Bayangan seorang gadis berumur beranjak 18 tahun harus hamil menderita tanpa seorang suami. Untung ada kedua kakaknya yang selalu mendukung.
Dan kini falea kecil telah hilang yang Ada hanya seorang falea yang tegar dan dewasa tiap menghadapi masalah. Dia mampu dengan semua hinaan yang pernah menerpanya.
Aldio harus rela turun atas kemauan adik tersayangnya, mereka berdua duduk di sebuah bangku panjang sambil menikmati es cream.
"Le, udah lama ya kita enggak kayak gini. Dulu masih di bandung sering banget kamu rengek minta beli es cream." Ucap Dio seraya menikmati es cream.
"Iya kak, lama banget. Tapi dulu kak Dio galak sama kayak kak zio." Ucap Lea polos.
Dio terkekeh geli. "Dulu kan Aku jaga kamu, le. Kalau se----"
"Kalau sekarang Aku enggak perlu di jaga lagi karena aku tak sesuci dulu." Lirih Lea memotong ucapan Dio yang belum selesai.
"Bukan itu maksudnya." Dio menghela napas sejenak.
Ia memegang kedua pipi adiknya, "Sekarang aku percaya sama kamu udah bisa jaga diri. Kamu enggak mungkin melakukan kebodohan yang sama. Aku enggak mau nyiksa batin kamu lagi, le. Kamu udah terlalu banyak beban, kalau Aku bersikap seperti zio sama aja kamu pasti tersiksa." Jelas Dio membuat Lea terisak tangisnya.
"Hiks..Hiks.. kak Dio." Lea memeluk erat Dio mendengar perkataan yang membuat hati Lea pilu.
Dio menghapus air mata Lea. "Jangan nangis lagi, le. Cantik kan monyet daripada kamu kalau nangis." Ucap Dio membuat tawa Lea pecah.
"Ha..Ha..Ha.."
"Kak Dio selalu bisa buat ketawa." Lea berseru sambil tertawa.
"Le, aku boleh nanyain suatu."
"Apa, kak. Tanya aja. Kalau aku bisa, Aku jawab." Balas Lea.
"Mudahan kamu mau jawab, Le." Batin Dio.
"Siapa daddy Kaffa." Tanya Dio berharap Lea mampu menjawabnya.
Lea menelan salivanya menatap wajah kakaknya yang begitu tenang saat bertanya suatu yang sulit Lea jawab.
"Kak, bukannya kita semua berjanji enggak perlu mengetahui daddynya Kaffa." Lea berdiri dengan tatapan yang Tak bisa Dio mengerti.
"Enggak, Le. Aku hanya ingin tahu." Ucap Dio pelan
Lea tersentak kembali meneteskan air matanya. Ia menghempaskan tubuhnya kembali dengan bangku tersebut. Lea membenamkan wajahnya dengan kedua tangannya.
Dio merangkul pundak Lea dan mengelus pelan. "Maafkan, kak dio. Kalau pertanyaannya nyakiti hati kamu."
"Kak, aku cuma enggak mau suatu yang tak di inginkan terjadi." Ucap Lea dengan suara paraunya.
"Dimana sekarang dia, Le. Apa masih di London." Tanya Dio.
Dio hanya berharap bisa menemui pria itu, ia ingin Lea bahagia tanpa harus mengikuti ide gila zio yang ingin menjodohkan Lea dan Donny.
Lea menggeleng pelan, "Di Jakarta kak." Kalimat singkat yang membuat Dio tersenyum.
Itu artinya Lea udah pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. Dio senang, tentu saja dia ingin Lea dan kaffa anaknya bersatu dengan seorang yang seharusnya.
"Dimana, Lea. Bil------"
BRAK.....BRAK...
Kaffa datang dari belakang menghantam tubuh Dio. Lea terbelalakan dan terkejut. Lea mencoba menghentikannya namun dio malah membalas Kaffa.
BRAK.. BRAK..
"Tolong, udah hentikan."
Mereka berdua saling memukul. "Beraninya, lo nyentuh dia. BANGSAT." Kaffa sudah seperti orang kerasukan saat ini.
