Mereka sampai di kediaman Cherry. Cowok dengan Hoodie dan jeans biru tua itu menyerahkan kunci mobil kepada si empunya.
Cherry baru saja hendak menawarkan Barry untuk mampir ke rumahnya. Tapi, Barry rupanya lebih dulu bicara.
"Masuklah, Tan. Barry pulang dulu." Dia masih bermuka masam.
Cherry hanya mengangguk dan menerima kunci dengan remote berwarna hitam itu. Dia berdiri di dekat pintu masuk sampai Barry keluar dari gerbang.
Gerbang megah yang agak berat itu didorong kembali oleh satpam, tertutup seperti sediakala.
Tinggal Barry yang bingung di depan saja.
"Lah iya, motor gue kan di rumah sakit ya!" Dia menepuk dahinya keras-keras.
"Dih, oon banget gue anjir!" Umpatnya sambil menggaruk brutal bagian belakang tengkuknya.
"Pesen ojek online aja deh!" Dia mengecek biaya ojek dari rumah Cherry ke rumah sakit tujuan.
"Tiga puluh lima ribu, hem." Dia manggut-manggut dan memeriksa saku celananya.
Tidak ada uang di sana.
"Duit seratus ribuan dari Babeh kemana ya?" Gumamnya sambil merogoh ke sana kemari.
"Kok enggak ada!?" Dia celingukan mencari ke area sekitar tempatnya berdiri barangkali kertas bernilai itu terjatuh tadi. Tapi, tidak ada apa-apa di sana, kecuali dedaunan kering. Nihil.
"Astaghfirullah, kan buat bayar minuman sama makanan di kafe tadi." Barry buru-buru mengecek dompetnya, ada selembar uang sepuluh ribuan, kembalian dari kafe.
Dua menu makanan dan minuman yang Barry pesan seharga sembilan puluh ribu, masing-masing empat puluh ribu satu paketnya.
"Huft! Sisa sepuluh ribu!" gerutunya kesal.
"Jadi gue gimana ini? Ah, telepon Shaka aja suruh kesini."
Barry mendial nomor sahabatnya itu, kemudian dengan urat leher bermunculan, dia ngotot memaksa Shaka untuk datang menjemputnya.
Shaka sedang sibuk tapi terpaksa datang karena Barry mengancam dengan berbagai cara.
"Iya gue dateng! Share lokasi deh buruan!" Omel Shaka yang sebal.
Barry nyengir dan kini aman, dia hanya tinggal duduk di trotoar sambil menunggu Shaka datang.
"Woy Bar!" Seru Shaka dari seberang.
Barry mengernyitkan kening sambil menatap ke arah asal suara. Kemudian berjalan mendekat dan tertawa terbahak-bahak.
"Pfffttt!! YAHAHAHAHAHAHAHA!" Barry tergelak.
"Berisik!" Shaka merengut.
"Lo ngapain pake baju adat begitu!? Mau lomba tujuh belasan apa gimana? Hahahaha!"
"Sialan Lo! Gue lagi jadi pager bagus, elo malah rese nyuruh gue kesini!" Keluh Shaka sebal.
"Hahaha, gue kira mau ngelenong Lo, Sak. Kagak sekalian pake kostum ondel-ondel?!" Barry terus saja tertawa.
Shaka mengenakan baju adat Betawi berwarna pink cerah dengan berbagai hiasan di bagian depannya. Celana dengan warna senada, peci berwarna hitam. Serta make up tebal dengan alis, jambang dan kumis buatan membuat Barry tak bisa berhenti tertawa.
"Sialan, Lo! Diem enggak! Dilihatin orang tuh!"
"Lagian elo ngapain sih hahahaha anjir perut gue sakit."
"Dih, gue bilang gue lagi jadi pager bagus! Nerima tamu undangan! Tetangga gue pesta, Anjir!"
"YAHAHAHAHAHAHAHA, jadi pager bagus segala. Muka lu aja kagak ada bagus-bagusnya."
"DIEM ENGGAK! GUE TINGGAL NIH!"
"Iya, sorry-sorry hahaha." Barry naik di jok belakang motor, masih terpingkal-pingkal karena dandanan Shaka yang seperti ondel-ondel.
"Berisik amat! Gue jedotin nih motor ya! Biar gue anterin elo ke neraka sekalian."
"Lagian elo kaya mau sunatan masal hahahaha!"
"Gue kagak bisa hapus make up, soalnya disuruh bantu-bantu sampe malem!" Ujar Shaka.
"Lagian nurut aja!"
"Ya elo, Bar. Kayak enggak tahu aja emak-emak kalau udah nyuruh apa-apa kagak bisa ditolak!"
"Wkwkwkwk."
"Berisik! Gue turunin di sini nih!" Ancam Shaka.
"Tapi kocak bat, orang-orang jadi ngeliatin kita." Barry tertawa sampai airmatanya keluar.
"Eh, mereka pada liatin kita segara elo yang ketawa terus!"
"Hahahaha! Iya oke gue diem oke!"
Shaka merengut, dia bahkan lupa memakai helm. Padahal benda itu sangat penting untuk menjaga keselamatan dan menjaga uang dalam dompetnya. Kalau kena tilang kan harus bayar denda. Dasar Shaka.
"Sak, belok kanan!"
"Kok belok kanan? Kiri!"
"Kanan, Sak!"
"Kiri, begok! Lo amnesia? Lupa sama rumah Lo sendiri?"
"Eh, gue mau ambil motor di rumah sakit!"
"Ha! Mak-maksudnya?"
"Ya kita ke rumah sakit! Motor gue di sana!"
"Lah! Si anjir! Ya kali gue ke rumah sakit pake pakaian gini!"
"Udah enggak apa-apa, elo tunggu di luar aja nanti gue masuk sendiri!"
"Ya elah, Bar! Elo kapan si berhenti nyusahin gue! Tengsin gue ini ke rumah sakit pakai kostum begini."
"Udah, kagak apa-apa. Bilang aja elo mau ada acara lenong wkwk."
"Sialan, emang!"
"Wkwk!"
"Gimana ceritanya sih motor elo ada di rumah sakit?"
"Udah, nanti aja ceritanya. Panjang soalnya, Sak."
Kemudian mereka saling diam selama perjalanan. Sampai tiba di pintu masuk rumah sakit. Barry turun, Shaka sudah hendak menancap gas.
"Sak, tunggu!"
"Apa lagi sih!?"
"Bagi gue duit buat bayar parkir."
"Emang bener-bener anak set4n Lo ya, Bar!"
"Udah buru, kalau kelamaan elo bisa jadi tontonan orang! Wkwk!"
"Sialan!" Shaka mengeluarkan dompet dari bagasi motornya.
"Nih, ceban!" Shaka mengulurkan selembar uang ke arah Barry.
"Jangan ceban, Sak!"
"Ya elah, elo parkir di dalem situ berapa tahun sih emang? Spampe kagak cukup ceban?"
"Soalnya bensin gue kering, Sak!"
"Astaghfirullah aladzim!"
"Nyebut, Sak?"
"Kagak! Lagi kumur-kumur gue! Nih, semuanya tiga puluh! Besok ganti ya!" Shaka kesal.
"Elah, iya deh iya!" Barry menyambar uang di tangan Shaka.
"Dah, gue balik!" Shaka menstater motornya.
"Syuh!" Usir Barry sambil menggerakkan tangannya seperti mengusir ayam.
"Sial4n!" Shaka menendang ke udara dan kemudian pergi dengan terburu-buru. Apa jadinya pesta tanpa pagar bagus yang tampan seperti dirinya.
Barry melangkah dengan gontai. Dia kesini hanya untuk membawa kembali sepeda motor warisannya. Tapi, di persimpangan arah ruang UGD dan parkiran, langkahnya terhenti. Dia teringat ada Giana di dalam sana.
"Apa dia udah balik ya? Dia kan cuma pura-pura, pasti langsung disuruh balik kan?" Ujarnya seorang diri sambil menatap jalan ke arah ruang UGD.
"Bodo ah! Lagian dia sama Mamanya. Enggak mungkin kenapa-kenapa kan di dalem?" Barry melanjutkan perjalanan ke arah parkiran motor.
