Eleven

2041 Kata
Awal semester dimulai, Barry bertekad akan menjalani masa kuliah dengan baik. Tak ingin main-main seperti saat SMA dulu. Uang yang dikeluarkan oleh kedua orangtuanya tidaklah sedikit. Jadi, dia tak boleh bermain-main kali ini. Bukan sebuah kebetulan, Barry dan dua temannya masuk ke jurusan yang sama. Begitu juga Giana. Mereka sama-sama masuk ke Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan program study Bahasa Inggris. Alasannya ringan saja, karena di sana mereka tidak akan bertemu dengan pelajaran hitung menghitung. Baik menghitung rumus ataupun laba dan sejenisnya. Selain itu, entah mengapa orang tua mereka menginginkan mereka menjadi tenaga pendidik yang masuk ke kategori pegawai negeri sipil. Mereka berpikir, dengan menjadi tenaga pengajar akan lebih mudah bagi mereka untuk masuk ke ranah itu. Ya, pendapat para orang tua itu beralasan. Bagi mereka, pegawai negeri sipil itu selalu terjamin hidupnya hingga ke masa tua kelak. Konon katanya ada data pensiun yang bisa dipakai untuk bekal di hari senja nanti. "Enggak asyik banget lagi-lagi harus satu kelas sama kalian!" Giana menyibakkan rambut dan berjalan masuk kelas mendahului Shaka dan Rico. Barry juga ada di sana, tapi kalimat itu hanya ditujukan pada Rico dan Shaka. "Ya ampun, Gi. Masa masih masalahin yang dulu terus sih!?" keluh Rico. Giana semakin tak suka pada kedua sohib Barry itu. Karena perkataan mereka yang menyakiti hatinya. Giana tak menjawabnya, dia merasa dua cowok itu tak penting baginya. Tidak satu level juga. Tidak ada alasan untuk akrab dengan mereka di kampus besar ini. Barry mengejar Giana, dia masih berusaha memperbaiki hubungannya dengan sang kekasih yang agak renggang karena beberapa waktu ini Barry sama sekali tak memberikan apapun pada Giana. "Gi, duduk deket aku sini!" "Enggak!" Giana menghindari Barry dan duduk di sudut satunya. Barry menghela nafas, duduk dengan lemas dengan wajah sendu. Benar-benar hari pertama kuliah yang kurang menyenangkan. Dia pikir Giana akan lebih dewasa sekarang. Barry awalnya berniat mengajak Giana bicara. Soal kebiasaan buruk mereka selama ini. Seiring berjalannya waktu, mereka harus perlahan merubahnya. Cowok yang mengenakan kemeja biru itu gelisah di kursinya. Dia menoleh ke arah kekasihnya yang sibuk menutul-nutul spons ke pipinya. Giana terlalu cantik untuk dia lepaskan begitu saja. Dia harus memperbaiki hubungannya agar mereka kembali mesra seperti sediakala. Selama beberapa waktu ini, hubungan mereka gantung. Tak ada kejelasan tapi juga tidak putus. Barry meraih kembali ranselnya. Berjalan mendekati Giana. Dia tak boleh menunda waktu atau seseorang di kampus ini akan menyambar Giana begitu saja, merebut sang kekasih dari genggaman tangannya. "Sayang, ngobrol sebentar yuk!" Giana menatap dengan sebal, tapi dia tidak menghindar kali ini. Barry meraih lengannya kemudian mengajaknya keluar kelas. Membawanya duduk di kursi panjang yang tak jauh dari pintu masuk kelas mereka. "Sayang.. Kamu masih belum bisa maafin aku?" Giana bersedekap, wajahnya masih saja menggambarkan kesan jutek. "Sayang." "Kamu kemana aja selama ini?" tukasnya merajuk. "Maaf, Sayang. Aku belakangan banyak pikiran banget." "Mikirin apa?" "Ya, banyak. Awalnya aku mau kerja, berpikir keras soal itu. Tapi, akhirnya Babeh minta aku kuliah." "Kerja? Lulus SMA doang mau kerja apa?" "Yah, apa aja." "Bar, pikiran kamu sempit banget ya! Dikira gaji lulusan SMA itu gede!" "Iya, kamu bener. Makanya aku benar-benar berpikir keras dan pada akhirnya aku ada di sini hari ini." Giana diam. "Sayang, aku berpikir keras karena aku nantinya mau mengusahakan yang terbaik untuk kamu. Kamu tahu kan aku ini sayang banget sama kamu. Aku mau kamu jadi istri aku nantinya." "Kalau kamu serius sama aku. Harusnya kamu lebih sering buktiin dong!" "Dengan cara apa?" "Ya dengan cara biasa!" "Cara biasa? Tapi sayang, aku.." "Tuh kan, kamu banyak alasan!" "Bukan gitu sayang. Jujur aja aku juga mau kasih kamu apapun yang kamu inginkan. Tapi, aku mau dapetin uang itu dengan cara yang bener." "Lho, memang selama ini aku nyuruh kamu ngerampok? Enggak kan? Kamu kan dikasih! Bukan nyuri atau gimana! Mereka yang kasih uang ke kamu juga, saat itu dalam keadaan sadar kok!" "Iya, kamu bener Giana. Tapi.." "Bar, aku butuh banyak uang untuk biaya kuliah aku. Kalau kamu serius sama aku, kamu akan penuhin kebutuhan aku. Tapi, kalau kamu enggak mau lagi. Berarti aku harus pakai cara lain." "Cara lain apa?" "Ya, dengan wajah aku. Aku bisa dapetin cowok tajir di sini. Atau bahkan dosen tajir." Barry tercengang. "Enggak, sayang. Kamu enggak boleh gitu!" Barry meraih jemari Giana, memohon padanya dengan mata berbinar penuh harap. "Sayang, kamu enggak boleh ninggalin aku! Aku sayang kamu." Giana tak menjawab. Dia harus jual mahal agar Barry jatuh lagi di depannya, menekuk lututnya sedalam mungkin dan membawakan banyak uang dan barang berharga untuknya seperti biasanya. "Giana." Giana tak mau bicara. Dia sengaja membuat Barry pada akhirnya tak punya pilihan dan kembali menuruti semua keinginannya. "Sayang.." Barry nampak putus asa. Sungguh dia intin merubah hidupnya jadi lebih baik. Dia bahkan rela kalau harus kerja kasar demi menghasilkan uang untuk Giana. "Sayang, aku bisa kerja sambil kuliah. Aku bisa usahain biar aku sanggup bayarin uang kuliah kamu." Giana menghela nafas dan bangkit dari duduknya. Baginya, yang akan didapat Barry dari kerja sambilan itu pastilah hanya uang receh. Mana mungkin bisa menopang gaya hidupnya yang bak orang kaya. Apalagi lingkungan kampus ini penuh dengan gadis cantik yang kaya raya. Dia tak ingin terlihat miskin. Barry tak bisa membiarkan Giana pergi begitu saja. Dia kembali meraih lengan Giana. "Oke, oke sayang! Aku akan nurutin kemauan kamu. Udah ya, jangan ngambek lagi ya. Please." Barry benar-benar tak mau Giana berpaling ke cowok lain. "Janji?" Giana sudah mulai cair hatinya. "Iya, aku janji. Aku akan cari target lain. Apapun akan aku lakukan, asal kamu bisa dapatkan apa yang kamu mau. Oke?" "Makasih ya, Barry." Giana dengan mudahnya mengganti wajah ketus dengan seulas senyum manis. Barry mengusap pipi Giana dengan lembut, mereka bertatapan dan tersenyum. "Yaudah, masuk kelas yuk!" "Hu-um." Siang hari di kampus Barry terus menempel pada Giana. Tapi, ketika malam datang dirinya selalu saja memikirkan Cherry. Tante cantik yang sudah cukup lama tak bersua lagi dengannya sejak kejadian di depan minimarket itu. "Kira-kira, Tante cherry apa kabar ya?" Barry melihat percakapannya dengan Cherry di aplikasi pesan. "Apa dia udah balikan lagi sama cowok yang kemarin itu? Bodoh banget kalau Tante Cherry mau Nerima balik cowok itu. Mana kasar, mending kalau ganteng! Gantengan juga gue!" Barry akhirnya terlelap setelah berpikir keras soal apakah Cherry kembali menjalin hubungan dengan Kefin atau tidak. * Hari kedua kuliah, diawali dengan mata kuliah listening. Pekan ini semua kegiatan belajar belum benar-benar berjalan normal. Biasanya dosen hanya datang untuk perkenalan dan menyapa para mahasiswa baru di kelas. Saat itu, di kursi yang berada di dekat pintu masuk. Seorang gadis cantik berwajah imut duduk di sana, sementara seorang cowok bersandar di dinding dengan tangan merangkul Giana si gadis imut itu. Sesekali dia mencium rambut sang kekasih dengan ujung hidungnya. Benar-benar dunia seperti milik mereka berdua. Barry terus membelai rambut kekasihnya, rasanya enggan pergi jauh darinya. Saat itu, seorang dosen masuk dengan sepatu heelsnya yang membuat ketukan di lantai. Seorang wanita dengan rok selutut dan kemeja berwarna merah hati terlihat membawa sebuah buku yang ditumpuk dengan ponselnya. "Good morning!" Sapanya seraya berjalan masuk. Dosen itu menoleh ke arah Barry dan Giana yang masih sedang bermesraan. Disaat bersamaan, Barry melihat kedatangan sang dosen. Mata mereka bertemu satu sama lain. Barry tertegun sebentar dan entah kenapa secara refleks dia menarik tangannya dari kepala Giana. Menyembunyikan tangannya dibelakang tubuhnya sendiri. 'Tante Cherry!' batin Barry terlonjak. Cherry mengenali salah satu mahasiswanya itu. Dia hanya tersenyum dan melanjutkan kembali berjalan menuju mejanya di sudut dekat papan tulis. Barry hanya membalasnya dengan anggukan canggung. Matanya melirik kesana kemari. Giana juga merasa mengenali dosen perempuannya itu. Tapi entah dimana dia pernah melihatnya. Bagi Giana, Cherry dan para Tante lain itu sama saja. Tak ada bedanya. Jadi dia tidak terus menerus berusaha mengingat Cherry. Tapi, tidak untuk Barry. Di matanya, Cherry benar-benar sangat berbeda dengan targetnya yang lain. Untuk sesaat dia merasa jantungnya berdegup kencang. Perkenalan dimulai, dosen mata kuliah listening itu memperkenalkan dirinya dengan nama Cherry. Penampilannya benar-benar menyita perhatian para mahasiswa yang matanya dimanjakan. "Nah, ada pertanyaan?" tanya Cherry setelah selesai memperkenalkan dirinya. "Bu, udah punya cowok belum?" celetuk salah satu mahasiswa. Disusul bunyi siulan dari para cowok jahil lainnya. "Emh, mau dijawab jujur atau enggak?" Cherry berusaha mengajak anak didiknya bergurau. "Kalau belum ada, pacaran sama saya mau enggak Bu?" tanya yang lain. Entah kenapa Barry merasa dad4nya panas membara karena mereka sepertinya sangat tertarik pada Cherry. Suara siulan menggema lagi, Cherry hanya terkekeh geli karena kejadian seperti sudah sering terjadi pada dirinya. Semua mahasiswa selalu saja berusaha menggodanya. Karena Cherry benar-benar sangat cantik dan modis. Dia lebih nampak seperti mahasiswi dibandingkan seorang dosen. Mereka terus bersorak, suasana kelas sangat gaduh. Beberapa mahasiswa terus saja menggoda Cherry dengan kalimat nakal. "Bu, pulang nanti ngdate yuk!" "Bu, makan siang bareng yuk!" Atau kalimat rayuan seperti. "Rumah ibu dimana? Bisa kali nanti saya antar pulang?" Saat itu Barry semakin tak suka. "Woy! Sopan dikit sama dosen!" teriaknya dari tempatnya duduk. Seluruh kelas menyoraki Barry. "Sok keras Lo, Man!" seru salah seorang cowok yang duduk di sisi lain ruangan. "Tau nih!" sahut yang lain. Barry kemudian mendesis, menghela nafas dan menatap seluruh kelas dengan tatapan kesal. "Kenapa? Ribut Lo sini, Man!" tantang cowok tadi. "Gue salah? Gue kan cuma minta kalian sopan sama dosen!" Barry tak ingin kalah. "Eh, elo lahir tahun berapa sih? Enggak tahu ya yang namanya bercanda!?" "Lo sebut itu bercanda? Itu pelecehan, Man!" tegas Barry. "Pelecehan? Hahahaha! Si Anjir lagi mengarang bebas!" "Eh, Cuk! Elo tau kan kita lagi sesi perkenalan! Ya kali kita diem mematung membisu! Yakali!" cuit yang lain. Barry semakin meradang, dia sontak berdiri dan membusungkan dad4nya. "Wow! Wo! Ada yang mau nyari gara-gara nih! Masih pagi, Man!" "Bar, kalem! Duduk! Kan elo dah komitmen mau kuliah bener-bener!" Shaka menekan bahu Barry hingga cowok tampan itu kemudian terduduk kembali. 'Sialan! Kali ini gue lepasin karena gue lagi berniat untuk sungguh-sungguh belajar di kampus.' Barry mengepalkan tinjunya. Dua orang cowok yang sejak tadi berbalas Kalimat tak enak dengan Barry kini tertawa dan melakukan tos. Mereka pikir merekalah juaranya. "Udah, Bar udah!" Sementara sejak tadi, Cherry hanya memperhatikan pertengkaran mereka dengan melipat dua tangannya di depan. Bersikap tenang karena dirinya selalu mengalami hal semacam ini di setiap kelas. Di semua angkatan, pasti ada saja mahasiswa yang berusaha menggodanya seperti itu. Mungkin Barry benar, hal seperti itu termasuk pelecehan secara verba. Tapi, Cherry tak mau ambil pusing. Tak mungkin dia menuntut setiap mahasiswa yang menggodanya. Kalau dia harus menuntut, entah berapa banyak mahasiswanya yang harus tidur dibalik jeruji besi. Giana nampak sebal, wajahnya sejak tadi ditekuk. Dia tak habis pikir kenapa Barry seperti mati-matian membela di dosen seksi itu. Biasanya Barry tak akan peduli dengan hal semacam itu. Benar-benar membuatnya kesal. Barry seperti berusaha melindungi Cherry. Dan itu benar-benar menyakiti harga dirinya yang notabene adalah kekasih Barry, yang berada di kelas yang sama dan menyaksikan sikap Barry tadi. "Sudah debatnya?" Tanya Cherry setelah berdeham. "Tau nih, cowok-cowok berisik banget kaya emak-emak di pasar!" omel salah seorang mahasiswi. "Yeee! Cemburu ya, Neng? Apa mau digodain juga!" "Idih!" "Hahaha, nanti pulang kuliah. Abang anterin ke rumah ya!" Balas cowok tadi. "Cih!" balas si cewek. Mereka baru dua hari bersama menjalani masa ospek dan perkenalan dengan dosen. Jadi, sebagian besar belum saling mengenal satu sama lainnya. Wajar saja jika ada percakapan semacam itu. Biasanya lambat laun mereka akan akrab dan kompak. "Sudah ya, sekarang silahkan sebutkan nama kalian ibu mau kenal kalian satu persatu!" ucap Cherry setelah kelas kembali tenang. "Nah, dimulai dari sudut depan. Silahkan perkenalkan diri ya!" Barry menatap fokus ke arah Cherry, sementara Giana gusar memperhatikan Barry yang seperti teracuni oleh kecantikan sang dosen. Barry benar-benar membuatnya kesal. Sementara Shaka kini tengah memperkenalkan diri, dilanjutkan dengan Rico. Dan berikutnya adalah Barry. "Berikutnya!" Cherry pura-pura tak mengenal Barry. Dan Barry lumayan kesal karena gak dianggap. Padahal mereka cukup saling mengenal. Tapi, kenapa Cherry bersikap seolah ini kali pertama mereka bertemu. 'Barangkali, Tante Cherry amnesia setelah balikan sama cowok si Fin-Fin itu. Entahlah siapa namanya!' batin Barry. "Selanjutnya!" ulang Cherry. Barry berdiri dan mengucapkan satu kata saja. Namanya. "Barry." ucapnya enggan kemudian duduk lagi. "Sudah? Hanya itu saja?" tanya Cherry. Barry menatap ke arah lain, tak mengacuhkan pertanyaan sang dosen. Dia sendiri heran kenapa dia jadi seperti itu. Seperti cowok posesif terhadap kekasihnya. Padahal Cherry hanyalah wanita yang dia dekati karena materi. Sama halnya dengan para tante kaya raya yang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN