Mereka masuk ke sebuah mall, meninggalkan mobil Cherry di area basement yang digunakkan sebagai lahan parkir mall yang menyatu dengan sebuah apartemen mewah di atas bangunan mall. Gedung dengan jumlah lantai yang sangat banyak itu bagian atasnya nampak mencuat ke arah langit. Meskipun tak mencolok karena gedung lain juga sama tingginya. Tapi, mall ini cukup elite banyak selebritas yang datang untuk berbelanja atau berburu kuliner di lantai empatnya.
Di bagian bawah, ada beberapa kafe dengan design unik dan estetik tempat para pengunjung mall memulai hari dengan minum kopi dan menyantap donat dengan berbagai topping manis. Di sisi samping mall itu terdapat pusat perbelanjaan lain, kedunya terhubung dengan sebuah jembatan yang tertutup. Di sepanjang jembatan itu terdapat banyak penjual pakaian dan pernak pernik lain.
Cherry mengajak Barry ke gedung satunya, mereka kini berjalan diantara deretan toko penjual ponsel. Pengujung dan para karyawan toko lalu lalang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Barry berjalan di sisi Cherry. Sudah pasti perempuan kaya ini hendak mengganti ponselnya yang sebenarnya masih terlihat baru untuk Barry. Di sepanjang lorong, Cherry sesekali mengecek ponselnya sementara Barry mulai membandingkan ponsel Cherry dengan miliknya. Benar-benar sangat berbeda. Milik Cherry adalah ponsel canggih yang dapat dilipat, harganya jauh di atas ponsel yang waktu itu dia berikan pada Giana. Barry menghela nafas, menerima kenyataan sekali lagi.
Mereka berbelok ke kiri, nampak sebuah ruangan yang luas namun tetap begitu banyak toko di kanan dan kiri mereka. Rupanya lantai ini memang dikhususkan untuk para penjaja ponsel. Dari berbagai merk dan tipe, juga banyak toko yang menyediakan jasa reparasi atau jual beli ponsel bekas.
Barry belum pernah masuk ke sini, tak sebesar pusat handphone yang ada di daerah jakarta barat tapi ini tetap saja sangat luas dan semua etalase berisi handphone dan handphone, membuat Barry jadi agak pusing. Suhu dingin juga menyengat tubuhnya yang hanya terbalut kemeja berbahan tipis tanpa memakai tshirt di dalamnya.
Tiba-tiba Cherry berhenti di sebuah toko yang di dalamnya cukup banyak orang. Rupanya toko ini salah satu yang terlaris di gedung ini.
“Mbak, Cherry!” sapa seorang karyawan toko itu, dia mengenakkan kaos merah terang dengan berbagai logo brand ponsel di bagian depan, belakang bahkan dibagian lengannya juga. Nampak jelas kalau toko ini tak hanya menjual satu merk saja. Melainkan menyediakan segala jenis merk ponsel, ya asal itu adalah ponsel. Jenis apapun bisa dijumpai di sini.
“Aku cari handphone yang cocok untuk cowok dong, Mbak!” Cherry duduk di kursi yang bisa di setel untuk naik ataupun turun, berputar juga dia bisa.
Barry diminta duduk di samping Cherry.
“Duduk, Bar.”
“Buat cowok?” tanya karyawan ponsel dengan baju norak tadi.
“Iya. Buat dia.” Cherry menyentuh bagian paha Barry.
Hampir saja badan Barry terpental, dia terlonjak karena kursinya tiba-tiba turun sendiri sekaligus kaget karena mereka kesini membeli handphone baru untuk Barry.
“Aku?” bisik Barry.
“Iya, handphone kamu udah retak gitu.”
“Eh, enggak apa-apa tante. Ini masih bisa dipakai kok.” Jawab Barry tak enak.
“Ih, udah jelek gitu kok.”
“Beneran ini masih bisa dipakai kok tante. Diganti layarnya juga udah bagus lagi.”
“Jadi, mau diganti layarnya aja?” tanya Cherry.
“Iya, Tante.”
“Emh, kalau gitu..”
Barry tiba-tiba jadi menyesal kenapa dia menolak handphone baru yang akan diberikan Cherry, padahal dia bisa menjualnya lagi nanti.
“Kalau gitu, emh.”
Barry masih menunggu kelanjutan kalimat Cherry.
“Kalau begitu, kita beli baru aja deh! Kalau diganti layarnya takutnya nanti rusak lagi, iyakan?” Barry meminta persetujuan Barry.
“Eh, iya juga sih tante.” Barry tak ingin menyia-nyiakan kesempatan keduanya ini.
“Nah, yaudah kamu pilih mau yang mana!”
Pelayan toko tadi memperhatikan Cherry dan Barry dengan raut wajah julid, kemudian kembali tersenyum saat Cherry mulai mengajaknya bicara lagi.
“Mbak, kasih liat handphone yang warnanya cocok sama dia.”
“Sebentar ya, Mbak Cherry.”
“Oke.” Cherry tersenyum hingga matanya menyipit.
“Duh, Barry jadi enggak enak tante.”
