Twenty Nine

2045 Kata
Barry dibawa ke kamar Cherry. Sesaat setelah masuk ke dalam, Barry disambut oleh sebuah tempat tidur berukuran besar dengan warna serba putih yang bersih dan cantik. Di dekat jendela ada sofa single dengan meja bundar yang permukaannya terbuat dari kaca bening. Gordyn di kamar Cherry nampak seperti sutra yang lembut, terbuai terkena tiupan angin semilir dari jendela yang masih dibiarkan terbuka. Lantai dengan karpet bak permadani itu basah karena tetesan air dari tubuh Barry. "Yah, Tante! Basah!" Barry melihat ke arah bawah. "Apa yang basah?" Cherry melihat k area bawah perut Barry. "Lantai, Tante! Bukan ini!" Barry menutupi bagian vitalnya dengan tangan. Cherry terkekeh, dia senang sekali menggoda Barry. Pria muda itu pucat pasi, karena malu dan dingin. Cherry menuju ke sebuah lemari besar yang diletakkan menghimpit ke dinding sebelah kiri tempat tidur. Membukanya lebar-lebar dan meraih sebuah handuk motif hello Kitty. "Ini, pakai ini dulu! Bajunya buka!!" Cherry mengarahkan Barry agar melepas pakaiannya di kamar mandi, yang ada di dalam kamarnya. "Bu-buka di sini?" "Ya jangan dong, Sayang! Di kamar mandi itu!" "Oh, kamar mandinya di dalam kamar?" Barry menggaruk rambut basahnya. "Iya, itu pintu itu!" "I-iya." Barry menggigil karena kamar ini punya suhu rendah karena pendingin ruangan yang selalu dalam keadaan menyala sepanjang hari. Barry melepaskan pakaiannya, meletakkannya di lantai. Kemudian memakai handuk dari Cherry. Barry membuka pintu, bertelanj4ng dad4 karena handuk kecil itu hanya cukup untuk menutupi bagian bawah perut hingga lutut saja. Dia membawa pakaian basahnya, berdiri dengan bingung. "Tante, ini taruh mana ya?" Seru Barry. Cherry yang sedang mencari dan baru saja menemukan t-shirt di lemari menoleh, kemudian tertegun sesaat setelah melihat tubuh Barry. T-shirt ditangannya jatuh ke bawah. Berserakan di lantai. Mata Cherry melotot, kemudian dia cepat-cepat membungkuk dan meraih t-shirt tadi. Kemudian menemukan celana tidur panjang. Dia cepat-cepat melemparkan dua benda itu ke arah Barry tanpa melihat lagi ke arahnya. "I-itu, pakai!" Cherry berhamburan hendak keluar kamar karena shock setelah melihat tubuh macho Barry yang terbuka. "Lho, Tante! Ini taroh dimana? Baju basahnya!" "Ta-taroh aja di kamar mandi!" Cherry menabrak daun pintu kamarnya. "Aw!!" Dahinya terantuk pintu. "Aduh!" Barry ikut mengerang karena pasti rasanya sangat sakit. "Tante! Tante enggak apa-apa??" Seru Barry cemas. Terdengar suara gedebug keras diluar, entah Cherry menabrak benda lainnya atau mungkin dia terjatuh karena terpeleset. Barry mengernyitkan kening karena kaget dan khawatir akan Cherry. Kemudian Barry tersenyum geli. Dia memungut t-shirt dan celana panjang yang tergeletak di lantai. Kemudian kembali masuk ke kamar mandi. Mengenakan kaos dan celana panjang Cherry yang sudah pasti terlalu kecil untuknya. "Ck, kecil banget!" Barry berusaha menurunkan celananya agar sampai ke mata kaki, tapi bagian atasnya justru melorot melewati pahanya. "Tau ah!" Dia akhirnya keluar dengan pakaian mini itu. Cherry menunggu dengan gugup dibawah. Dia meminta si mbak segera ke atas untuk mencuci dan mengeringkan pakaian Barry secepat mungkin. Mengerikan sekali melihat Barry bertelanjang dad4 seperti itu. Seluruh tubuhnya jadi merinding. Si mbak berpapasan dengan Barry di depan pintu kamar. Wanita itu terkikik demi melihat penampakan di depannya. "Aden? Wkwkwk! Lucu!" "Kekecilan ini, Mbak. Enggak ada yang lain?" "Enggak ada, di rumah ini enggak ada laki-laki." "Itu pak satpam, dia kan laki-laki." "Ya dia kan kalau ganti baju pulang, lagian dia selalu pakai seragam kalau di sini." "Yah, tapi ini gimana?" "Ya sudah daripada kedinginan, nanti mbak keringin pakaian Barry. Tunggu ya!" "I-iya deh! Eh, Mbak! Tante Cherry dimana?" "Di bawah!" Barry mengangguk-angguk dan turun ke bawah melalui tangga ulir yang agak meliuk sampai akhirnya sampai ke lantai bawah. "Tante!" Seru Barry. Cherry menoleh dan tersenyum canggung, tapi senyumnya hilang saat dilihatnya Barry begitu lucu tampil dengan pakaian mini miliknya. Senyum anggun tadi tergantikan oleh ledakan tawa Cherry yang membuat giginya terlihat. Dia bahkan tergelak dan menengadah saat tertawa. "Aku aneh ya?" Barry menutupi pusarnya yang tak kebagian bahan t-shirt. Mencoba menarik dan menurunkan t-shirt yang dia kenakan agar pusarnya tertutupi. Tapi, dia jadi nampak semakin konyol. "Wkwkwk, kamu lucu banget!" Cherry jadi berlinangan air mata karena tak kuasa menghentikan tawanya. 'Yah, getaran kolam sialan! Gue jadi keliatan culun dini depan Tante Cherry.' gerutu Barry dalam hati. Dia kemudian duduk di sofa dan menekuk wajahnya. Cherry menggodanya. Dia semakin cemberut. Sekitar sepuluh menit kemudian si mbak datang dengan pakaian Barry yang sudah kering namun masih agak lembab sedikit. Barry cepat-cepat merebutnya dan berlari ke ruangan sebelah tempat dia dulu mengganti celana jeans dengan celana pink motif babi milik Cherry. Kemudian kembali dengan penampilan yang kembali keren dan ala Barry. Cherry tertawa dan terus meminta maaf karena sejak tadi terus saja menggoda Barry. Si mbak pergi meninggalkan mereka yang asyik bercanda. "Maaf ya, Sayang." Cherry berkedip-kedip di depan Barry. "Ish!" Barry melipat tangannya di depan dad4. "Wkwkwk." Cherry menyenggol Barry dengan lengannya. "Tante curang!" "Curang kenapa?" "Tante udah liat badan aku! Tapi aku belum liat Tante!" "Eh, kok nakal!" "Ayo cepetan aku mau lihat!" "Eh, kok nakal ihhhh!" Cherry kabur karena Barry pura-pura akan menerkamnya. "BARRRY JANGAN IH!" Cherry berlari di ruang tamu seperti bocah. Barry mengejarnya, menangkap tubuh langsing Cherry dan memeluknya dari belakang. "Hangat!" Lirih Barry. Cherry membelai lembut tangan Barry yang melingkar di pinggangnya. Suasana penuh canda jadi berubah jadi romantis. "Sana pulang, udah malem." ucap Cherry pelan. "Ehm, males. Aku mau sama Tante sampai pagi." "Eh, nakal ya kamu!" "Biarin!" Barry membalik tubuh Cherry perlahan, kemudian mulai mengecupnya lagi. Cherry tak menolak, dia biarkan Barry menguasai dirinya. Cherry sudah mengizinkan dirinya untuk merasakan kebahagiaan, tak peduli apa yang akan dia hadapi setelah ini. Malam itu, untuk pertama kalinya Barry tidur di rumah besar itu. Mereka tidur terpisah, Cherry tak mau dia dan Barry melewati batas hingga sesuatu yang tak baik terjadi diantara mereka yang tengah dimabuk cinta. * Melewati malam yang penuh romansa itu, membuat Barry dan Cherry tak sanggup menyembunyikan raut wajah bahagia mereka saat kelas listening berlangsung. Berkali-kali Cherry menatap Barry kemudian tersipu, sedangkan pihak pria juga melakukan hal yang sama secara natural, tanpa dia sadari. Keduanya kedapatan saling pandang selama mata kuliah berlangsung. Giana yang saat ini merasa Barry menjauh darinya. Sedikit demi sedikit mulai menyadari kedekatan Barry dan dosen cantik itu. Kecurigaannya semakin menguat karena hari ini, Barry dan Cherry tampak terus saling tersipu malu tatkala keduanya bertemu pandang. Gadis dengan mata besar itu, diperbolehkan pulang dari rumah sakit karena tak ada yang serius yang terjadi padanya. Dokter berkata mungkin Giana hanya kelelahan. Itu saja. Memang tak ada penyakit apapun pada diri Giana. Dia hanya sedang menderita karena ulah Vano si brengssek itu. Dan, penderitaannya bertambah karena kekasihnya mulai melucuti kasih sayangnya yang biasanya mendekap Giana erat. Giana benar-benar tak bisa menerima materi apapun yang disampaikan oleh Cherry. Tangannya terus meremas kertas di mejanya selama memperhatikan Barry dan Cherry yang tingkahnya mencurigakan. 'Sesuatu terjadi di antara mereka? Apa mungkin Barry cuek ke aku karena tergoda oleh dosen nyebelin itu?' batin Giana gusar. 'Dasar dosen tukang godain berondong! Jijik banget aku!' Giana membulatkan kertas dengan meremasnya kemudian melemparkannya ke lantai. Sekonyong-konyong dia berdiri dengan kaki terhentak keras. "Giana, ada apa?" tanya Cherry dari depan papan tulis. Giana hanya menatap sinis ke arah dosennya, berdiri sejenak sebelum akhirnya pergi dari kelas itu tanpa sepatah katapun. Cherry melirik Barry, cowok itu nampak memperhatikan langkah Giana. Namun, tak berbuat apa-apa. Tetap duduk nyaman di kursinya dan kembali mencatat materi yang tertera di papan tulis, materi yang berasal dari cahaya proyektor yang diarahkan kesana. Cherry kembali fokus menjelaskan rentetan kata yang menjadi bahan pembelajaran di kelasnya hari ini. Giana menggertakkan rahangnya. Benar-benar menduga ada sesuatu yang terjadi antara Barry dan dosen mereka yang biasa dipanggil Miss Cherry itu. "Aku enggak akan biarkan siapapun ambil Barry dari aku!" Matanya memicing penuh rasa benci. Masalah hidupnya yang amat berat ini, membuatnya ingin bersandar pada Barry yang dulunya amat menyayangi dia. Dia memang telah menyia-nyiakan keberadaan Barry dengan hanya memanfaatkannya saja, tapi kali ini dia benar-benar tengah hancur dan sangat membutuhkan Barry. "Aku butuh tempat untuk aku bersandar, aku sedang hancur, Barry. Tapi, kamu justru asyik main mata dengan dosen yang lebih cocok jadi kakak kamu itu!" Nafas Giana agak tersengal karena emosinya membubung tinggi. Semalam, ingin rasanya dia mengakhiri hidupnya. Traumanya yang hadir karena perbuatan b***t Vano itu benar-benar menyiksanya, menjeratnya ke dalam nestapa lara yang tak sanggup dia tangani sendiri. Dia pikir, alangkah damainya jika dia kemudian pergi untuk selamanya. Sehingga tak ada lagi sakit dan trauma yang tertinggal. Semalam, pisau tajam sudah dia genggam erat siap untuk menyayat nadi di tangan kirinya. Tapi, cermin besar di depannya seolah menghalanginya. Benda bening itu, menunjukkan sosok gadis berwajah cantik, kecantikan yang banyak diidamkan oleh banyak gadis lain. Giana menatap cermin itu lekat-lekat, tampak dirinya dengan rambut berantakan dan wajah sembab basah karena airmata. Saat itu, dia merasa bahwa dirinya berharga. Kemana Giana yang selalu percaya diri dan tampil cantik? Apa segalanya akan berakhir di ujung mata pisau murahan itu? Dia memekik tertahan, kemudian melemparkan pisau itu ke dinding. Benda tajam itu terantuk ke dinding dan terpental ke lantai. "Enggak! Aku enggak boleh menyerah. Aku layak bahagia. Dunia enggak boleh tahu kalau aku sedang hancur! Dunia hanya boleh tahu bahwa aku adalah Giana yang cantik dan modis, yang diperebutkan oleh banyak pria." "Aku dilahirkan sempurna dan cantik. Jadi pisau sialann itu enggak boleh seenaknya merenggut hidup aku!" Dan pada akhirnya, dialognya dengan diri sendiri semalam itu. Membawanya kepada Giana yang lebih bertekad untuk mendapatkan apapun dibandingkan menjadi Giana yang merana karena kesuciannya sudah tergores oleh duri dari pria bernama Vano. Setiap kali trauma dan sakit itu datang, dia mengerang seorang diri. Menahannya dan bertekad akan melakukan segala hal untuk membahagiakan dirinya yang pantas bahagia itu. Sampai di hari ini, tiba-tiba saja kebencian membara dalam daddanya, melihat bagaimana Cherry begitu genit di depan kekasihnya. Oh, sungguh dia muak sekali, dia tak suka dengan itu. "Aku harus cari tahu, ada apa sebenarnya. Baru setelah itu, aku akan bertindak. Ya, aku enggak sudi kalau dosen kecentilan itu merebut Barry dariku. Barry hanya boleh mencintai aku! Barry hanya boleh memujaku!" Sesuatu akan dia lakukan, di sini. Kampus ini akan mendapat tontonan luar biasa karena ulah Giana. Sebuah rencana sudah tercatat di kepalanya. Dan itu, tidak boleh gagal. Rasanya pasti menyesakkan, saat Barry yang dulu adalah b***k cinta Giana, kini mulai menjauh darinya. Keadaan seperti itu, tak bisa Giana terima begitu saja. Bertahun-tahun Barry seperti menjadi abdi gadis itu. Tunduk dengan segala hal yang Giana katakan hingga rela mencari jalur haram demi mendapatkan banyak materi untuk gaya hidup Giana yang bak ratu. Bertahun-tahun Giana menyalahgunakan ketulusan Barry hanya untuk bersenang-senang. Hingga saat seperti ini datang, dia justru tidak siap kehilangan Barry. Dia baru tahu betapa berharganya Barry untuknya. Giana tahu betul bahwa ini bukan salah Barry. Tapi, dia juga tak mau menyalakan dirinya sendiri. Dia meyakini bahwa perginya Barry bukan karena dirinya. Jadi, satu-satunya pihak yang pantas untuk disalahkan, adalah Cherry. Menyalahkan orang lain adalah perkara mudah. Sejak hari itu, Giana mulai mengawasi Barry dan Cherry. * "Bar, semalam darimana lu kagak pulang?" Tegur Ibunya saat Barry baru kembali setelah pergi sejak kemarin sore. "Biasa, Mak." "Biasa apa?" "Ya, itu." "Apaan sih, ini anak!" "Dih, Barry nginep di rumah Rico!" "Di rumah Rico? Tapi dia semalem kesini nyariin elu!" "Oh, berarti Barry nginep di tempat Shaka." Jawab Barry asal. "Heh!" Ibunya yang tengah memegang sendok sayur sontak memukul kepala Barry. "Apa sih, Mak? Sakit dih!" "Eh, si Rico tuh kesini nyariin elu bareng si Saka!" "Hah emang iya?" Barry bingung. "Iyaa! Jadi elu semalam nginep dimana?" "Ya di rumah Shaka, Mak!" "Kalau elu nginep di rumah dia, ngapain dia nyariin elu kesini?" "Emang Saka kagak boleh nyariin Barry?" Dia mulai ngawur membuat ibunya sangat kesal. "Sini, ngomongnya deketan dikit!" Ibunya hendak memukul lagi dengan parutan kelapa. "AMPUN, MAK!!!!" Barry kabur keluar dan lari. "Awas lu ya, kalau macem-macem! Awas aja kalau buntingin anak orang!" Teriak Ibunya. "Buset mak, kagak!" Barry berdiri di dekat bale, dibawah pohon. "Awas lu, ya!" "Kagak, Mak!" "Lu nginep dimana?" "Elah, Mak! Kata dirumah Saka, kagak percaya amat si!" "Saka aja kemarin kesini nyariin elu! Jangan coba-coba lu bohongin gue!" "Ya habis dia nyariin, terus ketemu Barry." "Ketemu dimana?" "Ya dirumah Saka, Mak! Masa di Monas!" "Heh!" Ibunya jadi kesal sekarang. "Hahahaha!" Barry yang baru pulang kini hendak kabur lagi dengan motor bututnya. "Dasar anak kurang ajar!" ucap ibunya geram. "Tenang aja, Mak! Barry enggak macem-macem! Barry pergi dulu ya, Mak! Samlekom!!!" Serunya sebelum akhirnya pergi menjauh dari rumah sederhana itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN