“Barry kenapa?” Wajah Barry berubah murung saat dia baru saja kembali dari loket tiket. Cherry memintanya memesan tiket sementara dirinya duduk di salah satu sofa yang ada di lorong menuju ke beberapa pintu teater.
“Kenapa apanya, Tante?” tanya Barry balik.
“Muka kamu kok keliatan lesu gitu.”
“Emh?” Barry menyentuh pipinya sendiri.
“Kamu sakit?” Cherry menyentuh kening Barry.
Cowok berkemeja itu terdiam, sentuhan Cherry membuatnya ingin menumpahkan segala asa yang tengah dia rasakan kini. Belaian lembut itu seolah mengandung banyak simpati untuknya yang tengah dirundung pedih akibat pengkhianatan Giana yang entah sudah berapa lama berlangsung.
“Enggak apa-apa kok, Tante. Ayo udah mau mulai filmnya!” ajak Barry.
Cherry memperhatikan gerak-gerik Barry, dia nampak sangat berbeda dengan tadi. Apa gerangan yang membuatnya jadi lesu seperti itu?
“Kamu yakin enggak apa-apa? Kalau sakit lebih baik pulang aja, yuk!” ajak Cherry.
“Enggak apa-apa, Tante. Masa pulang, kan udah beli tiket.”
“Enggak masalah, kasih aja ke orang lain.”
Barry menggeleng.
“Ayo tante!”
Mereka berdua masuk dan duduk di kursi yang telah ditentukan, nomornya tertera di dalam tiket yang tadi dibeli Barry.
Film yang diputar menceritakan tentang kisah romansa dua orang yang berasal dari dunia yang berbeda. Cherry nampak asyik menyimak alur film itu sambil sesekali mengunyah popcorn yang sempat dibeli sebelum masuk ke dalam tadi.
Barry tak bisa memikirkan hal lain, selain pemandangan yang membuatnya nelangsa tadi. Selalu saja muncul tawa Giana yang begitu senang bergandengan tangan dengan pria itu.
‘Kenapa kamu enggak terus terang kalau kamu sampai sekarang sama sekali enggak sayang sama aku, Giana. Apa begini kamu? Hanya mengharapkan uang saja dariku? Tega banget kamu Giana.’ Barry tak mau menangis, dimana harga dirinya sebagai laki-laki jika menitikkan airmata karena dibohongi oleh seorang gadis.
Dia menatap Cherry, kesempurnaan ada padanya tapi wanita itu lebih dewasa darinya. Entah darimana datangnya rasa nyaman itu, tapi dialah yang kini Barry rasakan saat duduk bersamanya dalam ruangan gelap dan dingin itu.
Barry merasa hampa, seolah Giana adalah semangatnya selama ini.
Cherry cekikikan bersama penonton lain saat film itu menayangkan sisi humor dari alurnya. Barry menaikan sedikit bibirnya, tersenyum kecil sambil menatap Cherry. Entah kenapa. Jantungnya berdegup lebih kencang.
Barry mengatur nafasnya, kemudian mulai menggerakkan tangannya. Sadar atau tidak, dia kini tengah menyentuh jemari Cherry. Wanita cantik itu menoleh karena seseorang menyentuh tangannya. Dalam temaram, dapat Barry liat raut penuh pertanyaan di wajah cantik dosennya itu.
Mereka bertatapan, Barry benar-benar merasa semua ini konyol tapi dia terus memepererat genggaman tangannya terhadap Cherry. Tak ada apapun yang keluar dari bibirnya saat Cherry menatapnya dengan kaget.
Cukup lama keduanya bertatapan, sampai kemudian Barry tersenyum dan Cherry ikut tersenyum. Keduanya terkekeh malu-malu dan mengalihkan pandangan mereka ke arah lain dengan tangan tetap saling menggenggam. Cherry merasa ini aneh tapi sungguh dia menyukainya. Lagipula, Barry kini adalah pria dewasa yang berstatus sebagai mahasiswa, bukan Barry yang dulu berseragam putih abu-abu.