“Enggak apa-apa, Barry. Kamu mana bisa kuliah kalau ponsel kamu udah rusak gitu. Nanti kan sering ada tugas online juga. Oia, Barry ada laptop kan?”
Barry tersenyum kecut. Tak menjawab tanya itu.
“Enggak punya?” Cherry membelalak sedikit.
Zaman sekarang, laptop adalah hal yang sangat penting untuk para pelajar. Segalanya serba modern dan berbasis digital. Tapi apa? Barry tak punya benda sepenting itu?
“Iya, tante.” Barry mengangguk dan mengusap tengkuknya sendiri.
“Ya ampun, nanti habis ini kita cari ya.”
“Eh, jangan tante! Jangan!”
“Kita beli, titik!” Cherry membuat gerakan dengan tangan seolah mengunci bibir Barry. Dari kiri ke kanan seolah ada resleting di sana. Kemudian tersenyum lagi, matanya menyipit lagi.
‘Ya ampun! Cantik amat!’ Barry bersumpah bahwa Cherry terlihat semakin cantik dari hari ke hari.
Pramuniaga tadi memberikan tiga buah contoh handphone, dua buah berwarna gelap dengan kilauan mewah. Satunya berwarna putih trendi namun sama mewahnya.
“Nah, Barry suka yang mana?”
“Emh, yang mana aja tante.” Dalam hati, Barry tengah menimbang ponsel mana yang lebih mahal dari dua pilihan lainnya. Dia nanti akan menjualnya lagi, semakin tinggi harga barunya semakin tinggu pula harga secondnya nanti. Karena pasti di sini Cherry akan langsung membuka segel ponsel itu.
“Pilih aja!” ujar Cherry yang siap dengan berapapun harganya.
“Emh, yang ini aja deh.” Barry meraih ponsel hitam glossy, ponsel keluaran pabrik yang berasal dari korea. Brand sumsang itu jadi pilihan Barry.
“Kakaknya tahu aja handphone malah!” pelayan toko tadi berkelakar tapi Barry tahu gadis muda itu tengah menyampaikan sindiran halus pada dirinya.
Pasti dia berpikir yang bukan-bukan, berpikir bahwa Barry ada simpanan Cherry. Padahal, memang sebenarnya begitu. Itu pemikiran Barry saat ini.
“Oh, yang ini mahal ya! Aku enggak tahu, kalau gitu yang putih ini aja.” Ucap Barry mempertahankan harga dirinya di depan mbak julid itu.
“Mahal apa sih! Udah yang tadi aja!” Cherry meraih ponsel pertama yang dipilih Barry.
“Mbak, mana ambilin yang baru!” ujar Cherry tak seramah tadi.
“Iya, bentar ya Mbak Cherry.” Dia agak manyun, kemudian sambil mengambil kotak hanphone yang baru, dia nampak berbisik dan cekikian dengan salah satu rekannya. Cherry jadi meradang karena hal itu membuat Barry jadi sangat tak nyaman.
“Ini, Mbak.”
Cherry dengan kasar menyambar ponsel itu, kemudian melihat harga yang tertera pada nota pembelian yang telah di print oleh sang kasir yang ada di dalam sana.
“Ya ampun, murah gini dibilang mahal!” seru Cherry geleng-geleng.
Pelayan tadi menggigiti bibirnya sendiri, berdiri canggung di hadapan mereka berdua.
“Murah loh ini, Mbak! Ups, pasti bagi mbaknya mahal ya?”
“Hehe, iya mbak.”
“Nah, saya bayar pake debet card ya! Sekalian panggilin manager toko kamu dong! Saya mau ngobrol sedikit.”
“Ma-manager toko?”
“Iya.”
“Tapi, kenapa ya mbak? Ada yang salah dengan pelayanan saya?”
“ADA! Ada banget!”
“Duh, Mbak. Saya minta maaf ya, jangan diadukan sama manager toko. Nanti saya kena SP.”
Cherry melipat kedua tangannya, menatap gadis muda itu dengan tatapan sebal.
Dia tidak suka dengan manusia yang suka usil pada urusan orang lain, seharusnya dia bekerja saja dengan baik, tidak usah menilai para customer seenak dirinya sendiri. Ditambah dia bergunjing dengan temannya tadi, seolah menggosipkan Cherry dan Barry yang datang bersamanya.
“Sana, proses dulu pembayaran saya!” ujar Cherry ketus.
“Iya, Mbak. Sekali lagi, maaf ya Mbak.” Ucapnya sebelum akhirnya memproses pembayaran transaksi hari itu.
“Maaf, pinnya Mbak.” Ucapnya sambil menyodorkan mesin pembayaran non tunai ke arah Cherry.
Dosen Barry itu menekan keypad mesinnya dengan kasar dan menggunakan gaya arogan, baru kali ini dia kesal pada salah satu karyawan toko yang sudah jadi toko langgannanya itu.
Barry terus menahan tawa dalam hati, dia menatap Cherry yang terlihat sangat keren baginya.
‘Mampus kan lo! Sotoy si!’ batinnya geli.