Keesokan harinya, Barry ke kampus membawa ponsel barunya. Cherry harus melihat bahwa dia memakai benda pemberiannya. Kali ini agak sulit bagi Barry, karena Tante incarannya ini selalu berada di lingkungan yang sama setiap hari.
Jadi, setiap gerak-gerik Barry dia akan tahu dengan mudah. Sebuah kebetulan yang pada akhirnya menyulitkan diri Barry sendiri.
Giana takjub sekali saat Barry menunjukkan ponsel itu padanya.
"Wah! Kalau dijual berapa itu, Barry?"
"Sayang, jangan dijual dulu ya. Biar aku pakai dulu."
"Lho kok gitu?" Protes Giana.
"Iya, tapi tetep nantinya dijual kok."
"Ih, ngapain nunggu nanti? Hari ini aja! Aku jadi bisa beli outfit yang kemarin aku liat di toko langganan aku di mall!" rengek Giana.
"Tapi, Sayang. Setidaknya biarin aku pakai ini beberapa hari. Kan enggak enak sama Tante itu."
"Kok enggak enak? Sejak kapan kamu merasa enggak enak!? Biasanya kamu santai aja! Kamu kenapa si?" Giana merajuk.
"Bukan gitu, Sayang."
"Kamu aneh, Barry!" Sentak Giana.
"Bukan begitu, Sayang. Kita tetep jual kok, aku cuma nunda aja berapa hari."
"Besok ya?"
Barry menghela nafas, sungguh sebenernya dia ingin memakai ponsel setidaknya seminggu.
"Satu Minggu ya, Sayang!"
"What? Aduh, enggak! Nanti harganya jadi turun banyak!" Tolak Giana.
"Apa bedanya, Sayang. Kan sama-sama barang second. Sama aja harganya."
"Ugh!" Giana menggembungkan pipinya.
"Sayang."
"Besok! Aku mau besok!"
Barry berusaha menahan emosi, memejamkan matanya sesaat.
"Oke, oke." Jawabnya setelah itu.
Tak ada gunanya ribut dengan Giana. Dia sudah cukup pusing dengan semua ini. Biarlah, setidaknya dia masih bisa menggunakan laptop barunya di kampus.
'Kalau Tante Cherry tanya gimana ya? Harus jawab apa ya?' desah Barry dalam hati.
Giana memperhatikan mimik wajah Barry.
"Kamu kok gitu mukanya? Enggak ikhlas ya???" Tuduhnya dengan nada menyebalkan.
"Ikhlas kok, Sayang."
Rico dan Shaka yang duduk tak jauh darinya hanya menggelengkan kepalanya. Mereka tak begitu jelas mendengar percakapan keduanya. Tapi, melihat ekspresi wajah Giana, Shaka dan Rico yakin mereka tengah bertengkar, lagi, untuk kesekian kalinya.
"Kasian gue sama Barry."
"Iya, mau sampai kapan dia kaya gitu!"
"Seumur hidupnya pasti. Soalnya dia kan mau nikah sama Giana katanya."
"Enggak yakin gue."
"Sama."
"Hidup selamanya, seumur hidup bareng cewek itu. Mana tahan ya."
"Bener! Seumur hidup kan lama!"
"Emang."
"Ckckck."
*
"Bar, laptop lu baru?" Tanya Bapaknya sambil lalu, dia membawa secangkir kopi hendak duduk di bale kayu depan rumah.
"Punya temen!" Jawabnya singkat saja.
"Oh!" Bapaknya keluar dari rumah.
Barry sedang serius mengerjakan tugas dari dosennya, duduk di sofa ruang tamu seraya memangku laptop mahal itu. Dia tak peduli dengan tanda tanya di wajah bapak ibunya, lagipula mereka tidak tahu berapa harga benda berbaterai itu.
Ponsel yang dia pakai ini akan dijual besok, padahal seharusnya kali ini dia bisa memakainya. Karena ponsel dia sudah lama rusak. Dan fiturnya sudah ketinggalan zaman. Tapi, lagi-lagi demi Giana, dia merelakan segalanya. Entah cinta macam apa itu.
"Sekarang udah enggak pake buku lagi ya, Bar? Kalau sekolah di kampus itu pakenya gituan ya?" Tanya Ibunya yang datang membawakan es sirup untuk sang putera.
"Iya, Mak. Pake laptop."
"Berarti elu kudu beli ya?" Ibunya duduk di samping Barry, memperhatikan Barry yang tengah menekan-nekan keyboard laptop barunya.
"Enggak juga sih, Mak."
"Kalau enggak beli, nanti gimana mau sekolah?" Lanjut ibunya.
"Kan bisa pake punya temen, Mak."
"Kalau temen elu mau pake, gimana?"
"Ya gantian, Mak."
"Gitu ya?"
"Iya, gitu."
"Ehm."
"Iya, ehm."
"Plak!!!"
"Adah! Sakit Mak!" Barry menyentuh bagian atas kepalanya.
"Lagian elu, ikutin aja gue kata apa!"
"Wkwkwk."
"Dasar! Dahlah emak mau nyuci pakaian."
"Yang rajin ya mak!"
"Muke gile lu!"
"Plak! Plak! Plak!" Ibunya berkali-kali memukul bahu Barry.
"Hahaha, sewot aja nih!"
"Biarin amat!" Ibunya ngeloyor ke belakang.
Mereka memang seakrab itu, entah karena Barry adalah anak satu-satunya atau karena Barry memang tipe anak yang dekat dengan orang tuanya.
Sore itu sebelum mencuci pakaian, sang ibu mendatangi warung dekat rumah untuk membeli detergen dan pewangi sachet. Di warung itu, dia bertemu dengan tetangga yang anak gadisnya seusia dengan Barry.
Ibu itu menyapa, kemudian mengajak ibu Barry mengobrol di depan warung.
"Emaknya Barry, kemarin si Dini katanya liat Barry di mall sama tante-tante." Ucapnya terus terang.
"Maksudnya gimana?" Tanya Ibu Barry tak paham.
"Itu, si Barry katanya jalan sama tante-tante di mall! Emang iya?"
"Ah, pasti si Dini salah liat itu." Ibu Barry mengakhiri kalimatnya dengan tawa.
"Eh, masa si Dini salah liat Barry! Dini kan dari kecil udah kenal Barry. Ya masa salah ngenalin orang!" Dia tetap ngotot bahwa yang dilihat putrinya itu adalah Barry.
"Kayaknya salah liat, yaudah ya saya mau nyuci!" Ibu Barry pulang dengan perasaan tak enak di dalam dad4nya.
Kemudian si ibu warung berkasak-kusuk dengan ibunya Dini, mereka melanjutkan gunjingan terhadap Barry. Sebuah berita terbaru dilingkungan para ibu yang gemar bergosip.
Ibu Barry sengaja berjalan cepat. Dia tak ingin mendengar gosip aneh yang lebih banyak lagi.
"Ngomong apa sih emaknya si Dini! Aneh-aneh aja kalau nyari bahan gibah tuh!" Ibu Barry terus saja mengeluh sepanjang perjalanan kembali ke rumahnya.
"Ada apaan si? Ngomel aja dari tadi!?" Suaminya bicara dengan suara agak keras.
"Tau tuh Emaknya si Dini. Kalau ngegosip suka nyari bahan yang bukan-bukan!" Omel Ibu Barry.
Wanita itu kembali masuk dan bicara sendiri. Sementara bapak Barry sibuk mengipasi diri dengan kipas angin bambu miliknya.
"Ya kali anak gue jalan sama tante-tante! Emang dasar itu si Dini!" Ibu Barry terus mengomel.
Barry menaikkan sebelah alisnya. Bertanya-tanya apakah dia baru saja salah dengar?
"Emak tadi bilang apa? Tante-tante???!! Gue?" Lirihnya sambil menatap pintu belakang tempat emaknya menghilang tadi, karena bergegas ke kamar mandi untuk mencuci pakaian.
"Apa jangan-jangan si Dini liat gue di mall waktu itu? Sialan itu anak mulutnya comel juga!" Gerutunya dengan suara rendah.
"Gue harus lebih hati-hati lagi. Jangan sampai emak sama Babeh denger hal-hal enggak baik soal gue." Barry menutup laptopnya dan menghela nafas. Kepalanya mendadak berdenyut-denyut. Berita tentang dirinya yang gemar mendekati wanita dewasa kini sudah sampai di lingkungan tempatnya tinggal, bahkan sudah mendarat dengan sempurna di telinga Ibu dan Bapaknya.
"Gue harus gimana ya." Barry bersandar ke sofa. Dia benar-benar takut sekarang. Dia tak mau menyakiti hati kedua orang tuannya.
Entah apa tanggapan keduanya saat tahu sebuah fakta bahwa dirinya memang seperti yang dikatakan oleh ibunya Dini. Apakah ibunya akan menangi? Atau bahkan memukulinya dengan jemuran baju?
Ah, membayangkan ibunya menangis saja Barry tidak berani.
"Sementara aku harus stop dulu ketemu Tante Cherry atau Tante yang lain. Demi nama baik gue juga. Iya, bener! Harus berhenti sementara waktu." Kesimpulan dari pemikirannya hari ini sudah terlontar.
*
Ponsel Barry berdering.
"Sayang, jadi jual handphone kan?" Suara ceria Giana hari ini terdengar begitu menyebalkan.
"Iya, pulang dari kampus ya." jawab Barry merasa enggan.
"Enggak bisa pagi aja?"
"Kita kan ada kelas, Sayang."
"Kelas pagi, kelasnya Miss Cherry. Absen aja deh!"
"Kok gitu, kan kita udah janji mau jalani kuliah dengan baik."
"Ish!"
"Sampai ketemu di kampus ya, Sayang."
Panggilan terputus.