Twenty Five

2255 Kata
"Belakangan ini kamu sering banget jalan sama Miss Cherry ya?" tanya Giana saat mereka memiliki janji temu di sebuah restoran cepat saji. Barry sejak tadi hanya diam, semua ruang dalam otaknya seolah tersita, memikirkan Cherry dari waktu ke waktu. "Barry?!" Giana mengibaskan tangan ke depan wajah Barry. "Ehm?" Barry menaikan alisnya sedikit, tampak tak begitu peduli dengan apapun yang akan dikatakan Giana. "Kamu dari tadi kok melamun terus sih? Aku lagi ada di depan kamu nih!" protes Giana. "Iya, kenapa tadi kamu bilang apa, Giana?" "Kamu udah berhenti manggil aku sayang?" "Iya, Sayang. Ada apa? Tadi ngomongnya apa?" Barry sekarang menggaruk bagian atas alisnya. "Bete deh aku!" "Iya, maaf tadi aku enggak fokus." "Tadi tuh aku tanya, kamu tuh sekarang sering nongkrong bareng Miss Cherry ya?" "Miss Cherry? Kata siapa?" "Kata Shaka sama Rico." "Ah, mereka jangan dipercaya." "Tapi, aku juga pernah liat sendiri. Kalian berempat duduk bareng di kafe deket kampus." Barry mencari alasan untuk hari iru. "Oh, itu cuma kebetulan aja ketemu di sana." "Masa?" Selidik Giana. "Iya!" "Kok aku curiga ada sesuatu yang aku enggak tahu ya?" Barry terkekeh pelan. "Sesuatu apa sih? Udah ya Giana, tingkat halu kamu itu sudah parah. Jangan diikuti terus." "Gitu ya? Tapi kamu yakin enggak ada yang aneh?" "Aneh apa sih?" "Sikap kamu ke aku aja berubah! Dan kamu enggak sadar." "Aku cuma lagi berusaha fokus sama kuliah aku, Giana. Itu aja." "Tuh kan, Giana lagi! Kamu yang dulu biasa panggil aku sayang!" "Iya, Sayang! Iya!!!" "Kok kamu bentak aku, sih?" "Ya ampun Giana, siapa yang bentak sih." Barry benar-benar pusing dengan cewek yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu. "Kamu sekarang beda banget! Aku benci sama kamu!" Giana tiba-tiba terisak. "Kok nangis? Aku jahat kenapa sih, Giana? Jangan gitu ih, malu diliatin orang!" "Kamu jahat!" Giana pergi begitu saja dengan airmata terurai. "Giana!" Barry berdecak dan menyusul gadis itu. Mereka berdebat di parkiran kafe yang tak begitu ramai. Pelataran itu berada di sisi kiri bangunan kafe. Beberapa sepeda motor terparkir di sana, termasuk matic Giana dan motor butut Barry. Mereka datang secara terpisah tadi. "Giana, tunggu!" Barry meraih lengannya. "Lepas! Kamu jahat!" erang Giana. "Aku bukan penjahat, Giana!" "Kamu lebih jahat dari cowok manapun!" Giana merasakan sesak di d4danya. Dirinya begitu ingin bicara pada Barry, tentang apa yang menimpanya. Dia ingin berkeluh kesah dan menceritakan segala hal yang dia rasakan. Rasa sakit dan trauma dalamnya. Tapi, di saat seperti ini Barry jutsru benar-benar tidak ada untuknya. Hatinya jadi lebih hancur sekarang. Barry menatap Giana, rahangnya menggertak. Gadis ini, mulai mencari masalah dengannya saat dia tak lagi bisa memberikan uang atau barang berharga lain untuk Giana. Kekasihnya ini, mulai mencari-cari alasan agar mereka bertikai dan pada akhirnya putus. Begitu pikir Barry. "Udah cukup, Giana. Mau kamu apa, hah?" Sentak Barry yang sungguh lelah dengan beragam tingkah random dari kekasihnya itu. "Kamu harusnya ngertiin aku, Barry." Giana menangis, dia sungguh tengah membutuhkan sosok Barry untuk meredam sakitnya itu. "Ngertiin kamu? Sudah berapa ribu kali aku ngertiin kamu, Giana!? Sementara kamu? Pernah satu kali saja kamu mentingin aku? Pernah? Selalu kamu lebih dulu, setelah itu baru aku. Selalu kamu yang lebih penting dari apapun untukku selama ini!" Barry berang. "Barry." Isak Giana. "Kamu mulai cari masalah, kenapa? Karena aku sekarang udah enggak mau kasih kamu uang lagi? Iya? Kamu jadi nyari kesalahan aku dan nyerang aku kaya gini, nyebut aku jahat? Please Giana, jangan egois." "Bukan itu, Barry." Giana merenggut bagian atas rambutnya. "Aku tau, Giana. Sejak awal kamu sama sekali enggak sayang aku. Tapi apa?!Aku berusaha yang terbaik untuk kamu, berharap kamu bisa mencintai aku, suatu saat nanti. Tapi, ini yang terjadi? Kamu cuma cinta sama uang. Selamanya kamu tidak akan berubah!" "Bu-bukan begitu, Barry. Aku.." Giana merasakan tubuhnya mendadak lemah. "Apa? Mau akting sakit? Waktu itu bapak kamu yang sakit, terus Mama kamu, sekarang kamu yang sakit? Maaf Giana, aku enggak punya uang untuk biaya berobat kamu ataupun orang tua kamu!" "Barry." Isak Giana. Gadis itu meremas bagian bawah perutnya, rasanya berdenyut-denyut. Tangannya gemetar. Dia sungguh takut, bayangan Vano tiba-tiba hadir, senyum nakal dengan mata mengerling itu. Membuatnya benar-benar dilanda ketakutan luar biasa. "Kamu mungkin pandai akting, tapi maaf aku udah enggak bisa lagi pura-pura enggak tahu kalau selama ini kamu cuma bersandiwara." "Barry, aku mohon dengerin aku dulu." Lirih Giana. "Dan soal cowok itu. Sepupu kamu itu. Ah, udahlah aku muak Giana." "Kamu tahu sesuatu soal dia?" Rintihan Giana benar-benar tak membuat Barry iba. Giana terlalu sering berpura-pura hingga segalanya nampak tak berbeda. Barry tersenyum pahit. "Cowok itu benar-benar sepupu yang baik dan perhatian ya. Saking baiknya sampai sesering itu jemput kamu pakai mobilnya yang keren." tukas Barry dengan nada sinis, kalimat yang berisi sindiran halus itu seperti skak mat. Giana tertegun, ternyata Barry pernah melihat Vano saat cowok itu menjemputnya di kampus dan membawanya ke apartemennya untuk dinodai, berkali-kali. "Harusnya kamu larang aku, waktu itu." Isak Giana, wajahnya basah sekarang. "Apa?" Barry terkekeh. "Barry, ini yang sejak kemarin ingin aku bicarakan dengan kamu." Suara Giana melemah. "Enggak! Terimakasih! Tapi aku sungguh enggak sanggup dengar apapun tentang dia." "Bukan gitu, Barry. Aku mau cerita kalau.." "Giana, stop!" Barry menghela nafas. "Bar.." Barry menahan agar tak terus berteriak di depan Giana. Dia akhirnya menyerah dari perdebatan panjang ini. Barry berjalan menjauh ke arah motornya. Kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan Giana yang berdiri memegang bagian bawah perutnya. Tubuhnya bersimbah peluh. "Barry." Wajahnya memucat. Kekasihnya itu sudah pergi bersama deru motor bebeknya. Giana mengerang dan kemudian tubuhnya limbung ke bumi. Gelap dan Sunyi. Sesaat dia hanya mendengar helaan nafasnya saja. Sebelum akhirnya benar-benar kehilangan kesadarannya. Sepasang muda-mudi yang baru saja memasuki area parkir itu memekik kaget. Dia memanggil petugas parkir dan satpam kafe untuk mengecek kondisi gadis yang terkapar di tanah. Seorang wanita yang baru saja datang, melihat kerumunan orang di area parkir motor. Dia berjalan mendekat, ingin tahu ada apa gerangan di sana. "Ada apa, pak?" "Ada cewek pingsan, Mbak!" "Pingsan?" Wanita bernama Cherry itu menyeruak untuk melihat gadis yang tak sadarkan diri itu. "Kenapa malah ditonton? Ayo bawa ke rumah sakit!" ujar Cherry sambil menyibak beberapa orang yang ada di depannya. "Ya ampun, Giana!" jerit Cherry terkejut. "Pak, Mas! Tolong bawa dia ke mobil saya!" "Mbak kenal dia? Kita mau nunggu polisi datang, Mbak!" "Dia mahasiswi saya. Kita bawa dulu ke rumah sakit! Tolong bantu angkat tubuhnya ke mobil! Tolong." Pinta Cherry. Beberapa pria yang ada di sana kompak membopong tubuh lemah itu. Cherry panik dan cepat membawanya ke rumah sakit. Giana tergeletak di jok belakang mobilnya itu. "Giana." Lirihnya cemas dan bingung. Di rumah sakit, Cherry menghubungi Barry. Tapi, ponselnya berada di dalam saku celana. Sementara Barry tengah dalam perjalanan ke rumah Cherry. Dokter mengecek kondisi Giana. Membiarkannya tidur di salah satu bilik ruang UGD. Kemudian berkata bahwa Giana mungkin hanya kelelahan. Jika keluarga ingin pemeriksaan lebih lanjut, mereka bisa melakukan beberapa tes untuk memastikan apakah ada hal lain yang membuat Giana pingsan. Tapi, tentu saja segalanya perlu persetujuan orang tua Giana. Cherry sejak tadi sibuk mengubungi Barry tapi tetap belum ada jawaban. "Ah, iya. Aku ada nomor Shaka." Cherry cepat-cepat menghubungi Shaka. Cherry bertanya apakah Shaka kini sedang bersama Barry. Tapi, ternyata sahabat Barry itu tengah berada di rumah. "Shaka, kamu lagi sama Barry enggak?" Cherry bicara pelan karena ruangan itu sungguh tenang. "Apa, kenapa Miss????" Shaka bicara berteriak karena di area rumahnya kini sedang ada pesta dengan panggung dangdut meriah. Acara tetangga yang menikahkan anak bujangnya. "Kamu lagi sama Barry enggak?" "Apa?? Enggak kedengaran Miss!!!" Shaka berusaha melawan suara speaker besar yang menggelegar. "Ya ampun, disitu ada Barry? Saya mau bicara sama dia." "Hah? Strawberry?" "Barry!" Cherry tak sengaja berteriak kemudian menutup mulutnya dan kembali berbisik. "Barry????" Teriak Shaka, disusul suara gendang yang bertalu." "Iya, kamu lagi sama dia?" Bisik Cherry hati-hati. "Duh, kirim pesan aja Miss! Di sini berisik! Maaf!" Cherry memperjelas maksudnya tadi melalui pesan singkat. Kemudian Shaka berkata bahwa dia sedang tidak bersama Barry. Sementara itu Barry baru saja sampai di rumah Cherry. Dia melongok ke dalam dan lagi-lagi mobil Cherry tidak ada di sana. "Dia enggak ada di rumah lagi? Hari ini kemana lagi dia?" Barry seperti amat merindu, dia tak sabar ingin bersua dengan wanita berhati hangat itu. Barry merogoh sakunya, meraih ponsel. "Lho, ini Tante telepon aku berkali-kali. Ada apa ya?" Dia mulai mengubungi Cherry balik. "Halo, Tante. Ada apa?" "Barry, dari tadi Tante telepon kamu." "Iya, maaf aku lagi di jalan, Tante. Ada apa?" "Barry bisa ke rumah sakit enggak?" "Tante kenapa? Sakit apa?" "Bukan Tante, tapi Giana." "Giana?" Barry mengerutkan keningnya. 'Mana mungkin Giana ada di sana, karena baru saja kita ketemu di kafe.' pikir Barry. "Barry!" "I-iya Tante." "Cepet kesini ya, tapi sebelum kesini tolong hubungi orang tua Giana." "I-iya Tante. Sebenarnya ada apa, Tante?" "Sudah, nanti saja jelasinnya. Cepat ya, Barry." "I-iya Tante, iya." Barry menyempatkan diri mampir ke rumah Giana dan membawa mama kekasihnya itu untuk ikut dengannya. Mama Giana berkali-kali bertanya pada Barry, tapi sebanyak itu pula Barry menjawab tak tahu. Mereka dalam perjalanan ke rumah sakit yang disebutkan oleh Cherry tadi. Di rumah sakit, Giana sudah sadar. Cherry sempat membelikan air mineral dan memberinya seteguk. Giana agak bingung kenapa ada Cherry di sana. "Tadi, saya yang bawa kamu kesini. Kamu pingsan di parkiran kafe. Kamu kenapa? Apa yang sakit?" Tanya Cherry peduli. "Bukan urusan, Miss." Tukas Giana kasar. Cherry menghela nafas. Gadis itu benar-benar tak sopan, padahal dia sudah susah payah membawanya ke rumah sakit. "Kamu tidak seharusnya menjawab kasar begitu, Giana. Saya yang bawa kamu kesini." Cherry masih bersuara pelan dan lembut. "Aku enggak pernah minta Miss bawa aku kesini!" Ujarnya tak kalah kasar dengan yang tadi. Cherry menghela nafas dan keluar dari bilik kamar itu. Di saat yang bersamaan, Barry dan Mama Giana datang. "Tante!" Panggil Barry. Cherry menoleh, Giana di dalam terkejut. "Apa? Tante?" Tanyanya. Cherry memberi ruang agar Barry dan Mama Giana bisa melihat kondisi gadis itu. Sementara dia sendiri keluar dari sana. Hari ini, dia baru saja menolong kekasih dari pria muda yang dia sukai. Sungguh lucu. Ditambah lagi, sikap Giana yang tak ramah padanya. Seolah gadis itu tau sesuatu. Cherry tak mau ambil pusing, jika dia stress sedikit saja maka sakitnya akan mulai memburuk. Di luar ruangan, Cherry tak sengaja berpapasan dengan dokter yang menanganinya check up selama ini. Mereka berbincang ringan. Barry keluar dan hendak menghampiri Cherry tapi dia menunggu hingga keduanya selesai bicara. Di akhir obrolan santai itu, sang dokter berkata bahwa dia harus tepat waktu meminum obatnya dan tidak boleh mangkir dari jadwal check up rutin. "Harus tetap rutin minum obat. Yakinlah, selalu ada kemungkinan sembuh." Dokter wanita itu menyalami Cherry dan berlalu. Barry mendekat. "Kemungkinan sembuh?" Ucapnya. Cherry menoleh dan terkejut. "Barry! Sejak kapan kamu di situ?" "Tante sakit apa?" Mata Barry menyorot tajam. "Sakit apa? Tante baik-baik aja." "Jangan bohong!" "Beneran." Cherry tertawa, matanya menyipit. "Dokter tadi bilang kalau Tante masih punya kemungkinan untuk sembuh." Cherry menelan ludahnya. "Tante!" "Barry, kamu pasti salah dengar." "Salah dengar?" Barry menusuk Cherry dengan tatapan curiganya. "Iya. Tadi itu, dokter itu temen Tante. Jadi kita ngobrol sedikit karena kebetulan bertemu di sini." Barry tak percaya dengan jawaban sederhana itu. Jawaban yang terlalu sederhana untuk menjelaskan obrolan singkat itu. "Giana gimana?" Cherry mengalihkan pembicaraan. "Tante, Tante sakit apa? Kemarin juga Tante enggak ada di rumah dan satpam bilang kalau Tante di rumah sakit." "Oh itu, Tante sakit gigi. Iya, sakit gigi." "Tapi, satpam Tante bilang Tante jenguk orang sakit." ujar Berry datar. "Hah? Dia bilang gitu?" Cherry terkecoh oleh kata-kata Barry. "Sebenarnya ada apa, Tante?" Selidik Barry. "Enggak ada apa-apa kok, Barry. Ayok lihat Giana. Tadi Tante nemuin dia pingsan di parkiran kafe." "Parkiran kafe?" "Iya, dia tergeletak di sana." "Kenapa Tante harus tolong dia? Giana itu pinter banget sandiwara, Tante!" "Kamu ini ngomong apa sih Barry. Dia itu pingsan dan orang-orang berkerumun di sekitar dia." "Dia memang suka nyari perhatian!" Barry sungguh masih kesal pada Giana, dan sekarang kesal pada Cherry. "Kamu ini kenapa?" Tanya Cherry. "Udah, biar Barry antar Tante pulang!" "Lho, terus Giana?" "Tan, please jangan pernah berurusan sama Giana." Barry benar-benar ngeri kalau Giana berulah. "Kenapa?" "Udah, ayo pulang!" Barry bersikap seperti pria dewasa. "Barry!" Barry tak peduli dengan protes dari Cherry. Dia menarik Cherry pergi dari sana. "Di mana mobil Tante, biar Barry antar." "Terus Giana gimana?" "Udah ada Mamanya." "Tapi, Barry." "Tante, Barry mohon Tante jangan peduli lagi sama Giana. Dia itu..." "Apa?" "Sudahlah, Tante. Ayo pulang aja." "Tante tau kok dia pacar kamu." "Bukan itu masalahnya." "Terus apa?" Barry nampak sangat emosional. Dia tak lagi bicara. Meminta kunci dengan gerakan tangan, kemudian membukakan pintu untuk Cherry. Dia sendiri duduk dibalik kemudi dan membawa mobil itu pergi dari rumah sakit. Cherry seperti gadis muda yang menuruti apa kata kekasihnya. Dia kini hanya diam karena Barry masih terlihat marah. Rahangnya mengeras sepanjang jalan. Benar-benar bukan situasi kondusif untuk bicara. Benar-benar rumit, segalanya saling berhubungan seperti ini. Cherry sendiri berusaha mencerna apa yang ada di pikiran Barry. Mengapa dia begitu marah hanya karena Cherry menolong kekasihnya. Di sisi lain, Barry tau pasti bagaimana Giana. Gadis itu pandai bermain kata. Entah apa yang akan dia katakan pada Cherry tentang Barry jika dia dibiarkan dekat-dekat dengan Cherry. Barry benar-benar tak mau Giana bercerita apapun soal dirinya kepada Cherry. Mengerikan sekali jika Cherry tahu bagaimana tingkah Barry yang gemar mengoleksi para Tante. Dia ingin berubah sekarang. Jadi, masa lalu itu harus terkubur dalam-dalam. Jika dirinya harus putus dari Giana, maka akan dia lakukan dengan baik-baik. Giana pastilah sudah tak menginginkan Barry yang sudah tak mau lagi berburu uang dan barang berharga untuk Giana yang matre itu. Sudah jelas, seperti apa akhir dari hubungan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN