Twenty Eight

1440 Kata
"Giana gimana? Udah baikan?" tanya Cherry. Barry yang sedang memotong daging di piringnya tertegun. Tersenyum tipis dan menggeleng. Jawaban atas tanya Cherry, dia jawab dengan gestur itu. "Enggak tau? atau belum baikan?" "Enggak tahu, Tan." "Kenapa kamu enggak tahu? Kamu kan pacarnya?" Cherry begitu ingin tahu status hubungan dua sejoli itu. Dia begitu agar kelak dapat menentukan akan melanjutkan hubungannya dengan Barry atau tidak. Barry diam, meletakkan garpu dan sendoknya. "Ma-maaf, Tante cuma.." "Enggak apa-apa kok, Tante. Tapi, Barry memang enggak tahu kabar Giana." "Tante tanya ini hanya untuk jaga-jaga. Apa hubungan kalian berantakan karena kehadiran Tante?" Cherry serius saat menanyakan itu. "Sama sekali enggak, Tante. Sejak awal, hubungan kami memang tidak sehat." "Tidak sehat?" selidik Cherry. 'Tidak sehat bagaimana? Apa mereka gemar melakukan hal-hal diluar batas wajar seperti berhubungan bebas atau semacamnya?' pikir Cherry. 'Apa sebaiknya aku kasih tahu Tante Cherry ya? Soal aku dan Giana?' Barry bimbang. "Barry?" "Ehm, sejak awal Giana memang enggak pernah sayang sama Barry, Tante." "Lho, kok gitu? Gimana bisa kalian pacaran tapi salah satunya enggak punya perasaan?" "Itulah, Tante. Mungkin kita ini dulu cuma remaja labil aja. Pacaran karena iseng aja. Sama sekali enggak ada tujuan jelas akan kemana atau bagaimana." Cherry mencoba mencerna bahasa Barry yang menjelaskan soal dirinya dan Giana. "Jadi, sekarang kalian bagaimana?" tanya Cherry. Barry mengedikkan bahu. Cherry sangat gemas karena sepertinya pria muda di depannya ini kurang begitu peka. Jelas-jelas Cherry bertanya ini dan itu dengan tujuan ingin melihat arah hubungannya dengan Barry. Mereka kemudian saling diam, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring keramik yang mereka gunakan. Barry tiba-tiba badmood karena Cherry mulai membahas Giana. Ada kecemasan di dalam benaknya. Dia tak ingin hubungan yang sedang dia bina ini, nantinya hancur dan tak berjalan sesuai dengan inginnya. Usai makan, mereka duduk-duduk di sisi belakang rumah mewah itu. Sebuah kolam dengan biru airnya beriak, karena angin cukup kuat malam itu. Di dekat kolam itu ada kursi-kursi malas yang berjajar rapi. Ditemani dengan sebuah meja terbuat dari kayu yang warnanya masih seperti aslinya. Dibiarkan seperti itu agar terlihat natural. Pemandangan di situ cukup asri dengan banyaknya bunga dan tanamam hias yang terawat dengan apik. Cherry dan Barry duduk di tepi kolam. Kaki mereka masuk ke air sebagian. Langit malam cukup cerah meski angin sejak tadi sibuk menggoyangkan dedaunan. "Rumah Tante, nyaman banget ya." Puji Barry yang baru pertama kali ke sisi belakang rumah Cherry. "Yah, lumayan." Cherry menatap air di kolam yang amat jernih hingga dasarnya terlihat. "Kelak, Barry juga mau punya rumah sebesar ini. Tapi apa bisa ya?" "Bisa kok, rumah ini untuk Barry aja." "Eh?" Barry kaget dan menoleh. Cherry tertawa. "Bikin kaget aja, Tante. Bercandanya lucu banget." ucap Barry. "Emang kalau enggak bercanda, Barry mau?" tanya Cherry. "Hah?" Cherry tertawa lagi. "Luka kamu udah sembuh?" Dia menyentuh pipi Barry. Cowok itu tertegun dan membiarkan Cherry menyentuh wajahnya. Mengangguk kecil dan balas menatapnya lembut. "Maaf ya, soal hari itu." Cherry menarik kembali tangannya. "Ah, laki-laki mah biasa Tante. Ribut-ribut kecil gitu udah bukan hal baru." "Masa sih?" "He-em, apalagi kalau ribut-ributnya itu karena memperebutkan wanita yang emang pantas direbutin." "Eh? Sekarang gantian mau usilin Tante ya?" "Hehehe, memang kenyataannya gitu kan?" "Emang kamu merasa rebutan Tante?" "Menurut Tante gimana? Oh ya, Tante. Barry boleh enggak berhenti panggil Tante?" "Kenapa?" tanya Cherry. "Kan Tante masih muda. Jadi, boleh dong kalau Barry panggil nama aja?!" Cherry menggeleng. "Kenapa?" "Kenapa ya, ehm.. biarkan itu jadi panggilan sayang Barry untuk Tante." "Tapi kan usia kita beda dikit. Barry yang salah sih, sejak awal harusnya panggil nama aja." "Enggak mau! Barry harus tetep panggil Tante aja!" "Wkwkwk, kenapa gitu?" "Kenapa ya, pokoknya Tante jadi merasa spesial. Kalau panggil nama jadi enggak spesial lagi." "Agak aneh sih, tapi okelah Barry turutin. Wkwkwk." "Kamu ini.." "Wkwkwk, Tante ini unik banget ya ternyata." "Unik gimana?" "Ya Unik." "Unik atau cantik?" goda Cherry. "Cantik aja deh wkwkwk." Cherry tergelak dan mencubit pinggang Barry. "Oia, Bar. Tante liat foto profil kamu, itu pakai motor siapa?" "Oh, hehehe. Motor temen hehehe. Tante kok pake lihat sih, Barry kan jadi malu." "Memang Barry suka motor model begitu?" "Suka sih. Tapi, lebih nyaman pakai motor warisan bapak hehe." "Masa sih?" "Bener! Nih ya, Tante. Selama Barry pale motor itu, Barry enggak pernah jatuh!" "Lho, kan waktu kita pertama ketemu itu. Barry jatuh dari motor!?" "Ha? Oh, itu. Itu kan enggak pakai motor Barry." "Oh, beda ya?" "Iya beda, lagian juga waktu itu Barry cuma pura-pura jatuh." Barry bicara pelan sambil menunduk. "Apa? Ngomong apa tadi Barry?" "Ha? Enggak ngomong apa-apa kok." "Oh, kirain kenapa." "Udah malem, mau pulang jam berapa?" "Nginep boleh enggak, Tante?" Barry gemar sekali menggoda Cherry. "Boleh, mau tidur bareng atau sendiri-sendiri?" "Eh, serius?" Barry malah diserang balik oleh keisengan Cherry. Cherry tertawa dan tertawa tak henti, Berry benar-benar membuatnya merasa nyaman dan senang. "Ih, kamu ini! Jangan pulang malem-malem!" "Tante ngusir Barry nih? Enggak suka Barry ada di sini ya?" "Bukan gitu, Barry sayang." "Apa? Barry apa?" "Enggak, enggak! Hahaha enggak!" Cherry menutup wajahnya. Barry berusaha meraih jemari Cherry yang menutup rona merah di pipinya. "Coba bilang sekali lagi, apa tadi?" "Enggak! Tante salah ngomong!" "Ih, apa tadi! Mau denger sekali lagi!' Barry menyentuh kedua bahu Cherry. Tapi Cherry yang terlalu malu justru mendorong Barry, hingga cowok itu tercebur ke kolam. "Byurrr!!!" Kemudian terdengar suara seperti ada ikan besar menggelepar di dalam kolam. Barry muncul ke permukaan dan tertawa keras. "Tante, kok aku di dorong sih!" "Maaf, maaf!" Cherry berdiri dan hendak kabur dari sana. "Tante mau kemana? Tolongin Barry mau naik!" "Enggak mau! Nanti Barry narik Tante masuk ke air juga!" "Enggak ih! Sini bantuin Barry mau naik!" "Enggak! Dingin!" Cherry berlari kecil hendak masuk ke dalam rumah. Barry gemas sekali, dia naik ke atas. Kemudian mengejar Cherry. Menyergap tubuh langsing itu dari belakang kemudian menggelitiknya tanpa ampun. "Barry, basah! Barry!" pekik Cherry. "Biarin! Nakal banget dorong-dorong gitu!" "Barry dingin!" teriak Cherry sambil tak berhenti tertawa. Barry memeluk tubuh Cherry, kemudian wanita itu berbalik. Mereka kini saling berhadapan. Barry terengah-engah, begitu pula Cherry. Keduanya bernafas dengan tersengal-sengal. Saling memandang. Wajah dan Rambut Barry basah. Air menetes dari ujung-ujung rambutnya, jatuh ke wajahnya. Bibirnya juga terlihat basah. 'Kesempatan ini, enggak boleh disia-siakan.' batin Barry. Cherry menatap kosong ke wajah basah pria muda di depannya ini. Tangan mereka saling mendekap satu sama lain. Barry tak banyak menunda, dia akhirnya mengecup bibir indah Cherry. Wanita itu memejamkan matanya. Keindahan malam itu akhirnya menyatu bersama raga keduanya yang saling menyalurkan kehangatan lewat sentuhan lembut. Keduanya merasakan gejolak aneh sekaligus menyenangkan. Merasa tak ingin malam ini berakhir. Hanya ingin seperti ini, selama mungkin. Cherry akhirnya melepaskan dekapan basah Barry. Keduanya saling memandang kemudian terkekeh malu. "Baju kamu basah, Sayang." ucap Cherry. Hati Barry mencelos mendengar kalimat itu. 'Apa katanya? Sayang? Sayang? Gue enggak lagi mimpi kan?' "Tante, Barry enggak lagi mimpi kan?" Cherry menggeleng. "Maaf karena Tante hadir di antara kamu dan Giana. Tapi, rasa sayang ini diluar kuasa Tante." Barry menekan bibir Cherry dengan telunjuknya, menggeleng. Baginya, tak pantas Cherry mengutarakan maaf. Dia yang menjadi sebab, hingga segalanya kini berakhir seperti ini. "Sejak awal, hubungan aku dan Giana memang seperti enggak pernah ada, Tante. Barry memang pernah mencintai dia. Tapi, rupanya cinta Barry enggak bisa memikat hatinya. Sekarang, Barry sadar kalau segalanya sudah berubah." "Barry.." "Tante dan kebaikan Tante, menyadarkan Barry dari mimpi semu. Awalnya, Barry pikir suatu saat nanti Barry akan memenangkan hati Giana. Tapi, ternyata itu tidak akan pernah terjadi. Dan, kehadiran Tante adalah jalan bagi Barry untuk sadar bahwa ternyata cinta itu sudah lama pudar." "Tante enggak mau merusak hubungan siapapun." "Enggak ada hubungan yang rusak. Sejak awal, Barry hanya bertahan sendiri. Giana pasti akan lebih memilih cowok kaya itu dibandingkan Barry yang cuma cowok miskin yang masa depannya enggak jelas." "Jangan ngomong begitu, Barry." "Tante, rasa sayang Barry untuk Tante ini. Juga diluar kuasa Barry. Boleh kan Barry sayang sama Tante? Barry mungkin tidak layak, sekarang. Tapi, Barry akan berusaha." "Barry selalu layak untuk menyayangi dan disayangi oleh wanita manapun." Barry merasa perkataan Cherry benar-benar sampai ke relung hatinya yang terdalam. 'Aku sudah mengemasi kasih sayangku untuk Giana. Aku bingkis dengan indah dan kubawa semuanya kesini. Ke rumah ini.' "Ayok, masuk! Nanti masuk angin ih!" Cherry menarik lengan Barry. "Mbak, ambilin baju ganti!" Seru Cherry "Lho, malem-malem kok berenang Aden?" "Bukan berenang, Mbak. Tapi didorong nih sama dia!" Barry mendengus, hanya pura-pura marah. "Wkwkwk, kok masih marah aja! Ayo naik, Tante carikan baju kering." "Iya, Tante." "Eh, mbak bikinin teh anget aja ya! Biar bajunya aku cari sendiri." "Iya, Non." "Yuk, Barry!" Mereka naik ke lantai atas. Setelah menaiki beberapa anak tangga, Barry disambut oleh dua buah patung wanita dengan sayap terbentang indah dibelakangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN