Kamis sore, Barry pulang dari kampus. Hari ini Cherry berkata dia ada keperluan. Sejak pagi Barry tidak bertemu Cherry karena dosen cantik itu izin lagi untuk absen dari kegiatan belajar mengajar.
Di rumah, bapak dan ibunya sudah menunggu Barry. Saat Barry masuk, mereka berdua duduk bersama di ruang depan. Wajah keduanya nampak serius.
Barry merasa aura yang tak enak, apa gerangan yang baru terjadi di rumah ini. Entah keduanya tengah berdebat soal suatu hal atau mereka sedang pusing karena biaya kuliahnya yang sangat mahal. Sebentar lagi Barry akan masuk semester dua, tentunya biaya kuliah yang mahal itu begitu membebani mereka.
Barry masuk ke rumah, berdeham dan hendak langsung masuk ke kamarnya. Tapi, suara sang Ibu menghentikan langkahnya.
"Bar!" Panggil Ibunya dengan suara stabil bernada serius.
Barry menoleh, nampak bingung.
"Sini dah, emak sama babeh mau ngomong."
"Ngomong apa, Mak?" Barry perlahan mendekat.
"Sini duduk."
"Iya, Mak."
Barry melepaskan tas ranselnya, kemudian meletakkannya di atas meja. Dia sendiri duduk di sofa, tak jauh dari bapak dan ibunya.
"Bar, emak sama babeh mau tanya."
"Apaan sih, Mak? Serius amat kayaknya!"
Ibu dan bapaknya bertatapan sejenak.
"Bar, elu sama Giana."
"Giana? Kenapa dia?" Barry kaget karena tiba-tiba saja sang Ibu membahas Giana.
"Emak mau tanya, apa elu pernah berbuat sana Giana?" Ibunya bertanya dengan sangat hati-hati.
"Berbuat? Maksudnya?"
"Ya berbuat, elu kan udah gede. Pasti tau apa yang emak maksud." Wajah ibunya tampak sedih.
"Ini ada apaan sih? Mak, Beh! Ada apaan sih?" Barry jadi sebal karena situasi ambigu ini.
Banyak hal ingin terucap, tapi lidah ibunya kelu. Mereka masih diam.
"Ah, apaan sih! Mak, Barry kagak tau Emak sama Babeh ini lagi pada kenapa! Tapi, yang jelas Barry kagak bakal deh berbuat aneh-aneh. Dah ah Barry capek!" Dia meraih kembali tasnya, masuk ke kamar dan menutup gordyn.
Bapak dan Ibunya hanya menghela nafas, sang Ibu kemudian pergi ke dapur untuk menyiangi sayur mayur sebagai lauk makan malam keluarga sederhana itu.
Sepertinya, sesuatu sedang terjadi. Tapi apa? Apa yang mengusik pikiran kedua orang tua Barry?
*
"Barry, bisa bicara sebentar?" Giana meraih lengan Barry.
Beberapa waktu ini, secara natural mereka semakin jauh satu sama lain. Tanpa ada pembahasan soal hubungan mereka yang entah akan dibawa kemana.
Barry mengerti, pastilah Giana butuh kejelasan mengenai status keduanya. Setidaknya harus jelas bahwa mereka putus. Dengan begitu, Giana pasti akan segera menemukan kembali pria lain untuk dijadikan sebagai kekasih barunya. Atau mungkin, dia bisa tetap setia dengan pria yang waktu itu dilihat Barry, Vano.
Barry mengangguk, membiarkan Giana memegang lengannya dan menariknya ke sebuah tempat. Dimana mereka bisa ngobrol berdua.
Di belakang gedung fakultas ekonomi ada sebuah tempat luas dengan berbagai tanaman hias yang indah. Beberapa kursi kayu tersebar diantara tanaman. Hari masih pagi, sebagian besar mahasiswa pasti berdiam diri di kelas untuk menerima mata kuliah.
Mereka duduk bersebelahan. Giana yang sejak tadi diam, kini terisak. Belakangan dia mengalami kondisi yang tak bisa ditebak. Sebentar kesal dan merasa ingin menguasai Barry, serta menyingkirkan Cherry. Kemudian bersedih dan terpuruk seraya menyebut-nyebut nama Barry.
