"Kai, tunggu!" Nara bangkit, lalu meraih tangan Kaizar dan sedikit menariknya. Sontak, pria itu berhenti melangkah, dan membalikkan badan, menatap Nara lekat-lekat. "Apa lagi? Kamu enggak mau pergi kan? Ya sudah aku yang pergi!" ujar Kaizar. "Enggak, kamu di sini saja, ini rumahmu. Biar aku yang pergi, tunggu sebentar!" Nara bergegas mengambil tas dan jaket ke kamarnya, setelah siap dia pun buru-buru untuk pergi. Selain itu, dia tak membawa apa pun lagi. Dia melihat Kaizar duduk di sofa dengan tatapan datar dan perangai dingin. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu, Nara tak bisa menerkanya sama sekali. "Kai, aku pergi bukan karena aku mengakui hal itu, tapi aku hanya ingin membuatmu nyaman," ucap Nara, tetapi Kaizar berpura-pura seolah tak mendengar itu. Dia masih bersikap acuh t