"SIAPA LO YANG BERANI LARANG GUE, GUE BERHAK MENYENTUH DIA." Dio membalas hantaman Kaffa.
Wajah mereka sudah babak belur tapi tak Ada yang menghentikannya. Lea sendiri, Tak mampu untuk menghentikannya.
"Lea." Seorang datang dengan wajah panik melihat Lea sudah menangis dengan ulah dua orang ini.
"Donny, tolong hentikan mereka." Pinta Lea memohon pada Donny.
Donny menghentikan mereka, "Dio, cukup. Udah, ini kantor bukan ring tinju." Ucap Donny yang telah berhasil melerai mereka berdua.
"Kaf, lo juga berhenti." Ucap Donny tegas pada Kaffa.
Dada Kaffa masih menggebu, ia tak rela siapa pun yang menyentuh Lea. Hanya dia yang berhak menurutnya.
"Tenang, tenang. Ini Ada apa sebenarnya. Kenapa kalian saling pukul begini." Tanya Donny.
"Tanya tu b******n, kenapa tiba tiba dia mukul gue." Dio mengeras kan suara sambil menunjuk Kaffa dengan jari telunjuknya.
Donny mengeryit bingung, dan menatap Kaffa lalu menampar pelan Kaffa. "Kenapa lo mukul dia. Hah?!"
"Dia berani menyentuh Lea. Tadi gue lihat dia rangkul Lea." Teriak Kaffa.
Donny sepertinya dengan mudah mencerna kesalah pahaman mereka berdua. "Kaf, disini lo yang salah. Minta maaf." Pinta Donny.
"Enggak akan pernah." Ucap tegas Kaffa.
Sekeras apa pun Donny meminta Kaffa menurutinya, ia tahu pasti tidak akan Ada hasilnya.
Kaffa memang sangat keras kepala, sudah dari dulu Donny mengetahui hal itu. Apalagi jika menyangkut tentang Lea.
Sedangkan Lea sudah ketakutan berdiri di belakang Dio. "Eh.. Siapa lo datang marah enggak jelas."
"Ada apa ini. Saya perhatikan dari tadi kalian ribut." Tanya alzio baru saja datang menghampiri mereka.
Wajah Lea menjadi sangat dengan kedatangan zio yang entah darimana.
"Dio Ada apa." Tanya lagi zio yang belum mendapat jawaban dari siapa pun.
"Tuan terhormat ini, tiba tiba mu----" ucapan Dio terhenti saat Lea memegang erat seraya kepalanya menggeleng dengan raut wajah memohon seakan memberi kode.
"Mereka salah paham. Ma---kanya me--reka jadi saling pukul." Elak Lea dengan gugup.
"Iya, salah paham." Dio terpaksa ikut kemau Lea yang melarangnya untuk mengatakan suatu.
Alzio pun tidak terlalu menanggapi dan tidak ingin tahu kesalah pahaman mereka.
"Maaf, atas tidak nyamanan anda di sini." Ucap zio pada Kaffa.
Kaffa hanya terpaku menatap Dio dengan seringaian yang tajam.
"Dio minta maaf." Perintah zio.
"Enggak." Ucap singkat Dio yang merasa tidak bersalah.
"Dio." Bentak zio mulai menatap tajam Dio.
Dio pun tertunduk menghelakan napasnya. Siapa yang berani mencelah ucapan zio saat lagi marah.
"Maaf.. maaf tuan---"
"Kaffa. Kaffa Reondra, dia putra Pak Reo yang menggantikan posisinya." Ucap tegas zio.
'Kaffa' Dio tersentak menoleh arah Lea. Dio baru sadar wajah pria ini jika di teliti, sangat mirip dengan keponakannya Kaffa.
Lea hanya menunduk dengan pasrah, sepertinya Dio sudah mengetahui pria yang di carinya.
"Sekali lagi maaf, Pak Kaffa. Dia ini Aldio, wakil direktur perusahaan ini." Ucap zio.
Kaffa hanya mengangguk. "Maaf, saya harus kembali ke kantor. Permisi." Ucap Kaffa dengan tegas.
"Ayo Lea." Kaffa pergi di ikuti Lea dari belakang.
Alzio kembali masuk ke perusahaannya, sedang Dio masih berdiri termenung di temani Donny meratapi kaffa dan Lea pergi.
"Masuk, yo." Ajak Donny yang terlebih dulu melangkah kakinya.
"Tunggu." Dio menghentikan langkah Donny.
Donny berbalik, menatap Dio. "Siapa pria tadi. Lo kenal dia, bukan."
Donny menelan ludahnya mendapat pertanyaan dari Dio. "Yo, dia Kaffa anak Pak Reo." Donny berusaha mengelak.
"Bukan itu maksud gue. Dia sahabat lo kan. Sahabat lo daddy dari Kaffa." Tanpa perduli Dio berucap begitu saja.
Donny terpojok kali ini. Ia menghela napas. "Yo, gue gak berhak jawab hal ini. Lebih baik, lo tanya langsung pada Lea. Dia lebih berhak." Donny menepuk pundak Dio pelan lalu pergi.
Dio mengerti maksud Donny. Ia pun tak banyak tanya lagi. Ia berpikir akan menanyakan ini pada Lea setelah dirumah.
***
Lea yang berada di dalam mobil bersama Kaffa masih dalam keadaan takut. Apalagi Kaffa saat ini menyetir dengan kecepatan yang tinggi.
"Pak, tolong pelankan mobilnya. Saya takut." Lea memegang erat self beat yang terpasang.
Kaffa tak menggubris ucapan Lea, ia justru semakin mempercepat mobilnya. Dan Lea semakin takut, wajahnya sangat pucat.
Matanya terpejam tak berani melihat ke arah depan. Dadanya menggebu Naik turun.
Kaffa menepikan mobilnya di tepi jalan yang sepi agar bisa bicara bebas dengan lea.
Napas lea terasa sesak akibat perbuatan Kaffa. Kaffa mendekati Lea, jarak meraka sangat dekat. Lea bahkan bisa merasakan deruhan napas Kaffa.
Deg
"Maaf, Pak. Apa yang ingin Pak Kaffa lakukan." Lea menatap Kaffa dengan wajah pucatnya.
Kaffa menatap kedua manik mata Lea. "Apa kamu lupa, aku bisa lebih dekat dari ini." Kaffa semakin dekat bahkan hidung mereka saling bertemu.
Lea tersentak, "MENJAUH DARI AKU TUAN KAFFA TERHORMAT." Lea mendorong kuat tubuh Kaffa.
Kaffa terhempas di buat Lea. "SIAPA PRIA TADI, LE." Kaffa membentak Lea dengan kemarahannya.
"Bukan urusan anda." Lea memalingkan wajahnya.
Kaffa menarik dagu Lea, "FALEA ARUNI ZALFAHRI, AKU ENGGAK AKAN BIARKAN SIAPA PUN MENYENTUH KAMU WALAU SEUJUNG KUKU." Kaffa menekan suaranya.
Lea menangis begitu saja, Lea kembali mendorong tubuh Kaffa. "APA ANDA JUGA LUPA, ANDA BUKAN SIAPA SAYA." Lea berteriak dengan isakan tangisnya.
"LEA BERHENTI BERSIKAP FORMAL." Suara Kaffa semakin mengeras.
"CUKUP, KAF. BERHENTI TERUS MENGUSIK AKU." Lea semakin menangis.
Kaffa memeluk Lea, tak perduli Lea berusaha memberontak. Memukul pundaknya terus menerus.
~pesan penulis~
Mohon maaf episode selanjutnya cerita ini menggunakan coin dan akan terkunci..
*Cara Beli Coin*
Buka aplikasi Dreame.
Buka menu Me > Store.
Pilih jumlah koin yang ingin kamu beli.
Ketuk pada menu G Pay.
Lalu klik/ketuk tombol Beli untuk proses pembelian.
Selanjutnya kamu tinggal simak instruksi dari aplikasi.