baritonnya rendah, tenang, namun sedikit lebih lembut dari biasanya.
Gadis itu menoleh.
Matanya kembali bertemu dengan mata pria itu.
Dari jarak sedekat ini, pria itu makin yakin…
Matanya benar-benar indah.
“Oh… iya. Terima kasih.”
Suaranya pelan. Jernih. Tidak dibuat-buat.
Ia mengambil kartu itu.
Sesaat mereka saling diam.
Pria itu ingin mengatakan banyak hal.
Siapa namamu?
Kamu tinggal di mana?
Bolehkah aku mengenalmu?
Namun lidahnya terasa berat.
Kereta melambat.
Pengumuman stasiun tujuan menggema.
Gadis itu berdiri.
Menyampirkan tas ke bahu.
Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi.
“Terima kasih sekali lagi.”
Lalu ia berjalan keluar bersama arus penumpang.
Pria itu berdiri kaku.
Ia melihat punggung gadis itu menjauh.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Ia merasa takut.
Takut kehilangan seseorang yang bahkan belum ia miliki.
Kereta kembali bergerak.
Kursi di depannya kini kosong.
Namun aroma lembut itu masih tertinggal.
Pria itu mengepalkan tangan.
“Cari dia,” ucapnya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Ia tidak tahu siapa gadis itu.
Tidak tahu latar belakangnya.
Tidak tahu apakah gadis itu sudah punya kekasih atau belum.
Namun satu hal ia tahu dengan pasti
Ia ingin gadis itu menjadi miliknya.
Dan ia tidak berniat melepaskannya begitu