Beberapa menit kemudian dia sudah berada di jalan raya lagi. Ke arah pulang karena sudah tak ada tempat tujuan lagi. Selain itu, uang dalam sakunya hanya pas untuk isi bensin saja karena tadi sudah dipakai untuk membayar parkir.
Sesampainya di rumah, Barry membaringkan diri di atas bale kesayangan sang Babeh. Emaknya buru-buru keluar, wanita itu sudah rapih dengan gamis dan sandal dengan banyak manik-manik.
"Bar, kemana aja si! Ditungguin dari tadi juga!" Omel Ibunya.
"Apaan sih, Mak! Baru juga dateng udah diomelin aja."
"Gue dari tadi nungguin! Buruan mandi! Anterin emak!"
"Anterin kemana? Ah, ogah!"
"Buruan!" Emaknya memukul paha Barry.
"Mau kemana sih, Mak? Barry kan capek!"
"Anterin kondangan!"
"Ya ampun! Sama Babeh aja kenapa!" Babeh udah kesana tadi pagi sambil nganterin penganten.
"Yaudah sendiri aja! Sama emaknya dini kek naik odong-odong. Kan biasanya gitu!"
"Het ini anak! Udah sana mandi! Bentaran doang juga!" Emaknya ngotot.
"Astaghfirullah, Mak!"
"Pake nyebut Luh! Sholat jarang, pake acara nyebut!"
"Ih, Emak!!!!"
"Buruan mandi! Sekalian elu nanti makan prasmanan, Emak kagak masak!"
"Kondangan di mana si emang?"
"Itu, tetangganya si Shaka!"
"Ha?" Barry sontak beranjak duduk.
"Tetangga si Shaka, Mak?"
"Iye."
Barry terkekeh. Kesempatan emas, untuk mempermalukan Shaka. Barry mendadak senang sekali.
"Malah ketawa! Stress!"
"Oke mak, bentar Barry ganti baju dulu ya!"
"Mandi!"
"Enggak ah!"
"Ya Allah itu anak!" Keluh Emaknya.
*
"Sebenarnya ada apa antara Barry dan Giana? Apa mereka jadi punya masalah karena kehadiran aku?" Cherry merenung di kamarnya.
Dia baru saja mandi, berganti pakaian santai dan berbaring di atas tempat tidurnya yang nyaman. Memperhatikan foto profil Barry di akun media sosialnya.
Cowok itu, nampak sangat tampan bak para model. Tubuhnya tinggi dengan tungkai kaki panjang yang tak terlalu kurus.
Dalam foto itu, Barry mengenakan jaket kulit dan tengah duduk di atas motor gede berwarna merah. Dia benar-benar keren dengan gaya seperti itu.
Sayangnya, semua benda yang dia pamerkan dalam foto itu bukanlah miliknya. Hasil meminjam dari teman sekolahnya dulu yang merupakan anak orang tajir. Sengaja dia pinjam jaket seharga belasan juta dan motor mewah itu hanya untuk mengambil foto, sebagai profilnya di dunia maya.
Cherry mulai menscroll akun sosial media Barry. Dia senang sekali menatap wajah tampan bak pangeran dari negeri dongeng itu. Belasan foto pernah Barry upload ke feed Instagramnya.
Sampai Cherry menemukan sebuah foto yang sepertinya diambil di tepi pantai. Cherry mengkliknya, foto itu menjadi seukuran layar ponsel Cherry.
Wanita cantik itu tersipu, Barry benar-benar tampan di sana. Foto hasil jepretan kamera biasa itu jadi seperti sebuah lukisan karena obyeknya terlalu tampan dengan background indah.
Cherry membaca rentetan komentar dalam foto itu, ada akun Giana yang menyematkan satu emoticon love berwarna merah. Ada akun Shaka dan Rico yang komentar dengan kata-kata kasar yang terasa lucu karena konteksnya hanya bercanda.
Dan ada beberapa komentar lain. Cherry menemukan sebuah akun dengan foto profil tak biasa, tak biasa karena akun itu memberikan komentar manis di foto Barry.
"Manisku." Cherry membaca pelan komentar dari akun dengan foto profil potret satu keluarga itu.