Hari ini, suasana hatinya benar-benar buruk karena semalaman dia berada di apartemen Vano. Pria setengah gila itu, menggaulinya sepanjang malam dengan cara yang tak wajar. Manusia itu seperti menyimpang. Berbeda dengan pria pada umumnya.
Pakaian yang dia kenakan, masih sama dengan kemarin. Barry menyadari itu. Gadis di sebelahnya nampak sangat kacau.
"Barry, aku butuh kamu. Aku takut."
"Kamu kenapa? Ada apa?" Barry merapikan helaian rambut yang menutupi wajah Giana.
"Bar, aku..."
"Kenapa?"
"Barry, apa kamu udah enggak sayang lagi sama aku?" Isak Giana dengan muka memelas.
"Giana, aku.." kini Barry yang tak bisa berkata apa-apa.
"Belakangan, aku benar-benar merasa kehilangan kamu, Barry. Aku mau kamu kembali seperti dulu."
"Giana, mungkin kita enggak pernah bicara sebelumnya. Tapi, kita berdua tahu kalau hubungan kita sudah lama berakhir." lirih Barry.
"Enggak! Aku enggak pernah menganggap hubungan kita berakhir. Aku hanya memberikan kamu waktu, karena aku tahu selama ini aku sudah banyak membuatmu berada dalam kesulitan."
Barry tersenyum pahit. Rupanya, jarak diantara mereka kini membuat Giana menyadari kesalahannya.
"Jadi, setelah kamu tahu bahwa selama ini aku kesulitan, kamu akan bagaimana?"
"Aku mau berubah, Barry."
"Giana, aku tahu selama ini yang kamu mau adalah uang yang aku bawakan untuk kamu. Hanya uang yang kamu mau, bukan aku."
"Enggak, Bar! Kamu salah."
"Giana, aku enggak bodoh. Aku selama ini diam dan menuruti kamu, karena berharap suatu saat kamu bisa mencintai aku. Berharap kamu berubah.
"Aku mau berubah untuk kamu, Barry."
"Udah terlambat, Giana. Maafin aku, tapi aku udah enggak punya apa-apa untuk kamu. Bahkan, sejumput cinta pun aku tak lagi punya."
"Enggak mungkin! Kamu hanya akan mencintai aku, Bar! Seumur hidup, kamu hanya akan berada di samping aku." Giana histeris, frustasi karena dirinya tahu tak akan bisa menahan Barry.
"Giana, aku minta maaf."
Giana memeluk Barry, mencengkeram tubuh cowok tampan itu. Kemeja yang dikenakannya ditarik mendekat.
"Giana, please."
"Barry, apapun yang terjadi aku enggak akan pernah lepasin kamu."
"Giana, ini kampus. Jangan meluk aku kaya gini!"
"Kamu enggak suka dipeluk aku?"
"Aku suka, dulu! Tapi, meskipun aku suka itu, toh kamu enggak pernah lakuin itu."
"Aku pernah meluk kamu!"
"Hanya karena senang saat dapat barang mahal. Iyakan?" Satu sudut bibir Barry terangkat.
Giana terdiam, semua itu benar.
"Belakangan aku sadar, Giana. Kalau aku sudah menyia-nyiakan waktu dan hidup aku. Hanya untuk mengemis cinta darimu, yang sama sekali enggak pernah punya rasa untuk aku."
"Aku enggak mau kita putus!" Rengek Giana.
"Kenapa? Kamu enggak perlu khawatir, karena kamu masih punya cowok cadangan. Iyakan?"
Giana bergidik, Barry mulai membahas Vano. Cowok maniak itu membuat Giana ketakutan.
Dia ingin sekali menceritakan segalanya pada Barry. Tapi, dia berkali-kali menghalangi dirinya. Karena, jika Barry tahu tentang rusaknya kehormatan Giana. Maka, cowok itu akan semakin punya alasan untuk mengakhiri hubungannya dengan Giana.
Karena itu, Giana lagi-lagi lebih memilih diam. Kemudian memikirkan cara agar Barry tak pergi dari sisinya.
"Kenapa diam? Kamu harusnya senang karena aku sekarang mengizinkan kamu untuk bersama dia. Jadi, kamu enggak perlu menyembunyikan cowok tajir itu dari aku dan dari semua anak-anak di kampus ini."
"Bar, kita udah lama pacaran. Kamu begini karena kamu pasti lagi jengah. Setelah ini kamu pasti balik kaya dulu. Makanya aku ngasih kamu waktu, membiarkan kamu melewati hari-hari kamu tanpa aku. Dan, aku yakin kamu akan balik kaya dulu lagi setelah ini."
"Giana, aku bener-bener minta maaf."
"Barry, enggak!" Giana menahan Barry yang sudah hendak pergi.
"Giana." Barry mencoba melepaskan jemari Giana yang mencengkram lengannya.
"Barry, demi apapun aku ini sayang sama kamu."
Barry menghela nafas. Selama ini dia bodoh, diperdaya oleh Giana. Hari ini, kebodohan itu takkan terulang lagi.
"Maaf, Shaka sama Rico udah nungguin aku." Barry menarik lengannya, Giana hampir saja jatuh karena tertarik tubuh Barry.
"Semoga kamu bahagia, sama cowok itu ya, Giana." Barry membelai kepala Giana dan pergi tanpa menoleh.
"Barry! Bar!" Giana berteriak histeris bak orang tak waras.
"BARRY!!!!" Pekiknya dengan menghentakkan kaki.
Beberapa mahasiswa yang ada di sana, berdecak dan tak habis pikir mengapa ada pasangan yang ribut di area kampus.
"Itu Giana sama Barry kan? Anak bahasa Inggris?"
"Iya, siapa sih yang enggak kenal mereka. Katanya pasangan paling serasi seantero kampus."
"Serasi apanya, ribut di kampus begitu! Malu-maluin aja!"
Mereka bergunjing tentang seseorang yang persis ada di hadapan.
Giana samar-samar mendengar pembicaraan mereka. Dia tak suka jadi seperti ini, dianggap remeh dan rendah.
"Barry, kamu enggak bisa giniin aku." Dendam yang terus datang dan pergi, kini hadir kembali. Dengan tekad yang lebih bulat.
Giana hancur, Vano terus saja mengancamnya. Mau tak mau Giana terus datang ke apartemennya tanpa bisa menolak. Sementara, dia kini kehilangan Barry.
"Kalau aku hancur dan kamu enggak ada di sisi aku. Maka, kamu juga harus hancur Barry. Kamu dan dosen siallan itu!" gumamnya.
*
Beberapa hari kemudian. Giana, diam-diam mengikuti Barry yang berkendara ke rumah Cherry seorang diri. Mereka tak lagi bertemu di kafe karena cukup riskan.
Jadi, Barry dan Cherry datang terpisah hari ini. Cherry sudah sampai di rumah, tiga puluh menit yang lalu.
Dia berdiri di pelataran depan rumahnya sambil duduk di kursi yang ada di teras rumah.
Saat Barry datang, wajahnya berseri.
Dosen cantik itu menyambut Barry dengan senyum mata sipitnya.
"Kok nunggu diluar? Panas lho!" Barry membuka helmnya.
"Ehm, Tante ada kejutan buat kamu."
"Kejutan? Wah, ada apa nih? Pake kejutan segala!" Barry cengar-cengir merasa tak enak.
"Sini!" Cherry mengajak Barry ke sebuah benda yang tertutup kain hitam.
Giana memperhatikan mereka dari luar pagar. Dari celah-celah pagar yang cukup besar, Giana bisa mengambil gambar Cherry dan Barry yang tengah bersama. Dia bahkan merekam mereka sambil berdiri di sisi pagar yang terlihat, dia hanya menjulurkan ponselnya di pagar dengan tanaman hias. Baik Cherry dan Barry tak menyadari keberadaan Giana.
"Apa nih?" Barry tak tahu kejutan apa yang dimaksud oleh Cherry.
"Buka dong!" Ucap Cherry sumringah
"Buka nih? Serius?"
Cherry mengangguk ceria.
Barry perlahan menarik penutup benda misterius itu. Kemudian perlahan muncul warna merah berkilau dari balik kain. Perlahan, Barry bisa melihat sebuah motor gede dengan warna merah menyala.
Sampai akhirnya kain itu terjatuh seluruhnya ke tanah, Barry benar-benar yakin bahwa itu adalah motor gede yang selama ini dia idamkan.
Tak ada komentar dari Barry, dia sedang mempelajari apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia hanya melongo menatap benda berkilau itu.
"Happy birthday, Sayang." Cherry akhirnya buka suara.
Giana terbelalak, menutup mulutnya karena hampir saja memekik keras. Ponselnya bahkan terpelanting dan jatuh, hampir saja masuk ke selokan. Dia cepat-cepat memungut ponselnya dan kembali merekam adegan di depannya.
Barry ternganga, mulutnya terbuka lebar. Wajahnya penuh tanda tanya. Dia tak mengerti ini semua.
"Kok diem aja? Cobain dong!"
"Co-cobain? Ini sebenarnya gimana sih, Tante?"
"Ini untuk kamu, hadiah ulang tahun."
"Hah?" Barry mundur selangkah. Tak bisa dipercaya, dirinya mendapat kado ulang tahun sebuah motor gede berharga fantastis.
Dia pernah berkhayal punya uang lima puluh juta, lalu akan dia belikan motor gede yang bekas. Tapi, motor di depannya ini sudah tentu baru dan harganya ... Ah, Barry bahkan tak sanggup berpikir soal harga benda mewah ini.
"Ayo coba!" Cherry menarik tangan Barry, memintanya memegang stang yang gagah perkasa itu.
"Aduh, sebentar Tante. Ini beneran?" Wajah Barry seperti kebas, dia sangat gugup dan masih tak bisa percaya.
"Beneran, Sayang. Happy birthday ya!" Cherry kemudian mengecup manja pipi Barry.
Mata Giana hampir copot demi melihat setiap adegan di depannya. Gemuruh dalam dadanya terus bergulung-gulung, emosinya memuncak.
"Kok bisa tahu ini hari ulang tahun aku?" Barry benar-benar tersentuh.
"Masa ultah pacar sendiri enggak tahu sih! Yuk, cobain keliling komplek!" Ajak Cherry.
"Ini serius, Tante?" Barry masih bingung, jiwa raganya seperti melayang.
"Ayyyoooo, Sayang!"
"I-iya!" Barry dan Cherry kemudian naik ke atas motor.
Giana cepat-cepat menghentikan aksinya, memasukkan ponselnya ke dalam tas dan bergegas pergi sebelum terlihat oleh Cherry atau Barry.
Barry menstater kendaraan mahal itu. Bunyinya bahkan membuat Barry hampir pingsan.
"BRUM!!!! BBRRRUUUUMMMM!! Brrruummmmm!!"
Barry hampir gila, dia menarik nafas sejenak sebelum memacu gas motor merah shine itu.
Cherry duduk di jok belakang, bagian belakang motor itu lebih tinggi sehingga tubuh Cherry condong ke depan. Melekat pada tubuh Barry yang gagah menaiki kendaraan roda dua merk dunia itu.
Motor itu terus mati mesin karena Barry gugup, mereka bahkan belum berhasil melewati gerbang rumah Cherry.
Kemudian, setelah menguasai dirinya. Barry berhasil melajukan motor itu. Angin menerpa wajah tampannya. Cherry yang duduk dibelakang, memeluk Barry, rambut panjangnya tergerai ke udara.
Keduanya berkendara dengan santai. Benar-benar menikmati kebersamaan hari ini.
'Astagfirllah, mimpi apa punya motor keren kaya gini.' Barry menarik gasnya dengan percaya diri sekarang.
Mereka kembali ke rumah setelah puas berkeliling jalanan kompleks perumahan ini.
"Wah, ini beneran Tante?" Barry masih tak percaya.
"Beneran dong!"
"Aduh, tapi ini mahal banget!"
"Enggak seberapa dibandingkan nilai kamu untuk Tante."
"Nilai aku?"
"Iya, kamu tak ternilai."
"Tante ih, Barry masih gemetaran ini!"
"Jangan gemetaran dong. Nah, sekarang bisa bebas foto pakai motor ini, tanpa pinjem punya temen lagi." Cherry tersenyum.
"Ya ampun Tante, Barry merasa enggak pantas dapat semua ini."
"Aku ngambek lho kalau Barry sungkan begitu. Katanya kita pacaran?! Masa Barry sungkan."
"Iya, tapi."
"Udah! Jangan aneh-aneh! Ayo masuk! Panas nih!"
"Iya." Barry mengambil kunci motor dan bergegas masuk.
Si mbak dan pak satpam ikut senang saat memperhatikan mereka berdua senang seperti itu.