Thirty One

1118 Kata
"Aku benci kamu!" Teriaknya keras. Kemudian rumah itu sunyi kembali. Entah kemana perginya orang rumah hari itu. Ponsel Giana berhenti berdering, diganti dengan suara ketukan di pintu depan. Giana terperanjat, matanya membelalak ngeri. Giana tetap diam tak bergerak. Bahkan dirinya hampir tak bernafas karena rasa takut. "Siapa itu?" Lirihnya gemetar. Pintu terus diketuk, Giana memberanikan diri berjalan keluar kamar. Berdiri di balik pintu dengan menempelkan telinganya. Hanya ada suara ketukan berulang. Giana menyingkap gordyn kemudian memekik tertahan. Vano, cowok yang dulunya amat dia cintai itu berdiri di depan pintu. Ponsel tergenggam di tangan. "Ma-mau apa dia di sini?" Giana merasakan seluruh tubuhnya menggigil. Dia melihat lagi ke balik gordyn, Vano masih di sana, meski tak lagi mengetuk pintu. Hening, kemudian terdengar suara orang bercakap-cakap di luar. "Mama!" Seru Giana. "Itu Mama, aduh Mama jangan bicara sama Kak Vano." Ratapnya ngeri. "Siapa ya? Cari siapa?" Sapa sang Mama yang rupanya baru saja kembali dari minimarket, karena membawa tas belanjaan di tangan kanannya. "Saya Vano, Tante. Saya mau ketemu Gi.." "Kak Vano!" Giana cepat-cepat membuka pintu. Sungguh, dia takut sekali kalau Vano bicara yang bukan-bukan pada Mamanya. "Giana!" Sapa Vano dengan senyum hangatnya. Wajahnya terlalu ramah untuk seorang maniak seperti dia. "Oh, temen Giana?" "Iya, Tante. Nama saya Vano." Dia menyalami Mama Giana dengan santun. Giana melawan rasa takutnya terhadap Vano, dia lebih takut kalau Vano membongkar semua yang telah mereka lakukan. Mamanya pasti akan shock. "Oh, Vano. Ayo mari masuk!" Ajak Mama Giana. "Jangan! Biar kita ngobrol di luar aja, Ma." Giana panik. "Oh, iya deh. Jangan lupa buatkan minum buat Vano ya, Giana." Giana mengangguk, menahan kakinya yang gemetar. Vano tersenyum, kemudian mendekati Giana yang mundur selangkah karena ngeri. Vano sama sekali tak terlihat seperti pria jahat. Senyumnya menawan dan memancarkan keramahan. "Sayang." Sapanya lembut. "Kak Vano tahu darimana?" "Apa?" "Ru-rumah aku." "Oh, aku kan pernah ikutin kamu pulang." Dia bergerak ke depan, kemudian bicara sambil mengusap kepala Giana. Giana menggerakkan kepalanya, enggan disentuh oleh Vano. "Kamu kenapa sih, Sayang? Aku kangen lho sama kamu!" "Aku lagi enggak enak badan, mau istirahat." "Kamu sakit?" Giana diam saja, wajahnya murung bercampur takut. "Gimana kalau aku antar kamu ke dokter, habis itu kita mampir ke apartemen aku. Gimana? Kamu mau kan!?" Vano meraih lengan Giana. Giana berkelit, berusaha lepas dari Vano. Menarik tangannya kembali. "Maaf kak, aku enggak bisa." Lirih Giana. "Kenapa enggak bisa, Sayang? Selama ini kan kamu enggak pernah nolak kalau aku ajak ke apartemen aku. Kamu selalu happy. Iya kan? Kita kan di sana happy bareng! Iya kan?" Mata Vano mengerling dengan cara yang mengerikan, seperti psikopat yang tersenyum dengan raut wajah yang membuat merinding. "Enggak, Kak. Maaf aku enggak bisa." "Giana, cantikku. Sayang, kamu kenapa sih? Mau beli apa? Atau mau nonton? Mau shopping? Ayo aku temenin! Atau mau aku yang bayarin?" Rayunya. Selama ini Giana memang tak pernah meminta apapun dari Vano. Dia merasa amat mencintai Vano sehingga hampir tak pernah membiarkan Vano mengeluarkan untuknya barang sedikitpun. Di samping itu, Giana juga selalu punya banyak uang dari Barry. Giana selalu ingin nampak baik dan kaya di depan Vano, agar sederajat dengan cowok kaya itu. Tapi, segalanya hanya membawa Giana pada kehancuran semata. Vano si baik itu ternyata adalah titisan ibliis yang merenggut kehormatannya dengan cara yang terbilang kasar dan mengerikan, sehingga yang tersisa kini adalah trauma mendalam. "Kak, sebaiknya kakak pergi dari sini." Demi apapun, Giana takut sekali saat mencoba mengusir Vano. "Kenapa sayang? Aku kan sayang kamu, kita kan saling mencintai. Ayo, aku antar ke dokter ya." "Enggak!" Suara Giana meninggi. Vano tersentak, senyum di wajahnya memudar. Dia menatap Giana dengan galak, rahangnya mengatup rapat. "Kamu harus ikut aku ke apartemen!" Desisnya dengan suara pelan namun bernada mengancam. "Enggak!" Giana mundur lagi. "Kamu harus ikut!" Bisik Vano geram. "Kak, jangan begini. Aku takut." Giana meringis. Vano terkekeh pelan. "Apa yang kamu takuti, Sayang? Aku kesini cuma untuk ketemu kamu. Dan, ngajak kamu bersenang-senang seperti biasanya." "Enggak!" "Mau ikut aku, atau aku bicara sama mama kamu! Atau mau aku tunjukkan sesuatu ke Mama kamu?" Vano mengacungkan ponselnya ke depan wajah Giana. "Kak, aku mohon jangan." Giana hampir menangis. "Kalau begitu, ikut aku! Atau.." desak Vano seolah memberi dua pilihan. "I-iya, nanti aku datang." Ucap Giana cepat. "Bener? Kamu jangan sampai bikin aku kesal ya, Sayang." Vano menyeringai. "I-iya." "Aku tunggu ya!" Vano menyentuh ujung bibir Giana. Gadis itu memalingkan wajahnya. Vano kemudian pergi, menderu bersama motor gede miliknya. Giana masih berdiri di depan rumahnya. Menarik nafas panjang, melepaskan perlahan. Habis sudah dirinya. Vano bahkan tahu dimana rumahnya. Dia tidak akan tinggal diam jika Giana tak menuruti inginnya. "Kak Vano pasti akan sering kesini. Akan harus bagaimana?" Giana menahan tangisnya. Dia berlari masuk, menuju kamar dan mengunci pintunya. Dia berdiri di balik pintu dan merosot kebawah. Duduk bersandar dengan kaki menekuk. Giana menangis, wajahnya terbenam di atas lutut sementara tangannya memeluk tungkai kaki bagian bawah. "Barry." isaknya pelan. "Barry, aku takut. Tolong aku." tambahnya pilu. * Sementara di tempat lain. Barry yang tak tahu apapun tentang Giana, kini tengah bersenang-senang dengan wanita cantik yang tak lain adalah dosennya. Mereka lebih nyaman berada di rumah Cherry. Menghabiskan waktu berdua, menonton film di ruang santai. Makan bersama atau sekedar duduk di dekat kolam ditemani angin sepoi-sepoi yang menyejukkan hati. Di rumah, tidak ada pengganggu. Tidak juga ada yang memergoki mereka berdua yang tengah dimabuk cinta. Barry menempel bak lem kepada sang dosen. Sosok Cherry benar-benar membuat dirinya nyaman. "Tante, kalau udah nikah nanti mau punya anak berapa?" Barry menopang dagu, menatap Cherry yang sedang menyantap camilan buatan si mbak. "Uhm?" "Anak, mau berapa?" "Ish, kuliah baru semester satu udah bahas anak." "Ye, kan Barry cuma tanya. Bukan berarti Barry mau buat anak." "Oh, Tante kira Barry mau nikah sama Tante." "Emang boleh?" "Lho, kenapa enggak boleh?" "Ya kan aku miskin." "Terus kalau miskin kenapa?" "Ya kan Tante kaya." "Terus kalau kaya kenapa?" "Ish!" Barry mencubit cuping hidung Cherry yang bangir. "Kebiasaan suka noel-noel hidung!" "Emang maunya sebelah mana yang ditoel?" Goda Barry iseng. "Eh? Jangan mulai!" "Wkwkwk. Habis Tante gemesin sih." "Emang aku bayik!" Cherry berdecih. Barry diam, Cherry menoleh. "Kenapa kok tiba-tiba diem?" Barry meraih jemari Cherry, menatap wajahnya. "Tante mau ya, nungguin Barry." "Uhm?" "Mau kan?" tanya Barry. Cherry tak sanggup menjawabnya. Entah berapa lama lagi dia masih bisa bernafas, tak tahu sampai kapan dia bisa berada di sisinya. Tiba-tiba saja, rasa takut itu hadir kembali. Takut, kalau Barry nantinya akan merasa hancur akibat kehilangan. "Tante?" Cherry hanya mengangguk, tersenyum kemudian mengulurkan tangannya yang memegang sendok berisi pudding. "Aaaaa!" Barry tertawa. "Aaaaa!" Ulang Cherry. "Ish." Barry kemudian membuka mulutnya. Cherry menyuapi Barry, mereka berdua terkekeh karena malu. Mereka suka suasana seperti itu, saat keduanya sama-sama tersipu karena sesuatu. Sungguh terasa aman nikmat terasa, debaran dalam dadda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN