Thirty

1022 Kata
"Tante Cherry nanti pulang jam berapa?" Di dalam kelas, Barry bercakap-cakap di telepon. Suasana kelas sepi, hanya ada tiga mahasiswa di pojok belakang tengah bergerumul menonton film semi yang baru saja rilis. Ckckck. Barry menghubungi Cherry karena merasaka getaran rindu yang luar biasa. Sulit sekali menahan diri, setiap kali melihat Cherry berpapasan dengannya di area kampus. Ingin sekali dia menyergap tubuh indah yang amat dia kagumi itu. Tapi, Cherry berkali-kali mengingatkan Barry agar hubungannya ini akan tetap menjadi rahasia mereka saja. Masalah akan muncul apabila seseorang tahu bahwa ada dosen dan mahasiswa di kampus ini yang menjalin cinta diam-diam. Jadi, mau tak mau Barry harus menuruti perkataan Cherry. Lagipula, dia membayar mahal untuk bisa belajar di universitas swasta ternama ini. Yah, setidaknya dia harus lulus dari sini dengan predikat baik dalam presentasi maupun konteks lainnya. Cherry berkata bahwa kelas terakhir dia pukul dua siang. Kemudian mereka membuat janji temu di tempat biasa. Kafe dekat kampus. Barry duduk dan bicara dekat pintu masuk, tanpa menyadari ada Gimana berdiri di depan pintu persis di area pemisah antara pintu dan jendela di sisi Barry yang kacanya terbuka sedikit. Giana mendengar percakapan itu. Demi apapun, emosinya seketika bergejolak. Ternyata kecurigaan tak sebatas dalam angan saja. Barry benar-benar ada hubungan dengan Cherry. Giana merapat ke dinding, memastikan panggilan telepon itu sudah berakhir. Kemudian bergegas pergi sebelum Barry keluar dan melihatnya ada di sana. "Tante? Dia panggil Miss Cherry dengan sebutan Tante?" Sesuatu yang mengerikan terlintas di benaknya. "Apakah, Miss Cherry itu salah satu target kita? Kemudian Barry justru jatuh cinta padanya? Apa ini masuk akal?" ujarnya seorang diri. "Tunggu, apa Miss Cherry ini adalah target terakhir Barry? Pantas saja aku merasa pernah liat dosen genit itu. Tapi aku lupa dimana." Tentu saja Giana lupa, baginya yang penting hanyalah uang dan uang. Hal lain sungguh tak penting baginya. Dia gak tahu bahwa kehadiran target baru Barry ternyata menjadi bumerang untuknya. Wanita itu pada akhirnya justru berhasil memikat Barry. Keadaan jadi berbalik? Tentu saja bisa disebut begini. Alih-alih si Tante target yang tergila-gila pada Barry, kali ini Barry yang menjadi b***k cinta sang Tante. Terkesan konyol tapi itulah kebenaran dari keberadaan sebuah rasa. Kita tak pernah tahu kapan rasa itu datang dan entah kepada siapa cinta itu berlabuh. Dia memilih sendiri dermaga mana yang ingin dituju. Ada penyesalan di hati Giana. Entah kenapa dia tak rela jika harus kehilangan Barry. Tiba-tiba saja dia menginginkan Barry, tak peduli cowok itu kaya atau miskin. Tak mau tahu apakah dia bisa memberikan barang atau uang untuknya. Giana berjalan sendirian, melihat ke sekeliling dimana banyak mahasiswa yang berjalan bersama dengan kekasihnya. Dimana banyak pasangan normal yang bersama untuk saling mencintai dan memberi kebahagiaan. Bukan memberi barang branded atau uang tunai semata. Giana menunggu di kafe tempat Barry dan Cherry akan bertemu. Dia duduk di tempat yang tak begitu terlihat. Menutupi wajahnya dengan buku menu besar berisi potret makanan dan minuman yang lengkap dengan list harga. Satu jam berlalu, Giana masih menunggu. Masih ada keraguan dalam hatinya bahwa Barry sebenarnya tak benar-benar menyukai Cherry. Dia hanya sedang berusaha memeras wanita kaya itu, kemudian tiba-tiba secara mengejutkan membawakan mobil baru untuk Giana. Hay, benar-benar angan yang berlebihan wahai Giana cantik! Tak lama kemudian, muncul sesosok wanita dengan cara jalan bak model catwalk. Heels sepatu yang dia kenakan mengeluarkan bunyi halus yang berirama saat dia berjalan menuju sebuah meja yang ada di sudut dekat wastafel, tempat terbaik yang selama ini dipakai untuk bertemu Barry. Wanita itu duduk dengan anggun, mengibas rambutnya seperti duta shampo lain. Kemudian meletakkan tas Chanel berwarna cokelat ke kursi yang ada di sisinya. Giana menampakkan ekspresi sinis di wajahnya. Entah kenapa dia begitu muak tiap kali melihat Cherry. Ah, rupanya karena intuisinya. Ternyata wanita yang membuatnya muak itu merebut kekasihnya yang notabene memang tak pernah dianggap. Well, seharusnya kamu terima saja kenyataan baru ini, Giana! Kamu sudah memetik buah segar namun terlalu lama dibiarkan di luar, hingga membusuk dan bijinya akan tumbuh menjadi tanaman baru yang bukan lagi untukmu. Barry kemudian datang, tepat seperti dugaan Giana. Cowok itu, entah kenapa jadi terlihat lebih tampan daripada hari-hari biasanya. Apakah ini karena dia sudah berpaling? Atau memang kematangan usianya yang membuat pesonanya meningkat. Mereka tak lama berads di sana. Cherry membiarkan minumannya teronggok begitu di meja. Tidak apa-apa tidak diminum, asalkan sudah dibayar. Begitu bukan? Dia kembali ke luar bersama Barry. Tak baik berlama-lama di sini. Lebih aman jika mereka di rumah Cherry atau di tempat lain. Giana mendengus kesal. Giana kembali ke kampus, hendak pulang dengan maticnya yang masih terparkir di pelataran kampus. Dia sengaja tak membawanya ke kafe karena khawatir mengundang perhatian Barry, meski matic jenis ini tak hanya satu dan lagipula Barry mungkin tak ingat nomor kendaraannya. Tapi, tetap saja Giana tak ingin Barry curiga. Sepanjang jalan, bayangan Barry dan Cherry terus saja berkelebat dalam hatinya. Keduanya nampak romantis hingga membuat darah Giana mendidih. "Jadi ini rasanya, kalau ada pelakor yang tiba-tiba datang!" geramnya sambil menarik gas dengan kencang. Pelakor apanya? Giana sendiri yang menyuguhkan kekasihnya untuk dinikmati oleh wanita lain. Siapa yang mau disalahkan? Tapi, Giana butuh Cherry untuk dia salahkan. Itu jauh lebih mudah. Sesampainya di rumah, Giana melempar ponsel keluaran terbaru yang dia dapat dari Barry. Dia berteriak dan membuang semua peralatan kosmetik yang ada di meja riasnya. "Kamu enggak boleh begini, Barry! Kamu harus tetap sayang dan cinta sama aku! Kamu enggak boleh berpaling!" Ponsel Giana berdering. Hey, ponsel mahal jelas sekali berbeda dengan yang lain. Dilempar keras seperti tadi pun dia masih berfungsi. Gadis dengan rambut berantakan itu meraih ponselnya dari lantai yang berlapis karpet bulu. Entah bulu domba, tupai atau bulu yang lain. Nama si pemanggil tertera. Vano! Giana menjatuhkan kembali ponselnya. Tangannya gemetar hebat. Perlahan dia mundur dan duduk di atas tempat tidurnya. Jemarinya bergetar, nafasnya tiba-tiba sesak. Peluh dingin membasahi tengkuknya. Dering nyaring itu tak juga berhenti. Giana menutup telinganya. Tubuhnya menggigil. Trauma ini semakin hari menjadi semakin akut. Bagian bawah perutnya terus saja berdenyut dengan sensasi menyakitkan. Bayangan hari-hari bersama Vano yang tak memakai selembar kain pun, kemudian datang kembali seperti sebuah teror mengerikan. Nafas Vano terasa berhembus kuat di area lehernya. "Enggak! Pergi kamu!" teriaknya nanar seraya menatap ponsel yang tergeletak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN