Thirty Three

2134 Kata
"Brummm!! Brrrrrruuumm! Brrrrrr!!" Suara berisik memasuki petarangan rumah sederhana orang tua Barry. "Motor siapa lu bawa?" Baru saja sampai dan Barry sudah disambut oleh omelan sang Ibu. "Motor Barry!" Jawab Barry singkat. Ibunya sekonyong-konyong menjewer telinga bujangnya itu. "Adaaaah! Adaw!! Sakit Makk!!!" "Jangan ngadi-ngadi Luh bawa motor orang! Nanti rusak, gimana gantiinnya!" "Ih, kagak!" "Kagak apa!? Kagak rusak? Mana tau nanti elu nabrak pohon atau kecebur got! Ini motor lebih mahal daripada elu, Barry!" "Buset dah, Mak! Gitu amat ke anak sendiri." "Eh, kalau dikasih tau tuh jawab aja!" "Udah, Mak. Tenang aja, mending emak sekarang masuk, bawa ini terus makan! Dah ya, Barry capek!" Ibunya menerima brownies dengan merk yang sama, seperti yang biasa Barry bawa. Toko kue dengan kincir angin di atas bangunannya. "Eh, Bar!" Barry ngeloyor pergi. Babehnya yang sedang duduk bersama secangkir kopi di bale depan, kini jadi punya teman untuk kopinya. Brownis mahal coy! "Beh, liat noh Barry bawa motor siapa tuh!" Ujar Ibu Barry sambil membawa sepiring brownies yang sudah dipotong-potong. "Motor temennya kali!" "Iya, temennya. Tapi kan tetep aja ngeri kalau kenapa-kenapa." "Udah biarin aja deh, pusing gue!" Ibunya berdecak dan kembali ke dalam. Hendak bertanya banyak tapi dilihatnya Barry berbaring dengan mata tertutup. "Pokoknya, cepetan balikin itu motor!" Meksi tahu Barry tidur, dia tetap saja bicara. Barry membalik badannya, menutupi kepalanya dengan bantal. Tak lama kemudian, sebuah lemparan profesional mendarat telak di punggung Barry. Sendal jepit ibunya. "Bener-bener Luh ya, Bar! Makin gede malah makin susah diatur!" Sekarang dia tahu kalau Barry tidak tidur, jadi lanjut memberi ceramah dadakan untuk sang anak. "Ya ampun, Mak! Emang Barry ngapain siii?" Barry meraih sendal jepit ibunya yang kotor. "Jangan aneh-aneh dah ya! Elu kuliah aja yang bener! Nanti juga motor gituan doang mah kebeli kalau elu udah kerja!' "Iya, Mak!" Barry mengalah agar ibunya diam dan membiarkannya tidur. "Awas, Luh ya!" "Iyaaaa!" * Giana memiliki kartu as Barry dan Cherry. Video yang dia rekan kemarin itu kini menjadi senjata untuknya. Pertama-tama dia akan pakai itu untuk mempertahankan Barry. Jika tak berhasil, maka dia akan menghancurkan hubungan Barry dan Cherry. "Mudah saja. Giana harus selalu bisa mewujudkan inginnya!" Ujarnya percaya diri. Dia mendapat nomor Cherry dari seorang teman sekelas yang biasa dititipi tugas oleh Cherry, jika dia mendadak tak bisa masuk kelas. Tak menunggu lagi, Giana mengirimkan video kemarin ke Cherry. Dengan pesan singkat berisi ancaman. "Jauhi kekasihku, atau video ini akan tersebar." Dia mengirim pesan ini kepada Cherry Well, ternyata caranya tak berbeda dengan cara Vano saat mengancamnya. Dia pikir Vano amatlah jahat, padahal sesungguhnya dia sendiri sama jahatnya. Cherry yang sedang mengajar di kelas lain, sontak terkejut bukan main mendapatkan kiriman video itu. Dia menggigiti bibirnya seraya berkali-kali membaca pesan singkat dengan ultimatum itu. "Jadi, kemarin dia ikutin kita ke rumah aku?" gumam Cherry sambil memutar video dengan mengecilkan volume. "Ternyata Giana masih berharap pada Barry. Padahal menurut Barry, mereka sudah tak ada hubungan apa-apa lagi. Apa sebaiknya, aku temui dia ya?" Cherry mencoba mengajak Giana bertemu. Membalas pesannya secara baik-baik, Giana sedang cemburu. Pastilah akan bertindak gegabah jika disikapi dengan buruk. "Giana, bagaimana kalau kita ketemu nanti siang?" Cherry mengirim pesan itu, kemudian melanjutkan kembali memperhatikan mahasiswanya yang tengah mengerjakan tugas di meja masing-masing. Giana pikir, sebaiknya mereka memang bertemu secara langsung. Jadi dia setuju dan mengiyakan ajakan Cherry. Siang harinya, mereka bertemu di kafe yang tak jauh dari kampus. Cherry sampai lebih dulu. Dia melambai saat Giana datang dan terlihat menyapu ruangan dengan matanya. "Giana!" Seru Cherry. Mereka bertemu tanpa sepengetahuan Barry. Cherry yang jarang berprasangka buruk itu dengan polosnya mengajak Giana bertemu untuk bicara. Giana mendatangi meja Cherry dengan arogan. Bukankah setidaknya dia harus sopan pada dosennya? Tapi bagi Giana, Cherry hanya perempuan genit yang tak lebih dari seorang pelakor. "Duduk, Giana." Cherry sangat baik, dia terus saja tersenyum, meksi Giana menatap sinis ke arahnya. Mereka duduk di sisi kanan ruangan besar itu. Dua buah sofa berhadapan, dengan meja rendah yang sejajar dengan lutut ada di tengah keduanya. Di atas meja sudah ada segelas es kopi yang dipesan Cherry. "Miss sudah liat videonya, kan?" Giana langsung ke pokok permasalahan sesaat setelah dia duduk di hadapan Cherry. "Sudah, rupanya kamu mengikuti kami kemarin." Jawab Cherry santai. Giana menatap ke arah lain saat Cherry bicara. "Aku mau memastikan, apakah benar ada dosen yang main gila dengan mahasiswanya sendiri." "Seharusnya kamu sapa kami, jadi setidaknya kami bisa ajak kamu masuk ke dalam." "Enggak sudi!" Giana berdecih. "Dan, perlu kamu tahu bahwa hubungan kami sehat. Bukan main gila seperti yang kamu katakan tadi." Giana terkekeh, membuang pandangannya. Dia pikir Cherry ini tipe pelakor yang sejenis dengan yang lainnya. Tak ada bedanya, tidak tahu diri dan nyaman dengan tingkahnya yang merebut pria dari wanita lain. "Aku bisa aja kirim video itu ke grup kelas, enggak bisa aku bayangan betapa viralnya kalian kalau aku lakukan itu." "Video itu dapat saya patahkan dengan banyak cara, Giana." "Apa mau kita buktikan saja? Bagaimana reaksi seluruh penghuni kampus saat melihat video ini?" Tantang Giana masih sibuk dengan ancaman berbentuk video itu. "Giana, Miss minta maaf sebelumnya. Tapi, Barry bilang kalau hubungan kalian sudah berakhir." Cherry berterus terang soal pembicaraannya dengan Barry di dekat kolam pada malam itu. "Dia bohong!" Tukas Giana kasar. Beberapa pelanggann kafe menoleh karena suara Giana yang lantang. "Giana, Barry itu bukan tipe laki-laki yang pandai berbohong." Cherry membela Barry. Giana tersenyum mengejek. "Miss, kamu itu bisa ngomong begitu karena enggak kenal betul-betul siapa Barry!" Sangat tak sopan menyebut dosennya dengan panggilan "kamu". "Saya bisa bicara seperti ini karena saya kenal baik dengannya." "Cih, kenal baik katanya." Giana terkekeh, masih dengan nada mengejek. "Miss enggak tahu kan? Apa saja yang sudah Barry lakukan selama ini?" "Saya tidak peduli dengan itu." "Tidak peduli?" "Ya!" Jawab Cherry tegas. "Kasihan sekali, Miss. Jujur aku kasihan sama kamu, Miss! Barry cuma memanfaatkan kamu. Baginya, kamu itu sama saja dengan tante-tante lain yang dia poroti uangnya, setelah puas Barry akan pergi dan cari Tante yang baru." Cherry tertegun, dia hanya memandang Giana dengan wajah datar. Giana merasa puas sekarang. Akhirnya, satu rahasia Barry terungkap di depan Cherry. Dia tak sabar menunggu tanggapan Cherry tentang kabar mengejutkan itu. Cherry hanya menghela nafas, kemudian menawarkan buku menu pada Giana. "Kamu sudah makan? Mau pesen makan? Atau minuman?" Giana mengernyitkan dahi, reaksi Cherry terlalu biasa. Dia merasa kesal sekarang. 'Kenapa reaksi dia begitu? Apa jangan-jangan dia udah tahu kalau Barry memang gemar mengencani banyak Tante dan mendapatkan uang dari mereka? Jadi dia sudah tahu?' pikir Giana. Cherry sebenarnya tidak tahu apa-apa soal itu. Tapi, penjelasan Giana hari ini seolah menjadi jawaban atas tanyanya, pertanyaan yang muncul saat Cherry menemukan banyak akun wanita dewasa yang menuliskan komentar di feed Barry di akun instagramnya. Komentar-komentar manis dan mesra itu amat menganggu Cherry. Dan, begitulah.. Kini dia tahu siapa mereka. Para wanita yang pernah dekat dengan Barry, yang memberi banyak hal untuk Barry. Kemudian, perlahan mereka mulai saling melupakan. 'Ah, jadi itu sebabnya. Giana pasti tidak mengada-ada soal ini. Dia menceritakan yang sebenarnya. Tapi, keanehan yang ada sekarang adalah tentang kenapa semua barang yang dipakai Barry itu sangat tidak layak? Mulai dari ponsel yang sudah retak, sampai motor bebek model lama yang sampai sekarang dia pakai. Kalau memang Barry gemar mencari uang dengan cara seperti itu, lantas kemana perginya uang-uang itu?' batin Cherry mencoba mencerna keadaan ini. 'Sama halnya dengan uang dari aku, yang dia bilang untuk biaya masuk kuliah. Juga ponsel baru untuknya yang justru enggak dia pakai. Kemana perginya semua itu? Apakah untuk orang tuanya?' Perkiraan Cherry hanya itu, sudah pasti Barry memberikan uang itu untuk keluarganya. Hanya satu kemungkinan, pastilah untuk orang tuanya. Karena Barry tidak terlihat seperti cowok yang gemar foya-foya. Juga tak mungkin kalau dia memakai barang haram, seperti yang Cherry takutkan dulu. Di sisi lain, Cherry merasa puas karena membuat Giana resah. Giana pasti berpikir Cherry sudah tahu segalanya. Jadi, percakapan dan ancaman dia hari ini seperti sia-sia dan menguap bersama udara di sekitar mereka. 'Aku akan bersikap kalau aku sudah tahu semuanya. Aku enggak boleh keliatan terkejut di depan Giana. Santai Cherry, tenang.' tambahnya. "Apa kamu sudah tahu? Soal ini?" Giana bingung. Cherry hanya tersenyum, tak menjawab iya atau tidak. Membuat Giana jadi semakin pusing. "Mau pesen apa?" "Aku kesini bukan untuk makan, aku kesini untuk bicara soal Barry." "Giana, maaf tapi Barry mencintai saya." "Hahahaha, Miss ini enggak tahu diri atau bagaimana ya? Enggak sadar diri ya? Barry itu masih muda!" Dengan santai, Cherry meneguk es kopinya. "Saya juga masih muda." Jawabnya setelah menelan cairan manis itu. Giana berang, wajahnya memanas. Dia datang kesini untuk mengancam Cherry. Tapi, kini dirinya yang justru merasa tertekan dan stress karena sikap Cherry yang biasa saja. "Miss ini benar-benar tidak tahu diri, ya?" "Memangnya yang tahu diri itu seperti apa? Seperti kamu?" Cherry menyerang balik. "Miss! Aku enggak bercanda! Aku kesini mau kasih tau fakta kalau Barry hanya sedang mempermainkan kamu! Dia hanya akan meminta banyak hal dari kamu, kemudian dia akan pergi setelah berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan!" "Kalau gitu, kita tunggu dia puas dan pergi dari saya. Kalau saat itu memang datang, pasti dia akan kembali ke kamu kan Giana? Seperti biasanya." "Kamu ini bebal ya?" Sentak Giana kesal. Cherry benar-benar tak bisa diprovokasi. Dia terlalu tenang dan seolah tak peduli dengan apapun yang sedang terjadi. Cherry tersenyum, Giana adalah tipe yang mudah tersulut. Sejak tadi dia berusaha memancing amarah Cherry tapi justru dia sendiri yang mulai emosi. "Kenapa bebal? Kalau bebal, mana mungkin saya jadi dosen di universitas besar seperti ini." Cherry menyilangkan kaki jenjangnya. Mendadak Giana insecure. Tungkai kakinya jauh lebih indah jika dilihat dari jarak dekat seperti ini. Pantas saja Barry tergila-gila padanya. Ponsel Giana berdering, dalam sekejap Giana yang tadi membusungkan dadanya kini menciut dan wajahnya mendadak pucat pasi. Dia menatap layar ponselnya yang tergeletak di atas meja. Tangannya gemetar, bahkan tak sanggup meraih gawainya yang terus saja bunyi. "Giana? Enggak dijawab?" Tanya Cherry. Giana terdiam, tangannya mencengkram erat pegangan sofa di sisinya. "Giana kamu baik-baik aja, kan?" Cherry pikir Giana begitu karena dirinya salah bicara. Giana tak sadar menitikkan air matanya. "Lho, Giana kamu kenapa?" Cherry berdiri dan mendekati Giana. Bagaimanapun, Giana tetaplah mahasiswinya. Melihat dia tiba-tiba seperti itu, Cherry jadi panik. Cherry merengkuh tubuh Giana, merasa bersalah. "Giana, kamu oke? Ada apa?" Cherry mengikuti arah pandangan Giana, ke arah layar ponsel itu. Nama di sana, cowok itu yang membuat Giana selalu seperti ini. 'Vano? Siapa Vano? Kenapa Giana seperti ketakutan?' Cherry membaca nama yang tertera di sana. Cherry hendak meriah ponsel itu, tapi Giana menepis tangan Cherry. "Giana?!" Giana menyambar ponselnya dan pergi dengan cara yang mengejutkan, dia mendorong Cherry yang sejak tadi berusaha menenangkannya. Kemudian berlari menjauh. Cherry berdiri di tempatnya. Bingung. 'Apa yang terjadi? Kenapa dia tiba-tiba seperti orang ketakutan?' Cherry kembali duduk dan berpikir keras. Giana berhenti di parkiran, duduk di atas motornya dan berusaha menguasai dirinya. Tubuhnya masih gemetar, seperti biasanya. Sungguh tak ada siapapun yang bisa dia ajak bicara, mengenai deritanya ini. Berterus terang pada Mamanya sama saja membawakan petaka untuk sang Mama. Dia tak bisa melakukan itu. "Barry." Giana meringis. Selalu saja nama itu yang dia ingat saat dirinya merasakan beban berat ini. Pemilik nama itu sudah menjauh, entah apa yang harus dia lakukan agar dia kembali. Hari ini, rencananya gagal. Cherry sama sekali tidak peduli dengan apa yang Giana katakan. Dia juga seperti tak peduli dengan video yang ada di tangan Giana. "Kamu harus kembali ke aku, Barry. Setelah itu, aku akan memperbaiki diri aku. Dan aku pasti tidak akan sehancur ini, Barry." Lirihnya pedih. Cowok bernama Vano itu terus menghubungi Giana. Dia tak akan pernah berhenti sebelum Giana datang ke apartemennya. Mau tak mau, dia lagi-lagi harus datang. Dengan sangat menderita, dia ikuti segala inginnya Vano. Sungguh, ini seperti nestapa yang tak berujung. "Sampai kapan aku harus begini." Isak Giana. Vano mengirim pesan bertanya dimana Giana. Gadis itu menjawab kalau dia ada di kafe biasa. Tak lama, Vano datang. Di saat bersamaan, Cherry hendak pergi dari kafe itu. Mereka bertemu di parkiran mobil. Vano turun dan merangkul Giana, gadis itu nampak ketakutan tapi tak bisa berbuat banyak. Cherry memperhatikan mereka hingga keduanya kembali masuk ke mobil. Mereka akhirnya bertolak meniggalkan area kafe, juga motor matic Giana yang teronggok di tempatnya tadi. "Itu, cowok yang waktu itu ketemu aku dan Barry di mall ya?" Kepala Cherry semakin dipenuhi tanda tanya. "Mereka mau kemana? Giana nampak berbeda dengan waktu aku lihat di mall. Waktu itu, dia bahagia dan terus tertawa. Tapi, hari ini dia seperti tertekan bahkan ketakutan. "Ada apa ya?" Cherry jadi cemas akan kondisi Giana yang seperti itu. Vano dan Giana sangat mencurigakan. "Apa aku ikuti aja?" Cherry buru-buru masuk ke mobilnya. Masih ada kesempatan untuk mengejar mobil Vano yang belum lama keluar dari area kafe. Cherry penasaran sekali, sesuatu pasti sedang terjadi. Giana mungkin menyembunyikan sesuatu. "Giana, kamu kenapa sebenarnya?" Cherry akhirnya menemukan mobil Vano, dia mengekor di belakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN