“Sayang? Apa katanya? Sayang?! Cih!” Cherry mendadak seperti anak-anak demi melihat kedekatan Barry dengan Giana.
“Tunggu, jadi mereka itu pacaran?” Cherry menghentikan langkahnya kemudian menoleh kembali ke arah mereka, Barry nampak memandang Cherry dari kejahuan.
“Serius mereka pacaran? Tapi, kemarin kenapa Barry diem aja waktu Giana lewat dan asyik sama cowok lain? Ya ampun, pantes aja habis itu muka Barry keliatan pucat. Jadi itukah sebabnya? Pasti dia terpukul banget liat pacarnya jalan bareng cowok lain.” Cherry merasa kasihan sekarang.
“Pantas aja kemarin tiba-tiba dia pegang tangan aku, pasti dia mencari sesuatu yang bisa membuat sedihnya teralihkan.” Cherry bergegas kembali ke ruang dosen, mengambil beberapa buku tebal dan menuju kelas untuk mulai mengajar.
Cherry memang dosen termuda di sini, tahun ini adalah tahun kedua sejak dia mulai memberikan mata kuliah di program studi ini. Dia langsung mengajar setelah lulus kuliah, selain memang karena dia sangat pintar. Juga, salah satu sebab dia dengan mudah diterima di kampus ini, adalah karena desas-desus lama, tentang Cherry adalah putri pemilik universitas swasta terbesar di Jakarta ini.
Kembali pada Giana yang terus merengek meminta hal yang sama pada Barry. Dia kini duduk di dekat Barry dan meminta kekasihnya itu untuk memesankannya bubur ayam untuk sarapan.
“Sayang, pesenin bubur ayam.” Rengeknya manja.
“Pesen aja sendiri! Punya kaki kan?” jawab Barry malas.
“Kok gitu sih, kamu! Sayang! Cepetan!”
“Ergh!”barry malas mendengar kicauan Giana, jadi dia pergi ke kedai bubur ayam.
“Mang, biasa satu buat Giana.”
“Oke!”
Barry ngeloyor pergi setelah memesankan bubur untuk Giana.
“Lho, kok dia malah pergi? Barry! Barry!” teriaknya.
“Ih, terus yang bayarin bubur itu siapa? Aku enggak pegang uang sama sekali!” Giana menendang-nendang lantai di kolong meja. Kebiasaan yang tak bisa berubah saat dia merasa kesal.
“Barry! Tunggu aku! Kamu mau kemana?” Giana tak punya pilihan selain mengejarnya.
“Barry!” Dia membentak Barry dan menghadang langkahnya.
Barry menghela nafas, malas bicara dengan Giana.
“Kamu kenapa sih? Aneh banget hari ini? Jangan bikin aku kesel deh!”
“Kamu kesel?” tanya Barry.
“Iyalah, gimana enggak kesel! Kamu main pergi aja!”
“Emang kenapa kalau aku pergi? Enggak ada yang bayarin kamu makan?”
Giana terdiam, kesal.
“Iya?”
“Kamu kok gitu?”
“Uang kemarin hasil jual handphone kemana? Banyak banget lho itu!?”
“Kan kemarin aku jalan sama temen-temen aku! Jadi, habis karena buat makan dan beli baju. Nih bajunya aku pakai biar kamu seneng, bagus enggak? Cantik enggak?” Giana memamerkan pakaian yang dia kenakkan dari atas sampain ujung kaki.
“Temen? Temen yang mana?”
“Ya, ya temen. Temen aku kan banyak, bukan cuma di kampus ini aja!”
“Gitu? Kalau gitu kenalin ke aku, temen kamu.”
“Dih, kamu jadi posesif gitu! Temen aku banyak, setiap jalan aku enggak selalu sama orang yang sama, Barry.”
“Basi tahu enggak, Giana!” Barry masih membawa rasa pedih yang dia rasakan kemarin, mana mungkin dia melupakan rasa sakit itu.
“Kok basi? Barry kamu kenapa sih?? Aneh banget!!!” Giana meraih lengan Barry, cowok itu mundur dan menapik tangan Giana.
“Barry, kamu kenapa???” Giana hampir menangis.
“Pikirkan baik-baik, kamu punya salah atau enggak ke aku! Setelah kamu menyadari sesuatu, baru kita bicara lagi.”
“Apaan sih?! Barry!”
“Giana, please! Aku mau sendiri!” sentak Barry.
Barry meninggalkan Giana, gadis itu nampak meremas ujung pakaian yang dia kenakan.
“Kenapa sih dia! Ugh!”
Saat jam kuliah usai, Giana kembali mengajak Barry bicara. Dia bahkan tak menyadari bahwa Barry sudah tahu dengan siapa dia pergi kemarin.
“Barry, kamu ini kenapa sih?” Giana menarik Barry ke tepi saat dia berjalan di lorong penghubung antar kelas.
Barry hanya bisa terus menghela nafas, kalau dia meluapkan emosinya, dia takut akan main kasar ke Giana. Jadi, dia lebih memilih tak banyak bicara dan cenderung menghindari Giana.
“Makan bareng yuk! Ayuk!” Giana menarik lengan Barry.
Cherry yang baru keluar dari kelas sebelah memperhatikan keributan Giana dan Barry. Menatap menghilang di ujung lorong. Salahnya sendiri, terlibat dalam romansa mahasiswa.
“Maaf, aku mau pulang!” sesampainya di luar, Barry melepaskan genggaman tangan Giana. Di tempat yang tak lagi terlihat oleh Cherry.
“Kamu kenapa sih?? Aneh banget!”
“Kenapa? Aneh!?”
“Iya, aneh! Kamu kenapa kaya gini?”
“Terus aku harus kaya gimana? Harus ketawa-ketawa setelah liat kamu jalan sama cowok lain?” Barry menghunuskan kalimat tanya yang telak untuk Giana.
“Cowok?” Bibir Giana gemetar.
Barry berdecih kemudian tertawa kecil, tawa getir.
“Cowok apa?”
“Giana, kamu enggak bisa menyangkal ya, aku lihat dengan mata aku sendiri.”
Giana terbelalak, kemudian nampak mulai berusaha menguasai dirinya.
“Cowok? Oh, cowok yang itu! oh, hahahaha.” Giana tertawa.
Barry menaikan sebelah alisnya.
“Sayang, Barry. Cowok yang kamu maksud itu mungkin sepupu aku!”
“Sepupu?”
“Iya, hahaha ya ampun kamu cemburu!?” ledek Giana.
“Sepupu? Kamu bilang kemarin jalan sama temen terus sekarang sama sepupu?”
“Ha? Eum, gini loh Barry. Aku kan lagi jalan sama temen, terus ketemu sepupu aku gitu. Pas temen aku balik, ya aku balik sama dia. Sekalian dia mau main ke rumah.”
“Gitu?”
“Siapa namanya?”
“Siapa?” Giana mengulur waktu, memberinya moment untuk mengarang tentang siapa nama sepupunya itu.
“Namanya!”
“Namanya, namanya ya. Emh, Radit. Iya Mas Radit.”
“Kamu baru kemarin jalan sama dia, tapi kamu udah lupa namanya?”
“Bu-bukan gitu, Barry! Aku tuh biasa panggil dia pake panggilan akrab keluarga, jadi aku agak lupa siapa nama panggilan dia di luar.”
“Terserah.” Barry melengos meninggalkan Giana.
“Barry! Aku tuh udah jujur lho, kok kamu malah nyebelin!?”
“Udah ya, Giana! Aku lagi capek!”
“Tapi kamu jangan gini dong!”
“Kamu enggak mau minta maaf?” tekan Barry.
“Minta maaf? Untuk apa?”
“Oh, yaudah! Aku duluan ya!”
“Barry! Sayang! Oke, oke aku minta maaf karena aku enggak bilang kemarin jalan sama sepupu aku.”
“Giana, please. Aku enggak bodoh!” barry menarik nafas dalam.
“Aku enggak bodohin kamu, Barry!”
Barry hanya mendelik.
“Oke, aku minta maaf ya.”
“Maaf tapi aku enggak pernah liat saudara sepupu yang semesra itu.” ujar Barry tak mudah percaya.
“Ya ampun, kamu ini ternyata cemburuan banget ya. Gini deh, kamu mau kenalan sama dia? Kapan?” usulnya untuk meyakinkan Barry.