‘Apa tidak apa-apa? Bersama dengannya seperti ini? Entah kenapa, aku merasa ini sangat nyaman.’ Batin Cherry sambil merasakan kehangatan tangan Barry.
Barry sedang tak ingin menggunakan akal sehatnya, dia hanya ingin menikmati moment ini agar rasa pedihnya itu benar-benar hilang hari ini. Dia yakin akan melewati pertengkaran hebat dengan Giana nantinya. Tapi, biarkan itu terjadi nanti. Sekarang, yang harus dia lakukan hanyalah menggenggam jemari lentik yang penuh kehangatan ini.
Mereka keluar setelah film selesai diputar, keduanya terus saja saling lempar senyum malu-malu. Seperti dua orang kasmaran yang baru saja memulai suatu hubungan. Barry tak melepaskan tangan Cherry selama di perjalanan kembali ke parkiran tempat mobil Cherry.
Tak ada yang benar-benar menggubris mereka berdua, dewasa ini pasangan menyimpang saja seperti hal lumrah. Jadi, Cherry merasa tak perlu cemas saat jalan berdua dengan pria yang lebih muda darinya itu. Mereka normal dan tak ada perilaku tak wajar dari keduanya. Hanya saja, alasan soal usia yang kadang membawa beberapa pasang mata seperti menjugde mereka yang bukan-bukan.
Usia mereka terpaut lima tahun, tahun ini Barry genap berusia sembilan belas tahun sedangkan Cherry dua puluh empat tahun di bulan terakhir nanti. Tapi, dilihat dari sisi manapun Cherry terlihat seumuran dengan Barry, kecuali oleh orang yang cukupn mengenal Cherry yang tahu profesi atau usianya. Selain itu, tak akan menyangka bahwa Cherry dan Barry adalah dosen dan mahasiswanya.
“Langsung pulang, Tante?” tanya Barry saat sudah berada di depan mobil.
“Iya, besok kan harus ke kampus.” Jawab Cherry manis.
“Yaudah, tante masuk duluan!” Barry membuka pintu mobil untuk Cherry dengan satu tangannya yang bebas, sementara tangan lain masih menggenggam tangan Cherry.
“Tante? Kok enggak masuk?” tanya Barry.
“Ini tangan tante.” Cherry menggerakkan tangannya yang masih digenggam barry.
“Eh iya, hehehe.”
Cherry terkekeh pelan.
Barry menatap Cherry dan perlahan melepaskan jemari wanita itu.
“Silahkan masuk, Tante.”
“Oke.” Cherry menyipitkan matanya saat tersenyum.
“Mendadak hati gue jadi adem.” Lirihnya saat hendak menutup pintu.
“Apa?” Cherry membuka kaca mobil.
“Ah, enggak apa-apa.” Barry bergegas ke balik kemudi, mengantarkan Cherry ke rumahnya.
“Balik ke kampus dulu aja, Barry.” Usul Cherry.
“Langsung ke rumah tante aja, nanti Barry bisa naik ojek online dari sana.”
“Enggak apa-apa?”
“Enggak apa-apa dong!” barry mulai mengemudikkan mobilnya.
Cherry tersenyum lagi dan lagi.
*
Keesokan harinya. Barry meminta Rico menjemputnya untuk bersama-sama ke kampus. Cowok badung itu bahkan bonceng tiga karena Shaka juga ikutan ke rumah Barry. Ibu Barry sudah berteriak-teriak hingga tenggorokkannya hampir meledak sejak mereka masih di teras rumah Barry.
“Jangan boceng tiga! Bahaya! Nanti ditilang!” teriaknya sambil memegang sapu ijuk.
“Kagak, Mak!” Barry balas berteriak.
“Kampus kan jauh! Enggak kaya waktu SMA! Emang motor elu kemana sih, Bar?” tanya Emaknya lagi, masih dengan suaranya yang melengking.
“Ada, di bengkel kemarin bannya pecah! Dah ya Mak! Barry berangkat dulu!”
“Mak, Shaka sama Rico jalan juga ya!!!”
Brum! Brum! Mereka bertiga menghilang ke arah jalan yang menghubungkan rute dalam kampung dengan jalan besar beraspal di depan sana.
“Ya ampun, itu anak kalau dikasih tahu susah amat ya!” gerutu Ibu Barry.
“Udah biarin aja si, namanya juga anak muda! Kaya kaga pernah muda aja!”
“Ye, Emak waktu muda kagak begitu! Nakal, bangor! Mirip siapa sih si Barry? Mirip Babehnya nih jangan-jangan!”
“Lha, malah nyalahin gue! Lu kan tau gue dulu anak pengajian, alim banget! Makanya elu ngebet banget pengen dilamar.”
“Dih!”
“Hahahaha!”
Sementara itu di jalan beraspal, motor yang dinaiki Barry and the gank terlihat menepi di sisi kiri jalan raya. Dua orang petugas berseragam cokelat berhelm nampak berkacak pinggang sambil meminta ketiganya turun.
“Mampus!” celetuk Barry.
“Elu sih!” omel Rico pada Shaka.
“Kok gue!”
“Sudah! Malah berantem! Mana sini SIMnya!” pinta salah seolah petugas.
Barry menyerahkan simnya karena Rico tidak punya. Sementara dia sibuk mencari surat kendaraan yang pasti akan jadi barang yang berikutnya ditanyakan oleh petugas.
“Kok kamu yang kasih SIM?”
“Kan bapak tadi minta SIM!”
“SIM yang naik motor!” jawab petugas tadi.
“Iya, kan saya naik motor!”
“Yang bawa motor! Jangan bercanda sama saya ya, Kamu!”
Barry menciut.
“Pak ini pak, surat motor saya.” Rico menyerakan lembaran surat kecil dengan cover plasti tipis melekat di permukaannya.
“Tadi kamu yang bawa motornya kan?”
“Iya, Pak!”
“SIMnya mana?”
“Anu, Pak.”
“SIM! Bukan anu!”
“Emh. Enggak ada, Pak.”
“Hadeh! Bawa motor enggak punya SIM, bonceng bertiga, mana satunya enggak pake helm! Tilang ya!”
“Yah, jangan pak!”
“Surat kamu saya tahan, ambil di pengadilan!”
“Yah, Pak. Damai aja, Pak.”
“Damai? Hem, menarik.”
“Nah, damai ya pak!”
“Damai aja sama wedus!” petugas polisi itu kemudian membawa surat kendaraan Rico ke mobil, dia menggunakan kap mobil untuk menulis surat tilang yang akan diberikan pada Rico.
“Elu sih, Sak!” Rico masih mengomel.
“Udah sana! Nanti gue temenin ke pengadilan!”
“Elu bantuin bayar ya!”
“Beres!” sahut Barry enteng.
Meski dia berjanji membantu Rico membayar sanksi tilang, tetap saja pada akhirnya dirinya tak bisa naik kembali ke atas motor Rico. Hanya Rico dan Shaka yang akhirnya pergi dari sana dengan sepeda motor itu. sementara Barry ditinggalkan dengan perasaan sebal.
“Dasar kunyuk!” umpatnya.
Tapi, dewi keberuntungan sepertinya sedang berbaik hati pada cowok berkulit kuning langsat itu, saat dia berjalan ke halte terdekat untuk naik bus, tiba-tiba saja terdengar suara klakson dari belakang punggungnya. Itu dosen cantik kesayangnnya.
“Tante!” Seru Barry senang.
“Masuk!”
Barry bergegas masuk sambil nyengir kuda, beruntung sekali dia hari ini.
“Wah, kebetulan banget!” ujarnya setelah berhasil menutup pintu mobil dan memakai sabuk pengaman.
“Kenapa jalan kaki? Gara-gara anter tante kemarin ya? Tante jadi enggak enak!”
“Eh, bukan gitu tante! Ini tadi Barry bareng sama Rico dan Shaka, tapi kita ditilang wkwkwk.”
“Ditilang kok malah ketawa?” Cherry ikut tertawa.
“Habis, tadi di rumah Emak Barry udah wanti-wanti, tapi kita bandel! Eh, beneran kena tilang wkwkwk.”
“Duh, lain kali dengerin dong kalau emak kamu lagi ngomong.”
“Itulah, aku kan bandel wkwk.”
“Ish, kamu ini.”
“Hehe.”
“Udah makan?” tanya Cherry.
“Nanti aja di kantin bareng sama anak-anak, Tante.”
“Uangnya ada?”
“Ada kok.”
Cherry mengangguk.
Cherry menurunkan Barry tak jauh dari gerbang utama, sementara dia sendiri masuk ke pelagtaran parkir gedung itu. Tentu saja dia harus selalu berhati-hati, kalau tidak bisa kacau. Barry akan jadi bahan gunjingan empuk untuk para mahasiswa sini.
Barry berjalan masuk, kemudian ke kantin untuk sarapan bersama. Tapi, herannya Shaka dan Rico belum ada di sana. Ternyata, keduanya tersalip oleh mobil Cherry dan akhirnya Barry sampai lebih dulu.
Cherry berniat membeli air mineral, dari jauh dilihatnya Barry yang duduk seorang diri.
‘Alangkah serunya kalau aku masih jadi mahasiswi sini, seumuran sama dia dan bisa duduk bareng di sana.’ Batin Cherry.
Dia membeli air mineral tepat di kedai tempat Barry duduk. Mereka saling lempar senyum saat Cherry melintas di depan Barry. Senyum malu-malu dan canggung karena harus bertemu di kampus saat kemarin sudah melakukan hal romantis.
Tapi, keromantisan itu mendadak buyar saat tiba-tiba saja Giana datang dan menggeleayut manja di lengan Barry. Cherry melihat mereka berdua sementara menunggu uang kembalian dari pemilik kedai.
“Sayang, kamu kok di telepon enggak aktif sih!!!??” Giana mulai merengek di hari sepagi ini.
Barry serba salah, masih ada Cherry di sana. Dia menatap Cherry dengan mata yang seolah bicara “Nanti aku jelasin ya, Tante!” seperti itu.
“Sayang, kamu kenapa?”
Cherry merasa mengenali gadis itu, dia Giana salah satu mahasiswinya. Dia adalah tak lain tak bukan, adalah gadis yang kemarin dia lihat di mall, pasangan muda yang dia hindari di tempat itu, si gadisnya adalah Giana. Tapi, kenapa dia memanggil Barry dengan “Sayang”?
Barry benar-benar belum mau bertemu Giana, gadis itu pasti tak menyadari bahwa Barry telah mencium bau busuk yang telah dia simpan lama. Buktinya, dia nampak biasa saja seolah tak punya kesalahan apa-apa.
“Sayang, kapan kamu kasih aku uang lagi?” rengeknya sambil hendak mengecup pipi Barry.
“Giana!!” Barry menghindar dan menatap Cherry.
Giana ikut menatap Cherry yang berdiri di samping mereka.
“Eh, Good morning, Miss!” sapanya tak begitu peduli apakah ada Cherry di sana atau tidak.
Barry menghela nafas. Giana benar-benar menghancurkan moodnya sekarang. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Wajah Cherry berubah, dia bergegas pergi meninggalkan kantin. Barry ingin menghentikan langkah Cherry tapi entah bagaimana caranya. Sementara Giana terus saja menggelayut manja dengan menyebalkan di lengan Barry. Hari ini, suara rengekan manja itu terasa amat menjijikkan untuk Barry.