Rasa penasaran membawa Cherry mencari tahu akun siapa gerangan itu.
Dia pikir itu akun orang tuanya. Tapi, setelah dia cek akun itu, ternyata tidak ada foto Barry satupun di sana. Wanita di foto itu hanya memiliki dua anak perempuan yang masih kecil, sesuai foto profil yang dia gunakan. Lengkap dengan pria berseragam militer yang sudah pasti adalah suaminya.
"Siapa ya? Ah, mungkin kerabat Barry." Cherry tak terlalu mempermasalahkan itu.
Tapi, di foto berikutnya dia menemukan komentar yang senada tapi dari akun berbeda. Cherry mulai bingung.
"Barry kesayanganku." Tertulis komentar di foto yang sudah di posting sejak tahun lalu itu.
Dua alis Cherry mengernyit.
"Apa ini kerabatnya juga? Tapi, para wanita ini terlihat bukan dari kalangan biasa. Sementara keluarga Barry seperti berasal dari keluarga biasa saja."
Barry termasuk jarang memposting foto di feed Instagramnya. Hanya beberapa bulan sekali, hanya foto yang benar-benar estetik menurutnya. Tapi, di setiap foto yang jarak postingnya terpaut beberapa bulan itu selalu ada saja komentar manis dari akun berbeda, namun semua akun itu adalah milik wanita dewasa yang telah bersuami.
Dari sosok yang Cherry liat, kebanyakan wanita itu mungkin berusia sekitar dua puluh tujuh hingga tiga puluh lima tahunan, berbeda-beda usia mereka.
Hampir semua wanita itu memiliki suami dengan usia yang jauh lebih tua dari mereka. Tapi, bisa dipastikan semuanya berasal dari kalangan menengah ke atas. Menikah karena uang? Tapi itu urusan mereka. Bukan urusan Cherry. Hanya saja, yang dia heran adalah mengenai hubungan mereka dengan Barry.
"Apa ini cuma komentar spam atau iseng aja ya? Tapi Barry juga follow mereka. Jadi, pasti mereka saling kenal." Mendadak Cherry merinding.
Pria muda dengan sebuah misteri, yang seharian ini benar-benar membelenggu pikiran Cherry. Sepertinya Cherry benar-benar jatuh dalam cinta Barry.
Si mbak masuk membawakan segelas teh hangat.
"Non, enggak makan?" Tanyanya penuh perhatian.
"Nanti aja, Mbak."
"Ini, teh hangat. Gulanya sedikit."
Cherry tersenyum.
"Makasih, Mbak." Cherry meletakkan ponselnya dan menerima gelas teh itu.
Si mbak duduk di tepi tempat tidur, melirik ke arah ponsel yang menjukkan potret Barry.
"Dokter bilang apa, Non? Kemarin habis check up kan?"
"Emh?" Cherry meneguk teh sedikit.
"Ya, biasa. Gitu aja sih kasih semangat." Cherry meletakkan gelas itu di atas meja kecil dekat tempat tidur.
Si mbak kembali melirik ponsel Cherry yang tak lama kemudian padam layarnya.
"Den Barry itu, anaknya baik ya Non." ucapnya.
"Kok tiba-tiba jadi bahas Barry, Bi?" Cherry menatap Mbak dengan tersenyum.
"Yah, kan emang dia baik anaknya."
"Iya, dia anak baik, Mbak."
"Kayaknya enggak apa-apa ya kalau Non pacaran sama dia."
Cherry terkekeh pelan.
"Si mbak ini ada-ada aja deh!"
"Lho, bener Non. Kan non Cherry juga masih muda. Cocok lho sama Den Barry."
"Ehm, enggak tahu deh Bi." Cherry menatap keluar jendela yang tirainya terbuka.
"Non, apapun yang sedang Non alami sekarang. Tetap saja, Non selalu pantas dan berhak untuk bahagia."
Cherry menghela nafas.
"Non harus ingat itu ya, Non harus bahagia. Umur tetap jadi rahasia Allah, Non. Jangan terlalu menderita hanya karena perkataan dokter yang bahkan enggak tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya sendiri."
Cherry mengangguk, airmatanya tak terasa meleleh begitu saja.
"Tapi, tetap Non harus tetap jalani semua proses pengobatan. Percayalah bahwa keajaiban itu ada."
"I-iya, Mbbak." Lirihnya pelan.
Si mbak memeluk Cherry, wanita itu menangis tersedu. Tiba-tiba saja dad4nya sesak.
Kenangan indah dan rentetan rencana jangka panjangnya bersama Kefin mendadak hadir kembali. Semua itu dia tinggalkan hanya karena ingin menjaga hati Kefin. Hanya karena tak ingin pria itu terluka. Pada awalnya, itulah rencananya.
Tapi, apakah dia menyesali itu sekarang? Apakah masih ada jalan untuknya kembali ke masa itu? Tapi, hati kecilnya selalu mencegahnya setiap kali dia ingin memulai kembali hubungannya dengan Kefin.
Dan, kini dia terjebak dalam cinta yang baru. Pria yang lebih muda darinya. Yang mengira dia adalah wanita dewasa sudah menikah. Selalu menyebutnya "Tante" dari waktu ke waktu. Tapi, Cherry nyaman dengan itu.
Alih-alih terdengar seperti panggilan seorang bocah kepada tantenya. Sebutan itu lebih seperti panggilan sayang dari Barry untuknya. Sebutan hangat yang tak dia dapatkan dari pria manapun.
"Barry itu baik, kalau Non merasa nyaman di dekat dia. Enggak ada salahnya Non berhubungan serius dengan dia."
"Tapi aku sakit, Mbak." Isak Cherry.
"Non, selalu ada obat untuk orang sakit. Merasa bahagia juga merupakan obat."
"Aku takut dia kehilangan aku nantinya."
"Siapa yang bisa jamin itu? Karena bisa saja Non yang akan kehilangan dia nantinya. Iyakan?"
Cherry melepaskan pelukannya.
"Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi nanti. Yang jelas, Non harus mencari kebahagiaan Non agar Non terus bertahan dan melanjutkan hidup."
Bibir Cherry bergetar, dia terus terisak karena pedih yang dia rasakan di hatinya kini.
"Non, Mbak mau lihat Non ketawa lagi. Seperti saat Non sedang bersama dengan Barry. Non benar-benar kelihatan bahagia bersama Barry."
"Tapi, Kefin gimana Mbak?"
"Maaf ya, Non. Tapi Mas Kefin itu semakin kesini semakin terlihat sifat aslinya. Dia temperamen, sering marah dan kasar ke Non. Mbak enggak suka dia." ucap si Mbak penuh kepedulian kepada Cherry.
Cherry terdiam, perkataan si mbak ada benarnya. Kefin sekarang sering bersikap kasar terhadapnya.
"Dan lagi, Non. Kok Mbak curiga ya kalau Mas Kefin itu sebenarnya menginginkan harta Non."
"Masa sih, Mbak?"
Mbaknya mengangguk.
"Jadi, saran mbak. Non jalani saja dan ikuti kata hati Non. Bukan sebuah kesalahan kalau Non mulai membangun sebuah hubungan dengan Barry. Itu normal Non."
"Bener Mbak?"
Mbak mengangguk mantap dan tersenyum.
"Apa enggak apa-apa kalau aku mencintai mahasiswa aku sendiri?"
"Non ini masih muda. Bahkan keliatan seumuran dengan Den Barry. Jadi, itu bukan masalah. Dan lagi, Mbak lihat Den Barry itu sepertinya tulus sekali sayang sama Non Cherry."
"Iya, Mbak. Anak itu memang baik dan manis."
"Nah, gimana kalau sesekali Non main ke rumah dia? Ketemu sama orang tua dia."
"Ah, aku belum siap, Bi."
"Kalau belum siap, gimana kalau undang dia makan malam di rumah? Nanti mbak masakin makanan enak untuk makan malam."
"Serius, Mbak?"
"Iya, gimana?"
"Boleh, aku telepon dia sekarang ya, Mbak." Wajah Cherry kembali cerah seperti anak kecil yang senang karena menerima sebatang cokelat manis.
Mbak mengangguk dan mengusap lengan Cherry sebelum akhirnya turun ke bawah dan memeriksa isi lemari pendingin.