Cherry sengaja pura-pura tak mengenali Barry. Karena, di luar sana mungkin mereka saling mengenal. Tapi, di lingkungan kampus ini mereka tetap saja adalah dosen dan mahasiswa. Semua proses pembelajaran di kampus harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Seperti halnya pagi ini, berkenalan satu sama lain agar ke depannya dapat tercipta lingkungan belajar mengajar yang nyaman.
Barry hanya mengucapkan satu kata kemudian kembali duduk, enggan sekali bicara panjang lebar di depan Cherry.
"Apa tidak mau menjelaskan sesuatu tentang diri kamu, Barry?" Tanya Cherry lebih lanjut karena semua teman sekelas Barry bahkan memberitahu apa kegemarannya atau apa makanan kesukaannya.
'Hem, apa yang harus aku jelaskan? Aku harus bilang ke semua orang kalau aku kenal Tante Cherry dan menerima beberapa lembar uang dari dia?' pikir Barry sebal.
Karena Barry tak kunjung bicara, akhirnya Cherry mengalah.
"Ya sudah, ayo selanjutnya!"
Seorang gadis yang duduk di belakang Barry memperkenalkan dirinya. Kemudian terus sampai semua sudah mendapatkan gilirannya.
Cherry pamit setelah mengabsen mereka, materi yang akan dia sampaikan dimulai lusa di jadwal berikutnya.
*
"Ah, elo Bar! Kebiasaan banget suka sok jadi pahlawan!" Celetuk Shaka setelah kelas listening berakhir.
"Pahlawan biji mata Lo!" Barry meraih tasnya, kemudian mengajak Giana ke kantin untuk makan atau sekedar membeli minuman pelepas dahaga.
"Ayo, Yang ke kantin!" Ajak Barry.
Giana kesal tapi dia juga haus, jadi mau tak mau dia mengikuti ajakan Barry untuk ke kantin.
"Dua cowok itu enggak usah diajak!" sungut Giana.
"Iya, Sayang. Iya!" Barry mengabulkannya.
Shaka dan Rico berdiri sejajar, lengan keduanya saling merangkul bahu masing-masing.
"Itulah kenapa gue dari dulu males pacaran!" Cicit Rico sambil memperhatikan langkah Barry dan Giana yang mulai keluar dari kelas.
"Wkwkwk! Sok banget ya Lo!"
"Emang iya!"
"Eh, barangkali elo amnesia! Sini gue ingetin! Elo itu jomblo karena emang enggak laku! Hahahaha!" Shaka menggeplak kepala Rico.
"Kalau gini caranya gue beneran amnesia, Kampret!" Rico mengusap kepalanya, kemudian membalas dengan cara menjitak kening Shaka.
"Si4alan!" Umpat Shaka.
"Udah ayo cabut! Gue laper!"
"Bayarin yak!" Pinta Shaka.
"Besok gantian!" Balas Rico.
"Beres!"
"Beres-beres aja Lo!"
"Beneran! Beres deh!"
"Ya udah ayo!"
*
"Bar!"
"Emh?"
"Kamu kenal sama dosen tadi?" Selidik Giana sambil mengaduk teh dalam gelas.
"Emh? Oh, dosen tadi?"
"Iya."
Barry hendak berterus-terang kalau dia adalah Tante Cherry. Target terakhirnya untuk sementara ini, sebelum dia dapat penggantinya. Tapi, entah kenapa dia sangat cemas kalau sesuatu bisa saja terjadi kalau dia menceritakan semuanya pada Giana.
Akhirnya, Barry memancing Giana untuk memastikan apakah Giana mengingat Cherry atau tidak. Karena mereka bahkan sempat mengecek kediaman Cherry bersama waktu itu.
"Bar! Kok diem?"
"Kamu merasa pernah liat dia enggak sih?"
Giana menggeleng.
"Enggak ya? Berarti cuma perasaan aku aja."
"Perasaan kamu aja gimana?" Tekan Giana curiga.
"Ya perasaan aku aja, kayak pernah liat dimana gitu."
"Emh, aku juga awalnya gitu. Kayak pernah liat dia tapi entah dimana."
"Nah, iyakan?"
"Tapi, yang bikin aku curiga. Kenapa kamu segitunya belain dia di depan anak-anak tadi?"
"Ih, Sayang. Yang seperti itu sih jawaba mudah aja."
"Apa?"
"Ya aku kan punya pacar yang sama-sama perempuan. Aku cuma mikir, kalau pacar aku yang digituin sama cowok-cowok gimana. Jelas banget kan kalau itu pelecehan."
"Gitu ya?" Giana menyedot es dinginnya seraya matanya menatap tajam ke Barry.
Barry tertawa garing.
"Hahaha, kamu kenapa sih? Jangan mikir aneh-aneh deh!"
"Ya aku heran aja."
"Udah, jangan heran-heran. Lebih baik kita urusi kepentingan kita aja. Biar kelak kita lulus dengan baik dan dapat pekerjaan baik juga."
"Semoga aja.
"Harus dong, Sayang. Jangan cuma semoga. Karena aku pengen banget nikahin kamu dan kasih semua keinginan kamu pakai uang aku sendiri."
"Ya tapi tetep, sebelum semua itu jadi kenyataan. Kamu harus tetep jalani hidup yang kayak sekarang ini."
"Iya, demi kamu aku akan bertahan jalani hidup aku yang begini."
"Janji ya!"
"Iya, janji!"
"Kalau gitu, besok aku mau shopping dong Sayang. Beli baju-baju buat ke kampus! Cewek-cewek di sini bajunya bermerk dan bagus-bagus semua. Aku minder!" Giana bicara sambil memainkan es batu dalam gelas menggunakan sedotan.
Barry menghela nafas.
"Bar?" Giana mengangkat dagunya karena yang diajak bicara tak merespon perkataannya.
"Iya, Sayang. Aku usahain ya."
"Asyik! Makasih ya, Sayang!"
"Iya." Barry mencoba tersenyum.
Sore harinya, pukul empat dia sudah berada di depan rumah Cherry. Permintaan Giana yang membawanya berani datang ke rumah besar ini.
Selain itu, Barry juga ingin memastikan perasaannya. Bahwa memang benar dia menganggap Cherry sama dengan para Tante yang lain. Tak lebih dan tidak kurang.
Karenanya, dia akan mengejar uang sang target seperti yang selama ini dia lakukan.
Sang satpam menyapa Barry dengan ramah, Barry bertanya apakah Cherry ada di dalam atau tidak. Sekedar basa basi, karena dia sejak tadi yakin Cherry ada di dalam karena mobilnya juga ada di sana.
"Oh, Non Cherry lagi keluar."
"Keluar?" Barry menatap mobil Cherry.
"Oh, tadi Non Cherry dijemput sama temennya."
"Temennya? Yang namanya Fin itu?" Selidik Barry. Seketika rahangnya menggertak tanpa dia sadari.
"Wah, kalau namanya saya kurang tahu."
"Bapak enggak tahu?"
"Iya, sejak saya kerja di sini. Baru pertama kali liat dia." Ujarnya dengan logat Jawa yang kental.
"Masa sih? Memangnya kapan bapak mulai kerja?"
"Ya, waktu kita ketemu di sini itu! Saya baru kerja!"
"Oh gitu."
"Iya, begitu!" Jawabnya.
"Ya udah kalau gitu saya pamit ya, Pak!"
"Oh, enggak mau nunggu di dalem?"
"Emh, enggak deh pak makasih!"
Saat Barry baru menyelesaikan kalimatnya itu tiba-tiba saja terdengar suara motor dibelakangnya.
"Lah itu Non Cherry udah dateng!" Serunya ke arah belakang punggung Barry.
Cowok yang sudah tak lagi berseragam SMA itu sontak menoleh. Dilihatnya Cherry baru saja turun dari jok belakang sebuah motor yang nampak dikendarai cowok berhelm merah. Warna yang senada dengan motornya.
Cherry masih mengenakan pakaian yang sama dengan pada saat mengajar di kelas tadi pagi. Barry menatap mereka tanpa bicara, angin berdesir meniup rambut depan Barry yang lurus dan hitam.
"Barry!" Seru Cherry seraya mendekat.
Barry masih belum melepaskan tatapannya dari pria berhelm itu. Dia membuka helmnya, kemudian menyeringai ke arah Barry.
"Cher, aku langsung cabut ya! Males banget liat bocil ini lagi!" Ujarnya.
"Iya, Fin. Kamu hati-hati!"
Pria bermotor itu pergi setelah berdecih ke arah Barry.
"Bar, ada apa? Ayo masuk!"
Barry heran sekali, kenapa Cherry masih saja berhubungan dengan pria kasar itu.
'Apa sih yang dilihatnya dari cowok kasar itu? Ganteng? Alah gantengan juga aku!' batin Barry kesal.
"Ayo masuk dulu!" Cherry berjalan mendahului, Barry menyusul di belakangnya.
Satpam tadi kembali menutup gerbang saat Barry dan Cherry sudah berada di dalam.
"Duduk dulu, Tante mau ganti pakaian ya sekalian mandi! Panas banget!"
Barry tak menjawab. Entah kenapa hatinya seperti terbakar api yang amat panas.
'Bau hangus apaan sih ini? Apa hati gue kebakaran??' pikir Barry konyol.
'Bar, inget tujuan awal elo kenalan sama Tante ini! Inget! Kenapa elo jadi baperan dan posesif gini! Yang elo butuhin hanya duit dia! Inget!' Barry mencoba menetralkan suasana hatinya, dengan kembali mengingatkan dirinya tentang apa tujuan sebenarnya mendekati Cherry.
'Perset4an dia sudah punya cowok atau enggak! Semua Tante yang gue deketin malah rata-rata udah punya suami! Jadi, ngapain gue ribet sama gituan!'
'Awal ketemu gue ketar-ketir karena enggak tahan liat kecantikan dia. Sekarang apa lagi? Gue malah kaya kena racun pesona Tante Cherry. Ngapain sih elo belaga jealous ke si Fin tadi. Padahal gue kesini cuma mau nyari duit!' tambahnya tak henti menceramahi dirinya yang nampak bodoh.
Lima belas menit kemudian, Cherry kembali dengan rambut basahnya. Dia belum sempat mengeringkan rambut karena khawatir Barry terlalu lama menunggunya.
"Lho, kok belum disediain minum?" Ujarnya setelah berhasil melewati anak tangga terakhir.
Barry yang sudah memberi wejangan pada dirinya sendiri mendadak ramah kembali, tidak ketus seperti tadi. Dia sadar harus mendapatkan uang, dan karena itu dia harus jadi Barry yang baik dan manis.
"Enggak apa-apa kok Tante, Barry enggak haus."
"Si mbak kemana ya? Sebentar ya Tante aja yang bikin!"
"Oh, Tante biar Barry saja!"
"Hum?"
"Barry saja yang ambil minum!"
"Barry tau dimana dapur?"
"Enggak sih, hehe."
Cherry tertawa.
"Ayo Tante anterin deh kalau gitu."
"Iya!"
Cherry menunjukkan sebuah lemari pendingin dengan ukuran ekstra besar. Barry bingung karena benda yang dia kenal sebagai kulkas itu bentuknya terlalu tipis. Tapi, setelah dia membuka pintunya barulah dia tahu bahwa lemari pendingin itu seperti tertanam di dingin dapur. Jadi, seakan bertujuan untuk menghemat tempat.
"Padahal dapurnya segede gini, ngapain juga mesti hemat tempat!" gumamnya.
"Pilih aja mau minuman apa, ya. Tante mau ambil pengering rambut dulu. Enggak betah nih!"
"Silahkan, Tante!" Barry sibuk memperhatikan barisan minuman kaleng berperisa yang ada di dalam lemari pendingin.
Berbagai macam jenis buah juga dia jumpai di dalam sana.
"Ya ampun, ini kulkas apa surga!? Apa aja ada!" Cicitnya seorang diri.
"Lho, siapa ya?" Tanya sebuah suara.
Barry menoleh dan kepalanya terantuk pintu bagian dalam.
"Aduh!" Keluhnya.
"Lho, Aden!"
"Barry, Mbak. Bukan Aden!" Barry mengelus keningnya.
"Hihi, mbak kira siapa! Cari apa, Den?"
"Hehe, ini cari minum tadi disuruh Tante Cherry."
"Oalah, yaudah cari dulu!"
"Hehe, bingung banyak banget. Udah kaya supermarket!"
"Si Aden bisa aja!"
"Mbak bawa apa itu?"
"Ini, bawa ayam! Mau masak makan malem!"
"Oh, gitu."
"Aden makan di sini aja!"
"Ha? Enggak usah Mbak! Hehe!"
"Enggak apa-apa! Temenin Non Cherry. Dia kayaknya senang sekali kalau Aden ada di sini."
Deg! Barry terdiam.
"Senang?"
"Iya, biasanya dia makan sendiri. Jadi kalau ada temennya dia senang."
"Emh, gitu! Kirain senang karena Barry."
"Ya memang iya!"
"Ha?"
"Sudah, makan di sini saja! Mbak masak banyak nanti biar ada yang makan!"
"Tapi."
"Nanti sekalian bungkus makanan bawa pulang buat keluarga di rumah!"
"Eh, enggak usah Mbak!"
"Enggak apa-apa!"
Cherry datang dengan rambut keringnya yang harum. Bertanya apakah Barry sudah selesai mengambil minumannya.
"Sudah, Bar?"
"Sudah Tante!" Barry mengangkat tinggi-tinggi kaleng minuman soda di tangannya.
"Ya sudah, ayo ke depan!"
Mereka duduk bersama di ruang depan. Barry nampak merasa kusut sekali di hadapan Cherry yang wangi dan terlihat segar.
"Ada apa, Bar?" Tanya Cherry.
"Emh, gini Tante." Barry meletakkan kaleng minumannya di meja.
"Barry, mau minta maaf."
"Maaf kenapa?" Cherry menopang dagunya. Kedua kakinya bertumpuk dan menjadi tumpuan sikunya.
"Soal tadi pagi, Tante."
"Emh?"
"Soal keributan di kelas tadi pagi."
"Oh, Tante kira ada apa. Enggak apa-apa kok Barry. Kalau di kampus kan Tante harus menjalani profesi Tante sebagai dosen. Barry juga mengerti kan?"
"Iya Tante, sekali lagi Barry minta maaf."
"Enggak apa-apa, Barry. Tante juga minta maaf ya kalau ada salah."
"Cuma, anak-anak di kelas memang agak keterlaluan, Tante."
"Biarin aja, Tante udah biasa punya mahasiswa yang seneng isengin Tante kaya gitu."
"Emh." Barry mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Oh ya, Tante. Satu lagi, Barry minta maaf belum bisa gantiin uang Tante yang kemarin."
"Oh, jangan pikirin itu Barry. Tante enggak minta diganti kok."
"Iya Tante, Barry sebenarnya enggak enak. Tapi mau bagaimana lagi, ini aja Barry lagi pusing mau lunasin uang masuk universitas. Enggak tahu mau lanjutin kuliah atau enggak." Barry mulai menjalankan modusnya.
"Kok begitu?"
"Iya, habis bagaimana Tante. Enggak tahu deh Barry bingung."
Barry berdusta, padahal uang masuk universitas sudah dibayar lunas oleh bapak dan ibunya menggunakan tabungan yang mereka punya.