Twenty Seven

1048 Kata
Barry baru kembali dari pesta tetangga Shaka. Dia puas sekali memotret rupa Shaka yang lebih mirip seperti pengantin sunat dibandingkan pagar bagus. Tak lupa dia mempostingnya di story' i********: dan membagikan ke grup kelas mereka. Shaka cemberut dan terus saja mengumpat dalam hati. Tak disangka di hari sibuk ini dia bertemu Barry sebanyak dua kali, dan sebanyak itu pula Barry menggodanya dan tertawa di depannya. Barry berbaring di bale depan rumahnya. Masih lengkap dengan kemeja dan celana bahan, kostum kondangan yang disiapkan sang ibu. Katanya agar terlihat rapi seperti calon guru pada umumnya. "Calon guru, Bisul!" Barry terkekeh sendiri saat menyentuh celana bahan yang masih melekat di kakinya. "Emang ada murid yang mau diajarin sama guru kaya gue?" Gumamnya seorang diri. "Bar, ngapain lo?" Gadis bernama Dini menghampirinya, duduk di sisi Barry. Tak ada rasa canggung meski Barry sedang berbaring menghadap langit. Mereka sudah kenal sejak kecil. "Yang Lo liat gue ngapain?" "Dih, ditanya malah gitu! Nyebelin!" Dini mendengus. Barry beranjak duduk. "Eh, Din. Gue tau elo demen banget sama gue! Tapi, ya bukan salah gue kalau gue enggak bisa bales perasaan elo!" "Elo ngomong apaan sih, Bar? Pede banget! Siapa juga yang naksir elo!" "Terus, Lo ngapain sebarin gosip aneh?" "Gosip aneh apa? Dah ah gue mau nyuci piring!" Dini yang membawa sabun cuci karena baru kembali dari warung itu berniat pergi. Tapi Barry menahannya dengan cara menarik lengan gadis itu. "Eh, tunggu dulu!" "Apaan sih, Barry! Bukan muhrim!" "Dih, terus gue harus halalin elo dulu gitu?" "Ish!" "Din, dengerin ya! Elo jangan suka tebar gosip deh soal gue!" "Enggak ish, kurang kerjaan amat! Dah gue mau balik!" Barry membiarkan gadis anak tetangganya itu pulang ke rumah bersama dengan sabun cuci di tangannya. "Pusing banget gue. Di kampus ada Giana, di sini ada Dini. Ribet deh cewek-cewek. Salah gue juga sih kenapa terlalu ganteng!" Kemudian dia merebahkan diri lagi. Terlelap karena semilir angin sore yang sangat sejuk. Ditambah perut kenyang karena makan di acara pesta tadi, melahap dua piring nasi beserta lauk pauk. Kemudian dua porsi siomay dan segelas es cendol. Tak lupa buah potong juga dia jejalkan agar semuanya masuk ke dalam lambungnya. Adzan magrib berkumandang, bapaknya yang hendak pergi ke surau mengomel karena menemukan Barry tidur di bale depan. "Bar, bangun magrib!" "Iyaa ah!" Erang Barry enggan bangun. Bapaknya berlalu, kemudian datang ibunya sambil membawa sajadah dan mukenah. "Bar, magrib! Mandi! Sholat jamaah di mushalla!" Titah sang Ibu. "Iyaaaaa! Set dah kagak bisa banget liat orang senang ya!" "Senang-senang!! Bangun kagak lu? Apa perlu gue .." "Iya Mak ampun! Barry bangun nih!" Barry cepat bangun dan kabur ke rumah, kemudian tidur lagi di kamarnya. Sementara orang tuanya beribadah di surau, sang anak justru melanjutkan kembali mimpi indahnya. Pukul enam tiga puluh petang. Ibu dan Bapak Barry kembali dari surau. Mereka mencium aroma harum di sekitar rumah. "Wangi apaan nih?" "Tau, apa ya? Kaya wangi apa ya?" Tanya Babeh Barry. "Hiy, mana malem Minggu." Ibu Barry ngeri. "Iya, ngeri!" Benar saja dugaan mereka. Malam minggu dan aroma wangi ini, tak lain dan tak bukan adalah ciri-ciri khusus sebuah peristiwa yang kerap terjadi. Anak laki-laki mereka, sudah rapi dengan Hoodie biru muda, sepatu sneaker putih dan celana model joget berwarna abu-abu. "Mau kemana lu?" "Biasa!" Barry bersiul-siul karena girang. Lima menit yang lalu, dia menerima telepon dari Cherry. Panggilan mendadak berisi ajakan makan malam bersama. Tentu saja itu tak akan Barry lewatkan begitu saja. Dia secepat kilat mandi dan berganti pakaian. Sekarang dia sudah berada di atas motornya. Kecepatannya melebihi kecepatan cahaya di galaksi Bima sakti ini. Bersiul-siul seraya memanaskan mesin motor agar tidak berhenti mendadak di tengah jalan. "Anak gue cakep bener! Jangan aneh-aneh ya! Jangan mainin cewek!" Ujar Bapaknya. "Yah babeh, pake motor butut begini mana bisa mainin cewek!" "Iya juga ya!" "Dah ah, Barry jalan! Emakkkk Barry jalan ya, Makkkkk!!" Teriaknya. Bersiul-siul lagi. Sepanjang perjalanan dia bersenandung, lagu apa saja yang dia ingat dan yang muncul di kepalanya. Bersiul, bergumam memuji wajah dalam spion motornya yang amat tampan. Kemudian bernyanyi lagi. Benar-benar perilaku random pria muda yang tengah dilanda romansa indah di sabtu malam. Cherry menunggu Barry, dia sudah tampil cantik meksi hanya mengenakan pakaian santai. T-shirt orange muda dengan celana pendek jeans cokelat. Sandal jepit dengan hiasan bulu melekat sederhana di telapak kakinya. Dia mengecek hidangan di atas meja, sudah siap semua lengkap dengan cake dan buah segar yang baru dicuci olehnya. Dia sendiri turun tangan membantu si mbak mencuci sayur dan buah. Karena untuk memasak, dia tidak bisa. "Non, si Aden udah datang." "Iya?" Cherry berlari seperti anak kecil, ada kelopak bunga berterbangan dalam hatinya. "Tante." Sebuah senyuman hangat bersinar setelah pintu depan itu terbuka. "Barry." Sapa Cherry senang. "Tante." Ulang Barry. Dia agak kaget karena celana yang dikenakan Cherry amatlah minim. Berusaha menahan diri dengan berkali-kali menelan liurnya sendiri. "Masuk yuk!" Cherry meraih lengan Barry dengan cerita, rambutnya yang panjang bergelombang menjuntai-juntai karena cara berjalannya yang seperti anak-anak. Barry kikuk sekali, ini bukan kali pertama mereka bersama. Tapi, Cherry selalu saja berhasil membuat dirinya kikuk. Debaran dalam hatinya selalu dalam suasana baru di setiap kali yang berbeda. "Tante, beda banget kalau di rumah sama di kampus." "Beda ya? Kalau di kamar apalagi, lebih beda." "Ha? Uhuk-uhuk!" Barry tersedak liurnya sendiri. "Hihihi, bercanda ih!" Cherry tertawa, matanya menyipit gemas. Barry jadi malu, wajahnya pasti semerah cabai. Mereka masuk ke ruang makan. "Nah, Barry. Lihat nih, Tante masak banyak!" Barry melotot, tumpukan makanan di ususnya belum tergerus dengan sempurna, tapi kini dia harus menambahkan beban para onderdil perutnya untuk lebih giat lagi mencerna makanan, yang kini masih ada di meja makan rumah Cherry. "Wah, keliatan enak semua!" Puji Barry, meskipun dia sudah merasa mual sekarang. 'Anjir, begok banget gue! Kirain ngajak makan malam cuma alasan aja, mau ketemu gue. Enggak taunya beneran makan malam!?' batin Barry ngeri karena perutnya masih kenyang tapi harus makan lagi. 'Duh, mana es cendol tadi masih di tenggorokan, belum turun ke bawah!' tambahnya merasa merana tak berdaya. "Barry? Kenapa kok bengong? Ayo duduk!" ajak Cherry. "Ha? Eh iya, Tante." Barry duduk dengan keringat dingin. Dia harus makan lagi, benar-benar mengerikan sekali hari ini. 'Mampus gue. Habis ini gue seminggu kagak makan gegara kekenyangan.' gumamnya dalam hati. "Ayo, jangan malu-malu, Aden." Barry nyengir kuda meksipun di dalam hati dia menderita karena perasaan kenyang yang membuat perutnya agak sakit itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN